
beberapa menit kemudian
Bima kembali ke ruangan istrinya bersama dokter Toni.
cek lek
bunyi handel pintu yang di buka oleh Bima, dan di belakang nya di susul dokter Toni.
" ayo Ton cepat kau periksa kembali istriku, jangan sampai kau yang salah dalam memeriksanya, aku tidak segan segan memecat mu langsung hari ini, jika kau tetap salah dalam menangani nya lagi " ucap Bima dengan keadaan marah dan kalut dengan dirinya yang acak acakan itu.
" apa lagi yang di periksa Bima, istrimu sudah sadar bukan, aku tau kau sangat menyayanginya, tetapi buka matamu baik - baik istrimu sudah sadar, terus untuk apa kau menyeret ku lagi kesini hah " jelas dokter Toni pada Bima.
sedangkan Fara dan lainnya masih diam tetapi di dalam hatinya Fara ingin tertawa terbahak bahak melihat suaminya yang kebingungan, sedangkan saat ini hati sekertaris Revan, Henda dan pak Tejo sedang merinding karena melihat Bima sepertinya akan marah besar jika merasa telah di bohongi oleh istri kecilnya itu.
" dia lupa pada diriku Ton, dia amnesia, dia lupa kalau aku adalah suaminya " jelasnya lagi kepada dokter Toni.
sedangkan Toni ingin tertawa tetapi dia tahan sedari tadi takut Bima marah dan juga takut rencana istri dari tuan mudanya sekaligus teman akrabnya itu berantakan.
dan juga lainya sebenarnya juga ingin tertawa tetapi mereka tahan dengan menundukkan kepala dalam keheningan.
" sayang kau kenapa, siapa yang lupa pada dirimu " ucap Zahra tiba tiba.
" apa yang tadi kau katakan hah " jawab Bima dengan sedikit syok,
" sebaiknya kau bicarakan baik - baik dengannya Bim, aku permisi keluar "
ucap dokter Toni yang kemudian beranjak keluar ruangan itu karena sudah tidak tahan melihat tingkah temannya itu yang sedang dikerjai habis habisan oleh istri kesayangan nya.
sedangkan Bima sudah tak menghiraukan lagi kepergian Toni, dan mulai fokus lagi ke arah istri nya.
" coba katakan sekali lagi padaku, apa kau bilang tadi "
sedangkan yang lainnya sudah tegang mendengar perkataan tuan muda dingin itu.
" sayang kau kenapa, siapa yang lupa pada dirimu " ucap Zahra mengulangi kata katanya.
" kau tidak amnesia "
Zahra menggeleng menggelengkan kepalanya dengan polos.
" lalu untuk apa kau membohongi ku hah, ayo jawab " ucap Bima kepada Zahra yang mulai kesal.
" kalian juga kenapa membohongi ku apa itu sebuah lelucon menurut kalian hah, ayo jawab "
" kalian keluarlah, ini adalah urusanku dan suamiku " ucap Zahra.
" baik nona " jawab kedua lelaki yang tak lain adalah sekertaris Revan dan pak Tejo.
" baik Za " ucap Hendra.
kemudian ketiganya pun keluar.
dan di dalam ruangan itu sekarang hanya ada sepasang suami istri yang sedang bertengkar.
" ayo jawab pertanyaan ku, kenapa kau diam saja hah "
Zahra tetap diam.
" ak.. ak.. aku han.. han.. hanya " ah kenapa dia terlihat sangat menakutkan.
" aku hanya apa hah, jawab dengan benar Zahra " ucap Bima dengan nada yang tinggi.
" ak.. ak.. aku hanya ingin bercanda dengan mu sayang " ucap Zahra kemudian menunduk.
" apa kau bilang itu hanya bercanda, itu bukan lelucon Zahra kau tau itu " dengan nada sedikit kesal dan marah.
" iya sayang aku tau " ucap Zahra sedikit bersalah kepada suaminya.
" tatap aku jika aku sedang bicara padaku "
__ADS_1
kemudian Zahra mendongakkan kepalanya menatap kedua mata suaminya.
" iya, aku salah,aku minta maaf sayang " jawab Zahra singkat sambil menggulung gulung ujung baju atasan pasiennya yang berwarna biru itu.
" apa kau sudah puas membuat lelucon seperti itu, cepat jawab " ucap Bima.
" ii.. iya, aku sudah puas, sayang jangan marah lagi, aku kan sudah minta maaf padamu " ucapnya lembut sambil menunduk lagi.
" aku paling tidak suka di bohongi kau mengerti hah " lagi lagi dengan nada yang sangat tinggi.
" iya sayang harus berapa kali aku minta maaf padamu "
" aku tidak butuh kata maaf Zahra " ucap Bima yang terus dengan menggunakan nada tinggi membuat Zahra sampai ketakutan.
" terus saja marah marah padaku sampai kau puas, kau selalu begitu, aku sudah meminta maaf padamu beberapa kali, tetapi kau tetap sama saja marah marah padaku, kau jahat padaku "
ucap Zahra lagi sambil menangis sejadi jadinya dan sampai sesenggukan karena merasa kesal dirinya sudah meminta maaf tetapi tetap saja suaminya itu marah marah.
sedangkan Bima yang melihat istrinya menangis sampai sesenggukan itu, kemudian langsung memeluk tubuh Zahra dengan erat.
Zahra ku kau sampai menangis apa aku sangat keterlaluan padamu gumam Bima dalam hati.
" sayang maaf kan aku, aku tidak bermaksud seperti itu "
" kau terus saja memarahiku, kau jahat padaku "
Zahra kembali menangis sejadi jadinya sambil memukuli tangan Bima yang sedang memeluknya erat itu.
" maaf kan aku Zahra, kau tau sayang aku sangat takut jika kau tiba-tiba melupakan aku di hidupmu, apalagi tadi kau bersandiwara memeluk Hendra segala " ucapnya dengan tulus sambil mencium pucuk kepala Zahra.
" ya memang aku sengaja " ucapnya yang masih sesenggukan.
" APA, sengaja "
" ya, aku memang sengaja ingin membalas mu, apa kau merasa cemburu "
" sangat cemburu, jangan lagi - lagi kau lakukan itu di hadapanku.
" sayang masalah itu aku bisa menjelaskan, itu tidak seperti yang kau lihat sayang "
" tidak lihat bagaimana "
" maksudnya, dia hanya temanku sayang kita teman kuliah dulu sewaktu aku masih kuliah di luar negri, dan berpelukan itu adalah hal yang biasa di sana bukan karena kita ada hubungan spesial melainkan itu tanda persahabatan jika di sana kau mengerti "
" iya akku mengerti " ucap Zahra lesu.
" sayang kau masih marah "
" untuk apa marah, aku kan tadi sudah membalas mu bersama Hendra dan berpelukan dengannya ternyata lebih nyaman "
" Zahra jaga batasan mu sebagai seorang istri "
" iya iya aku bercanda sayang "
" baguslah kalau kau masih ingat kodrat mu sebagai istri ku "
" kalau aku lupa bagaimana "
" Zahra,... "
shuuuuttt
Zahra langsung menempelkan tangannya di bibir suaminya itu.
" sayang aku hanya bercanda, kenapa kau cerewet sekali sih "
" sayang kenapa kau menggemaskan sekali sih, kau tau bercanda mu itu membuat darah di otakku mendidih kau tau itu artinya apa "
" iya aku tau membuatmu marah kan maksudnya "
__ADS_1
" bagus kalau kau mengerti "
" sayang apa tidak ada yang kau keluhkan sakit hem " ucap Bima lagi.
" pasti ada sayang, kan aku baru saja sadar "
" bilang padaku di bagian mana yang sakit "
" memang kau bisa menghilangkan rasa sakitnya "
" bisa sayang apa kau mau tau caranya hah, ya sudah pejamkan mata mu sebentar.
" ya baik lah aku akan memejamkan mataku sayang "
kemudian Bima langsung mendekat memandangi wajah Zahra dari dekat, kemudian mulai mencium bibir Zahra dengan lembut tetapi ciuman itu tak berlangsung lama karena Zahra melepaskan pangutan bibir suaminya.
" sayang kau membodohi ku ya, masih sempat sempat nya dasar suami mesum ku "
" aku tidak tau dengan cara apa lagi pasti kau tidak akan memperbolehkan ku mencium mu dalam keadaan yang seperti ini "
" aww.. "
" sayang kau kenapa " tanya Bima takut terjadi sesuatu dengan istrinya.
" lutut ku rasanya sakit sekali sayang, dan juga di kepalaku, sayang aku kapan sembuh, aku ingin segara pulang suami ku "
" kau masih sakit sayang dan masih masa penyembuhan
" oh begitu ya " jawab Zahra polos.
" apa kau tidak lapar hah " ucap Bima sambil mengelus pipi istrinya itu.
" sedikit "
" bagaimana kalau aku suapi dirimu sayang "
ucap Bima sambil mengambil nampan yang sudah berada di atas nakas.
" baiklah " ucap Zahra sambil mengembangkan senyum indahnya kepada suaminya.
" aa... aaaa... aemmm "
" sayang jangan seperti itu aku bukan anak kecil "
" ya sudah sekarang kau bayi besar ku bagaimana "
" ah kau ini, sayang kau jangan marah ya pada mereka bertiga mereka tidak salah sayang, aku yang mengajak mereka masuk dalam sandiwara itu, dan juga jangan potong gaji mereka kau mengerti "
rengek Zahra sambil menggoyang goyang kan tangan suaminya, seperti anak kecil yang meminta sesuatu pada ibunya.
" hem " jawab singkat Bima
" sayang kenapa jawabanmu singkat sekali "
" terus aku harus bagaimana "
'' kau selalu begitu, ah sudahlah aku tidak makan "
" iya iya aku tidak akan memarahi mereka dan memotong gaji mereka, apa kau puas tuan putri "
" Yeeee.... sayang terimakasih, aku mencintaimu "
ucap Zahra kemudian langsung memeluk suaminya dari samping.
dan Bima pun tersenyum melihat istrinya sangat bahagia meskipun itu hal sepele menurut Bima.
" dasar kau ini " ucap Bima sambil mengelus pucuk kepala Zahra.
" sayang ayo suapi aku lagi "
__ADS_1
" iya bayi besar ku " ucap Bima sambil mengembangkan senyum nya.