
sedangkan di mansion besar milik keluarga Sinaga.
tepatnya di kamar milik pasangan suami istri tersebut.
" aww... sayang sudah, sudah itu sudah cukup sayang aww......" ucap Zahra sambil sedikit meringis kesakitan, karena merasakan sedikit sakit di pergelangan kakinya yang saat ini sedang di pijit oleh suaminya tersebut.
" sayang sebentar lagi " jawab Bima yang saat ini masih sibuk dengan kegiatannya itu.
" tapi itu sudah cukup, kau sudah sedari tadi melakukannya, apa kau tidak lelah hah " ucap Zahra.
" sayang ini masih pagi lelah apanya, aku hanya memijit pergelangan kakimu saja, agar mengurangi rasa bengkak di kakiku Zahra " jelas Bima yang tak mau kalah.
" iya aku mengerti maksud mu sayang, mungkin itu karena tadi kita terlalu lama berjalan jalan di pinggir pantai " jelas Zahra
" apa iya, ahh... sebaiknya mulai sekarang kita tidak usah ke pantai lagi, jika akhirnya membuatmu seperti ini " jawab Bima yang sangat over protective terhadap sang istri.
" sayang aku kan juga tidak tau, dan aku cuma mengira ngiranya saja " sahut Zahra kemudian.
ah.. tau tadi aku tidak bicara seperti itu, dan ujung-ujungnya dia tidak akan memperbolehkan aku ke sana lagi kan gumam Zahra dalam hati.
" tetapi tetap saja mulai sekarang kau tidak boleh ke pantai, dan kau tidak boleh lagi turun ke lantai bawah, aku tidak ingin melihat kakimu bengkak seperti ini lagi Zahra " jelas Bima dengan nada serius.
" iya, tapi masa iya aku di kamar terus, aku bosan di dalam sini sayang " rengek Zahra seperti anak kecil dengan dirinya yang saat ini sedang berselonjoran di atas ranjang empuk.
" AKU BILANG TIDAK YA TIDAK " ucap Bima dengan nada yang sangat tinggi.
" sayang kau.. " ucap Zahra yang merasa sedikit perih hatinya saat ini, karena suara suaminya yang menurutnya sedikit membuatnya takut jika mengingat sifat suaminya yang dulu.
" ehh... maaf sayang, aku tidak berniat berbicara dengan nada keras padamu " ucap Bima kemudian dan setelah itu langsung meminta maaf kepada sang istri.
" iya tidak apa apa, sebaiknya aku ke kamar mandi saja " jawab Zahra, dan setelah itu dirinya segera berpamitan untuk segera ke kamar mandi dengan langkahnya yang sangat berhati hati saat ini.
" sayang tunggu,.. hey Zahra berhentilah " sahut Bima tiba tiba.
" perut ku sakit, aku mau ke kamar mandi " jelas Zahra dengan raut wajah yang sedikit menunduk.
" ya sudah, hati hati sayang " ucap Bima kemudian.
" hem " jawab Zahra handa deheman saja.
Kemudian Zahra segera melanjutkan langkahnya itu untuk segera masuk ke kamar mandi.
sesaat kemudian
Zahra telah keluar dari dalam kamar mandi tersebut, sedangkan Bima masih setia menunggu istrinya di sisi ranjang saat ini.
__ADS_1
" sayang " ucap Bima yang baru saja melihat sang istri keluar dari dalam kamar mandi.
" heh " jawab Zahra yang kemudian langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
" APA, hey... Zahra aku kan sudah meminta maaf " ucap Bima yang merasa di cuek kan oleh sang istri.
" sayang, hey... jangan diam saja, aku tidak suka melihatnya, bicaralah " ucap Bima ketika istrinya baru saja melewati dirinya saat akan ke kamar mandi itu.
" aku ingin mandi " jawab Zahra tanpa berniat menoleh ke sang suami.
" ya sudah ayo kita mandi bersama sayang, dan setelah itu kita sarapan di kamar berdua bagaimana " ucap Bima seperti membujuk sang istri saat ini.
" tidak, aku tidak mau " jawab Zahra yang masih merasa kesal kepada Bima.
" hey sayang aku kan tadi sudah minta maaf " ucap Bima yang mencoba merayu istrinya yang sedang cemberut saat ini.
" kau jahat padaku " ucap Zahra yang kembali tak menoleh kepasa sang suami.
" sayang niatku bukan seperti itu Zahra, tadi aku sangat terlalu khawatir dengan keadaan kakimu yang sedikit membengkak itu sayang, hey.. Zahra "
" iya aku sudah memaafkan mu, tetapi dengan satu hal " sahut Zahra seperti menemukan suatu ide di otaknya.
" kenapa ada syaratnya segala sih " ucap Bima kemudian sambil memandang kedua mata Zahra.
" ya sudah aku tidak jadi memaafkan mu " ancam Zahra dengan entengnya.
dia benar-benar suka mengancamku sekarang, Zahra kau memang, ehhh.... gemas sekali aku rasanya ingin.... gumam Bima dalam hati.
" hey sayang kenapa kau melamun hah " tanya Zahra saat ini.
" ah tidak, hal apa tadi yang kau katakan sayang" ucap Bima kemudian
" emmm.... aku akan memaafkan mu jika kau tidak melarang larang ku kemana mana lagi bagaimana " sahut Zahra sambil mengatakan hal yang ingin ia sampaikan itu kepada sang suami.
" Zahra kenapa kau membangkang sekali hah, aku begini karena aku sangat menyayangimu dan anak kita, aku takut terjadi sesuatu padamu apa semuanya belum jelas " ucap Bima yang begitu sangat serius.
" iii.. iii... iiya baiklah ak... aku " jawab Zahra saat ini dengan kepala menunduk nya dan juga dengan suaranya yang sedikit terbata bata karena sedikit ketakutan kepada sang suami saat ini.
kemudian Bima langsung menarik tubuh gadis dengan perutnya yang membesar itu ke dalam pelukannya dengan begitu sangat erat.
" sayang maaf kan aku, aku tidak berniat jahat padamu, mengerti lah Zahra, aku begitu menyayangimu, semua yang aku lakukan demi dirimu dan anak kita " jelas Bima sambil memeluk erat tubuh sangat istri sesekali menciumi bahu gadis yang sebentar lagi menjadi seorang ibu itu.
sedangkan Zahra yang berada di pelukan suaminya itu langsung menangis, tetapi dia hanya menangis dalam diam tak mengeluarkan suara sedikitpun, berbeda dengan kedua matanya terus mengeluarkan air mata itu.
" ii.. iiya ak.. ak... aku mengerti kau melakukan se... se... semuanya untukku ma...ma.. maaf "
__ADS_1
jawab Zahra dengan suaranya yang saat ini sedikit sesenggukan.
" sayang kau menangis heh " tanya Bima di sela sela pelukannya tersebut.
" Zahra tatap kedua mataku sayang " ucap Bima kemudian setelah membenarkan posisi keduanya yang saat ini tengah berhadapan itu.
" sshhhhhttt.... shhhhhttttttt...... sudah sudah, kau terlihat jelek jika menangis sayang " ucap Bima lagi,yang saat ini tengah mengusap pelan air mata yang masih menempel di kedua pipi sang istri tersebut.
" biarkan saja aku jelek, sekarang aku lapar " ucap Zahra kemudian yang justru membuat sang suami tertawa.
" hahaha... kau lucu sekali sayang, baiklah sabar sebentar aku akan menghubungi pak Tejo agar membawakan sarapan kita ke kamar " jawab Bima yang merasa gemas kepada sang istri yang tengah mengandung anak nya itu.
kemudian Zahra menganggukkan kepalanya dengan polos sebagai jawaban untuk sang suami.
sedangkan Bima yang melihatnya istri nya bertambah semakin gemas.
berbeda di tempat lain.
lebih tepatnya di gedung pencakar langit milik Bima.
" hey kau tidak keluar, ini sudah jamnya istirahat sekarang " ucap sekertaris Revan dengannya nada angkuhnya.
" saya membawa bekal jadi saya di dalam saja tuan, apa sekalian tuan makan bersama saya di sini, saya sedikit membawa banyak bekal hari ini " jelas gadis cantik dua puluh tiga tahun itu.
" jadi kau dari rumah sudah merasa kalau aku akan menerimamu di perusahaan ini ya, maka dari itu kau membawa bekal segala seperti anak tk " jelas sekertaris Revan kepada Adinda.
" ya begitulah kira kira hehehe...biarkan saja seperti anak tk, ya kalau tuan banyak uang lah saya " jawab Adinda dengan seadanya.
" ah... ya sudah habiskan bekalmu itu, jangan sampai membuat kotor ruangan ini mengerti " ucap sekertaris Revan lagi
" iya tuan, cerewet sekali " jawab Adinda yang merasa atasannya itu seperti ibu ibu yang sedang menceramahi anaknya.
" apa kau bilang hah " tanya sekertaris Revan yang mulai terpancing.
" maaf tuan keceplosan " jawab Adinda dengan sedikit cengengesan saat ini.
" dasar " ucap sekertaris Revan dengan nada kesal.
" tuan jangan marah marah seperti itu terus, kau itu tampan tetapi jika seperti itu terus aku jamin wajahmu akan cepat keriput percayalah padaku " jelas Adinda yang sama sekali tidak takut kepada lelaki di hadapan nya tersebut.
" heh... kau bisa diam hah " sahut sekertaris Revan dengan penuh penekanan.
" ah iya tuan maaf, saya berjanji tidak akan berbicara lagi kepada anda jika tidak penting " ucap Adinda kemudian.
" bagus " ucap sekertaris Revan dengan tegas kemudian segera keluar dari dalam ruangan nya tersebut meninggalkan Adinda sendirian di dalam sana.
__ADS_1
sedangkan Adinda yang berada di dalam ruangan itu tengah merasa kesal karena atasannya tersebut begitu sangat dingin, cuek, dan tidak bisa di ajak bercanda sama sekali.
Atasan menyebalkan, tampan sih iya, tapi kalau marah, ahh... menakutkan sekali, aku harus kuat di perusahaan ini, agar aku bisa melunasi hutang kedua orang tuaku, dan sebaiknya aku makan saja sekarang, pekerjaan ku sudah selesai, dan sehabis makan aku akan menulis sedikit novelku untuk mengisi waktu luang sebelum jam istirahat selesai monolog Adinda di dalam hati.