Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
episode 21


__ADS_3

sejenak ruang tamu yang sebelumnya penuh kebahagian dan kehangatan akan kedatangan mama Alisya, papa brandon, dan Hendra dari luar negri itu,


kini ruangan tamu itu seperti di penuhi hawa yang panas karena kelakuan Hendra adik dari Bima sendiri, dan mama Alisya yang melihat keadaan sudah penuh keheningan itu langsung memulai obrolan untuk mencairkan suasana agar kembali hidup.


" oh iya sayang kamu betah kan di mansion ini " tanya mama Alisya kepada menantunya.


" iya Ma Zahra betah kok disini " sahut zahra sambil menampilkan senyum manisnya.


" apa kamu betah bersama suami baru kamu ini Zahra " tanya papa Brandon sambil melirik anaknya itu.


" Zahra betah kok Pa disini " ucap Zahra sambil tersenyum kepada papa Brandon.


" apa papa tidak ada pertanyaan lain ya " jawab Bima sambil menyilangkan kedua tangan didepan dadanya, sambil melirik ke arah papanya itu.


Sedangkan papa Brandon yang mendapat lirikan dari anaknya yang sedikit kesal itu hanya sedikit tersenyum.


" memang apa salahnya kalau papa bertanya pada menantu papa sendiri iya kan Ma "


" iya papa kamu benar tuh bim, itu menantu mama saja bilang betah kok ya kan sayang "


" halah alasan " ucap Bima sambil memutar bola matanya malas karena memang Bima tau kalau kedua orang tuanya itu hanya memancing dirinya saja, mama Alisya dan papa Brandon tersenyum mendengar jawaban anaknya itu karena anaknya sudah mengetahui tujuannya itu.


berbeda dengan adik laki-lakinya yang saat ini merasa kesal sekaligus kecewa karena gadis yang ia sukai ternyata kini telah menikah dengan kakaknya sendiri, entah bagaimana perasaan Hendra saat ini ataukah hancur melihat kenyataan di depannya itu.


Zahra kenapa kita kembali dipertemukan dengan keadaan yang seperti ini, hatiku sangat sakit melihat kenyataan yang sekarang ada didepan mataku ini, aku tidak rela melepas mu tapi apa boleh buat lelaki yang sekarang menjadi suamimu adalah kakakku sendiri bahkan kakak yang paling aku sayangi Hendra terus bermonolog dalam hatinya tetapi dia mencoba tidak memperlihatkan itu semua kepada keluarganya.


" Oh iya sayang kamu satu sekolah sama Hendra waktu SMA ya " tanya mama Alisya yang mulai penasaran.


" iya Ma Hendra teman sekolahnya Zahra dulu waktu SMA "


Hendra yang sedari tadi pura-pura memainkan game handphonenya karena dia sangat kesal dan kecewa dan berusaha menutupi kesedihan hatinya itu kini mendengarkan percakapan antara mamanya dan Zahra.


" oh begitu, apa kamu satu kelas sayang sama Hendra, apa dia disekolah sangat nakal Zahra "


" ya Ma,Zahra satu kelas sama Hendra, tidak kok Ma malahan Hendra sangat pintar disekolah dan meraih peringkat teratas "

__ADS_1


kemudian Hendra menyahutinya karena lagi-lagi namanya disebut.


" iya kan Ma Hendra tidak nakal, itu mama tau sendiri kan dari Zahra,


Zahra juga pinter kok Ma dia juara kedua dari urutan atas murid yang paling berprestasi disekolah setelah Hendra ya kan Za "


" iiya Ma " jawab zahra sambil malu-malu


" wahhh menantu mama pinter sekali, tidak salah dong mama milih menantu ya kan Pa "


" iya Ma papa tidak menyangka ternyata mama pinter juga milih menantu ya kan Bim " ucap papa sambil menyenggol lengan anaknya itu.


" hem " jawab Bima hanya sesingkat itu sambil memutar matanya malas membuat yang mendengarkannya hanya emosi saja menurut zahra.


Zahra yang sedari tadi hanya malu-malu karena dirinya terlalu dipuji-puji kedua mertuanya itu, kini menggerutui suaminya karena menurutnya Bima seperti nya tak pernah menghargai dirinya sama sekali dan seperti menyepelekan.


" Oh hh iya Za waktu itu kamu datang kan ke wisudahan sekolah, maafkan aku Za aku tidak jadi datang waktu itu dan tidak menepati janjiku padamu karena aku terbang keluar negri karena urusan mendadak mengurus masalah kuliahku di sana.


" iya Hen aku juga tidak datang kok karena ayahku masuk rumah sakit waktu itu karena serangan jantung, kemudian aku dibantu mama Alisya ya kan Ma " ucap Zahra sambil menoleh ke arah mama Alisya dan memegang tangan mertuanya itu sambil menampilkan senyum terindahnya kepada wanita paru baya yang saat ini ada didekatnya.


Ketiga laki-laki yang melihat pemandangan di depannya itu kini hatinya merasa bahagia karena melihat kedua perempuan yang sedang berpelukan itu adalah wanita yang paling berharga di hidup mereka. Bima yang melihatnya pun kini telah luluh hatinya setelah hatinya dari tadi sangat marah dan kesal melihat kedekatan Zahra dan adiknya itu.


tak terasa waktu terus berputar kini matahari telah tenggelam disebelah barat dan hari pun mulai petang menjelang malam setelah perbincangan panjang mereka di ruang tamu kini mereka tengah makan malam bersama di meja makan keluarga,


mama Alisya pun mengambilkan nasi untuk suaminya beserta lauk pauknya begitu juga dengan zahra yang mengambilkan nasi untuk Bima beserta lauk kesukaan suaminya itu.


Hendra yang sedari tadi memandang zahra yang sibuk mengambilkan makanan untuk suaminya itu kini pandangan Hendra tertangkap basah oleh Bima karena sedari tadi Hendra tak berkedip memandang Zahra.


Bima yang melihat itu merasa kesal meskipun Hendra adalah adiknya sendiri, Bima mulai mengeraskan rahangnya melihat adiknya yang sepertinya ada sesuatu perasaan kepada istrinya itu dan Bima mengingat hal-hal yang mereka lakukan dan mengingat betapa akrabnya mereka ketika tadi diruang tamu.


Ritual makan pun kini telah selesai mama Alisya papa Brandon dan juga Hendra mulai memasuki kamarnya masing-masing untuk mengistirahatkan tubuhnya yang begitu sangat lelah dari perjalanan mereka yang jauh.


Sedangkan Bima masih sibuk dan berada di ruangan khusus kerjanya itu entah apa yang dia kerjakan di sana,


Dan zahra sedari tadi yang tidak bisa tidur di dalam kamarnya kemudian memutuskan untuk mengambil minum ke dapur karena botol yang biasanya dia taruh di atas nakas telah kosong.

__ADS_1


kemudian zahra membawa botolnya ke dapur untuk mengambil minuman dan bermaksud mengisi botol minumannya itu karena sudah dirasa tengah malam, zahra tidak ingin merepotkan pak Tejo yang mungkin sekarang telah tertidur di alam bawah mimpinya itu akhirnya zahra pun keluar dari kamar dan melangkahkan kakinya menuju lantai bawah kemudian zahra pergi kearah dapur untuk mengisi botol airnya tersebut dan meminum sedikit air untuk membasahi tenggorokannya yang telah kering sedari tadi.


setelah selesai mengambil minuman zahra kembali melangkah kan kakinya menaiki anak tangga menuju lantai atas saat zahra melewati anak tangga itu, dia berpapasan dengan Hendra yang akan turun ke lantai bawah dan juga akan mengambil air minum karena di kamarnya tidak tersedia minuman karena sudah lama kamarnya tak ditempati selama dia pergi keluar negri.


" Zahra kamu dari dapur " tanya Hendra


" iya nih Hen, mengambil minum haus sekali soalnya dikamar udah habis " Zahra bicara dengan Santainya.


" Oh begitu sama dong aku juga mau ke dapur Za mengambil minuman "


" ya sudah aku ke kamar dulu ya Hen " Zahra berpamitan kepada Hendra setelah tak ada lagi yang si bicarakan.


" tunggu Za " membuat langkah Zahra terhenti sejenak


" iya ada apa Hen " jawab Zahra polos


" apa ada yang mau kamu jelaskan padaku Za " tanya Hendra berharap Zahra menjelaskan sesuatu tentang pernikahannya dengan


" maksud kamu Hen " jawab Zahra yang tidak tau arah pembicaraan Hendra.


Bima yang sedari tadi mendengar percakapan mereka dari balik pintu ruang kerjanya itu segera keluar dan betapa kagetnya Hendra melihat kakaknya yang tiba-tiba muncul dibalik pintu itu.


ekkhem


ekhhem


" sayang ayo masuk kau dari mana saja ini sudah malam " ucap Bima kepada istrinya penuh kelembutan seperti tidak ada apa - apa.


" iiii. . . iiyaa suamiku jawab Zahra sambil ketakutan


" aku duluan ya Hen " ucapnya kepada Hendra.


" iya Za "


kemudian Hendra melanjutkan langkahnya menuju dapur. Sedangkan Bima dan Zahra langsung memasuki kamarnya dan tak tau lagi apa yang terjadi selanjutnya didalam sana.

__ADS_1


__ADS_2