Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
memilih jalan masing masing


__ADS_3

Kini jam sudah menunjukkan pukul lima sore.


Sekertaris Revan baru saja selesai mengantarkan sang atasan ke mansion mewah nya bak negeri dongeng tersebut.


Dirinya kini kembali mengendarai mobil mewah hitam nya itu, yang mulai membela jalanan perkotaan untuk segera menuju ke kediaman rumah mewah nya.


*


*


Lima belas menit kemudian.


Mobil yang dikendarai sekertaris Revan kini mulai memasuki pekarangan rumah, kemudian dengan segera ia masukan ke dalam garasi mobil.


Setelah itu dirinya mulai turun, kemudian dengan segera memasuki rumah mewah nya saat ini yang ia tempati bersama dengan sang istri.


Pria itu sedari tadi hanya diam tak bergeming, pikiran dan hatinya kini sudah di penuhi rasa emosi yang teramat tinggi pada sang Adinda,


Revan merasa kecewa karena lagi dan lagi Adinda selalu begitu akrab dengan Pria yang pernah dekat dengan dirinya dahulu itu, padahal sebelum nya ia pernah melarang nya.


Di liriknya meja makan kosong tak ada makanan tersaji untuk nya di sana.


tap.... tap... tap.....


Bunyi langkah nya yang mulai menaiki anak tangga satu persatu untuk menuju kamar di lantai atas.


Ya kini kemarahan nya semakin memuncak ketika mendapati meja makan kosong tadi.


Sesaat sampailah diri nya di lantai atas.


Perlahan tangan nya mulai menggapai handel pintu kamar.


JEG.... GLEK.....


pintu pun terbuka.


Menampilkan wajah sang istri yang kini terlihat senyum senyum sambil melangkah ke arah nya, dengan kedua tangan yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya entah apa yang ia pegang di belakang tubuhnya itu.


Yang pasti sesuatu kejutan yang akan ia berikan pada Revan.


" kau sudah pulang " ucap Adinda dengan raut wajah bahagia.


" cukup Dinda, kenapa kau seolah-olah tak punya salah hah " bentaknya dengan nada keras membuat Adinda sedikit terkejut tak menyangka membuat nya kini sedikit ketakutan.

__ADS_1


" maksud mu apa kak " ucap Adinda polos karena dirinya memang tak merasa bersalah sedikit pun.


" J O E " ucap nya lagi lagi dengan nada keras membuat Adinda kembali terkejut seolah olah pria di samping nya itu bukan Revan suami yang biasa selalu bucin kepadanya.


" memang ada apa dengan Joe heh " tanya nya lagi.


" kau memang pintar ya sudah jangan berbohong lagi padaku, tak usah polos di depan ku aku malas melihat nya " ucap Revan, seketika perkataan Revan membuat hati Adinda serasa sangat sesak.


" aku tak ada apa apa dengan nya kak " jelas Adinda sambil menggeleng geleng kan kepala nya pelan.


" kau bertemu dia di mall kan hah, kau bisa jawab apa sekarang " ucap Revan yang terus melangkah mendekat ke arah Adinda.


" ya aku memang bertemu dengan nya tadi tapi aku hanya mengobrol saja tak lebih " jawab Adinda dengan dirinya yang terus memundurkan tubuhnya karena Revan kali ini benar-benar menakutkan di hadapan nya.


" kau memang seperti rubah, di rumah sok polos, dan sekarang kau bilang hanya mengobrol " ucap pria itu lagi sambil terus melangkah sehingga membuat tubuh Adinda menabrak ke dinding kamar.


Kini pergerakan serta tubuh nya seperti terkunci karena Revan tepat berada di hadapan nya, ke-dua nya seperti tak ada jarak sedikitpun, sedangkan Adinda tambah ketakutan tak karuan di buat nya.


" apa sih maksud mu kak, aku tak ingin bertengkar " sahut Dinda sambil menundukkan kepalanya dengan suara mulai bergetar mendapatkan tatapan tajam dari Revan.


" kau memberikan nomor ponsel mu pada Joe kan, bukan kah aku sudah bilang padamu Din jangan dekat dekat dengan nya kau sudah bersuami Dinda " ucap nya dengan nada keras kedua matanya memerah akan kemarahan yang meluap luap dari dalam sana


" ya aku memberi nomor nya karena dia...." jelas Dinda terhenti karena Revan menyelanya.


" aku tak ada apa apa dengan nya kak tadi dia.." Adinda lagi lagi berusaha untuk menjelaskan tetapi ucapan nya lagi lagi di sela Revan.


" D I A M kau " sentaknya lagi pada Adinda membuat gadis itu tambah mengejit ketakutan dengan kedua pundaknya naik turun.


kini Adinda kembali berucap dengan nada suara gemetaran terdengar lirih penuh kekecewaan mendalam.


" kau.....keterlaluan padaku, baiklah jika itu mau mu " ucap Dinda dengan kedua matanya yang kini mulai di basahi lelehan air mata, kemudian dengan kasar gadis itu mengusapnya karena rasa sabar nya kini telah habis oleh kelakuan Revan.


" mau apa kau sekarang hah " sahut Revan ketika mendapati Adinda perlahan akan pergi dari hadapan nya.


Adinda segera menuju ruang ganti, gadis itu mulai mengambil koper hitam nya mengambil beberapa baju yang ia beli sendiri dengan hasil jerit patah nya sendiri.


Sesaat setelah selesai memasukkan beberapa baju baju miliknya, Adinda segera keluar dari ruang ganti sambil menyeret koper dan tas selempang kecil miliknya.


Sedangkan sekertaris Revan yang tengah duduk di sisi ranjang tersebut kini mulai bangkit.


Saat mendapati Adinda membawa koper dari dalam ruang gantinya tersebut.


" mau kemana kau heh " tanya nya masih dengan nada emosi.

__ADS_1


" bukan kah ini rumah mu, dan sepertinya keberadaan ku sudah tak di inginkan lagi di sini"


" apa yang kau katakan sih "


" apa kurang jelas semuanya, aku ingin kita jalani hidup kita masing masing " jelas Adinda yang kini membuat sekertaris Revan terkejut akan ucapan sang istri.


" oh kau memilih bersama dia " ucap Revan asal.


PLAKKK.....


satu tampan keras mengenai pipi Revan dengan sempurna.


Pria itu sedikit terdiam kemudian memegangi pipinya yang baru saja mendapat tamparan dari sang istri itu.


APA...dia sampai menamparku gumam nya.


Adinda kini mulai menangis dirinya tak menyangka dengan apa yang di katakan suami nya itu saat ini pada dirinya.


hiks... hiks... hiks...


tangisan Adinda yang kini mulai terdengar histeris.


" Cukup Revan, kau tau kenapa aku memberikan nomor ponsel ku padanya, karena dia akan menikah dia akan mengundang diriku dan dirimu supaya mendatangi acara pernikahan nanti bersama sama, tetapi apa yang aku dapat kan kau justru menuduhku tak karuan kau tak pernah memberiku waktu untuk menjelaskan semuanya " jelas Dinda.


Revan terdiam sejenak.


jadi Dinda, aku yang bersalah dalam hal ini, aku yang keterlaluan padanya, Dinda maaf ku maaf gumam nya.


kemudian kembali berucap dengan nada sangat pelan sambil sedikit menundukkan kepalanya.


" maaf " ucap nya di hadapan Adinda yang merasa sangat bersalah.


" sudah lah seperti nya sudah terlambat " ucap Dinda sambil membuka resleting koper dan menunjukkan pada Revan bahwa dirinya tak membawa barang apapun dari rumah mewah miliknya itu .


" kau lihat kan aku tak membawa sedikit pun barang milikmu " ucap nya setelah tadi menunjukkan koper nya pada pria di hadapan nya.


" Dinda apa yang katakan aku tak mau kau pergi" cegah Revan.


" maaf semuanya sudah terlambat bukan kah kau selalu tak menghargai ku, dan saat ini sudah keputusan ku " ucap Adinda mantap sambil berlalu pergi meninggalkan pria yang masih diam menunduk itu.


" Dinda apa yang kau katakan, aku tak mau pisah dengan mu Dinda " ucap Revan sambil meraih tangan Adinda yang akan berlalu pergi dari hadapan nya tersebut.


" lepaskan tangan ku..... lepaskan aku bilang " ucap Dinda yang saat ini memunggungi Revan.

__ADS_1


__ADS_2