Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
akhir dari drama


__ADS_3

" tuan tidak tuan, Dinda istri ku belum meninggal " ucap Revan yang masih tak percaya dengan ucapan kedua nya sambil memeluk tubuh Adinda sesekali pria itu menggoyang goyang kan pelan tubuh sang istri, dengan lelehan air matanya yang mulai merembes ke mana mana.


" Van aku tau tak segampang itu menerima keadaan " ucap Bima lagi yang sedari tadi tengah berada di belakang tubuh Revan.


" Dinda bangun Dinda, bukankah kau ingin hidup berdua bersama ku sampai tua, bangun Din ayo aku akan segera menggendong mu sekarang kita pulang bersama " ucap Revan


yang mulai mencoba perlahan menggendong tubuh Adinda dari ranjang yang terlihat tak bergerak sama sama sekali sadari tadi itu .


" sekertaris Revan tunggu jangan seperti ini kasihan Dinda " ucap dokter Toni yang berniat menghentikan kelakuan sang sekertaris dingin tersebut.


" Diam kau Ton " Sentak Revan pada dokter tampan itu yang membuat Toni sedikit menganga tak percaya, yang kemudian kembali meletakkan tubuh Adinda di ranjang.


Toni langsung terdiam kemudian pandangannya tertuju pada Bima yang tengah berada di samping nya sambil menahan tawa saat ini.


Sedangkan Adinda masih betah dengan rencana nya.


Gadis bermata bulat tersebut masih setia memejamkan kedua matanya.


" Revan Tenang kan dulu dirimu disini temani Dinda sebentar saja agar pikiran mu tenang sejenak aku tau pikiran mu sedang tak karuan, aku dan dokter Toni akan keluar "


" ya baiklah tuan terima kasih atas pengertian nya "


" iya.... ingat jangan jadi pria menyebalkan " ucap Bima yang serasa sudah tak kuasa menahan tawanya ingin sekali dirinya segera keluar dari dalam ruangan, karena melihat bawahannya tersebut begitu dengan gampang nya di kerjai oleh wanita yang tak lain adalah istrinya sendiri.


" maksudnya tuan " jawab Revan sambil mengusap kasar lelehan air matanya yang seolah tak bisa berhenti sedari tadi, dengan dirinya yang seolah masih belum mengerti akan perkataan sang atasan tadi.


Sedangkan Bima tak berniat menjawab nya kemudian dengan segera mengajak dokter Toni untuk bergegas keluar dari ruangan tersebut.


" Ayo Ton kita keluar " ajak Bima kemudian.


" ya kau benar ayo kita keluar HUWA...HA... HAHAHA... HAHAHA... " jawab Toni yang merasa tak kuat lagi menahan tawa dan dirinya kini langsung mengeluarkan tawa itu dengan sangat keras nya memenuhi ruangan.


" Toni Toni sudah diam kau sebenarnya menangis atau tertawa sih " ucap Bima seperti sedikit menyindir Adinda, yang masih setia berpura-pura memejamkan kedua matanya itu sedangkan Revan masih berada di dalam kebingungan nya.


Berbeda dengan Zahra yang sedari tadi terdiam bukan karena apa tetapi karena tak tahan dengan adegan drama di hadapan nya sedari tadi.


" Bersabarlah sekertaris Revan " ucap Zahra kemudian, yang kini juga bergegas keluar dari dalam ruangan mengikuti langkah kedua pria yang baru saja melewati dirinya berdiri tak jauh dari arah ranjang yang di tempati Adinda.


" ya nona terima kasih "jawab Revan sambil sedikit menoleh ke arah belakang di mana Zahra berada.


Sesaat


ketiganya pun kini sudah berada di luar ruangan dengan sedikit cekikikan tak karuan menahan tawa yang sedari tadi mereka tahan tahan,

__ADS_1


HUWAHAHAHAHA..... HAHAHAHA...... HAHAHAHA.... HAHAHAHA.. .....


sedangkan di dalam ruangan menyisakan sekertaris Revan yang kembali memeluk tubuh Adinda dengan begitu erat nya dan seketika pelukan itu mulai ia lepaskan kembali, ketika mendengar suara tawa ketiga orang di luar ruangan yang begitu sangat keras.


HUWAHAHAHAHA..... HAHAHAHA..... HAHAHAHA.... HAHAHAHA.....


Apa apaan mereka tertawa segala, apa mereka sudah gila aku sedang kehilangan istriku tapi mereka cekikikan di luar sana.


Seketika...


KRUKKK.... KRUKK.... KRUKKK... KUK... KRUKK...


suara perut Adinda tiba tiba mengagetkan sekertaris Revan.


Sekertaris Revan sedikit menatap perut miliknya sendiri, ia kembali sedikit memasang telinga nya benar-benar karena di rasa suara perut lapar itu bukan dari perutnya.


Seketika suara perut itu kembali terdengar.


KRUKKK.... KRUKK.... KRUKKK... KUK... KRUKK...


Sekertaris Revan langsung melirik ke arah perut Adinda.


" Dinda kau...." ucap Revan terhenti, seolah lelehan air mata yang sedari tadi menetes di pipi nya kini sekejap langsung mengering dari dalam sana, dengan hanya mendengar suara perut Adinda.


Perlahan Adinda membuka kedua matanya sambil sedikit cengengesan kemudian mendudukkan sedikit tubuh nya menyender ke sandaran ranjang.


" hehehe.... kakak " ucap Adinda sambil sedikit tertawa karena ketahuan telah mengerjai sang suami.


" Dinda kau " sahut Revan terlihat sangat kesal.


" hehehe... aku hanya bercanda " ucap Dinda lagi seperti tak punya dosa.


" Din kau,... kau.. keterlaluan " ucap Revan yang memang merasa sangat kesal pada lelucon yang Adinda lakukan.


" hehehe.... aku hanya ingin mengetes mu saja " ucap Dinda serasa terdengar enteng.


" apa kau pikir ini sebuah permainan, atau sebuah lelucon hah " ucap Revan dengan kedua matanya seperti akan keluar saja dari tempat nya.


" hehehe.... iya iya maaf " jawab Dinda sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal kemudian menundukkan kepalanya.


" aku tak butuh maaf mu Dinda " ucap Revan


dengan kekesalan yang memuncak.

__ADS_1


Sedangkan di luar ruangan ketiga orang tersebut masih saja tertawa terbahak-bahak mendengar akhir perdebatan drama di dalam ruangan istri sekertaris Revan.


Sesaat dengan tiba tiba suara pintu ruangan di buka dari luar.


JEG GLEK......


Menampilkan tiga kepala yang sedikit menyembul ke dalam ruangan, sambil sedikit tersenyum renyah menatap kedua pasang suami yang tengah mengakhiri drama tangis tangisan nya tersebut.


" Sudah selesai drama nya " ucap ketiganya bersamaan yang tak lain Bima, Zahra dan dokter Toni.


" sudah tuan hahahaha..... saya sangat puas sekali " sahut Dinda dari dalam ruangan nya dengan dirinya yang sedikit keceplosan kemudian langsung menutup mulut nya dengan cepat memakai kedua tangan.


kemudian pandangannya sedikit melirik ke arah sekertaris Revan yang berada di hadapannya tersebut, yang kini sudah menatap nya.


Kini pandangan di antara keduanya bertemu.


Tetapi pandangan keduanya seperti berbeda.


" Ekh... Ekhem.. sepertinya suasana mulai panas ya sayang ayo kita segera pulang " ucap Bima kepada sang istri dengan sedikit menyenggol lengan Zahra pelan.


" ah iya sepertinya begitu, ya sudah Dinda kami pamit ya cepat sembuh Din, jangan lupa hubungi aku lagi Din "


" baik non,... hati hati titip salam untuk menantu kecil ku "


" Dinda " ucap Revan penuh penekanan.


sedangkan ketiga orang yang masih belum keluar dari ruangan tersebut lagi lagi menahan tawanya atas kelakuan istri Revan yang sedikit ceplas ceplos itu.


" iya iya bawel "


" hati hati ya non " ucap nya lagi pada Zahra "


" Ya Din " jawab Zahra.


Keduanya pun berpamitan pergi dari ruangan yang di tempati Adinda kemudian di susul dokter Toni di belakang nya.


" Dinda jangan tinggalkan aku jangan tinggalkan aku hiks... hiks... hiks... hahahaha... aku pergi da....da... Revan "


ucap dokter Toni dengan nada suara yang sedikit di buat buat solah olah berniat mengejek sekertaris Revan kemudian bergegas keluar dari ruangan tersebut karena takut akan ancaman Revan kalau dirinya tak segera keluar dari dalam sana.


Kini di dalam ruangan pasien tersebut tinggal lah Adinda dan sekertaris Revan.


Adinda kembali menunduk ia tahu bahwa dirinya akan di hukum oleh sang suami atas kelakuan nya.

__ADS_1


ah... aku tau pasti dia akan menghukum ku, tapi tak apalah memang aku yang salah, tetapi aku merasa sudah puas mengerjainya siapa suruh jadi pria sedikit menyebalkan hehehe... gumam Adinda


__ADS_2