Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
suami istri


__ADS_3

keesokan harinya


15.00 wib.


Bima mengotak atik ponselnya sedari tadi dirinya mulai menghubungi sekertaris kepercayaan nya tersebut yang tak lain adalah sekertaris Revan, sesaat kemudian panggilan terhubung.


" halo sekertaris Revan " ucap Bima.


" ya halo tuan " jawab sekertaris Revan dari sebrang telepon.


" Van acara nanti malam kau tidak usah menjemput ku dan Zahra, aku akan memakai sopir di mansion, sebaiknya kau bersama rekan baru mu itu untuk berangkat ke acara perusahaan " jelas Bima kepada sekertaris kepercayaan itu.


" ii.. iya baiklah tuan kalau begitu "


dan panggilan pun terputus.


kemudian Bima segera menaruh ponselnya di atas nakas, dan setelah itu dirinya berniat untuk mendekati sang istri yang kini tepatnya berada di sofa single mewah di depan televisi, tetapi masih tetap di area kamar luasnya tersebut.


" sayang kau sedang melihat siaran apa " tanya Bima tiba tiba yang baru saja duduk di dekat sang istri yang sibuk memencet remot.


" tidak tau sedari tadi seperti nya tidak ada satupun yang cocok aku lihat " jawab Zahra seperti malas.


" hehehe... sebaiknya kau melihat ke arah ku saja "


" hah... aku bosan melihatmu terus sayang "


" apa kau bosan, yang benar saja Zahra "


" hehehe... kau kesal ya "


" iya aku kesal "


" suami ku jangan cemberut, itu akan membuatmu jelek, aku takut kau terlihat jelek nanti malam bagaimana " goda Zahra kepada sang suami.


" biarkan saja jelek, masalah ya "


" masalah sekali sayang, nanti kalau kau jelek aku malu menggandeng tanganmu hahaha... "


" bumil kau sedikit menyebalkan ya "


" hahaha... aku merasa senang sekali jika menggoda mu sayang "


" menggoda apa, kalau kau berniat menggodaku seharusnya saat ini kau sudah polos di hadapanku "


" iya setelah aku polos tanpa sehelai benang pun dengan perutku yang sudah membesar ini, kemudian kau menertawakan aku kan hahaha.. seperti badut.. seperti badut.. "


" hahaha... sayang memangnya siapa yang berbicara seperti itu, itu tidak akan, coba sekarang aku ingin melihatmu dengan keadaan polos "


" untuk apa,mandi saja masih jam segini pasti rasanya akan gerah lagi "

__ADS_1


" aku ingin melakukan itu di sofa ini sayang, kan kita tidak pernah mencobanya di sini "


" sayang apa yang kau katakan sih, di ranjang masih luas untuk apa di sini "


" ya sudah ayo ke ranjang saja sekarang, aku sangat menginginkan nya sayang, apa kau tidak kasihan padaku ayah dari anak kita "


" hahaha... kau pintar sekali membuat alasan suamiku "


" untuk apa membuat alasan, aku memang menginginkan nya sekarang Zahra, sekali saja ya "


" ya sudah sebentar kan "


" hehehe... iya, pelit "


" sayang apa yang katakan tadi pelit, ya sudah tidak jadi "


" hehehe... sayang aku hanya bercanda, aku akan membantu melepaskan cd nya ya, sayang kau ingat kata dokter jika kandungan membesar kita harus sering sering melakukannya agar saat lahiran nanti jalan anak kita tidak terlalu sempet "


" hahaha... kau memang benar-benar pintar ya mencari alasan "


dengan tiba tiba Bima yang merasa istri nya itu yang seperti mengulur ulur waktu, langsung mendekat ke arah sang istri yang saat ini tengah tidur terlentang di ranjang empuknya tersebut.


perlahan Bima sedikit mendudukkan sang istri dan setelah itu perlahan Bima mulai menangkup kedua pipi Zahra dari samping dan mulai mencium bibir mungil tersebut dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.


sedangkan satu tangannya kini mulai menjelajahi tubuh Zahra, dan tangan Bima kini mulai masuk di sela sela gaun pendek selutut milik sang istri.


" emm.. ah.. sayang, jangan terus kan "


keduanya setelah itu segera melanjutkan ciuman lembut itu lagi, sesekali Bima mengelus elus perut besar milik Zahra di dalam gaun pendeknya itu sambil tersenyum samar di balik ciuman mesra bersama sang istri.


kemudian tangan nya kembali ke arah bawah perut besar milik Zahra, tangan Bima mulai bermain lagi disana, sedangkan kedua bibir suami istri itu tetap bertautan sedari tadi saling menikmati.


" emm... emmm...ah.. sayang "


sedangkan Bima pun yang sedari tadi mendengar ******* sang istri, kini dirinya mulai tidak tahan, Bima mulai melepas satu persatu kain yang menempel pada tubuh Zahra dengan perlahan.


Dan sesaat kemudian kini keduanya telah polos tanpa sehelai benang sama sekali, Bima perlahan mulai melakukan hal itu bersama Zahra, keduanya tersenyum,


dan setelah itu Zahra dan Bima kembali berciuman sambil memejamkan kedua matanya,


sedangkan yang di bawah sana senjata milik Bima sudah mengeras sedari tadi dan mulai masuk ke dalam milik sang istri saat ini dan keduanya begitu sangat menikmati penyatuan tersebut.


setengah jam kemudian.


Bima menyudahi aktifitas nya itu bersama sang istri sampai mengeluarkan kenikmatan tiga kali dalam setengah jam, karena dirinya takut nanti membuat tubuh sang istri kelelahan saat acara perusahaan telah tiba.


" suamiku sudah kan "


" iya sayang sudah, kau lelah ya hem "

__ADS_1


" iya aku merasa sangat lelah saat ini "


" sayang maaf, kita berendam sekarang ya, agar tubuhmu rileks Zahra "


" tapi berjalan saja kaki ku lemas "


" aku akan menggendong mu ya kau tenang saja "


" ya sudah ayo, sayang pelan pelan "


" iya "


dan setelah itu Zahra pun kini tengah berada di gendongan sang suami menuju kamar mandi untuk segera berendam di sana.


sesaat kemudian.


sesampainya di kamar mandi.


keduanya telah memasuki buthub yang di penuhi dengan busa itu.


" sayang nanti kau jangan tinggalkan aku sendirian ya di sana aku malu "


" sayang tenang saja kan ada mama dan Hendra "


" oh iya Hendra, kenapa dia belum datang ya "


" mungkin saat ini dia sudah datang sayang, ingat meskipun Hendra temanmu dan dia juga adikku aku sangat cemburu melihat kalian, jadi jangan terlalu dekat aku tidak suka "


" iya pa, lihat nak papa kamu terlalu posesif sama mama " ucap Zahra sambil mengelus perut besarnya saat ini.


Bima langsung mendekat ke arah Zahra ketika mendengar perkataan istrinya itu seperti berbicara kepada anaknya di dalam kandungan.


" hehehe...kau ini ya bumil, apa anak papa di sini sedang menendang nendang sayang " tanya Bima lelaki bertubuh atletis tersebut.


" sekarang mungkin dia ikut lelah sayang karena ulah mu tadi yang terlalu semangat melakukannya, rasanya aku seperti tidak bisa mengimbanginya meskipun tidak sampai berjam jam seperti biasanya "


" memang iya sayang "


" iya sayang, aku serasa kewalahan saat kau melakukannya tadi, rasanya di dalam seperti jalan buntu yang terus kau terjang dengan sangat kuat sampai punggungku seperti merasa ngilu di dalamnya "


" sayang maaf, memang aku terlalu bergairah sekali tadi ketika memandangi mu di sofa " ucap Bima.


" memang di sofa apa yang aku lakukan "


" kau terlihat sangat menggoda sayang dengan perutmu yang membesar itu, dan aku juga melihat kaki putih mulus mu, dan setelah itu beralih melihat dua benda kenyal mu yang semakin hari, semakin membesar itu membuatku seperti terus ingin bergairah melihatnya " jelas Bima blak blak an kepada Zahra.


" sayang perkataan mu kenapa tidak ada yang si filter sama sekali hah "


" hahaha... biarkan saja kau kan hanya milikku sayang,mulailah jangan malu kepada suamimu sendiri, apalagi mengenai hal yang sangat intim di antara kita " jelas Bima sambil memandangi kedua mata Zahra yang kini keduanya masih setia berhadapan di dalam bathub tersebut.

__ADS_1


" iya aku perlahan akan mencobanya meskipun sedikit susah " jawab Zahra sambil mengembangkan senyumnya menatap sang suami.


__ADS_2