
" wahh kau seperti bukan tuan muda yang biasa aku kenal bim, hahaha,..sungguh aku tak menyangka pertemuan mu dengan Zahra ternyata jodoh memang tidak kemana ya,
kau beruntung mendapatkannya Bim sepertinya aku melihat Zahra pertama kali di rumah sakit waktu itu aku merasa dia memang gadis yang sangat baik, dan juga dia wanita yang sangat polos kalau aku lihat dari setiap kata-katanya waktu itu ketika ayahnya di rumah sakit dan akan melakukan operasi,
sudah cantik baik polos lagi jarang-jarang gadis yang seperti itu Bim aku harap kau tidak pernah menyia-nyiakan dia karena sifat mu yang dingin itu.
" Ya aku tidak akan menyia-nyiakan dia Ton karena aku sangat mencintainya, apalagi membiarkan laki-laki lain mendekatinya dan memuji kecantikannya di depanku seperti orang yang ada di depanku saat ini yaitu kau "
" hah kau ini aku kan tadi hanya menasihatimu saja tuan muda Bima yang DINGIN, Kalau masalah cinta semua orang bisa berubah dalam sekejap hadehh BUCIN ".
" ah kau ini sekarang pulanglah kau sudah tidak dibutuhkan lagi disini, dan aku akan menyuruh sekertaris Revan mentransfer ke rekening mu.
" iya iya aku sudah tau kau selalu saja mengusirku dasar tuan muda dingin " ucap dokter Toni kepada Bima kemudian berlari meninggalkan ruang tamu karena dirasa aura disekitarnya tak lagi bersahabat karena dia telah mengatai tuan mudanya itu.
" Dasar kau "
kemudian Bima pun kini kembali melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga untuk kembali ke kamar melihat keadaan Zahra
cek lek
suara pintu yang dibuka perlahan oleh Bima
kemudian Bima pun melangkah kakinya menuju kasur yang saat ini ditiduri oleh wanita kesayangannya itu, yaitu Zahra istri barunya
Bima duduk di sisi ranjang sambil mengelus kening zahra kemudian memegang kedua tangan zahra,
" sayang kapan kau bangun kau tau aku sangat merindukanmu, melihat tingkah polos mu,mendengar ucapan mu yang lucu itu. maafkan aku zahra aku tidak akan mengulanginya lagi ini semua salahku maafkan aku sayang,sekarang bangunlah aku mohon " ucap Bima sambil menciumi tangan zahra berkali kali.
tak beberapa lama kemudian zahra pun mulai membuka matanya perlahan dan melihat kearah seseorang yang kini memegangi kedua tangannya.
" ada apa dengan ku "
" kau sudah sadar sayang ucap Bima sambil menciumi kening Zahra dengan lembut "
sedangkan zahra yang melihat Bima menciumi keningnya hanya terdiam karena dia sudah terbiasa dengan sifat Bima yang berubah-ubah itu.
" kenapa kau diam saja Zahra apa kau marah padaku, maafkan aku sayang yang membuatmu begini, dan aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
" ya aku sudah memaafkan mu " jawab zahra singkat
__ADS_1
selalu saja seperti itu sifat mu seolah-olah kau sangat mencintaiku terkadang kau sangat dingin kepadaku dan seolah-olah kau tidak menginginkan kehadiran ku gumam zahra dalam hati.
" ubah nama panggilan mu padaku sebelum aku. . ."
ucapan Bima pun terhenti sesaat karena
suara panggilan masuk di layar handphone miliknya dibalik saku celana.
tring
tring
tring
" ya halo Ma " jawab bima
" mama sebentar lagi sampai sayang, dimana menantu mama yang cantik itu " sahut mama Alisya di balik telfon.
" baiklah aku dan istriku menunggumu di rumah, dia sedang tidak enak badan Ma dikamar tetapi sudah enakan, papa dan Hendra apa jadi ikut pulang Ma "
" alhamdulillah kalau begitu, iya sayang ini mereka di samping mama "
" ya baiklah sayang " sahut mama Alisya di seberang sana.
setelah mematikan teleponnya Bima kembali melanjutkan kan ucapannya kepada Zahra.
" sayang bersiap-siap lah mama sebentar lagi sampai
" hem " jawab singkat zahra
"Bima" : jaga batasan mu sebagai seorang istri Zahra.
zahra hanya terdiam tidak mengiyakan ucapan suaminya itu, kemudian dia berjalan memasuki ruang ganti mengambil pakaian yang masih baru untuk dia pakai sehabis mandi lalu dia melangkah kan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya meskipun keadaanya belum pulih sepenuhnya, sedangkan Bima sudah di lantai bawah karena mendengar sebuah suara mobil yang masuk ke pekarangan Mansion.
pak Tejo pun berlari dari arah belakang menuju teras depan mansion di ikuti para seluruh pelayan yang sudah berbaris dan berjajar rapi untuk menyambut tuan dan nyonya yang baru saja datang.
selamat datang tuan dan nyonya dan seperti biasa seluruh pelayan menundukkan kepala tanda hormat mereka kepada tuan dan nyonya nya itu. Dan nyonya Alisya membalasnya dengan anggukan dan sedikit mengembangkan senyumnya di sana berbeda dengan tuan Brandon yang menunjukkan sifat dingin dan angkuhnya itu.
" selamat datang Ma Pa dan kau Hendra bagaimana di sana kuliahmu " ucap Bima sambil memeluk keluarganya satu-persatu.
__ADS_1
" baik kak semuanya lancar, oh iya kakak katanya sudah menikah kata mama dan papa maaf aku tidak bisa datang kak karena sibuk di sana "
" dimana istri kamu sayang kok tidak kelihatan dari tadi mama sampai "
" itu istriku Ma sudah turun " tunjuk Bima ke arah tangga Hendra yang sedari tadi sibuk dengan handphone nya tak menghiraukan kedatangan istri kakaknya itu, terus mengotak atik benda pipinya itu.
" Oh iya, turun sini sayang "
" iya mah sebentar "
zahra melihat ke lantai bawah sambil tersenyum melihat orang dibawah sana sedang menunggunya, tapi sesekali matanya tertuju kepada sosok yang sepertinya dia pernah kenal.
Tapi juga tak begitu jelas, Zahra terus melangkahkan kakinya sampailah zahra dilantai bawah dan menyalami kedua mertuanya itu dan langkahnya terhenti ketika dia melihat sosok laki-laki yang serius sekali memainkan benda pipinya itu,
zahra terus saja memandangi sosok laki laki itu dan tatapan zahra tertangkap oleh kedua mata Bima yang sedari tadi mengikuti arah pandang istri nya itu, entah apa yang ada didalam hatinya saat ini.
" kamu tambah cantik saja sayang, Zahra sini duduk dekat mama kenalkan sama adik suami kamu "
Hendra yang sedari tadi sibuk dengan benda pipinya itu kini tiba-tiba mendongakkan kepalanya kemudian menatap zahra beberapa beberapa detik, apakah memang benar zahra yang dia sukai selama ini dan ternyata. . .
" Zahra. . .ini kamu kan, Fatimah azzahra " ucap Hendra begitu bahagia bisa bertemu dengan gadis yang selama ini dia sukai.
" iya ini aku Zahra, kamu Hendra kan teman sekolahku " Zahra juga begitu bahagia bisa bertemu hendra teman akrabnya dulu di sekolah.
" iya Za ini aku Hendra, ya Hendra siapa lagi memangnya,
saking senangnya Hendra reflek memeluk zahra begitu erat sampai-sampai lupa dengan keadaan sekitarnya, zahra pun berusaha melepas pelukannya dari Hendra, sedangkan Hendra seperti tak ingin lepas karena merasa kerinduannya sangat dalam hampir satu bulan lebih dia tidak bertemu dengan gadis yang selama ini dia idam idamkan.
" Hen lepaskan " ucap Zahra berusaha melepas pelukan itu.
semua orang yang ada diruang tamu terdiam sejenak melihat kedua diantara anak dan menantunya saling berpelukan, dan mama alisya yang melihat itu sedikit melirik ke arah suaminya dan suaminya seperti memberi sebuah isyarat kepada mama alisya, dan mama alisya juga sedikit melirik ke arah Bima yang mulai mengeraskan rahangnya dan meremas tangannya melihat tindakan adiknya itu.
" ekkhem .. ekkhem Hendra lepaskan Zahra "
sedangkan Hendra yang mendengar ucapan mamanya itu langsung melepaskan pelukannya kepada zahra dan Hendra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian menjawab ucapan mamanya itu.
" maaf Ma tadi Hendra hanya reflek " kemudian Hendra kembali duduk di tempatnya.
sedangkan Zahra
__ADS_1
" maafkan Zahra Ma Pa kemudian Zahra beralih memandang Bima, tetapi Bima sepertinya menghindari pandanganya dari Zahra, kemudian Zahra kembali duduk ditempatnya sambil menundukkan kepalanya.