Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
saling diam II


__ADS_3

kini waktunya istirahat kantor telah tiba, sedangkan sekertaris Revan kini berniat mengajak rekan barunya itu yang tak lain adalah Adinda.


sebaiknya aku mengajaknya saja atau tidak ya, tapi biasanya dia membawa bekal, seperti nya ajakan ku akan di tolak olehnya, ya sudah aku keluar sendiri saja, tetapi sampai kapan aku dan Dinda saling diam gumam sekertaris Revan.


kemudian sekertaris Revan berniat keluar sendiri tanpa menghiraukan Adinda, diri nya masih di selimuti oleh kebingungan saat ini.


sedangkan Adinda mulai membuka tas nya, ia terdiam sejenak memandangi di dalam tasnya yang hanya berisi dompet dan ponselnya saja.


" kenapa aku bisa lupa segala tak membawa kotak bekal ku sih, aku harus bagaimana sekarang,perut lapar, uang menipis,nanti pulang nya ah... susah sekali sih hidupku,


emm... sebaiknya aku menulis novel saja, untuk bahan besok,supaya aku bisa sedikit santai besok, dan pasti lapar ku akan hilang saat ini, jika aku buat menulis " monolog Adinda.


kini Adinda pun kini mulai menulis di novelnya dan di aplikasi tertentu, dengan dirinya yang saat ini mulai senyum senyum sendiri di tak jelas di lihatnya.


beberapa saat kemudian


jam istirahat kantor pun telah habis, dan Dinda kini mulai menaruh ponselnya ke dalam tas, dan kini pikiran nya kembali ke atas meja kerja dengan tumpukan pekerjaan yang tak kunjung selesai itu.


" semangat Dinda, ayo kerjakan pekerjaan mu agar kau cepat pulang dan segera makan kemudian beristirahat " monolog Adinda sedikit menyemangati dirinya sendiri.


Dinda pun mulai mengerjakan pekerjaan nya itu dengan fokusnya.


sedangkan sekertaris Revan baru saja memasuki ruangan nya, mendapati Adinda yang sudah kembali fokus kepada lembaran lembaran pekerjaan nya di atas meja yang masih menumpuk saat ini.


sekilas sekertaris Revan melirik ke arah Adinda, yang sepertinya sangat fokus kepada pekerjaan nya itu.


kemudian dirinya juga kini mulai fokus ke arah benda layar tipisnya tersebut.


keduanya saling hening, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir keduanya.


sesekali Adinda memejamkan kedua matanya dan memijit pelan keningnya.


di lihat jam di pergelangan tangan nya kini masih menunjukkan pukul dua siang.


kepalanya mulai berdenyut, menyelesaikan pekerjaan yang seperti nya tak ada ujungnya.


di liriknya atasan tampan nya itu tengah fokus pada pekerjaannya saat ini.


Dia memang benar-benar tak ada sedikit pun perasaan padaku, untuk apa aku berharap kepadanya, tak bicara padaku sama sekali saja dia betah, Din sadar lah mungkin dia memang tak tertarik sedikit pun denganmu, sebaiknya kau mencari lelaki lainnya saja, agar dirimu bisa move on dari lelaki yang tak pernah menginginkan keberadaan mu itu gumam Adinda dalam hati.


beberapa jam kemudian.

__ADS_1


waktu kantor telah usai, kini waktu pulang para karyawan telah tiba menandakan para pekerja perusahaan mulai berhamburan untuk pulang ke rumah nya masing masing.


begitu juga sekertaris Revan dan Adinda.


ayo Din sedikit lagi , ini waktu nya seluruh karyawan pulang batin Dinda


Dinda pun kini segera menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit itu, untuk dirinya segera pulang ke apartemen milik atasannya tersebut.


akhirnya selesai juga pekerjaan ku batin Dinda lagi.


Kemudian Adinda pun segera beberes meja kerjanya itu, setelah selesai gadis cantik itu mulai mengambil tas nya dan mengalungkan nya di lengan sebelah kiri, kemudian bergegas keluar dari dalam ruangan berpendingin tersebut, tanpa berbicara dan berpamitan kepada atasannya saat ini.


Heh....


Sekertaris Revan menghela nafas nya kasar.


" Dia berpamitan saja tidak, apa dia sebegitu kesalnya pada perkataan ku, ah.... apa yang dirasakan tuan Bima dulu seperti ini ketika menghadapi seorang wanita yang di cinta, pantas saja cinta memang membuat orang bodoh, dan sekarang itu semua seperti mya terjadi padaku " monolog sekertaris Revan.


" sebaiknya aku segera pulang sekarang, dia naik apa ya, aku dan Dinda kan berniat ke swalayan sore ini untuk membeli keperluan dapur yang sudah habis " monolog nya lagi.


kemudian sekertaris Revan pun mulai membereskan meja kerjanya, untuk segera pulang dan juga memang keadaan perusahaan saat ini sudah mulai sepi.


Berbeda dengan Adinda yang kini kembali berjalan kaki untuk menuju apartemen milik atasannya tersebut.


" sebaiknya aku membelikan sesuatu untuk nya, agar nanti sesampainya di sana aku tak perlu memasak untuk pria dingin itu, kemudian aku langsung beristirahat sampai pagi, sepertinya membayangkan saja enak.


aku belikan apa ya, emm... nasi goreng, ah...tidak tidak pasti dia bosan, aku belikan dia ayam geprek saja, aku beli untuk dia saja supaya tabungan ku tak begitu banyak kurangnya gajian kan masih lama , aku makan yang ada di apartemen saja " monolog Adinda.


setelah itu Adinda segera memasuki sebuah warung ayam geprek dan Adinda pun mulai memesan nya.


sedangkan sepanjang jalan menuju apartemen, sekertaris Revan menoleh kanan kiri sisi jalan tak mendapati keberadaan Adinda sama sekali,


sedangkan matahari tambah terbenam di ujung barat dan langit mulai gelap di tambah gerimis yang mulai terlihat turun saat ini.


" Din apa kamu naik angkutan umum, emm.....sebaiknya aku segera percepat saja agar cepat sampai di apartemen, pasti dia sudah sampai " monolognya.


kemudian sekertaris Revan pun menambah kecepatan mobilnya untuk segera sampai di apartemen nya.


berbeda dengan Adinda yang kini baru saja keluar dari dalam warung tersebut.


sedangkan di luar mulai gerimis dan langit juga mulai gelap.

__ADS_1


gerimis sedikit saja kan tidak apa apa, lagian aku juga sudah lama tak bermain hujan hujanan, dan ayam geprek nya kan terbungkus jadi tidak akan basah monolog Adinda sambil sesekali tersenyum.


kemudian Adinda pun memasukkan bungkusan ayam geprek itu ke dalam tasnya, dan juga ponselnya ia taruh di dalamnya agar tidak basah sesampainya di apartemen.


Dinda mulai melanjutkan langkahnya menuju apartemen atasannya tersebut, sesekali kedua matanya meneteskan air mata yang kini bercampur dengan air hujan yang mulai deras membasahi seluruh tubuhnya.


dirinya merasa menjadi seorang gadis yang menyedihkan saat ini, hidupnya di penuhi hutang, kemudian menyukai seseorang yang tak pernah mencintai nya sama sekali, dan dengan dirinya yang saat ini tengah berjalan sendiri di tengah deras nya hujan, bagai seseorang yang tak ada satupun memperdulikan nya.


sedangkan sekertaris Revan sedari tadi sudah sampai di apartemen nya, tetapi dirinya tak mendapati Adinda di dalam sana.


sekertaris tampan itu mulai kebingungan, sedangkan nomor ponsel milik Adinda saja ia tak punya.


" kau dimana Din, sedangkan di luar sana hujan sangat deras, mampir kemana lagi gadis itu ' monolog sekertaris Revan.


sambil mondar mandir tak jelas di depan kamarnya, dan perlahan sekertaris Revan kembali masuk ke dalam kamarnya berniat membersihkan tubuhnya dan setelah itu dirinya berniat untuk mencari Adinda di luar sana.


sedangkan Adinda kini sudah sampai di area apartemen atasannya tersebut.


dirinya kemudian mulai masuk di lorong apartemen elit tersebut.


untuk segera sampai di apartemen milik sekertaris Revan dengan tubuhnya yang saat ini tengah basah kuyup, bibirnya sudah membiru, tetapi Adinda sedikit tersenyum karena ayam geprek di dalam tas nya masih utuh dan tidak basah sama sekali.


sesaat kemudian


Adinda telah sampai di depan pintu apartemen milik sekertaris Revan, dan perlahan mulai membuka pintu tersebut untuk segera masuk ke dalam.


sesampainya di dalam Adinda tak mendapati atasannya tersebut dan ternyata pintu kamar sekertaris Revan tertutup.


dia memang tak ada perasaan untuk ku sama sekali, bahkan saat ini dia tak sedikit pun menunggu ku di ruang tamu, apa seperti ini rasanya cinta tak terbalaskan gumam Adinda dalam hati.


kemudian gadis dua puluh tiga tahun itu segera menuju dapur dan menaruh ayam geprek yang sedari tadi berada di dalam tas nya itu, kemudian memindahkan nya di atas piring dan kemudian menaruhnya di atas meja makan bersama segelas susu hangat untuk atasannya sebagai makan malam.


sedangkan Adinda berniat mengambil piring dan ingin mengambil nasi di dalam penghangat , dan setelah itu di toleh nya dia berniat mengambil lauk yang tadi pagi ia masak nya untuk kemudian di bawanya ke kamar bersama nasi yang baru saja ia ambilnya itu dan memakannya di dalam kamarnya tersebut, kemudian setelah itu keinginan nya sirna.


Ketika melihat seekor cicak yang baru saja hinggap di sana, dan Adinda pun akhirnya mengurungkan niatnya, perlahan gadis cantik itu mengembalikan nasinya ke penghangat, kemudian setelah itu bergegas masuk ke dalam kamarnya dengan keadaan lesu, padahal sedari tadi siang dirinya menahan lapar, dan ingin makan di apartemen atasannya.


.


******


Adinda kini tengah berada di dalam di dalam kamarnya dengan pintu kamar yang ia kunci, dan perlahan ia mulai mencopot pakaiannya yang sudah basah kuyup itu, untuk segera pergi ke kamar mandi yang berada di dalam kamar nya tersebut.

__ADS_1


sesaat kemudian Adinda telah selesai dengan ritual mandi dan ganti bajunya , dan kini dirinya tengah memakai tengtop dan juga celana pendek se paha nya kemudian langsung masuk ke dalam selimut putih tebalnya,


karena dirinya saat ini tengah merasa kedinginan, dan juga Dinda berniat memejamkan kedua matanya sampai pagi untuk melupakan rasa laparnya itu.


__ADS_2