
keesokan harinya masih di apartemen sekertaris Revan.
06.30 wib
sekertaris Revan baru saja keluar dari dalam kamarnya, perlahan kedua matanya mulai berkeliling mencari keberadaan Adinda, karena sedari malam sekertaris Revan hanya mendapati pintu kamar Adinda yang sudah tertutup dan di meja makan yang sudah tersedia ayam geprek dan segelas susu untuk nya.
dan saat ini sekertaris Revan tetap mendapati pintu kamar Adinda yang masih tertutup.
ada apa dengan nya ya, padahal aku ingin sekali mengetahui keadaan nya saat ini, apa aku coba saja mengetuk pintu kamarnya, sebaiknya aku coba saja gumam sekertaris Revan dalam hati.
tok
tok
tok
Din buka Din, apa kamu masih di dalam, Dinda saya tidak bercanda, ini sudah jam setengah tujuh
Din, hari ini kamu tidak usah memasak, kita beli saja di luar, karena aku juga belum membeli keperluan dapur sama sekali,
Buka Din....
tok
tok
tok
tetap tak ada sahutan, sedangkan pintunya terkunci.
sekertaris Revan mulai panik, tak biasanya gadis dua puluh tiga tahun itu seperti ini.
Akhirnya sekertaris Revan berniat mencari kunci cadangan kamar yang di tempati Adinda, yang berada di dalam laci kamarnya.
sesaat kemudian.
kunci kamar yang di tempati Adinda telah ketemu, dan sekertaris Revan mulai beranjak dari kamarnya menuju pintu kamar Adinda saat ini.
sekertaris Revan pun mulai mencoba memasukkan kunci cadangan tersebut ke lubang handel pintu,
dan
akhirnya pintu kamar pun terbuka sempurna.
menampilkan tubuh Adinda yang berbalut selimut tebal putih, yang saat ini hanya kelihatan kepalanya saja yang menyembul keluar dari dalam selimut yang ia pakai membungkus tubuhnya itu.
" Astaga, ternyata dia masih tidur, Din bangun ini sudah siang, kau tidak ke kantor " ucap sekertaris Revan kepada Adinda yang masih setia menutup kedua matanya saat ini.
tetapi Adinda tak berniat menjawab perkataan atasannya itu, karena tubuhnya saat ini merasa begitu tidak enak dengan suhu tubuhnya yang begitu tinggi serta tangannya yang terus memegangi perut ratanya di dalam balutan selimut tersebut.
sedangkan sekertaris Revan yang merasa ucapannya tak di gubris itu, kini langsung menarik selimut tebal putih yang menutupi tubuh Adinda yang tengah meringkuk di dalamnya itu dengan sangat kencang agar Dinda terasa jika sedang di bangunkan begitu pikir nya.
SREGGGGGGG........
ya selimut itu kini sudah berada di lantai.
menampilkan tubuh indah putih mulus milik Adinda yang sedari malam hanya menggunakan setelan tengtop dan celananya pendek sampai pahanya.
__ADS_1
dengan keadaan Adinda yang kini tengah meringkuk sambil memegangi perut nya di sana.
sedangkan sekertaris Revan saat ini menelan ludah nya kasar, melihat bentuk tubuh indah milik Adinda serta paha mulus begitu terpampang nyata di hadapannya,
gadis yang saat ini ia taksir itu, dan sekejap sekertaris Revan tersadar Adinda tak seperti biasanya, Dinda hanya diam dengan kedua matanya yang tetap terpejam sambil memeluk perutnya saat ini.
sekertaris Revan mulai mendekati Adinda dan mulai duduk di sisi ranjang mengamati wajah cantik yang kini sudah pucat itu.
" Din, kamu kenapa... Dinda bangun Din " tanya sekertaris Revan yang mulai khawatir dengan gadis cantik tersebut.
sambil menggoyang goyangkan tubuh Adinda yang ternyata tubuh mulus itu tengah panas di pegang nya.
" tuan jangan goyang goyang kan tubuh saya, saya sedang sakit tuan " ucap Adinda lirih dengan kedua matanya sedikit terbuka.
" Din tubuhmu panas Din, ayo kita ke rumah sakit sekarang " jelas sekertaris Revan yang mulai panik.
" tidak tuan, saya tidak ingin menambah hutang saya kepada Anda " jawab Dinda yang masih dengan suara lirih nya tersebut.
" Din apa yang kamu katakan, meskipun kamu nanti mendapat gaji saya tidak akan pernah memotong sepeser pun gaji kamu, yang kemarin lupakan, saya sudah bilang ke kamu kan saya ihklas membantu dan tak berniat menyuruh kamu menggantinya, ayo sekarang kita ke rumah sakit " jelas sekertaris Revan tulus dari dalam hatinya.
" tidak tuan, sebelum nya terima kasih "
" Din apa kamu mau terus sakit seperti ini " tanya sekertaris tampan itu.
" tidak tuan, cukup anda tolong ambil kan saya obat di tas kerja saya, pasti saya sembuh "
" baiklah kalau begitu "
dan sekertaris Revan pun mulai mengambil tas kerja Dinda yang masih sedikit basah itu.
Apa Adinda kemarin jalan kaki, tidak mungkin jarak antara apartemen dan kantor kan sedikit jauh, tapi bagaimana mungkin, apa dia kehujanan waktu naik kendaraan umum ya gumam sekertaris Revan dalam hati.
Dinda kan panas kenapa jadi menyuruhku mengambil obat lambung gumamnya lagi.
kemudian sekertaris Revan tetap membawa obat tersebut ke arah Adinda.
" Din, apa ini obatnya " tanya sekertaris Revan.
Adinda mengangguk.
" apa tidak salah Din, ini kan obat khusus maag dan lambung sedang kan tubuhmu panas " ucap sekertaris Revan yang sedikit kebingungan.
" ya tuan memang itu obat khusus maag,dan saat ini maag saya sedang kumat " jawab Adinda.
" Din kenapa kamu tidak bilang kalau kamu mempunyai maag " ucap sekertaris Revan.
" memang untuk apa saya bilang, anda kan bukan siapa siapa saya tuan " jawab Adinda kemudian yang membuat sedikit hati sekertaris Revan tergelitik.
" bukan seperti itu Din " sahut sekertaris Revan.
" sudah lah tuan lupakan " jawab Adinda, yang mulai berusaha bangun untuk menggapai segelas air putih di atas nakas.
" Din kamu mau kemana " tanya sekertaris Revan yang melihat Adinda seperti berusaha untuk bangun itu.
" saya hanya ingin mengambil air di atas nakas itu tuan " jawab Dinda setelah itu.
" biar saya saja " ucap sekertaris Revan kemudian bergegas mengambilkan segelas air putih di atas nakas untuk Adinda.
__ADS_1
" terimakasih tuan " jawab Adinda.
" ini "
" tuan bisa keluar sebentar "ucap Adinda lagi kepada sekertaris tampan tersebut.
" memangnya kenapa " tanya nya
" saya susah meminum obat tuan " jelas Dinda
" maksudnya " jelas sekertaris Revan yang masih tidak mengerti arah pembicaraan Adinda.
" tuan kau banyak tanya sekali sedangkan tubuh ku saat ini tidak bersahabat " ucap Adinda.
" maaf Din " jawab sekertaris tampan tersebut.
apa dia bilang maaf, padahal jarang sekali lelaki ini meminta maaf bahkan seperti tidak pernah gumam Adinda dalam hati.
" ya tidak apa apa, saya sangat susah tuan jika sedang meminum obat, terkadang saya meminumnya dengan di haluskan dulu obatnya kemudian di campur air gula agar bisa masuk, saya juga tidak tau kenapa susah sekali menelannya padahal saya lihat orang-orang itu hanya hal sepele " jelas Adinda panjang lebar, karena memang dirinya susah untuk meminum obat dari dulu.
sedangkan sekretaris Revan yang sedari tadi mendengar kan penjelasan Adinda itu,
kemudian tanpa aba aba sekertaris tampan tersebut memasukkan air putih yang sedari tadi berada di tangan Adinda ke dalam mulut nya,
Dan setelah itu memasukkan butiran obat ke dalam mulut Adinda yang memang sedari tadi berada di tangannya dan sudah terpisah dari bungkusnya.
kemudian sekertaris Revan langsung menempelkan mulut Adinda ke mulutnya
yang sudah terisi air putih penuh tersebut dengan gerakan cepat.
Dan sontak saja kelakuan sekertaris Revan itu membuat kedua mata Adinda yang bulat itu membelalak tak percaya.
Kemudian air di dalam mulut sekertaris Revan pun kini beralih ke mulut Adinda yang sukses membuat obat di dalam mulut gadis dua puluh tiga tahun itu bisa tertelan sempurna.
GLEK.......
butiran obat pun tertelan ke dalam tubuh Dinda.
" tuan kau " ucap Adinda dengan keadaan tubuhnya yang seperti membeku saat ini.
" cepat sembuh, dan nanti aku akan mengirimkan makan siang untukmu, sekarang istirahatlah " ucap sekertaris Revan tiba tiba kemudian segera bergegas pergi dari kamar gadis cantik itu.
Adinda tetap tak berniat menjawab, dirinya tetap mematung, tubuhnya seperti tetap membeku di tempatnya.
sedangkan sekertaris Revan kini sudah keluar dari dalam kamar Adinda dan bergegas berangkat ke kantor, meninggal kan Adinda yang seperti seseorang yang kehilangan sesuatu di kamarnya.
*******
perusahaan pencakar langit Sinaga group.
tepatnya di ruang sekertaris yang memiliki ketampanan sebelas dua belas dari atasannya itu yang tak lain adalah sekertaris Revan.
sekertaris Revan kini terdiam di meja kerjanya dengan pikiran nya yang saat ini entah kemana, padahal pekerjaan nya mulai menumpuk di di atas meja.
apa yang aku lakukan tadi, aku tadi hanya berniat membantunya bukan, tetapi...... bibir itu akhhh, apa itu bisa di bilang sebuah ciuman, dan iya bagaimana perasaannya saat ini padaku,
aku harus menjelaskan semua padanya nanti sewaktu jam istirahat kantor sambil membawakan makan siang untuknya, dan aku akan mampir ke apotik membelikan dia obat monolog sekertaris Revan panjang lebar.
__ADS_1
kemudian sekertaris Revan pun kini mulai mengerjakan pekerjaan nya yang terlihat sangat menumpuk di pagi ini tanpa Adinda.