
Ke esokan paginya.
06.30 wib.
Kedua pasang pengantin baru itu kini masih setia memejamkan kedua matanya di atas ranjang nan empuknya.
Sepertinya memang tak berniat sama sekali untuk membuka kedua matanya, mungkin sekertaris Revan dan Adinda masih merasa sangat kelelahan akibat semalaman begadang di atas ranjang empuknya tersebut, dengan adegan percintaan di antara keduanya yang begitu syahdu.
Ya keduanya memang menghabiskan malam penuh kenikmatan yang hakiki sebagai pasangan pengantin yang sah di mata hukum dan agama.
Sesaat
bunyi ponsel mengagetkan sekertaris Revan.
Kring.....
kring......
kring......
sebuah panggilan Video masuk ke ponsel milik sekertaris Revan.
Kedua matanya kini langsung terbelalak saat tangan nya mulai meraih benda pipih miliknya tersebut.
" Tu... tu... tuan video call, dia pasti ingin menggodakku sebagai pengantin baru" ucap nya dengan terbata bata.
Dengan segera sekertaris Revan langsung memunguti pakaian nya yang telah berserakan di lantai bersama pakaian milik sang istri.
sesaat kini dirinya telah memakai pakaian nya kembali setelah itu sedikit membenarkan rambut nya dan berlari ke arah lantai bawah tepat nya ruang olah raga.
*
*
*********
Ruang olahraga.
Sekertaris tampan itu kini mulai mengangkat sambungan telepon dari sang atasan dengan tergesa-gesa.
" halo tuan " ucap sekertaris Revan dengan sedikit menjauhkan ponsel miliknya tepatnya di hadapan nya agar terlihat jelas bagian wajah sampai dada.
" kenapa kau lama sekali mengangkat nya, tidak biasa kau mengangkat panggilan ku seperti ini Van, oh...astaga aku baru ingat kau kan pengantin baru hehehe...... " goda Bima dari sebrang sana.
" emm.. maaf tuan saya tadi tak membawa ponsel karena saya sedang berada di ruang olahraga " jelas Revan yang sedikit terlihat gugup.
" untuk apa kau di sana " goda Bima lagi di sebrang sana, ketika mendapati wajah sekertaris kepercayaan nya tersebut seperti sangat kebingungan untuk menjawab nya.
__ADS_1
" olahraga tuan " jawab sekertaris Revan yang membuat buat alasan.
" oh, olahraga apa kau ingin bertambah kuat Van sebagai pengantin baru " godanya lagi dari sebrang telepon.
" tu.. tuan bisa saja " jawab Revan yang merasa malu karena ucapan tuan nya.
" ah... kau pura pura saja, bagaimana " tanya nya setelah itu
" apa nya tuan " jawab Revan yang merasa tak mengerti akan pertanyaan atasan nya tersebut.
" Revan " ucap Bima dengan nada sedikit penekanan.
" emmm... aa... emm... iya... em... anu tuan sukses " jawab Revan yang langsung gelagapan.
" hahahaha..... bagaimana salep nya " tanya Bima lagi.
" ma... ma... manjur tuan hehehe.... terima kasih anda atasan yang sangat pengertian " jawab sekertaris Revan dengan sedikit cengegesan.
" hehehe.... yayaya "
Kini tiba tiba istri dari atasan nya muncul tepat berada di dekat sang suami terlihat jelas di layar ponsel milik sekertaris Revan.
" pagi nona " ucap Revan kepada istri dari atasan nya tersebut yang tak lain adalah Zahra.
" pagi juga sekertaris Revan, dimana Dinda " tanya Zahra
" ammm... anu... emm.. tadi.. tadi.... " jawab sekertaris Revan gelagapan lagi.
" sayang kau jangan menggoda sekertaris Revan terus " ucap Zahra kepada Bima di sebrang telepon, yang terlihat jelas oleh sekertaris Revan di layar ponsel miliknya, bahwa sepasang suami istri itu tengah sedikit berdebat.
" aw... Zahra kau jangan mencubit ku sayang " jawab Bima yang sedikit meringis kesakitan.
" sekertaris Revan maaf suami ku memang sedikit menyebalkan " ucap Zahra kepada Revan uang merasa tak enak sendiri itu, sesekali gadis cantik yang sudah menjadi seorang ibu itu sedikit cengengesan karena ulah sang suami.
" hehehe... tidak apa apa nona " jawab sekertaris Revan santai.
tapi berbeda di dalam hati. 😂😂
" iya kan Revan saja biasa menanggapi nya iya kan Van " sangkal Bima yang masih kekeh ingin melanjutkan obrolan.
" iii... iiya tuan " jawab Revan di sela sela perdebatan kedua atasan nya tersebut.
" ya sudah sekertaris Revan lanjutkan saja olahraga nya dan matikan telepon nya " ucap Zahra kemudian.
" biarkan tuan saja yang mematikan duluan nona "
" ya sudah aku matikan Van, istri ku sudah merengek padahal ini masih pagi, aw...Zahra kau jangan mencubit ku terus " ucap Bima lagi di sebrang sana yang sesekali terlihat di layar ponsel sekertaris Revan tengah mengelus bagian perut yang di cubit oleh sang istri.
__ADS_1
" suamiku apa yang kau katakan sih " jawab Zahra yang terlihat merasa malu pada perkataan sang suami.
Dengan tiba tiba panggilan pun terputus.
Sedangkan sekertaris Revan sedikit menghela nafas dan mengusap dadanya kasar, merasa lega karena panggilan video itu sudah berakhir.
Untung saja ada nona, pasti kalau tidak tuan akan menanyakan banyak hal lagi dan terus mengatai ku, tetapi karena salep pemberian tuan juga lipatan sempit Adinda sudah tak nyeri lagi monolog nya.
kemudian senyum nya sedikit mengembang mengingat banyak kebaikan yang di berikan oleh tuan nya tersebut.
Dan setelah itu sekertaris Revan berniat ingin kembali ke lantai atas karena di rasa sandiwara nya telah usai di depan atasan nya yang akhir akhir ini sering menggoda nya itu.
*
*
*********
Lantai atas
tepatnya di kamar pribadi sepasang pengantin baru.
Kini sekertaris Revan mulai melangkahkan kakinya ke arah Adinda yang masih setia memejamkan kedua matanya di atas ranjang, dengan tubuh polos nya yang masih berbalut selimut tebal berwarna putih yang hanya menyisakan kepala.
hei.... sayang bangun sudah siang Dinda ucap Revan sedikit menggoyang kan tubuh Adinda yang masih berbalut selimut tebal.
Dinda tak berniat menjawab perkataan sang suami.
Dinda apa kau sangat kelelahan sayang, Din... Dinda monolognya lagi yang masih saja sedikit demi sedikit menggoyang kan tubuh sang istri.
Mungkin dia masih kelelahan pikiran nya.
Dan sekertaris Revan pun kini berniat untuk membersihkan tubuh nya terlebih dahulu di kamar mandi mewah nya itu.
Beberapa saat kemudian.
Sekertaris tampan tersebut baru saja selesai dengan acara ritual mandinya, kemudian bergegas menuju ruang ganti.
apa dia se lelah itu ya, apa tadi malam aku terlalu berlebihan mungkin karena maruk hehehe...., pasti tubuh nya terasa remuk saat ini, setelah selesai ini aku akan sedikit memberinya salep mungkin saja milik Dinda masih nyeri yang membuat nya enggan untuk bangun monolog nya.
Sesaat.
Sekertaris Revan mulai keluar dari dalam ruang ganti di lihat nya jam dinding kamar sudah menunjukkan pukul setengah delapan siang.
Sesampainya disisi ranjang.
Pria tampan itu kembali menggoyangkan perlahan tubuh Adinda.
__ADS_1
Sayang bangun, milikmu masih nyeri ya heh,...kenapa kau tak bangun bangun Dinda, bangun aku akan sedikit memberinya salep agar kau tak merasa nyeri lagi Dinda kau seperti kebo sekali sih ucap nya.
tetapi tetap Adinda tak berniat membuka kedua matanya.