
Di sebuah Restoran.
Sheina dan Earth tengah duduk saling berhadapan malam ini di sebuah meja makan restoran, setelah tadi keduanya jalan jalan Sheina dan Earth kali ini memang benar benar berkencan.
Gadis yang selalu terlihat cantik natural itu sepertinya terlihat sangat bahagia, begitu juga Earth.
Keduanya telah memesan makanan dan minuman, perlahan Sheina yang sedari tadi memakai topi dan masker perlahan mulai ia copot nya.
Earth sedikit tersenyum menatap Sheina yang tengah membenarkan tatanan rambutnya.
" kak Earth kenapa kau tersenyum " tanya Sheina yang baru sadar akan senyuman Earth kepada nya.
" ah.. aku tidak apa apa, kau sangat cantik malam ini meskipun dengan penyamaran mu" jawab Earth.
" hehehe.... maaf kak "
" tidak apa apa aku sudah mengerti akan posisi kalian berdua kau dan Barra, apalagi kau seorang anak konglomerat tentu saja itu tidak lah mudah " jelas Earth yang memang sangat mengerti akan keadaan yang membuat Sheina harus menyamar.
" ya seperti itu lah kira kira " sahut Sheina
kemudian perlahan keduanya mulai menyantap makanan masing masing, sesekali keduanya saling tatap.
Sedangkan di lain meja tak seberapa jauh dari arah meja dimana Sheina dan Earth berada.
Ada seseorang pria berpakaian serba hitam bertubuh gempal sedikit berkumis tipis tengah menatap tajam ke arah kedua anak manusia yang tengah berkencan itu.
Kemudian mulai mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang di sebrang sana, tak lupa ia juga mengirimkan beberapa foto serta video berdurasi pendek pada seseorang tersebut.
" sudah saya mengirim foto dan videonya tuan " jelas pria bertubuh gempal pakaiannya serba hitam itu.
" bagus... pantau terus Sheina " jawab di sebrang sana yang tak lain adalah Bima.
" Baik tuan "
Tak lama kemudian panggilan terputus.
*
Jarum jam terus berputar, dan kini sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
Sheina dan Earth berniat untuk segera pulang setelah dirasa cukup lama acara makan dan mengobrol mereka di sana.
Earth langsung mengantarkan Sheina ke arah pulang Apartemen yang Sheina tempati.
Dan Earth juga hanya mengantar nya sampai parkiran, karena Sheina tak mau ada sebuah kecurigaan akan seseorang suruhan sang papa masih berada di sekeliling nya meskipun saat ini dirinya tengah menyamar.
Sheina segera berjalan memasuki apartemen miliknya, kali ini perasaan nya benar benar berbunga bunga setelah acara berkencan nya sukses bersama Earth yang bertambah hari hubungan keduanya tambah saling dekat.
Dan kini sampailah Sheina di depan pintu apartemen nya, ia mulai membuka handel pintu tetapi tak seperti biasa, kenapa tak di kunci pikir nya.
Perlahan Sheina memasuki apartemen nya, tak di sangka sangka di ruang tamu sudah ada kedua orang tuanya yang tengah duduk di sofa rang tamu, yang saling berhadapan dengan Barra.
__ADS_1
Ya Barra, pria itu kini tengah terdiam dan menunduk, suasana terlihat hening mencekam.
Sedangkan Sheina yang baru datang sedikit menelan ludah nya kasar.
karena melihat suasana sepertinya tidak bersahabat, entah ada apa pikir nya kenapa suasana mencekam seperti ini.
" Papa, mama, kalian sudah sedari tadi, kenapa kalian tak menghubungi Sheina dulu kalau ke sini "
" dari mana kau hah " ucap Bima dengan nada suara emosi.
" main sama teman Pa " jawab Sheina yang mulai merasa ketakutan.
" Main kamu bilang " sahut Bima dengan raut wajah yang tak bisa di artikan.
" i.. i... iya "
" main kemana kamu "
" jalan jalan Pa "
" kau sadar tidak kau sudah bersuami Sheina, kau lihat jam dinding jam berapa sekarang ini sudah tengah malam "
" maaf Pa " sahut Sheina sambil menundukkan kepala nya.
" maaf maaf, pikiran kamu di mana sekarang, papa tanya kamu masak apa malam ini "
" Shei.. Shei... Sheina tidak memasak "
" terus suami kamu bagaimana makan apa dia, sedangkan kamu keluar sendiri tanpa suami apa itu pantas "
Ia merasa kasihan melihat gadis yang kini sudah berstatus istrinya itu tengah di marahi seolah olah terlihat seperti seorang yang sedang di hakimi.
" Pa pelan pelan " sahut Zahra yang merasa kasihan sendiri pada sangat putri.
" kamu juga Sheina, kamu sudah berumah tangga belajar lah mulai sekarang sayang "
" ii.. ii.. iya Ma Sheina salah "
" ingat mulai besok dan seterusnya jangan sampai kejadian seperti ini, kau adalah putri Papa satu satu nya Shei jadi papa mohon jangan buat papa kecewa "
" iya Pa "
" ayo Ma kita pulang "
" iya Pa "
" Sayang mama pulang, jangan kecewakan kami berdua Sheina mama mohon "
" iya Ma Sheina akan lakukan "
" hati hati Ma Pa " ucap Barra ketika kedua mertuanya akan segera pulang.
__ADS_1
" iya... kau pimpin istri kamu Barra " sahut Bima sampul menepuk pundak sang menantu.
" Iii..ii..iya Pa " jawab Barra sedikit terbata bata seolah dirinya merasa sangat bersalah pada kedua orang tuan Sheina atas semua pernikahan ini.
" Kami pulang " pamit Bima yang di ikuti Zahra di belakangnya.
Keduanya kemudian segera bergegas keluar dari apartemen.
Kini tinggal lah Sheina dan Barra yang masih terdiam mematung satu sama lain.
" Shei kau baik baik saja "
" kau puas kan Bar, kau puas aku sudah di marahi seperti ini hah "
" maksud mu apa Shei "
" aaa lah kau tidak usah berpura-pura Bar, kau kan yang memberitahu papa kalau aku tengah berkencan dengan Earth "
" Sheina aku tak memberitahu apapun pada Papa mereka datang tiba tiba Shei " jelas Barra.
" aaa lah itu alasanmu kan "
" Shei percayalah padaku "
Tak di sangka pintu apartemen terbuka dengan tiba tiba.
Membuat Sheina dan Barra syok seketika mendapati Bima yang kembali masuk perlahan dengan tatapan tajam penuh emosi pada sang putri.
" Papa " ucap Sheina.
dan
PLAKKK.....
Sebuah tamparan melesat sempurna di pipi mulus Sheina.
Sekejap Sheina memegang pipinya yang sudah memerah akibat tamparan itu, baru kali ini dirinya mendapat perlakuan seperti ini dari sang papa kesayangannya.
Kedua mata nya kini sudah terlihat genangan air mata yang sangat dalam dan perlahan mulai membasahi pipi nya dengan begitu deras.
" jaga batasan mu sebagai seorang istri Sheina, Papa tidak pernah sama sekali mengajar kan ini padamu " ucap Bima dengan nada tinggi.
ya sebenarnya Bima berniat kembali ke apartemen sang putri ingin mengambil ponsel nya yang tertinggal di sofa apalah boleh buat, dirinya yang baru saja akan membuka pintu apartemen justru malah mendengarkan sebuah pertengkaran sang putri.
" Pa kau menamparku...kau menamparku gara gara dia " ucap Sheina sambil menunjuk ke arah Barra sedangkan satu tangan nya lagi masih memegang pipi.
" ya aku menamparmu karena kau tak patuh pada suami mu, apa yang kau bicarakan tadi kencan kencan itu apa kau pikir papa bodoh heh "
" kenapa Papa hanya menghakimi Sheina saja Pa, kenapa tak tanyakan Barra bagaimana di luar apa dia sudah benar atau tidak, Papa tak cari tahu tentang dia, kenapa selalu Sheina di kambing hitam kan seolah olah hanya Sheina yang bersalah "
Barra dan Bima terdiam mendengarkan penjelasan Sheina sambil berlinangan air mata begitu juga Zahra yang tengah berdiri di dekat pintu apartemen sambil menutup mulutnya nya, dengan berlinang air mata menyaksikan pertengkaran antara anak dan suami nya.
__ADS_1
" Apa Papa pernah memikirkan perasaan Sheina atas perjodohan ini, apa pernah Papa memikirkan Sheina yang sibuk memikirkan perusahaan sedangkan keadaan rumah tangga saja Sheina tak saling memiliki perasaan satu sama lain, Sheina harus bagaimana.. apa yang harus Sheina lakukan, apa Sheina harus lari dari kenyataan " jelas Sheina lagi dengan air mata nya yang sudah menganak sungai.
Kedua pria itu masih tetap terdiam sibuk dengan pikiran nya, seolah mereka merasa bersalah di posisinya masing masing Barra merasa bersalah akan di posisi nya sebagai suami, begitu juga Bima yang merasa bersalah sebagai seorang ayah yang sedikit egois begitu juga Zahra.