
TOK... TOK... TOK...
Suara ketukan pintu mengagetkan keduanya.
Sheina langsung berusaha bangun dari atas tubuh Barra,
tapi usahanya tak berhasil karena Barra tambah mengeratkan pelukan nya itu.
" Lepaskan Bar aku mau turun " ucap Sheina sambil berusaha sekuat tenaga.
" tidak aku tidak mau, kau yang memulainya Shei '' jawab nya
" dasar pria brengsek "
" hei aku suami mu "
" lepaskan aku, kau tidak dengar ada yang mengetuk pintu " jelas gadis yang mempunyai bibir tipis itu.
TOK... TOK... TOK....
Suara pintu kembali terdengar.
" kau dengar kan " ucap Sheina mengulangi perkataan nya.
" ya baiklah tapi...." ucap nya terhenti.
" tapi apa sudah lepaskan " kekeh Sheina.
Perlahan Barra melepaskan pelukan itu dan membiarkan Sheina untuk pergi membuka pintu apartemen.
" nanti kita lanjutkan lagi " teriak Barra tapi sayang Sheina teriakan nya sudah tak menghiraukan lagi,
Barra kemudian segera bangun untuk mengikuti Sheina menuju ke arah pintu apartemen yang kini sudah berada di depan pintu sana.
JEG... GLEK....
handel pintu baru saja Sheina buka.
Kedua matanya membulat sempurna ketika mendapati seseorang pria yang ia rindukan beberapa hari ini muncul di hadapan nya.
" Kak Earth " ucapnya penuh kebahagiaan
Membuat pria di belakangnya segera mendongakkan kepala menatap seorang tamu pria yang baru saja di sebut oleh Sheina istrinya.
Barra langsung mendekat dan menarik pinggang Sheina kedalam pelukan nya begitu posesif.
Membuat Sheina teringat akan posisi nya saat ini di hidup Barra.
Sedangkan Earth hanya tersenyum kaku melihat pemandangan di hadapan nya itu, pemandangan yang membuat hati nya begitu sakit.
" Kak aku ingin membicarakan sesuatu padamu ayo masuk " ucap Sheina seolah tak menganggap keberadaan Barra yang berdiri tegap di samping nya.
" ah seperti nya tidak usah Shei bukan kah ini sudah jelas maafkan aku sebelumnya, permisi " jelas Earth kemudian bergegas pergi dari ambang pintu.
Sheina langsung melepaskan tangan Barra dari pinggang nya kemudian segera berlari menyusul langkah Earth yang mulai menjauh dari sana.
__ADS_1
" Shei kau kemana " ucap Barra.
Sheina hanya terus berlari di lorong apartemen tanpa menghiraukan perkataan suaminya.
" AKKKHHH SIAL....kau hanya milikku dan hanya milikku Shei " teriaknya penuh kekesalan sambil tangan sebelah kirinya menonjok tembok dinding sebagai pelampiasan.
Pria berahang tegas itu tak tinggal diam ia segera berlari menyusul Sheina untuk mengajaknya kembali masuk ke dalam apartemen.
Dengan dirinya yang sudah penuhi rasa kemurkaan pada Sheina.
seolah darah di otaknya sudah mendidih dan siap untuk di tumpahkan pada Sheina yang justru memilih pria lain ketimbang dirinya itu.
*
Di lorong apartemen yang sepi Barra justru mendapati Sheina tengah memegang tangan Earth, keduanya terlihat seperti membicarakan sesuatu yang penting entah itu apa.
Barra bertepuk tangan seperti sedang melihat sebuah pertunjukkan.
" Bagus " ucap Barra sambil menatap tajam keduanya antara Sheina dan Earth.
Pria tampan itu mulai melangkah mendekati keduanya dengan gaya maskulin tapi tak luput dengan seringai tipis di kedua ujung bibir nya seolah ingin memojokkan lawan.
Sedangkan Sheina mulai di landa ketakutan melihat tatapan menakutkan yang di tunjukkan oleh Barra.
" apa sudah selesai pertunjukkan kalian, hei kau namamu Earth kan apa semua yang aku katakan padamu kurang jelas "
Gadis itu hanya diam sambil menundukkan kepala.
Earth juga terdiam sejenak kemudian mulai membuka suara.
" lantas apalagi yang kau tunggu, jangan sekali kali kau mendekati Sheina lagi kau tau bukan ikatan ku dan Sheina, PERNIKAHAN faham " jelas Barra dengan penuh penekanan.
" ya aku faham, dan semoga kalian bahagia " ucap Earth meskipun hatinya terasa perih menerima semua kenyataan ini.
" tentu saja " sambil memasang raut wajah dingin nya.
" baiklah permisi " sahut Earth kemudian melenggang pergi.
Kini hanya tinggal Sheina dan Barra, keduanya terlihat hening di tambah keadaan lorong apartemen yang terlihat sangat sepi karena memang sudah larut malam membuat Sheina bertambah ketakutan.
" masuk sekarang " ucap Barra dengan tatapan menakutkan.
Sheina tambah merinding melihat tatapan yang sedari tadi sudah membuat bulu kuduk nya itu berdiri.
" i.. i.. iya " jawab nya kemudian berjalan melewati Barra sambil menundukkan pandangannya.
Keadaan macam apa ini, mendengar ucapan nya saja sangat menakutkan apa yang harus aku lakukan gumam Sheina.
Sheina terus berjalan menuju pintu masuk apartemen nya di ikuti Barra di belakang.
Gadis itu mulai masuk ke dalam.
BRAKK.....
bunyi hempasan pintu apartemen yang begitu sangat keras membuat Sheina sedikit terlonjak kaget.
__ADS_1
Sheina tau pria tampan di belakangnya itu sedang di penuhi kemurkaan padanya.
Ia segera mempercepat langkah nya agar cepat sampai di kamar, tapi sayang tangan nya telah di raih oleh Barra .
" Baru apa ada apa dengan mu " ucap Sheina memberanikan diri.
" Diam " jawabnya dengan nada dingin.
Matilah aku, baru kali ini aku melihat nya sangat menakutkan sekali gumam Sheina
sambil menelan ludah nya kasar.
Barra terus menariknya ke dalam kamar kemudian mengunci pintu nya.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut nya ia terus menatap Sheina dengan tatapan menakutkan kan.
" lepaskan tangan ku Bar sakit " ucap Sheina sambil merintih mencoba melepaskan tangan kekar yang menggenggam erat pergelangan tangan nya itu.
" kalau aku tidak mau bagaimana hah " ucapnya dengan seringai tipis.
membuat Sheina tambah merinding tak karuan.
Kemudian tiba tiba Sheina mengigit tangan Barra karena tak tau lagi cara apa yang harus ia lakukan saat ini.
" AKHH... " pekik Barra.
Sheina segera memundurkan langkahnya ke belakang menjauh dari Barra.
Barra kembali tersenyum jahat menatap Sheina, perlahan ia mendekat ke arah Sheina yang ketakutan.
" jangan mendekat Bar, apa yang kau lakukan" ucap Sheina
" aku menginginkan dirimu " jawab Barra dengan nada sensual.
" aku mohon jangan "
" jangan kau bilang, sedangkan dengan Earth kau sampai memegang tangan nya, sedangkan dengan suami saja kau tidak mau" jelas Barra dengan kemarahan yang memuncak.
" bu.. bu... bukan begitu " ucapnya sedikit terbata bata.
" terus apalagi " sentak Barra.
Kemudian ia langsung menarik tangan Sheina meraih pinggang ramping itu dengan posesif, mencium bibir Sheina dengan paksa.
Sheina terus meronta menolak ciuman itu tapi ia kalah tenaga sebagai seorang wanita,
Barra terus mencium bibir tipis milik Sheina sampai puas dengan nafsu, setelah itu beralih mencium i di area leher jenjang putih mulus milik Sheina tak lupa pria tampan itu meninggalkan jejak kepemilikan nya di sana sini.
membuat leher jenjang tersebut kini terlihat seperti di hiasi banyak kupu kupu beterbangan.
" hentikan... aku mohon hentikan " ucap Sheina begitu lirih terdengar dengan derai air mata yang kini mulai membasahi kedua pipi nya.
Barra tak mendengarkan sedikit pun ia terus sibuk dengan aktivitas nya.
Kini Sheina hanya pasrah oleh kelakuan Barra yang penuh pemaksaan itu, meskipun di dalam dirinya ia merasa sedikit menikmati sentuhan yang Barra berikan, tapi tidak dengan cara pemaksaan seperti ini yang ia ingin kan membuatnya seolah ketakutan tak karuan.
__ADS_1