
Tap... Tap... Tap...
Langkah kaki mulai terdengar memasuki mansion, pandangan nya menyapu seluruh isi ruangan luas tersebut tetapi tak mendapati keberadaan sang istri untuk menyambut nya.
Karena Sheina baru saja mulai menuruni anak tangga dari lantai atas,
Barra terus berjalan lurus hingga keduanya saling menghentikan langkah.
Keduanya saling berhadapan dengan jarak satu meter,
Sheina tambah mendekat kemudian langsung memeluk tubuh atletis milik sang suami sambil mengembangkan senyum.
Barra masih diam tak bergeming dan tak berniat membalas pelukan sang istri.
Sheina tak menyadari bahwa ada sesuatu yang sedikit berbeda pada Barra.
" Sayang kau sudah pulang, aku merindukanmu " ucap Sheina dengan nada suara terdengar manja.
" Siapkan aku air hangat, aku ingin segera mandi " Sahut nya kemudian melepaskan pelukan Sheina dan kembali melanjutkan langkah menaiki anak tangga untuk segera sampai di kamar nya.
Sedangkan Sheina masih berdiam diri di tempat nya, ia tak membalikkan tubuhnya sedikit pun.
Apa dia terlalu banyak kerjaan, hingga bersikap seperti tadi padaku gumam Sheina.
Tak lama setelah itu Sheina segera membalikkan tubuhnya menyusul sang suami ke lantai atas.
*
Di dalam kamar
Keadaan hening.
Sheina segera menuju kamar mandi mempersiapkan semuanya, setelah selesai ia segera keluar dari dalam sana.
" sayang mandilah aku sudah mempersiapkan nya untukmu " ucap nya sambil menatap sang suami yang duduk di samping ranjang.
Tanpa sepatah kata Barra segera masuk ke dalam sana, Sheina juga masih terdiam di tempat nya.
__ADS_1
BRAKKK....
Bunyi pintu kamar mandi terdengar nyaring saat Barra menutup nya dengan keras.
Membuat Sheina sedikit terkejut akan kelakuan suaminya tersebut.
Ia hanya mengelus dada dengan mata terpejam.
Ada apa dengan nya gumam Sheina.
Beberapa saat.
Pintu kamar mandi mulai terbuka Barra segera menuju ruang ganti.
Lima belas menit Sheina menunggu dan akhirnya Barra mulai keluar, gadis berparas ayu itu segera menghadang sang suami sambil merentang kan kedua tangan nya ke samping.
" Hei berhenti sebentar, sayang apa aku berbuat salah heh, kenapa kau dingin padaku" tanya Sheina.
Barra sedikit memutar kedua bola mata nya malas.
" hei jawablah " ucap Sheina lagi.
" oh itu aku tidak kemana mana hanya tiduran di kamar karena tubuhku terasa sangat lelah sekali "
" benar kah " dengan tatapan dingin.
" hem " sahut Sheina sambil mengangguk angguk kan kepala nya pelan.
Maafkan aku batin Sheina yang begitu merasa sangat bersalah pada pria di hadapan nya saat ini.
" Baiklah kalau begitu " sahut Barra.
Sheina langsung bernafas lega dengan jawaban yang suaminya berikan.
" ayo kita segera makan malam kau pasti sudah lapar kan sayang "
" tidak aku masih kenyang, ada beberapa kerjaan yang harus aku kerjakan di ruang kerja, jadi jika kau ingin makan makanlah duluan " jelas Barra tetap dengan raut wajah dingin nya.
__ADS_1
" ya sudah baiklah kalau begitu " sahut Sheina lesu.
Sedangkan Barra langsung melenggang pergi meninggalkan kamar tanpa menghiraukan lagi sang istri.
*
Diruang kerja.
Barra mulai menggebrak meja dengan amarah nya yang sedari tadi ia tahan tahan.
BRAKKK......
terdengar sangat nyaring.
ketika kekesalan di dalam hatinya bertambah, mengingat seseorang gadis yang ia cintai nya itu mulai tak jujur terhadap dirinya.
AKKHH..... SIAL..... teriaknya,
hatinya seolah merasa di khianati selama ini oleh Sheina.
Kenapa kau tak mengakui jika dirimu pergi ke restoran hanya ingin ketemuan bersama mantan kekasihmu itu, kenapa Shei... apa kau masih saja mencintai nya setelah hubungan kita sejauh ini, apa Earth lebih berarti dari ku selama ini,Kenapa monolog nya panjang lebar.
AKKKHHH SIALAN.... teriaknya lagi lagi dengan suara lantang.
Kemudian Barra merogoh saku celana mengambil ponsel pintar miliknya, ia kembali melihat beberapa kiriman video berdurasi pendek sang istri ketika bersama sang mantan kekasih.
Yang sedari tadi membuat amarah nya meluap lupa sejak di kantor, ketika mendapat kiriman video dari seseorang suruhannya tersebut.
*
Sedangkan di dalam kamar.
Sheina kini tengah duduk termenung dengan tatapan kosong nya, ia duduk di dekat jendela sambil menatap gemerlap malam di langit, ingin rasanya ia di temani Barra di saat saat keadaan hidupnya yang terberat dengan sisa sisa waktu yang ia punya sebelum meninggalkan Barra selama lama nya.
Tapi apalah daya, seperti nya sang suami selalu sibuk dengan urusan nya, Sheina hanya bisa terdiam meratapi hidup nya yang tak akan lama lagi.
Sesekali gadis itu mulai menyeka air mata nya yang mulai berjatuhan membasahi kedua pipi mulus nya.
__ADS_1
Mengingat apa yang di dikatakan dokter bahwa keadaan nya semakin memburuk bertambah hari.