
Hari hari pun kini berlalu begitu cepat begitu juga usia kandungan Adinda yang bertambah hari makin membesar, dirinya sudah mulai merasa sering kelelahan dengan perutnya yang sudah terlihat sangat membuncit di usia nya yang sudah menginjak sembilan bulanan.
Sesekali gadis berparas ayu itu mengusap keringat di kening nya, di kala ia merasa lelah karena aktivitas nya yang menguras tenaga.
" Sedikit lagi " ucap nya.
sambil terus mengepel dengan posisi berjongkok di lantai marmer dapur mewah nya yang serba warna putih tersebut,
Ya Adinda melakukan itu semua karena ia ingin melahirkan secara mudah apalagi ia belum berpengalaman tentang masalah seperti itu, jelas membuat nya sedikit kepikiran tentunya.
Dinda hanya ingin mempraktekkan apa yang di katakan dokter dan pencarian pengetahuan tentang wanita hamil di internet untuk mempermudah nya dalam persalinan nya nanti.
" Dinda " panggil Revan yang mulai menuju ke arah sang istri yang tengah sibuk dengan aktivitas mengepel nya.
Seketika Adinda mendongakkan kepalanya pelan menatap ke arah yang punya suara.
" iya " jawab nya polos sambil menatap Revan yang mulai mendekat ke arah nya
" Din sudah.... kau sudah lelah berhentilah, kenapa kau tidak menurut sih, jika kau takut melahirkan normal kita lakukan operasi,jadi kau tak usah lelah lelah seperti ini, mengertilah maksud ku "
" iya iya aku mengerti kak ini sudah hampir selesai "
" sudah jangan di lanjutkan lagi Dinda " ucap Revan yang merasa perkataannya tak di gubris oleh Adinda.
Dirinya berniat menuju ke arah Adinda yang masih saja sibuk dengan aktivitas nya tersebut untuk mengambil ember di dekat sanga istri agar berhenti dengan pekerjaannya itu pikir Revan.
Tetapi yang terjadi sepertinya berbeda.
Sedangkan Dinda kembali mendongakkan kepalanya sesaat, mendapati langkah Revan yang perlahan mendekat ke arah nya.
" kak jangan lewat situ kau bisa terpeles..e...." belum Dinda melanjutkan perkataan nya tapi Revan...
AAAA..... AAA....AAAAA....
SSYTTTT.....
BUGHHHHH.....
" AWw.... sakit bokong ku " ucap Revan sambil meringis kesakitan sedangkan pergelangan tangan satunya mengelus bokong miliknya.
" hehehe... iya kan, belum aku selesai bicara "
ucap Dinda sedikit tak kuasa menahan tawa dan juga kasihan sebenarnya melihat pria di hadapan nya itu meringis kesakitan.
" Din kau masih tega menertawakan aku "
" hehehe....iya iya maaf "
" kau minta maaf tapi masih menertawakan aku terus "
" iya aku tidak akan tertawa " ucap Adinda yang kini mulai mendekat ke arah sang suami yang masih terduduk di lantai licin di
hadapan nya tersebut.
" mana yang sakit " tanya Dinda
" ini, ini dan ini " jawab Revan sambil menunjuk kedua bagian pipi nya dan bibir.
__ADS_1
" kak aku serius "
" iya Dinda, ini ini dan ini " jelas Revan yang masih menunjuk bagian yang sama seperti tadi.
" ah sudah lah lupakan aku serius kau malah bercanda " ucap Adinda ingin berlalu pergi meninggalkan sang suami, tetapi tangan nya di raih oleh Revan.
" hei jangan marah sayang, mendekat lah "
" untuk apa "
" Din " panggil Revan dengan nada suara sedikit penekanan.
Sedangkan Adinda pun tau bahwa panggilan suaminya itu harus ia iyakan dan tak menerima penolakan.
" iya iya "
Adinda pun yang sedari tadi ingin berdiri itu kini mulai duduk kembali di dekat sang suami.
" cium aku " ucap nya santai.
" apa " jawab Adinda dengan sedikit mulutnya yang menganga.
" iya cium " sahut nya santai lagi.
" dasar suami mesum kau menyuruhku duduk hanya untuk itu ''
" hehehe... iya, sedikit saja " jawab Revan sambil tertawa kemudian memasang wajah melas nya.
" tidak aku tidak mau "
" Din.. Dinda " memasang wajah melas nya kembali.
" hemm....kau menginginkan hal lebih ya ha...ha... ha " goda Revan sambil menaik turun kan kedua alis nya.
" tidak "
" kau pura-pura terus " ucap Revan memasang wajah cemberut nya.
" siapa yang pura pura sih kak, ini masih pagi bukan "
" biarkan saja Din.. "
.....CUP....
satu kecupan simpul mendarat di bibir Revan secepat kilat.
" sudah kan "
" pelit " ucap Revan karena merasa tak lega.
Astaga suamiku kenapa jadi manja seperti bayi begini gumam Adinda.
Kemudian Adinda kembali mengecup bibir Revan
CUP
CUP
__ADS_1
CUP
beberapa kecupan kembali mendarat di bibir Revan.
" puas "
Revan tersenyum menatap wanita yang baru saja mencium bibirnya tadi.
" kau tau kak kita bagaikan babu dan supir yang sedang bercinta di rumah majikan "
" hehehe.... kau sih memancing aku "
Adinda sedikit mencebikkan bibirnya ke depan.
padahal dia yang ingin aku cium, tapi ujung ujungnya kenapa jadi aku yang menggodanya kebiasaan gumam Adinda.
" ya sudah ayo kita ke lantai atas '' ajak Revan yang kemudian merangkul pundak Adinda.
" sebentar kak AKKKHH......perut ku " ucap Dinda yang kini mulai memegangi perutnya yang sudah membuncit itu, dengan keringat dingin yang mulai bercucuran dari kening nya.
" Din kau kenapa sayang... Dinda perut mu sakit " tanya Revan yang mulai di serang ke khawatiran.
Adinda sedikit menganggukkan kepalanya pelan.
Dinda mulai menggigit bibir bagian bawah nya seolah ingin menahan sakit di perut nya.
" kak bagian bokong ku seperti nya basah " ucap Adinda sedikit meringis kesakitan.
" Cairan "
" kak sepertinya aku akan melahirkan, AKKHH... sakit "
" melahirkan " ucap Revan meyakinkan perkataan Adinda.
Dinda mengangguk pelan menatap sang suami.
" ayo sayang kita segera ke rumah sakit "
Dengan segera Revan bergegas menggendong tubuh Adinda yang bagian bawah bokong nya sudah basah karena air ketuban nya sudah pecah.
sedangkan wajah Adinda mulai terlihat pucat menahan sakit yang teramat.
" kak cepat perutku sakit "
" iya sayang bersabar lah "
" AKKHH.... " teriak Revan karena merasakan sakit di area bahunya.
" Din jangan menggigit bahuku " ucap Revan
" habisnya aku tak tau harus melampiaskan nya bagiamana, cepatlah sedikit "
" iya sabar lah sedikit "
Kenapa jadi menggigit pundak segala kau ini Din,apa bawaan wanita mau melahirkan seperti itu ya gumam Revan di sela sela langkahnya.
Dengan langkah cepat Revan menggendong tubuh sang istri untuk segera menuju rumah sakit.
__ADS_1
MAAF KAK AUTHOR BARU UP SEKARANG, AUTHOR NYA LAGI SAKIT MATA + BERDUKA BEBERAPA HARI INI.
LIKE, VOTE NYA KAK TERIMAKASIH 🥰🥰🥰☺