Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
persalinan Adinda


__ADS_3

Rumah sakit.


Tepatnya di ruang persalinan.


Sekertaris tampan itu kini tengah mondar mandir tak karuan di depan ruang bersalin, menunggu sang istri yang kini tengah berjuang untuk melahirkan sang buah hati.


Setengah jam berlalu.


Tapi pintu ruangan khusus persalinan masih saja belum terbuka, hanya rintihan, serta teriakan Adinda yang hanya terdengar dari luar ruangan.


Ingin sekali sebenarnya ia masuk, tapi pihak kedokteran melarang nya karena keadaan sangat darurat, air ketuban di perut Adinda hampir saja habis dan itu sesuatu hal yang bisa membahayakan sang bayi.


Sedangkan di dalam sana Adinda tengah di tangani oleh dokter Rani dokter khusus kandungan dan juga para dokter lain nya.


Satu jam mulai berlalu,


Revan mulai mendudukkan bokong nya di kursi tunggu, setelah sedari tadi dirinya mondar mandir tak jelas.


Revan perlahan menenangkan pikiran nya.


Semoga semuanya baik baik saja, Dinda berjuanglah aku percaya padamu kau pasti bisa Din ucap nya.


Sesaat sekertaris Revan kembali berdiri gemuruh di dalam hatinya kembali muncul, memikirkan keadaan Adinda di dalam sana, kedua kaki nya terus mondar mandir.


Kenapa pintu nya belum terbuka, mana tangisan anak ku, bagaimana keadaan nya gumam nya.


OWEKK..... OOWEKK.....


OOWEK... OOOOWEKK.....


tangisan bayi dari dalam ruangan.


" Suara bayi " ucap nya sambil memasang kembali pendengaran nya.


" iya Anak ku, Dinda kau berhasil Dinda kau berhasil " ucap nya lagi.


Setelah beberapa saat ruangan persalinan perlahan terbuka.


" Dokter bagaimana keadaan istri ku, anak ku bagaimana "


" tenang tuan... selamat bayi anda laki laki "


" Y E S "


" tuan saya belum selesai "


" ah iya maaf dokter Rani "


" keadaan istri anda masih lemah, dan sebentar lagi istri anda akan di pindahkan ke ruangan pasien "


" terimakasih kasih dokter Rani, terimakasih sebelumnya, cepat minggir aku ingin melihat istri ku "


Dokter Rani sedikit menggelengkan kepalanya pelan.


Astaga atasan dan bawahan memang benar-benar sebelas dua belas sudah kaku menyebalkan, untung saja tampan gumam dokter Rani.


kemudian segera bergegas pergi meninggal kan ruang bersalin dan beberapa dokter lain nya.

__ADS_1


Sedangkan Revan kuni sudah berada di dalam ruangan.


Kini pria bertubuh atletis itu mulai mendekati Adinda dan langsung menciumi seluruh wajah sang istri penuh kasih sayang.


CUP.... CUP.... CUP.... CUP.... CUP....


" terimakasih untuk semuanya " ucap Revan dengan lelehan air mata yang mulai menganak sungai di kedua ujung mata nya.


Adinda tersenyum menatap pria di hadapan nya yang tengah meneteskan air matanya itu.


Seketika Adinda langsung menghapus lelehan air mata Revan penuh dengan kelembutan.


" Dinda kau berhasil bayi kita laki laki " ucap Revan yang kini tengah menatap putra kecil nya yang tengah berada di dekapan sebelah kiri Adinda.


Adinda mengangguk pelan sambil mengembangkan senyum.


" sayang aku ingin menggendong nya " ucap Revan


" ya sudah gendong lah pelan pelan "


" halo anak papa kau tampan sekali " ucap Revan yang kini perlahan mulai mengambil bayi kecil yang berada di dekapan Adinda.


" iya tampan, tapi semoga saja sifat nya seperti diriku "


" memang nya kenapa kalau seperti ku " tanya Revan sambil menciumi bayi kecil nya yang perlahan mulai tertidur pulas di gendongan nya itu.


" sifat mu dingin, kaku dan menyebalkan "


" astaga istri ku masih sempat sempat nya kau ya Din " ucap Revan terlihat lesu saat mendengar penuturan dari sang istri.


semoga saja seperti diriku


hah.... gumam Adinda sedikit membuang nafas nya kasar.


" Shhttt... dia mulai tertidur "


" dia pasti merasa sedikit kenyang, tadi dia menyusu "


" sayang lihat dia lucu sekali , kau ingin memberi nama siapa pada bayi kita " ucap Revan dengan nada suara pelan nya agar sang bayi tak terbangun.


" bagaimana kalau kita kasih nama Barra "


" baiklah jika kau sangat menyukai nama itu, sepertinya bagus juga nama yang kau berikan Dinda "


Keduanya kini saling melempar senyum.


*****


Di ruang pasien.


Beberapa jam lalu Adinda telah di pindahkan ke ruang pasien, kini wanita yang sudah berstatus menjadi ibu itu terlihat tengah tertidur lelap sedangkan sang bayi masih berada di gendongan sang ayah yaitu Revan.


Perlahan Revan mulai menaruh sang bayi di dekat Adinda yang tengah tertidur pulas,


Di lihat nya Adinda begitu sangat nyaman mungkin karena Adinda merasa kelelahan setelah melahirkan apalagi putra kecilnya yang selalu meminta ASI terus menerus.


" Sayang aku keluar sebentar " ucap Revan pada keduanya tak lupa Revan mengecup pipi antara anak dan istri.

__ADS_1


kemudian segera bergegas keluar dari dalam ruangan.


*


*


Sepeninggalnya Revan, lima belas kemudian pintu ruangan Adinda dibuka seseorang.


JEG GLEK.....


bunyi pintu ruangan yang baru saja di buka dari luar.


Menampilkan sepasang suami istri yang tengah membawa bayinya memasuki ruangan Adinda.


Sedangkan Adinda kini juga mulai terbangun oleh suara pintu tadi.


Kedua mata Adinda kini terbuka sempurna ketika mendapati seseorang di hadapan nya adalah sahabat sekaligus atasan yang berada tepat di depan kedua mata nya saat ini.


" nona, tuan " ucap Dinda dengan sedikit terkejut.


Kedua nya tersenyum antara Bima dan Zahra.


" iya Din ini kami, bagaimana keadaan mu, bayimu lucu sekali " tanya Zahra.


" alhamdulillah semua nya lancar nona, bayi laki laki "


" pantas saja tampan sekali iya kan sayang " ucap Zahra terlihat bahagia sambil beralih menatap sang suami.


" iya kau benar Zahra, oh iya di mana Revan "


" dia sedang keluar mungkin tuan, tadi saya tertidur maka dari itu saya tak mengetahui nya "


Bima sedikit menganggukkan anggukkan kepalanya pelan.


Tiba tiba pintu ruangan di buka dari luar.


JEG... GLEK...


siapa lagi kalau bukan Revan.


tap... tap... tap...


suara langkah nya memasuki ruangan.


" tuan nona " ucap Revan sedikit terkejut akan kedatangan kedua atasan nya tersebut.


" hei kau dari mana saja " ucap Bima pada sekertaris kepercayaan nya itu.


" tadi ada urusan sebentar tuan " jawab Revan sambil tangan nya menunjukkan arah belakang.


Bima kembali mengangguk anggukkan kepalanya pelan seperti tadi.


" selamat Van kau sudah menjadi seorang ayah " ucap Bima sambil memeluk tubuh Revan kemudian menepuk pelan bahu bawahannya itu.


" hehehe.... Terima kasih tuan " jawab sekertaris Revan sambil sedikit tertawa.


Sedangkan Adinda dan Zahra kini saling pandang kemudian mengembangkan senyum nya.

__ADS_1


__ADS_2