Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
ingin menjodohkan sedari kecil


__ADS_3

Kini hubungan antara sekertaris Revan dan Adinda akan segera menuju hubungan yang lebih sakral,


dimana hubungan keduanya yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan, setelah dua bulan lalu sekertaris tampan itu mengajak Adinda menikah, dan Adinda bersedia memberikan waktu untuk sekertaris tampan itu menunggu waktu yang pas melaksanakan pernikahannya,


mungkin pernikahan keduanya satu minggu lagi akan di laksanakan, tetapi mungkin juga di laksanakan dengan sangat sederhana, karena Adinda sebelas dua belas seperti istri atasannya itu yaitu Zahra yang selalu suka kesederhanaan dan pemalu juga sebenarnya.


Dan kini tepatnya di mansion.


Sudah dua bulan lamanya putri Sheina berada di dalam kotak inkubator, dan saat ini genap dua bulan juga baby Sheina sudah tak lagi di taruh di dalam kotak tersebut.


Dan di pagi ini bayi berparas ayu itu berada di dalam gendongan sang papa yang selalu memanjakan nya, dengan telaten nya Bima merawat sang putri pertamanya itu.


" anak papa sudah mandi ya, harum sekali " ucap Bima sambil menciumi wajah bayi mungilnya tersebut.


" iya dong papa " jawab Zahra yang seperti menirukan suara anak kecil.


Bima tersenyum dan menoleh ke arah Zahra yang kini tengah berselonjor di atas ranjang empuk nya setelah tadi memberi ASI pada Sheina putri kecilnya.


" Sheina cantik sekali putri papa, papa sangat gemas menggendong mu sayang " ucap Bima kepada bayi mungil yang kini terlihat segar itu dengan bedak bayi yang masih menempel di wajah nya.


" benarkah " jawab sang istri menyahuti perkataan Bima.


" iya ... apa lagi padamu sayang " goda Bima sambil mengedipkan mata nya sebelah menatap sang istri yang masih setia di atas ranjang.


" sepertinya ada yang menggoda mama akhir akhir Shei "


" hehehe.... Zahra waktu mu jarang sekali bersama ku sayang, kau lebih sibuk dengan Sheina lihat di kedua bawah matamu mulai sedikit hitam karena kau kurang tidur, bagaimana kalau kita mencari baby sister sayang "


" Sayang tidak perlu, ini sudah kewajiban ku bukan sebagai ibu untuk merawatnya lagi pula juga ada mama di sini "


Bima tersenyum mendengar jawaban sang istri yang begitu sangat terdengar tulus dari dalam hati nya.


" Zahra kau selalu membuat ku kagum atas pemikiran mu yang masih muda sayang, dan menambah diriku semakin mencintaimu "


" Terima kasih papa, papa jangan bucin lagi ya kan sudah Sheina "


" aku bucin jika sedang berdua saja dengan mu mama Zahra "


" hehehe.... dasar ya papa "


" sayang shhhtttt..... Sheina sudah tertidur pelan kan suaramu "


Zahra mengangguk dan lagi lagi bibirnya kembali mengembangkan senyuman.


Perlahan Bima menaruh bayi mungil nya di kotak tempat tidur bayi yang terlihat sangat mewah nan lucu tepat nya yang berada di sebelah ranjang.


" sayang dia sepertinya sangat nyaman " ucap Bima sambil menatap putri Sheina yang baru saja ia letakkan di dalam kotak tempat tidur putri nya tersebut.


" mungkin karena dia sudah kenyang sayang "


" mungkin... sekarang waktunya papa memanjakan mama "


" sayang apa yang akan kau lakukan padaku, kau tidak perlu memanjakan aku segala "


" memang nya siapa yang melakukan itu padamu Zahra, aku tau lipatan sempit milik mu masih belum bisa digunakan bukan, dan jahitan di perutmu belum kering sepenuhnya "


" sayang kau memperhatikan itu semua " tanya Zahra yang merasa bahagia suaminya begitu sangat memperhatikan dirinya.


" tentu... karena aku sangat memperhatikan dirimu istri ku, mendekat lah sedikit ke arah ku sayang "


Zahra pun sedikit menggeser tubuhnya mendekati sang suami.


Dan perlahan Bima menaruh kepala sang istri di pahanya, jadi posisi keduanya seperti bertukar Bima berselonjor dengan posisi sedikit terduduk bersandar bantal, sedangkan Zahra tidur menyamping dengan kepalanya yang di taruh di paha Bima.

__ADS_1


Keduanya saling pandang Zahra menatap ke arah wajah sang suami yang berada di atas wajahnya sedangkan Bima sedikit menundukkan kepalanya menatap wajah istrinya yang berpangku pada pahanya.


" papa Sheina menatap nya jangan seperti itu "


" kenapa memang nya hem "


" aku malu jika kau menatapku seperti itu sayang "


" ya sudah cium saja bibir papa Sheina ini, agar kedua matanya terpejam saat di cium bibir tipis milik mu sayang, supaya berhenti menatapmu "


" alasan...."


" tidak "


" iya "


" tidak "


" iya.. iya... iya "


" ya sudah terserah mama Sheina, sekarang cium ayo cepat "


" pada akhirnya tetap saja kan kau menyuruhku mencium mu sayang "


" hehehe.... "


" mendekat lah bayi besar "


Bima pun kemudian langsung mendekat dan bibir Zahra langsung meraihnya, pasangan suami istri itu kini saling menempel kan bibir nya satu sama lain, Zahra begitu lihai sekarang dalam hal berciuman karena Bima terlalu sering menciumnya sedari dulu, maka dari itu tak di pungkiri Zahra langsung menyambar bibir sang suami tadi.


Kedua bibir itu saling bertautan kedua mata saling terpejam begitu sangat menikmati ciuman pagi ini.


sesaat ciuman itu terhenti.


" sebentar sayang, aku ingin menanyakan sesuatu "


" apa "


" hubungan sekertaris Revan dan Adinda bagaimana "


" mereka sebentar lagi akan menikah sayang "


" apa.... kenapa aku sampai ketinggalan jauh soal hubungan mereka "


" kenapa kau seheboh itu Zahra dengan hubungan seseorang "


" sayang bukan begitu, kau sedari dulu kan tak memberiku nomor Adinda aku ingin sekali dia menjadi sahabatku, apalagi pasangan nya sekertaris Revan seseorang yang sudah kau anggap keluargamu sendiri, apakah kau tidak ikut senang jika mereka berdua segera menyatu, maka dari itu aku ingin mengetahui hubungan mereka dan aku mungkin orang pertama yang mendukung hubungan mereka " jelas Zahra.


" iya kau benar Zahra, keluarga ku lah satu satunya harapan sekertaris Revan untuk menjadi walinya jika dia akan segera menikahi rekan nya itu "


" Adinda maksud mu "


" ya itu maksud ku, bagaimana kalau kau telepon saja Adinda, sepertinya sekertaris Revan dulu pernah mengirimkan nomor Adinda padaku dan aku lupa memberi tahu mu "


" ya sudah mana "


" sebentar tunggu di sini "


Bima pun mengambil ponsel nya yang tertinggal di ruang kerja tadi pagi.


sesaat kemudian.


Bima kemudian kembali dengan membawa ponsel miliknya, dan mulai memberikan nomor Adinda kepada Zahra.

__ADS_1


Sedangkan Zahra kini mulai mengotak atik ponsel miliknya untuk menghubungi Adinda di sebrang sana.


Sesaat panggilan mulai terhubung.


" halo " ucap Adinda di sebrang sana.


" halo Dinda, bagaimana kabar mu ini aku Zahra, istri atasan mu " jawab Zahra sambil memencet pengeras suara di panggilan telepon nya.


" oh... astaga nona Zahra,.. nona bagaimana kabar anda " tanya Adinda dengan nada semangat dan begitu ceria di dengarnya.


" kabar ku baik Dinda, bagaimana hubungan mu dengan sekertaris Revan " tanya Zahra yang kini saling pandang bersama suami di dalam kamarnya.


" hubungan saya baik nona, dan sebentar lagi saya akan menikah dengan nya, mungkin satu minggu lagi nona " jawab Adinda di sebrang sana sambil senyam senyum sendiri sesekali dirinya melirik pria di samping nya.


" aku juga ikut bahagia Dinda mendengar nya "


" iya nona, nona nona " panggil Dinda dari sebrang sana.


" iya Din "


" nanti jika saya sudah mempunyai anak dan anak saya laki laki anda mau kan putri anda yang cantik itu saya jodohkan dengan putra saya nona " jelas Adinda di sebrang sana kepada Zahra.


" Dinda " ucap sekertaris Revan penuh penekan di sebrang sana.


Sedangkan Zahra dan Bima saat ini tengah tertawa mendengar obrolan sepasang kekasih di sebrang telepon tersebut.


" nona nona " panggil Dinda lagi di sebrang telepon.


" iya Din " jawab Zahra mengembangkan senyum nya saat ini bersama sang suami


" mau kan " tanya Dinda lagi untuk yang kedua kalinya.


" Dinda " ucap sekertaris Revan lagi dengan nada penuh penekanan sesekali melirik ke arah kekasihnya itu yang sedikit menyebalkan memang.


" iya Dinda aku mau " jawab Zahra lagi kemudian saling pandang dengan Bima saat ini seperti menahan tawa mendengar sepasang kekasih di sebrang sana sedikit berdebat itu.


" hahaha.... terimakasih nona, ya sudah kalau begitu nona, sepertinya pria di samping saya ini sedikit tak bersahabat "


" hehehe.... ya baiklah Dinda sampai bertemu di pelaminan Din "


" hehehe.... nona bisa saja, ya sudah nona sampai jumpa aku suka mengobrol dengan mu, lain kali saya akan sering mengobrol dengan nona ya " ucap Adinda


" iya Dinda " jawab Zahra yang sepertinya sangat senang sekali mengobrol bersama calon istri dari bawahan suaminya tersebut.


" da... da... nona " ucap Dinda kemudian.


dan...


tut... tut... tut


Panggilan pun terputus.


PERHATIAN.


BAB BAB SELANJUTNYA AUTHOR BUAT KHUSUS SEKERTARIS REVAN DAN ADINDA YA, KERENA BIMA DAN ZAHRA SUDAH MEMPUNYAI ANAK JADI ZAHRA DAN BIMA UDAH JARANG KELUARNYA DI BAB BAB SELANJUTNYA.


KARENA NANTI AUTHOR MAU BIKIN JUDUL BARU ANTARA ANAK TUAN BIMA DAN SEKERTARIS REVAN OK😊😊😊


JANGAN LUPA BACA NOVEL AKU LAINYA KAK :


- PERBUDAKAN KU BERAKHIR DI PELAMINAN ( on going)


- DUNIAKU TAK SELEBAR DAUN KELOR ( karya masih baru banget, on going )

__ADS_1


KAK JANGAN LUPA LIKE, VOTE, SAMA KOMENTAR NYA ☺☺😊😘😍😍, πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2