Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
episode 78


__ADS_3

" APA, memang iya,.. ah aku malu sekali kepadamu pasti kau mentertawakan aku ya " sahut Zahra yang memang merasa sangat malu kepada suaminya itu.


" tidak,.. aku tidak mentertawakan mu sayang "


" awas kau bohong ya "


" iya, iya, memangnya tadi kau bermimpi apa sayang " tanya Bima yang seolah-olah kepo itu.


" tadi aku.. " jawab Zahra terhenti seperti mengingat ingat mimpinya itu


" tadi... aku seperti bermimpi tetapi seperti nyata sayang "


" memangnya mimpi seperti apa hem "


jawab Bima yang masih tetap seperti seolah olah tak tahu apa apa itu.


" aku bermimpi seperti ada yang mencium bibirku sangat lembut, seperti penuh perasaan dan beberapa saat lagi kejadian itu terulang, kemudian setelah itu aku perlahan membuka mataku tetapi aku langsung melihat dirimu yang berada di hadapanku suamiku "


jelas Zahra yang membuat suaminya saat ini menahan tawanya itu.


" sayang jangan jangan... "


jawab Bima yang berniat menakut nakuti istri kecilnya itu, padahal dia ingin menutupi tawanya yang saat ini berusaha ia tahan.


" ahh.. sayang kau jangan menakuti ku "


" ah.. lupakan saja itu hanya bunga mimpi di siang hari sayang, sekarang mendekat lah kepadaku aku akan memelukmu sayang "


jelas Bima yang berniat mengambil kesempatan dalam kesempitan itu,


kemudian Zahra perlahan mendekat ke arah Bima dan memeluk nya di sana.


sedangkan Bima langsung tersenyum, melihat istrinya yang langsung menurut itu.


ternyata seru juga mengerjai Zahra seperti ini, istriku kenapa kau sangat polos sekali, kau begitu mudah sekali percaya kepada omonganku astaga aku jadi kasihan melihatmu Zahra gumamnya dalam hati.


sambil mengelus elus pucuk rambut istrinya itu yang kini berada di pelukannya karena ulahnya yang suka sekali menggoda istrinya itu.


05.00 wib


kini di dalam perusahaan pencakar langit milik Bima itu, sekarang sudah sangat terdengar riuh, karena jam sudah menunjukkan jam lima sore, waktu semua para karyawan untuk pulang dari pekerjaannya.


dan kini Zahra sudah bersiap untuk pulang bersama Bima, dirinya sangat bahagia karena setelah dari kantor dirinya akan segera bergegas keluar mansion untuk jalan jalan bersama suami tercintanya itu.


" sayang ayo kita pulang "


" iya suami ku "


kemudian keduanya kini keluar dari dalam ruangan tersebut dan setelah itu sekertaris Revan sudah siap mengikuti kedua atasannya itu dari belakang .


Dan ketiganya kini mulai memasuki lift tersebut.


dan di dalam lift pun hanya ada keheningan.


ting


pintu lift pun terbuka dan keduanya kini berjalan ke arah luar gedung pencakar langit itu yang sudah sepi karyawan.


sedangkan sekertaris Revan mendahului kedua atasannya itu. Dan segera membukakan pintu mobil untuk kedua atasannya itu.


" silakan nona "

__ADS_1


" iya sekertaris Revan Terima kasih "


" silahkan tuan "


" hem "


dan keduanya kini telah memasuki mobil mewah tersebut, sedangkan sekertaris Revan mulai mengitari mobil dan masuk ke dalam pintu mobil bagian kemudi, dan mulai menancapkan pedal gasnya meninggalkan perusahaan pencakar langitnya itu.


dan sekarang mobil yang di kendari mereka kini tengah berada di jalanan yang begitu ramai, karena memang hari sudah sore banyak lalu lalang orang-orang yang pulang dari pekerjaannya masing masing.


" sekertaris Revan setelah kau sampai mengantarkan aku dan Zahra pulang sampai ke mansion, kau langsung pulanglah, karena hari ini kita tidak ada pekerjaan lagi, dan aku akan keluar bersama Zahra setelahnya "


" baik tuan kalau begitu "


lima belas menit kemudian


kini mobil mewah hitam itu tengah memasuki pekarangan mansion dan mulai berhenti tepat di depan pintu besar mansion.


kemudian sekertaris Revan segera keluar dari dalam mobil dan segera membukakan pintu mobilnya untuk kedua atasannya itu.


" silahkan nona " ucap sekertaris Revan setelah membukakan pintu untuk nona mudanya itu.


" iya "


" silahkan tuan "


" hem "


" saya permisi tuan " ucap sekertaris Revan lagi yang sedang berpamitan kepada tuan mudanya itu.


" baiklah "


sedangkan sekertaris Revan langsung memasuki mobil dan mulai menancapkan pedal hanya meninggalkan mansion besar.


saat ini tepatnya di kamar tuan muda yang tak lain adalah Bima.


" sayang ayo kita mandi bersama agar kita cepat berangkat jalan - jalan " ajak Bima kepada istrinya.


" sayang kau duluan saja, aku masih ingin menemani kucing ku seperti nya dia sangat lelah seharian di dalam kandang "


jawab Zahra yang masih sibuk mengelus kucing kecilnya itu.


" Zahra " ucap Bima tegas seperti mengingatkan.


" iya, iya aku mandi bersamamu "


jawab Zahra seperti takut dengan panggilan yang baru saja di lontarkan suaminya itu padanya


dasar menyebalkan, selalu begitu gumamnya dalam hati.


" Zahra kau mengatai ku kan "


" ti.. tidak " jawab Zahra sedikit terbata bata.


bagaimana dia bisa tau aku mengatasinya dalam hati mengagetkan saja gumam Zahra dalam hatinya.


" Zahra kau lagi lagi mengatai ku kan " tebak Bima yang seperti mengetahui isi hati istrinya itu.


" tidak sayang mana berani aku mengatai suamiku sendiri "


" baguslah, ayo mandi sayang " ucap Bima lagi.

__ADS_1


" baiklah "


hah.. kenapa dia bisa tau ya aku mengatainya lagi membuatku dag dig dug saja gumamnya lagi.


dan kini keduanya masuk di dalam bath up yang sangat besar kemudian Bima mulai mengisi bath up yang berukuran sangat besar tersebut dengan air hangat dan sedikit menambahkan wewangian di sana.


dan saat ini pasangan suami istri itu tengah berendam dan hanya ada keheningan di sana.


sedangkan Zahra sibuk memainkan busa di dalam bath up besar itu, dan Bima sedari tadi hanya memandangi istrinya yang tengah sibuk sekali dengan busanya seperti anak kecil.


" sayang " ucap Bima seperti manja yang ingin di perhatikan itu.


" hem " jawab Zahra hanya singkat yang saat ini tengah sibuk sendiri itu.


" sayang " ucap Bima lagi


" iya ada apa " jawab Zahra yang tetap saja jawabannya biasa saja dan tak berniat menoleh kepada suaminya.


" teruslah bermain busa, tidak usah menghiraukan aku "


ucap Bima lagi kemudian dirinya langsung keluar dari bath up tanpa menghiraukan istrinya, dengan dirinya yang masih polos itu.


kemudian langsung mengambil handuk putih yang bertengger di belakang pintu kamar mandi mewah itu.


" sayang kau kenapa " ucap Zahra setelah suaminya keluar dari kamar mandi itu.


kemudian Zahra segera menyusul suaminya dengan keadaan tubuhnya yang masih polos kemudian Zahra segera mengambil kimono handuknya dan memakainya.


setelah itu menyusul suaminya keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang masih basah dan terurai itu.


dan Zahra melihat sekeliling setelah keluar dari kamar mandi mewahnya itu dan ternyata suaminya duduk di tepi ranjang, dengan handuk yang masih menempel di pinggangnya itu.


" sayang "


" hem "


" sayang kau kenapa, jangan cemberut, nanti ketampanan mu itu luntur kan tidak lucu hahaha.."


" apa itu lucu menurutmu "


" sedikit sih "


" ayolah sayang tersenyum lah "


Bima tetap diam dan tidak merespon.


kenapa susan sekali merayunya, aku punya cara gumam Zahra dalam hati.


cup


Zahra mendekat kemudian mencium sekilas bibir suaminya itu, tetapi tetap tidak membuat suaminya berubah pikiran.


kenapa tidak mempan ya biasanya mempan seperti itu saja, seperti nya harus lebih baiklah akan aku coba gumam Zahra lagi .


kemudian Zahra perlahan mendekat dan mulai mencium bibir suaminya dengan begitu lama dan sangat lembut kemudian Zahra menghentikan ciumannya itu dan kemudian langsung memandang wajah suaminya yang tersenyum sekilas.


" sayang tersenyumlah, kenapa susah sekali sih kau ini "


karena sangking kesalnya Zahra menghentakkan kakinya ke lantai beberapa kali.


dan sukses membuat membuat Bima menoleh ke arahnya tetapi tetap diam.

__ADS_1


__ADS_2