
" tuan nona sudah perdebatan nya nanti saja di kamar kalian, bagaimana rencana ku kalau kalian berdebat terus " ucap Adinda yang seperti tak ada sungkan sungkan nya kepada dua atasan itu.
Sedangkan Zahra dan Bima langsung diam dan saling pandang karena baru kali ini seseorang bawahannya yang berani memperingatkan nya.
Berbeda dengan dokter Toni yang seolah sedikit memberi kode pada istri dari sekertaris Sinaga. group tersebut yang seperti seolah olah Adinda baru mengerti akan kode dari dokter tampan tersebut.
" hehehe.... tuan nona saya hanya bercanda, saya kan cuma bawahan anda mana mungkin saya berani menceramahi kalian berdua iya kan dokter " ucap Adinda sambil sedikit cengengesan.
" ii... ii... iya " jawab dokter Toni sedikit terbata bata karena merasa di sangkut pautkan oleh Adinda.
Istri sekertaris Revan ini memang sedikit menyebalkan pantas saja mereka berjodoh heh.. dasar
" ya... ya... ya... " jawab Bima seolah malas mendengar penjelasan antara Adinda dan Toni.
" Baiklah Din, kau siap dengan rencana mu " ucap Zahra kemudian.
" ya nona saya siap, anda dan tuan cukup diam saja sambil menunduk pura pura saja anda merasa ikut prihatin " ucap Adinda kepada dua atasan nya.
Sedang Zahra dan Bima kembali saling pandang karena kelakuan istri Revan, yang seolah mengartikan apa apaan ini istri Revan berani berani nya mengatur atasan begitulah kira kira pikiran keduanya saat ini.
" dan kau dokter Toni copot semua alat medis nya aku sudah sembuh bukan " ucap nya kepada dokter Toni setelah itu.
" tapi kau masih perlu infus istri Revan " jawab Toni.
" dokter percayalah padaku aku sudah baik baik saja biar rencana kita senatural mungkin oke " ucap Adinda merasa yakin akan rencana nya tersebut.
astaga gadis ini benar benar lebih menyebalkan dari nona apalagi masalah seperti ini, nona dulu pura pura lupa ingatan membuat tuan Bima seolah kalang kabut ingin memporak porandakan semuanya,
dan sekarang istri Revan entah bagaimana lagi ini setelah rencana pura-pura mati nya ia lakukan, tetapi sebaiknya aku ikut andil dalam rencana gilanya sesekali mengerjai Revan dingin itu kan seru anggap saja aku membalasnya karena tadi malam mencengkram kemejaku gumam dokter Toni.
" hei dokter kenapa kau diam.... " ucap Adinda lagi saat mendapati dokter yang berada di samping nya tersebut hanya diam.
" ah...iya iya baiklah ini permintaan mu " jawab dokter yang baru tersadar akan gumam nya sendiri.
__ADS_1
istri mu benar benar menyebalkan Van cantik sih sebenarnya, ups... untung hanya gumam ku saja, kalau ada Revan matilah aku dia pasti akan bilang pada Bima untuk memotong gaji ku gumam nya lagi.
Berbeda dengan Zahra dan Bima yang seperti sedikit menahan tawa akan ceramah Adinda pada dokter pribadinya itu yang tak lain adalah dokter Toni.
Ternyata istri Revan lebih menyebalkan dari Zahra, bagaimana Revan mengatasi nya hehehe.... gumam Bima dalam hati sedikit tertawa.
" Din kapan kita mulai rencana nya "
" Ah iya baiklah bisa kita mulai rencana nya sekarang, sekertaris Revan kan sudah sedari tadi keluar pasti dia akan segera kembali bukan, ya sudah dok cepat copot alat medis nya aku risih "
Bima dan Zahra kembali menahan tawanya melihat tingkah istri dari bawahan nya tersebut.
Sedangkan dokter Toni langsung tepok jidat.
" ya.. ya.. ya baiklah, sekarang kita mulai bermain gila gilaan nya, aku juga penasaran sekali melihat reaksi Revan, tapi ingat jika Revan marah jangan bawa bawa namaku oke "
" oke asal kau berakting dengan bagus dok, semuanya aman "
" apa kau bilang ya sudah aku tak jadi membantu mu "
Lagi dan lagi kedua pasang suami istri itu seolah olah tak kuasa menahan tawa akan kelakuan Adinda yang tengah berdebat kecil dengan dokter Toni, keduanya mulai tertawa terbahak bahak tak karuan
HAHAHAHAHA..... HAHAHAHA. A. A.. A.....
HAHAHA..... HAHAHAHAHA.....
" Shttttt..... nona tuan jangan kencang kencang " ucap Dinda sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir tipis miliknya.
Ke-dua pasangan suami istri itu langsung terdiam.
" seperti nya ada langkah kaki mendekat dari arah depan, dokter Toni cepat " ucap Dinda lagi yang ingin segera merebahkan tubuh nya kembali ke atas ranjang.
" iya iya.. cepat sana berbaring bodoh " ucap dokter Toni yang merasa kesal pada gadis di hadapan nya itu saat ini.
__ADS_1
" apa...kau mengatai bodoh awas kau ya " jawab Dinda yang merasa tak terima akan perkataan dokter tampan yang kini perlahan mulai melepaskan satu persatu alat medis di tubuh Adinda.
BUGHH....
suara tubuh Adinda yang langsung ia hempaskan ke ranjang pasien karena merasa ada seseorang mendekat ke arah pintu ruangan kamar yang tengah ia tempati.
Sedangkan Zahra dan Bima untuk kesekian kalinya kedua pasang suami istri itu di buat kaget akan kelakuan Dinda sambil membelalakkan kedua matanya, ketika mendapati Adinda dengan tiba tiba menghempaskan tubuh nya ke ranjang dengan sangat keras nya itu.
Kini Dokter Toni baru saja selesai akan tugas nya mencopoti seluruh alat medis di tubuh Adinda.
Sedangkan dari luar pintu baru saja di buka.
JEG GLEK.....
Menampilkan kepala sekertaris Revan yang baru saja menyembul ke dalam.
Seketika sekertaris Revan yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut, kini sedikit di buat menganga akan keheningan ruangan yang tengah di tempati sang istri.
Revan mulai memandangi satu persatu raut wajah ketiga orang yang masih setia berdiri tak tak jauh dari arah ranjang dengan sedikit menundukkan kepala nya masing masing.
Perlahan kaki nya terus melangkah, pandangan kini mulai tertuju pada ranjang pasien dengan sebuah selimut putih yang sudah menutupi seluruh tubuh sang istri, dirinya kemudian menatap layar monitor terlihat jelas di sana bahwa layar tersebut sudah mati.
Perlahan langkahnya mulai lunglai sebuah paper bag mulai jatuh ke lantai dari tangan kirinya.
" Toni ada apa dengan istri ku Toni katakan "
" sabar Van... dia telah... " ucap dokter Toni sedikit terhenti seolah ucapan nya tak bisa ia lanjutkan kan lagi,
tetapi berbeda di dalam hatinya yang paling dalam dokter tampan itu kini tengah menahan tawanya melihat reaksi sekertaris Revan yang selalu dingin terhadap orang lain itu selama ini.
" tidak. . tidak... mungkin bukankan keadaannya mulai membaik kau bilang "
" ya memang tapi sesaat setelah kau pergi keadaannya tiba tiba kritis Van dan alat ku sudah tak bisa lagi mendeteksi detak jantung nya " jelas Toni yang membuat alasan senatural mungkin.
__ADS_1
" tidak.... tidak mungkin, Dinda bangun Dinda bangun ayo kita pulang sayang kau baik baik saja, aku akan membuang selimut putih tak berguna yang menutupi tubuhmu ini " ucap Revan pada tubuh sang istri yang masih tertutup kain putih di atas ranjang, kemudian langsung menarik nya dan membuang selimut t tersebut
" Sekertaris Revan bersabarlah, aku turut berduka " ucap Bima yang mulai melangkah ke arah depan tepat berada di belakang sekertaris kepercayaan tersebut sambil memegang pundak milik sekertaris Revan.