
Satu bulan berjalan.
Sheina dan Barra menjadi sepasang antara atasan dan bawahan.
Keduanya seperti tak ada sedikit pun kecocokan perasaan tetapi malah sering terjadi cek cok.
Siang ini keduanya sedari pagi di sibukkan oleh pekerjaan masing masing.
Tepat jam sebelas siang, Sheina terlihat tak sedikit pun berniat beranjak dari kursi kebesaran nya ia terus menunduk menumpukan kepalanya di atas kedua tangan yang menyilang di atas meja.
Membuat Barra sedikit terheran, ada apa dengan gadis cerewet itu pikir nya.
Barra mulai bangkit dari kursi kerja menuju ke arah meja Sheina.
" Hei bangun nona, kau tertidur " ucap Barra sambil menggoyangkan pelan bahu Sheina.
Tak ada sahutan.
" Khem..hem...nona Sheina bukan kah katamu kau profesional dalam bekerja kenapa kau tertidur di jam kerja seperti ini " ucap nya menyindir.
Tetap tak ada sahutan.
Barra mulai mendekat di bagian samping Sheina kemudian sedikit membungkuk berbisik di dekat telinga Sheina.
" nona jika kau tetap tidur aku akan melaporkan kan mu pada tuan kalau kau pemalas " ucap Barra berniat memancing Sheina yang sama sekali tak ada pergerakan itu.
ini untuk ketiga kalinya Sheina tak menyahut.
Ada apa dengan nya pikir Barra.
Perlahan Barra mulai menempelkan tangan di bagian pipi samping Sheina.
" dia demam " ucap nya pelan.
Perlahan Barra mencoba menegakkan tubuh Sheina ke belakang menyenderkan pada sandaran kursi.
Gadis manja ini benar-benar demam gumam nya lagi.
kemudian Barra kembali menempelkan telapak tangan nya di kening Sheina.
Barra mulai di serang khawatir, karena dirinya lah yang di beri tanggung jawab penuh oleh Bima atas putri nya.
" nona aku akan memindahkan mu ke sofa " ucap nya.
Perlahan Barra mulai menggendong tubuh Sheina untuk ia pindah kan ke atas sofa yang saling berhadapan tak jauh dari arah meja kerja nya tersebut.
" apa yang harus aku lakukan sekarang, apa sebaiknya aku hubungi saja tuan Bima ucap nya sambil mondar mandir tak jelas.
Barra kemudian duduk di samping Sheina yang masih setia memejamkan kedua mata indah nya itu.
Sekilas Barra menatap lekat wajah Sheina, setelah itu pandangan nya beralih menatap bibir mungil nya.
Bibir itu, ya aku pernah mencium nya walaupun tak sengaja, tapi kenapa selalu membuatku mengingat nya gumam Barra.
pandangannya tak beralih tetap memandang ke arah bibir Sheina.
__ADS_1
kemudian tubuh nya sedikit membungkuk,
dan lagi Barra kembali menempelkan bibir nya pada bibir Sheina dengan kedua mata sambil terpejam.
CUP
kedua bibir saling menempel sempurna.
ini kedua kali nya Barra melakukan walaupun yang pertama ia tak sengaja, berbeda dengan saat ini.
Ia benar-benar di buat candu sejak kejadian itu.
Tak beberapa lama Barra kemudian menarik kembali bibir nya.
Seketika ia mulai tersadar atas apa yang ia lakukan pada gadis yang selalu ia benci sedari dulu itu.
Apa yang aku lakukan, kenapa aku mencium bibirnya monolog Barra sambil memegang bibir bagian bawah nya.
kemudian menatap bibir gadis yang baru saja ia cium nya tadi.
Sesaat Barra langsung mengacak acak kasar rambut nya.
merasa bersalah atas apa yang ia lakukan di luar pemikiran nya.
Setelah itu Barra kembali mengingat keadaan Sheina yang tengah demam.
" nona Sheina bangunlah sedikit saja " ucap nya lagi kembali berusaha, tetapi tetap saja seperti tadi tak sedikit pun ada tanda tanda Sheina akan membuka kedua matanya.
Barra tak kurang akal ia kemudian mulai mengeluarkan sapu tangan nya dengan segera Barra membawa nya ke kamar mandi untuk di basahi.
Kemudian Barra langsung menempelkan sapu tangan nya yang sudah ia basahi tadi di kening Sheina.
Setelah nya.
Barra segera bergegas keluar untuk membelikan beberapa obat untuk Sheina.
******
kembali nya Barra.
Barra kembali duduk di samping Sheina dengan membawa kantong kresek berwarna putih.
Sedangkan Sheina kini perlahan mulai membuka kedua matanya.
ia sedikit terkejut mendapati seseorang pria yang tengah berada di samping nya saat ini.
" ap... ap... apa yang kau lakukan " tanya Sheina sedikit terbata.
" aku hanya ingin membantumu nona " jawab Barra dingin seperti biasa.
" membantu " sahut Sheina memperjelas sambil mengerutkan kening nya seketika.
" iya.. tadi suhu tubuh anda sangat panas maka dari itu saya menempelkan sapu tangan di kening anda " jelas Barra.
" aku demam " ucap Sheina memperjelas lagi perkataan Barra
__ADS_1
" hem..."
" ini sapu tangan mu terimakasih " ucap Sheina langsung membenarkan posisinya duduk.
" nona minumlah obat penurun panas mu ini "
Sheina sedikit melirik butiran obat kecil yang berada di tangan Barra.
" ini bukan racun kau tak perlu melirik nya seperti itu, minumlah agar demam mu cepat turun "
" kau baik juga ternyata "
" terimakasih, karena semua ini sudah termasuk tanggung jawab saya sebagai sekertaris anda, seseorang yang sudah di percaya langsung oleh tuan Bima untuk bertanggung jawab penuh atas anda " jelas Barra.
" ya... ya... ya.... mana obat nya " jawab Sheina sambil memutar kedua bola mata nya malas mendengar penjelasan Barra.
*******
Di kediaman sekertaris Revan.
Sebuah telepon rumah yang berada di ruang keluarga baru saja berbunyi.
tring..... tring.....tring...
Revan yang sedari tadi tengah berbincang dengan Adinda sang istri yang tengah membicarakan perjodohan sang putra langsung terhenti,
dirinya langsung melirik ke arah telepon yang tengah berbunyi tersebut tepat nya berada di atas meja kecil di dekat sofa.
Seketika Revan langsung mengangkat gagang telepon nya.
" halo " ucap Revan kepada seseorang di sebrang telepon.
" ya halo sekertaris Revan " jawab seseorang yang tak lain adalah Bima atasan Revan sendiri.
" ternyata anda tuan "
" ya ini aku, aku ingin menanyakan bagaimana rencana perjodohan yang di inginkan istri mu dan istri ku sekertaris Revan " jelas Bima langsung ke inti.
" hehehe.... baru saja saya membicarakan itu dengan Dinda tuan, kemudian langsung ada telepon dari anda " jawab Revan sambil tertawa kecil.
" kebetulan sekali berarti "
" ya anda benar, begini nanti malam saya akan ke rumah anda bersama istri serta putra saya untuk membicarakan perjodohan putra putri kita bagaimana tuan "
" baiklah kalau begitu "
" bagaimana kalau kita percepat saja tuan apa anda setuju "
" maksud mu langsung menikahkan mereka berdua "
" ya benar jika anda setuju tuan " tanya Revan seperti menunggu persetujuan sang atasan dari sebrang telepon.
" ya tentu saja aku setuju, lebih cepat lebih baik, karena aku merasa sudah cocok sekali pada putra mu karena dia didikan mu, maka dari itu aku tak meragukan nya lagi " jelas Bima.
" Terima kasih tuan, pasti istri saya sangat bahagia mendengar kalau semua nya kita percepat seperti ini, semoga saja kedepan nya kita menjadi besan selamanya "
__ADS_1
" ya kau benar istri ku juga bahagia sama seperti istri mu Van , semoga saja...aku juga mengharapkan hal yang sama seperti mu menjadi besan dengan sekertaris kepercayaan ku sendiri "