
Kedua mata Sheina perlahan mulai terbuka, tubuhnya begitu lemas sedangkan di bagian dagu nya juga sedikit membiru, mungkin itu adalah bekas tangan Barra yang sempat menekan nya terlalu keras tadi.
" Siapa yang memindah ku ke kamar " ucap nya pelan.
Sambil memijit bagian kepalanya yang terasa pening.
Seluruh wajahnya kini terlihat jelas begitu sangat pucat, karena polesan make up nya mulai memudar setelah seharian ini.
JEG... GLEK....
Pintu kamar di buka.
Pandangan Sheina langsung tertuju dimana bunyi pintu tersebut terdengar.
" Barra " batin nya berucap.
Pria tampan itu mulai mendekat ke arah ranjang dengan pandangan yang masih menyeramkan, sebelum nya Sheina tak pernah di perlakukan seperti ini oleh sang suami di hadapan nya saat ini.
Tetapi kali ini Sheina hanya ingin diam untuk menahan semua yang sebenarnya ia sendiri tak kuat untuk menumpu nya sendirian.
" kau sudah sadar rupanya " ucap Barra sinis.
Wajahnya pucat sekali, apa aku terlalu berlebihan sampai membuat dagu nya juga membiru, sedangkan wajah nya sampai pucat gumam Barra rasa sedikit bersalah.
Sheina tak menjawab hanya sesekali ia memberanikan diri untuk menatap wajah tampan tersebut.
" Aku tanya sekali lagi untuk terakhir kalinya, kemana kau tadi siang "
" Barra aku hanya pergi ke rumah sakit bukan kah aku sudah menjelaskan nya, dan setelah itu aku memang bertemu dengan Earth " jelas Sheina dengan nada pelan.
" Bagus... bagus... bagus... " sambil bertepuk tangan seolah mengejek setelah mendapat pengakuan dari Sheina.
" tapi kenapa kau tak mengatakan nya tadi hah, kenapa baru sekarang, apa yang kau lakukan dengan nya " tanya nya bertubi-tubi.
" Barra aku akan menjelaskan nya, aku dan Earth tak ada apa apa, dan kita hanya mengobrol tak lebih " tutur nya lagi.
__ADS_1
" kau kira aku bodoh heh, ini kedua kalinya kan kau bertemu dengan dia kau pikir aku tak tau " dengan kedua mata nya melotot.
Gadis itu terlihat bertambah ketakutan.
" itu hanya kebetulan " tubuh mulai bergetar.
" HEI..... " dengan suara lantang, sambil menunjuk nunjuk ke arah wajah Sheina.
" Kebetulan kau bilang, bukan kah semuanya sudah jelas kau benar-benar selingkuh di belakang ku " tuduh Barra lagi dan lagi.
" Barra apa yang kau katakan, aku sangat mencintaimu bahkan akhir akhir ini aku ingin selalu di dekatmu, tetapi aku lihat kau selalu sibuk dengan perusahaan " Sheina masih berusaha menguatkan tubuh nya.
" lalu kau memilih bersama dengan nya kan hah " Sentak Barra dengan suara tambah menggelegar.
" Barra berhentilah menuduhku seperti itu "
" AKHHH.... diam, aku sudah malas mendengar semua sandiwara mu "
Sheina terdiam, hatinya begitu perih mendengar ucapan yang menyayat hati nya.
Ia tak tau apa yang harus ia perbuat.
Barra tersenyum kecut mendengar perkataan yang Sheina lontarkan.
" jika kau tak percaya ambilah sesuatu di tas kecilku kau pasti akan mempercayai ku, bahkan aku ingin bersama mu ke sana "
" Ah... sudah lah " sambil memunggungi sang istri yang masih menyandarkan tubuh nya pada sandaran belakang ranjang.
" lalu apa mau mu sekarang, jika kau sudah tak percaya lagi padaku heh " sahut Sheina yang sudah mengalah akan keadaan.
Barra hanya diam, kemudian langsung melenggang pergi meninggalkan kamar.
Sedangkan Sheina hanya menatap punggung yang mulai menjauh itu.
Ia tak tau apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
Beberapa saat.
Barra kembali datang ke dalam kamar sambil membawa selembar kertas dan pulpen.
Ia melemparnya di hadapan Sheina.
" Apa ini " ucap nya, kemudian mengambil selembar kertas putih bertuliskan sesuatu tepat di depan dada nya tetapi tak sedikit pun ia tatap.
" tanda tangani semua itu, aku sudah muak dengan permainan mu " Jelas Barra
Sheina perlahan menunduk dan mulai membacanya dalam hati.
" Surat perceraian " batinnya terkejut.
Perlahan lelehan air mata mulai mengalir deras membasahi kedua pipi mulus nya.
Ia memejamkan kedua matanya sejenak, tangan nya menggenggam erat pulpen hitam di sebelah kanan.
Hening.
Hening.
Tak ada sedikitpun kata yang terucap dari bibir kedua nya, sedangkan Barra sedari tadi masih memunggungi Sheina.
Seolah ia tak bisa melihat Sheina tengah menandatangani kertas yang baru saja ia berikan nya itu.
Sakit sungguh sakit yang ia rasakan.
Sedangkan Sheina masih menunduk sambil menatap pulpen hitam di tangan sebelah kanan nya.
Mungkin ini jalan terbaik menandatangani surat perceraian ini, dia tidak akan begitu sakit ketika aku pergi nanti gumam nya.
Sesaat.
Sheina mulai menyodorkan kertas putih tersebut.
__ADS_1
" Aku sudah menandatangani nya " ucap nya tanpa menatap ke arah Barra.
Pria tampan itu tak lagi melontarkan sepatah kata, ia langsung meraih surat perceraian itu dan segera pergi dari sana.