
Sheina mulai memasuki mansion besarnya dengan langkah kaki yang sudah berat untuk ia lanjutkan menuju lantai atas kamar nya.
Kedua kaki nya terlihat mencoba menopang tubuh yang perlahan gemetaran, dengan keringat dingin yang sudah membasahi seluruh kening dan pergelangan tangan nya.
Sheina kau pasti kuat batin nya menyemangati.
Gadis itu terus melanjutkan langkah nya satu persatu.
Beberapa saat.
Akhirnya Sheina sampai di depan pintu kamar nya, ia segera masuk ke dalam dan langsung menyandarkan punggungnya di balik pintu kamar yang baru saja ia tutup tersebut.
Tubuh nya mulai merosot ke lantai, sungguh kali ini ia benar-benar tak kuat.
Lelehan air mata nya mulai membanjiri pipi, tubuh nya terlihat sangat lemas.
Darah dari hidung nya kembali menetes.
Ia mengusapnya kasar.
Kemudian kembali mencoba berdiri untuk menuju ranjang menaruh tas kecil yang masih mengalung di pundak sebelah kiri.
BRAKKKK.....
Tiba tiba pintu kamar di dobrak dari luar
seketika membuat Sheina terkejut dan membalikkan tubuhnya ke belakang menatap ke arah yang punya suara.
" Sayang ada apa dengan mu, kau pulang cepat, apa ada sesuatu yang tertinggal biar aku antar kau bisa menelpon ku kan, jangan marah marah seperti ini " ucap Sheina lembut, tetapi tubuhnya bertambah gemetaran melihat tatapan Barra yang menyeramkan pada dirinya, seolah ingin memangsanya hidup hidup.
Barra tak berniat menyahut, masih dengan tatapan tajam nya ia segera memasuki kamar dan mendekat ke arah Sheina.
Keduanya saling berhadapan.
" Dari mana saja kau tadi " tanya nya dingin pada sang istri.
Sheina tak langsung menjawab nya seperti kebingungan.
" emm.. ak... ak... aku emm..." jelas nya tergagap.
__ADS_1
tidak mungkin aku jujur pada nya jika aku dari rumah sakit, dia pasti curiga dan menyelidiki semuanya gumam Sheina.
" JAWAB " sentak nya dengan suara lantang.
Membuat Sheina langsung terkejut seketika, sambil mengelus dada.
" ak... aku... aku dari em... " lagi lagi bibir nya seolah keluh untuk menjelaskan.
" kau tak bisa menjelaskannya kan hah " sahut Barra, kemudian langsung meraih dagu Sheina dan mencengkram nya dengan kuat.
Kali ini Barra sungguh sungguh sangat lah marah, ia merasa benar-benar di khianati oleh gadis yang begitu ia cintai nya itu selama ini.
" Barra lepaskan sakit, ini sungguh sangat sakit hiks... hiks.... " ucap Sheina sedikit kesusahan dengan kedua matanya yang kembali di genangi oleh air mata.
" Aku tidak akan melepaskan, sebelum kau menjawab perkataan ku " Barra sudah di kuasai oleh amarah.
" ak... aku dari rumah sakit " tuturnya gemetaran.
" untuk apa kau ke sana " tanya Barra.
" aku hanya ingin mengisi waktu luang ku, aku bosan di mansion "
" hehehe.... apa hanya itu saja, dan tak ada yang ingin kau jelaskan " Barra tertawa kaku mendengar penjelasan sang istri.
Membuat amarah Barra semakin mendarah daging, dengan segera
tangan berotot itu langsung beralih menarik kasar pergelangan tangan milik sang istri untuk keluar kamar.
" Aw sakit.... kau mau membawaku kemana, Barra lepaskan tangan ku " ucap Sheina.
Barra tak menghiraukan ia terus menyeret tangan yang sudah dingin tersebut.
Di lantai Bawah.
Barra terus menarik tangan sang istri, sedangkan semua para pelayan di buat terkejut akan hal itu.
Para pelayan hanya bisa menatap saja ke arah keduanya, tetapi tak bisa berbuat apa apa melihat tontonan di hadapan kedua mata mereka sendiri.
Baru kali ini selama mereka bekerja di sana, mereka melihat sang tuan yang begitu sangat marah, padahal sebelum nya mereka tau bahwa Barra sang atasan begitu sangat mencintai istri nya Sheina.
__ADS_1
" Barra lepaskan " ucap Sheina mencoba melepaskan genggaman kuat di pergelangan tangan nya.
" DIAM " sentak nya.
Sheina langsung terdiam, dan seketika tubuhnya mulai ambruk ke lantai membuat Barra langsung menghentikan langkah nya.
Barra langsung berjongkok dan meraih tubuh ringkih itu.
" Hei bangun, kau tak usah berpura-pura di depan ku " ucap nya sambil menepuk pelan kedua pipi Sheina agar terbangun.
Sheina hanya membuka separuh mata nya yang berusaha ia tahan untuk tak terpejam.
Apakah aku masih bisa kuat gumam nya.
" Barra, bawa aku ke kamar " ucap Sheina dengan nada suara yang hampir tak terdengar.
Barra hanya memutar kedua bola matanya malas, seolah menganggap Sheina hanya bersandiwara dalam hal ini.
" Kau pikir aku percaya sandiwara mu, aku sudah mengetahui semua nya, SEMUANYA, kau mengerti jadi sekarang bangun lah "
Sheina tak membalas ucapan Barra, gadis itu kini benar-benar tak sadarkan diri, kedua mata nya benar-benar terpejam.
Barra hanya tersenyum sinis, ia benar-benar mengira Sheina hanya bersandiwara di hadapan nya.
Kemudian ia kembali menggendong tubuh itu dan membawanya menuju gudang.
Dan akan mengurung Sheina di sana sebagai pelajaran,
ini akan menjadi pelajaran terakhir yang ia berikan, Barra bersungguh sungguh dalam hal ini.
Di dalam gudang.
Barra menaruh tubuh yang masih pingsan tersebut di dalam sana,
di dalam sebuah gudang yang begitu sangat gelap tanpa ada lampu, kemudian ia segera kembali menguncinya dan meninggal kan nya dengan langkah cepat.
*
Malam menjelang.
__ADS_1
Sheina masih di dalam gudang, beberapa pelayan di perintah untuk membawa Sheina kembali ke lantai atas kamar.
Gadis itu masih belum sadarkan diri dengan tubuhnya yang kini di balut selimut.