
sesaat kemudian
" sayang aku kembali " ucap Bima yang kini kembali ke dalam kamar mandi dengan membawa tes kehamilan sebanyak lima biji itu.
" sayang ini alat tes kehamilan nya " ucap Bima kemudian menyodorkan lima biji alat tes mya tersebut ke arah Zahra.
" sayang kenapa banyak sekali hahaha... sayang ini hanya butuh satu saja, di ini yang kau berikan padaku terlalu banyak " jelas Zahra.
" hahaha... " Bima ikut tertawa.
" memang iya sayang, ah sudah biarkan saja kita pakai semua nya agar hasilnya memuaskan sayang "
" tapi ter.... "
" sayang sudah lah, pakai saja semua nya, dan tidak ada penolakan, apa susahnya sih menurut saja" ucap Bima seperti sedikit kesal pada sang istri.
" iya, iya sayang baiklah jangan cemberut seperti itu " jawab Zahra
" sayang kau keluar lah sebentar " ucap Zahra lagi.
" untuk apa keluar sayang, aku ingin menemanimu di sini, dan aku juga ingin segera tau hasilnya Zahra " jawab Bima.
" tapi aku mana bisa melakukannya jika kau di dekatku seperti ini suamiku " jelas Zahra
" kau malu iya kan, sayang stop, plis jangan seperti ini terus Zahra, aku suamimu " jawab Bima yang mulai kembali kesal pada sang istri yang sangat pemalu itu.
" shtttttt...... iya, iya sayang maaf, ya sudah aku akan segera melakukannya, sayang tempat urin nya mana "
" sebentar aku akan mencarinya, diam lah di sini sayang "
" iya sayang cepat pergilah "
kemudian Bima segera keluar dari dalam kamar mandi untuk mencari wadah kecil di dalam kamarnya.
sesaat kemudian
" sayang ini "
" Terima kasih suamiku "
" iya sayang, cepatlah "
" iya, kau menghadap ke sana sebentar jangan melihatku sayang aku mau...." jelas Zahra lagi yang membuat Bima lagi lagi merasa kesal itu.
" ZAHRA " ucap Bima penuh penekanan.
" iya, iya maaf, baiklah aku akan melakukannya " jawab Zahra seperti memilih mengalah karena suami nya seperti mulai kesal lagi pada dirinya.
Bima tersenyum mendengar nya
kemudian Zahra segera memasukkan alat tes kehamilannya itu yang berjumlah lima biji ke dalam wadah kecil yang telah berisi urin miliknya.
" sayang ayo kita keluar sebentar " ajak Zahra
__ADS_1
" memangnya kenapa kalau di sini sayang "
" aku takut hasilnya mengecewakan "
" tidak masalah sayang, kan kita sudah berusaha dan juga masih ada hari esok dan seterusnya untuk kita membuat seorang bayi kecil di sini " ucap Bima
sambil mengelus perut rata milik Fara, yang saat ini ia duduk kan bokong istrinya tersebut di dekat wastafel kamar mandi .
Sedangkan Bima kini tengah berdiri di hadapan istrinya, keduanya saling berhadapan sesekali Bima mengambil anak rambut yang menutupi wajah Zahra kemudian ia taruh di telinga sangat istri.
" sayang " rengek Zahra seperti terharu mendengar perkataan suaminya itu, meskipun dirinya merasa malu atas kata kata suaminya tadi kemudian ber hambur memeluk sang suami.
" aku sangat mencintaimu Zahra " ucap Bima penuh ketulusan.
" aku juga mencintai tuan Bima " balas Zahra
" dasar kau ini ya "
" hahaha... sayang jika nanti kita sudah memiliki bayi, apa kita masih bisa bermesraan seperti ini " tanya Zahra yang masih tetap setia memeluk tubuh atletis itu.
sedangkan Bima terkekeh
" sayang apa yang tanyakan, tentu saja bisa meskipun kita sudah memiliki bayi dan masih sangat sangat bisa "
" apa kau tidak malu nanti kepada anak kita "
" biarkan saja sayang tidak masalah buatku, asal bermesraan masih di batas wajar, iya kan " jelas lelaki tampan bertubuh atletis tersebut.
" iya sayang kau benar "
" sayang tetapi aku tidak sabar ingin melihatnya juga "
" shhhtttttt.... diam "
" iya iya baiklah aku akan memejamkan kedua mataku, ada ada saja "
kemudian Zahra turun dari pinggiran wastafel yang di bantu oleh sang suami, kemudian Zahra melangkahkan kakinya ke arah closed yang memang tadi Zahra menaruh wadah kecil itu di sana.
Setelah sesampainya di dekat closed, Zahra mulai mengambil satu alat tes kehamilan dari kelima biji itu yang masih terendam urin miliknya.
" sayang diam di situ tidak boleh melihat kesini"
ucap Zahra memperingati sang suami.
" iya sayang cepatlah " jawab Bima yang masih berada di depan wastafel itu.
Zahra pun mulai melihat tanda garis merah yang berada di alat tes kehamilan tersebut.
Dan menandakan di sana dua garis merah yang sangat jelas.
Zahra terdiam sejenak, lelehan air matanya mulai keluar dari ujung kedua matanya.
sesaat Zahra menoleh kepada sang suami yang seperti nya sangat tidak sabaran itu.
__ADS_1
kemudian Zahra melangkahkan kakinya menuju ke arah sang suami dengan lelehan air matanya yang membanjiri pipinya tersebut.
" sayang kenapa lama sekali kalau sekedar melihatnya "
hiks... hiks.... hiks
tangis Zahra
sepertinya dia sendiri tidak percaya dengan apa yang dilihat tadi dengan hasil tes kehamilannya tersebut.
" sayang kau kenapa hem, kenapa menangis tidak usah seperti itu sayang besok besok kita bisa mencobanya kembali "
ucap Bima yang saat ini langsung mendekap tubuh istrinya ke dalam pelukannya itu setelah tadi dirinya disuruh memejamkan kedua matanya itu oleh Zahra.
di pikiran Bima saat ini merasa kalau hasil tes kehamilannya negatif, dan tak berniat melihatnya agar tak membuat sang istri tambah bersedih.
hiks... hiks... hiks...
" sayang sudah diam tidak apa apa, ayo kita keluar dari sini, cupcup sayang, sudah tidak apa apa "
" kau tidak ingin melihat hasilnya ya " ucap Zahra kemudian berniat melepaskan pelukan suaminya itu.
" nih " ucap Zahra kemudian segera menghapus lelehan air mata di kedua pelupuk matanya tersebut.
setelah itu Bima mengambil alat tes kehamilannya tersebut dari tangan sang istri.
perlahan Bima melihat ke arah dua garis merah yang terlihat jelas di sana.
" sayang kau......kau hamil sayang " ucap Bima seperti tidak menyangka sama sekali kalau dirinya sebentar lagi akan memiliki seorang bayi.
Zahra mengangguk kemudian tersenyum perlahan.
" sayang kau... kau benar-benar hamil Zahra " ucap Bima lagi yang seperti meyakinkan apa yang saat di lihatnya di alat tes kehamilan itu.
" iya sayang " jawab Zahra seperti meyakinkan perkataan suaminya untuk yang kedua kalinya.
dan lagi lagi Bima kembali memeluk tubuh istrinya begitu sangat erat.
" sayang kau tau aku sangat sangat bahagia sekali, Zahra terima kasih sayang " ucap Bima penuh kasih sayang.
" iya sayang, kau tau suamiku aku juga tidak menyangka akan menjadi seorang ibu sebentar lagi " jawab Zahra yang juga sama tidak menyangka hal yang kedua pasangan suami istri itu harapkan akhirnya terkabul.
" aku mencintaimu Zahra dan anak kita di sini, di rahim mu " ucap Bima di sela sela pelukannya kepada sang istri.
Zahra lagi lagi terbaru mendengar perkataan sang suami.
Zahra kembali menangis.
" shtttttt.... sudah sayang jangan menangis lagi ya ayo kita keluar dari sini " ucap Bima kemudian menggendong tubuh sang istri ke arah ranjang king size nya tersebut.
Jangan lupa mampir di novel ke dua aku kak😊😊😊
berjudul Perbudakan ku berakhir di pelaminan
__ADS_1
dan jangan lupa like dan votenya 😊😊🥰