Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
pelukan yang terasa nyaman


__ADS_3

Siang menjelang.


Kamar keduanya terlihat tertutup rapat, sedangkan jam sudah menunjukkan sebelas siang.


Berbeda dengan pintu kamar Sheina yang mulai terbuka perlahan, menampilkan gadis cantik yang sudah siap akan keluar siang ini dengan penampilan rapi nya.


Kali ini ia berniat akan keluar tanpa Barra untuk pergi ke rumah sahabat kuliah nya dulu sewaktu kuliah di Amerika yang akan datang siang ini, dan akan menetap di Indonesia bersama sang kakak di kediaman kakek nya.


Ya nama nya adalah Jessy gadis blasteran Amerika dan Indonesia.


Sheina kini dengan langkah pelan nya mulai melangkah kan kaki untuk segera keluar dari apartemen,


gadis itu akan sangat khawatir jika Barra sampai mendengar bunyi langkah kaki nya dan mungkin Barra akan langsung menghentikan keinginan nya jika sudah ketahuan basah.


Dan satu lagi pasti Sheina akan mendapat kawalan langsung dari nya, mengingat akan sang papa adalah seseorang yang bisa melakukan apapun dengan kekuasaannya itu.


Dengan segera Sheina yang sudah berhasil keluar dari apartemen nya itu segera berlari agar tak ketahuan oleh Barra.


*


*


Di kediaman Jessy.


Akhirnya gadis berparas ayu itu sampai, karena untuk sampai di kediaman sahabat nya, Sheina butuh waktu dua puluh menit tau sendiri lah alamat rumah Jessy memang sedikit jauh dari apartemen nya.


Ia yang sedikit ngos ngos an mulai memencet bel di sebuah teras rumah yang terlihat sangat mewah,


yang baru saja ia injak nya itu.


ting....tung....ting..... tung....


Suara bel yang baru saja di pencet Sheina.


JEG... GLEK....


suara pintu yang baru saja di buka.


Kedua gadis seumuran tengah sedikit mematung, menatap satu sama lain....


Sesaat....


" AAAA...... "


Keduanya saling teriak kegirangan kemudian saling berpelukan sambil berjingkrak jingkrak.


" Jessy aku sangat merindukanmu " ucap Sheina sambil memeluk erat tubuh sahabat nya.


" Sama, aku juga Shei... kau tau aku penasaran sekali pada suami dingin mu itu " sahut Jessy tak kalah heboh nya.

__ADS_1


" shhhtt... diam cepat ajak aku masuk, aku takut bawahan papa mengetahui keberadaan ku " jelas Sheina sambil melirik ke arah gerbang rumah besar Jessy.


" ayo cepat masuk " ajak Jessy sambil merangkul pundak Sheina.


Keduanya mulai masuk dan duduk di sebuah sofa, mulai mengobrol di dalam sana, entah hal apa yang mereka bicarakan saking bahagia nya melepas rindu masing masing sebagai sahabat, hingga waktu tak terasa berlalu begitu cepat.


Waktu sudah menunjukkan larut malam, Sheina berniat berpamitan pulang pada Jessy.


" Jes aku pulang besok kau ke apartemen ku kan, pasti besok dia tidak akan memperbolehkan ku kemana mana karena sudah menghilang hampir seharian " jelas Sheina terlihat lesu.


" hehehe.... kau ini, pasti....aku akan bersama kakak besok ke apartemen mu karena dia besok akan datang dan akan menetap juga di Indonesia " sahut Jessy


" aaaa... benarkah kakak mu yang tampan itu hehehe... "


" dasar kau ini... Shei apa kau yakin akan pulang sendirian ini sudah malam, aku akan mengantarmu bagaimana "


" ya baiklah kau antar aku Jes, ternyata ini sudah jam sepuluh malam " sahut Sheina yang sedikit melirik jam tangan di pergelangan tangan sebelah kirinya.


" ayo "


Akhirnya Sheina pun pulang di antar Jessy memakai mobil, karena malam yang sudah larut Jessy takut terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.


Dua puluh menit kemudian.


Mobil Jessy baru saja berhenti di depan area parkir apartemen elit, tempat dimana Sheina tinggal.


Ia mulai turun setelah itu berpamitan pada Jessy, dengan segera Sheina berlari memasuki lorong apartemen yang sudah terlihat sepi.


Bulu kuduk nya di rasa mulai merinding karena hanya dirinya lah yang berjalan seorang diri di dalam sana.


Sheina, apa yang kau takut kan ini hanya sepi saja, tak ada yang mengikuti mu gumam Sheina seolah menguatkan keberanian di dalam dirinya agar kembali bangkit.


Dengan dirinya yang sudah di selimuti rasa ketakutan tak karuan saat ini, sedangkan seluruh tubuh nya panas dingin.


Sepuluh menit kemudian.


Kini tangan Sheina mulai meraih handel pintu apartemennya.


Akhirnya sampai ucapnya pelan.


JEG.... GLEK....


Pintu terbuka, tapi keadaan di dalam apartemen nya sudah gelap gulita Sheina tak mendapati keberadaan Barra sedikit pun.


Ketakutan kembali menyerang nya setelah menutup pintu.


Sungguh kali ini benar benar gelap tak ada setitik pencahayaan.


Gadis itu seolah tak berani bergerak sedikitpun bahkan sejengkal saja tak ada pergerakan,

__ADS_1


masih tetap menyandarkan punggungnya di pintu yang baru saja ia tutup.


Sheina sedikit menelan ludah nya kasar.


Kemudian menyeret punggungnya ke bawah, Sheina mulai meringkuk ketakutan perlahan isak tangis nya mulai terdengar, seluruh tubuh nya terasa dingin seolah membeku menahan rasa takut akan kegelapan yang sangat teramat.


Kegelapan yang selalu ia takuti sedari kecil.


Beberapa saat.


Lampu apartemen tiba tiba menyala dengan sendirinya, Sheina langsung terdiam dari isak tangis nya dengan segera ia mengusap kasar sisa sisa lelehan air mata yang masih membasahi pipi mulus milik nya.


Kemudian langsung memeluk tubuh pria dengan wajah tatapan datar nya itu, yang kini tengah berjongkok tepat di hadapan nya tersebut dengan begitu erat karena saking ketakutan pada dirinya.


Sheina sampai tak sadar siapa pria yang tengah ia dekap tubuh nya, walaupun sebenarnya sah sah saja meskipun ia melakukan hal lebih terhadap nya.


Begitu juga pria tampan itu yang tak sadar membalas pelukan Sheina begitu erat.


Keduanya terhanyut dalam pelukan kilat yang Sheina lakukan pertama kalinya.


Keadaan hening...


Tetap pada posisi berpelukan hanya suara sesenggukan Sheina yang masih terdengar nyaring di dalam apartemen yang berukuran luas tersebut.


Sekejap keduanya tersadar kemudian langsung melepaskan pelukan nya masing masing.


" ee... maaf " ucap Barra.


Sheina tak membalas perkataan nya


Keduanya seperti salah tingkah, seolah tak tau saat ini harus berbuat apa.


" A... a... ayo berdiri " ucap Barra tiba tiba sambil mengulurkan tangan ke arah Sheina yang masih setia meringkuk di hadapan nya.


" i... i... iya " jawab Sheina yang kemudian menerima uluran tangan dari Barra dengan mengembangkan sedikit senyum pada pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.


" tidur lah ini sudah malam, jangan ulangi lagi" ucap Barra seolah penuh perhatian.


" ii... i... iya " jawab Sheina dengan nada sedikit terbata bata.


Sheina dan Barra kemudian saling menuju kamar nya masing masing, karena di rasa seperti nya sudah tak ada yang perlu di bicarakan antara keduanya yang masih merasa ada kecanggungan itu.


*


Kamar Barra.


Pria tampan itu baru saja menghempaskan tubuh nya di atas ranjang usai kejadian tadi.


Sedangkan pandangan nya kini menatap langit langit kamar.

__ADS_1


Padahal aku tadi berniat mengerjai dan akan memarahinya kenapa rencana ku jadi seperti ini AKHH sial monolog nya.


Dengan segera Barra langsung memiringkan tubuh nya kemudian menarik guling, setelah itu memilih memejamkan kedua mata nya.


__ADS_2