
" hahaha.... sabar sayang, kau ini seperti anak kecil saja, besok mama dan papa akan balik ke sana, dan mulai menetap di sana " jelas mama Alisya.
" terus perusahaan papa di sana bagaimana " tanya Bima pada mama Alisya.
" ada adikmu sekarang yang mulai pintar mengelolahnya sambil kuliah, dan juga di sana ada orang kepercayaan papa untuk membimbing Hendra di perusahaan " jelas mama Alisya.
" oh, begitu... ya sudah kalau begitu, mama cepat pulang ma aku tidak tega melihat Zahra yang terus muntah muntah itu, sedangkan aku untuk mendekati dan membantunya saja tidak ia perbolehkan "
" iya iya sayang, mama besok segera balik ke Indonesia " jawab mama Alisya dengan pelan sambil tersenyum, mendengar penjelasan anak nya yang sangat menyayangi gadis yang telah ia pilihkan sendiri untuk anak pertamanya itu.
" yasudah kalau begitu, Bima matikan dulu telepon nya ya Ma " ucap Bima.
" baiklah sayang kalau begitu " jawab mama Alisya dari seberang sana.
Dan panggilan pun terputus.
Setelah panggilan itu, kini Bima melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerjanya, untuk kembali mengerjakan pekerjaan kantornya yang sempat tertunda tadi, karena Bima terlalu sibuk dengan sosial media milik sang istri.
Sesaat kemudian
Kini Bima kembali sampai di ruang kerjanya tersebut, setelah itu dia duduk di kursi
kebesarannya itu seperti seseorang yang lagi malas malasan saat ini. l
Entahlah pikiran nya terus ber travelling kemana, memikirkan sang istri yang tidak ada ujungnya mungkin itu yang di namakan terlalu bucin, bucin tingkat dewa .😂😂
Dan saat ini perlahan Bima mulai membuka benda layar tipisnya itu, yang berada di hadapannya tersebut.
Kemudian di lihatnya di sana pekerjaannya yang mulai menumpuk meskipun sekertaris Revan menggantikannya saat ini di perusahaan pencakar langit miliknya.
Ya memang pekerjaan Bima tidak ada ujungnya, apalagi anak cabang perusahaannya saat ini bertambah banyak dan semakin berkembang pesat, dari tahun ke tahun.
Bima mulai mengotak atik benda layar tipisnya di sana, sambil memakai kaca mata kerja yang biasa ia pakai saat ini,
__ADS_1
dan masih sama tampak terlihat jelas ketampanannya itu dengan kaca mata bulat putih bening yang saat ini tengah ia pakainya tersebut.
Lelaki tampan bertubuh atletis itu kini begitu serius mengerjakan pekerjaannya sebagai seorang CEO di ruang kerja miliknya, dan juga memang dirinya saat ini ingin sedikit melupakan pikirannya terhadap sang istri yang tak menginginkan kehadirannya tersebut.
Karena sang buah hati yang berada di dalam kandungan Zahra sang istri sedikit tak sependapat dengan keinginan dirinya saat ini, yang menurut Bima sedikit berniat menguji dirinya itu.
01.00 wib
Bima baru saja keluar dari dalam ruang kerjanya tersebut setelah itu kembali menuju kamarnya, dan di lihatnya di sana sang istri lagi lagi tertidur, entah itu karena tubuhnya merasa malas bangun atau merasa mual dan muntah yang terus terasa di dalam tubuhnya, membuat Zahra merasa lelah dan tertidur pulas di sana.
Bima perlahan menghampiri sang istri yang kedua matanya tengah terpejam saat ini, dirinya duduk di sisi ranjang sambil memandangi wajah Zahra dengan seksama, di lihatnya wajah polos tanpa polesan make up itu sedikit pucat,
dan saat ini perlahan kedua mata indah Zahra tiba tiba saja terbuka dan langsung menatap wajah Bima sekilas, kemudian Zahra pun langsung menutup mulut dan hidungnya dan segera bangun dari tidurnya kemudian langsung berlari menuju wastafel yang berada di dalam kamar mandi mewah tersebut dan....
Hu... hhuueekkkkkkk......
huueekkkkkk....
hikss.....hiksss.... hiksss.....
" sayang pergilah, jangan mendekat, kau tega padaku " ucap Zahra yang perutnya mulai mendingan itu, sedangkan Bima baru akan mendekat ke arahnya dan lagi lagi...
uu... uuu... uuweekkkkkkk...
hiks.. hiks...
" iya sayang, iya,iya...baiklah " jawab Bima sambil memundurkan dirinya kebelakang menjauhi Zahra perlahan yang masih berada di depan wastafel yang tepatnya berada di dalam kamar mandi mewahnya tersebut.
kemudian Bima kembali bermonolog setelah jarak nya dan Zahra sedikit jauh meskipun masih di dalam satu kamar, yang memang kamarnya tersebut berukuran sangat luas.
Ah kenapa jadi begini istri ku sekarang, aaahhh.. aku harus bagaimana, apa iya Zahra akan begini sampai tiga bulan bahkan bisa lebih, seperti yang di katakan mama tadi, ah...yang benar saja, terus kapan aku bisa dekat dengannya monolog Bima.
" SAYANG APA BENAR KAU TIDAK MEMBUTUHKAN BANTUAN KU DI SANA " teriak Bima yang saat ini tengah berada di ambang pintu kamar pribadinya bersama sang istri tersebut.
__ADS_1
" TIDAK, PERGILAH, PERGI " teriak Zahra dari dalam kamar mandi.
hikss.. hikss... uuu... uuwekkk ... uuuuweekkkk..
" ah....iya iya aku akan pergi " sahut Bima dengan nada suara yang sangat lesu.
aakkkkhhhn.. sial.. sial... sial ucap Bima lagi kemudian bergegas pergi dari dalam kamar nya tersebut.
dan saat ini dirinya menuju kamar sebelah yang jarang terpakai itu, setelah itu mulai membaringkan tubuhnya di sana, sambil memandangi langit langit kamar.
kemudian dirinya tiba tiba tersenyum.
hahaha.... Bima Bima kenapa kau tidak sedari tadi saja memakai ponsel pintar mu itu untuk melihat keadaan Zahra di kamar, itu sama saja bukan hahaha... otakku memang tak di ragukan lagi memang benar-benar, benar benar pintar dan cerdik, ya iyalah aku kan seorang CEO, yang benar saja hal sekecil ini saja aku tidak bisa menyelesaikannya monolog Bima seperti membanggakan dirinya sendiri saat ini.
Dan setelah itu Bima mulai mengeluarkan ponselnya tersebut dari dalam saku celana pendeknya.
Perlahan Bima mulai mengotak atik benda tipisnya tersebut, setelah itu mencari kontak bernama * istri tercinta * , lelaki tampan itu kemudian tersenyum dan mulai menyentuh lingkaran warna hijau di layar tipisnya setelah itu menggeser nya kesamping.
sesaat kemudian
panggilan pun mulai masuk tetapi Zahra tak kunjung mengangkatnya, kemudian Bima kembali menelfon kontak Zahra dan panggilan pun masuk ke dalam ponsel istrinya tetapi tetap saja hasilnya Zahra sama sekali tak mengangkat telfonnya tersebut.
kemudian untuk yang ke tiga kalinya Bima kembali menghubungi nomor sang istri dan justru mendapatkan balasan dari sebrang sana
* maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan *.
akkhhhh... telfon ku tak di angkatnya, bahkan Zahra sekarang mematikan ponselnya, Zahra apa sampai seperti itu yang kau rasakan semasa kehamilan ini pada diriku monolog Bima dengan dirinya yang saat ini masih setia menatap langit langit kamar tersebut.
sebaiknya aku kirim pesan saja pada mama monolog Bima lagi
kemudian Bima kembali mengotak atik ponsel pintarnya tersebut untuk mengirim pesan kepada mama Alisya.
* Ma sebaiknya kau segeralah pulang, pakai jet pribadi milik keluarga , dan mama cepatlah rayu Zahra supaya tidak menjauh lagi dariku ma *
__ADS_1
pesan pun terkirim.
sedangkan Bima menunggu balasan dari mama Alisya yang sedari tadi tak kunjung ada satu pun balasan pesan yang masuk ke dalam ponsel miliknya itu, sampai dirinya kini mulai terlelap dengan sendirinya di ranjang empuk tersebut.