
Jam sudah menunjukkan waktu bekerja telah usai, begitu juga Barra dan Sheina yang mulai membereskan beberapa kertas penting nya yang masih tersisa di atas meja kerja kedua nya.
Sesaat setelah selesai beberes, Barra mulai mengajak sang atasan untuk segera pulang.
" Nona ayo kita segera pulang " ajak Barra
" ya sekertaris Barra " sahut Sheina.
Seperti biasa hanya ada keheningan di antara kedua nya.
******
Di perjalanan pulang.
Di dalam mobil tepatnya.
Ke-dua nya memulai obrolan.
" nona ini akhir bulan dan saya akan di tanya i langsung oleh tuan Bima tentang ke profesional an anda di perusahaan, menurut anda apa saya harus bilang pada tuan kalau anda di perusahaan sering bermalas malasan , atau saya harus bilang kalau anda sering melempar pekerjaan pekerjaan anda sendiri pada saya " jelas Barra seolah memiliki kartu As untuk menakuti gadis manja di kursi belakang mobil.
" kau mengancam ku sekertaris Barra " tanya Sheina sambil bersungut-sungut sedangkan kedua tangan nya mengepal.
" hehehe.... mana berani saya mengancam anda nona " jawab Barra dengan sedikit tawa kecil seolah tak ada apa apa, kemudian melirik ke arah spion mobil di samping kepala nya bagian atas yang memperlihatkan jelas raut wajah Sheina yang sangat teramat kesal pada dirinya itu.
" lalu kenapa kau ingin lapor pada papa seperti yang kau maksud kan tadi bukan kah itu sama saja kau mengancam ku " tuduh nya.
" sepertinya saya lihat anda takut jika saya membicarakan ini pada tuan " goda Barra.
" siapa yang takut bilang saja " tantang Sheina.
" baik lah saya akan melaporkan semuanya pada tuan sesampainya di mansion anda "
" Aaaaa.... jangan jangan jangan sekertaris Barra kau pria baik aku mohon jangan laporkan aku pada papa " sahut Sheina tiba tiba.
" apa imbalan nya untuk saya jika saya tidak akan melaporkan masalah itu " goda Barra terus yang seperti nya merasa seru untuk mengerjai gadis manja yaitu Sheina.
" emm... bagaimana ya " jawab Sheina sedikit berfikir.
" Bagaimana kalau anda mentraktir saya " ucap Barra.
seperti nya imbalan ini tidak masalah, agar aku bisa keluar menghirup udara bebas, tidak di dalam rumah terus, pasti papa dan mama akan mengizinkan jika bersama gadis tengil ini gumam Barra.
" baiklah kalau begitu sepulang kantor kau jemput aku kita keluar bersama dan aku akan meneraktirmu setiap hari, ya anggap saja juga sebagai tanda terima kasih ku karena kau menolong ku tadi di kantor " jelas Sheina yang menyetujui perkataan Barra.
DEG... seketika jantung Barra berdetak tak seperti biasa, mengingat akan kejadian di kantor tadi.
Barra terdiam sejenak mengingat hal tersebut di dalam pikiran nya.
aku merasa sangat bersalah padanya, karena aku telah mencium bibir nya sewaktu ia tak sadar tadi, harus jawab bagaimana aku sekarang gumam Barra.
" hei... sekertaris Barra kenapa kau diam saja hah, kau tidak mau " ucap Sheina tiba tiba dari kursi belakang penumpang.
__ADS_1
" ah... maaf nona saya melamun, ya ya baiklah saya mau " jawab Barra sedikit gelagapan.
" tapi kau janji kan tidak melaporkan aku pada papa "
" iya saya tidak akan melaporkan nya asal nona berjanji tidak akan lagi bermalas malasan di kantor "
" aku tidak janji " sahut Sheina se enak nya sambil bersendekap dada.
memang gadis berparas ayu satu ini terlalu sering di manjakan oleh Bima sang papa, menjadikan Sheina gadis yang sedikit berleha leha dalam segala hal.
Tak di sangka mobil mewah hitam yang mereka kendarai mulai memasuki pekarangan mansion Sinaga.
Mobil berhenti Barra segera keluar untuk membukakan pintu untuk sang atasan yaitu Sheina.
JEG... GLEK...
" silahkan kan nona " ucap Barra.
" hem " jawab Sheina hanya deheman saja kemudian segera turun dari dalam mobil kemudian melangkah kan kedua kaki nya untuk segera masuk ke dalam mansion.
" oh iya nona bagaimana yang tadi " ucap Barra tiba tiba di sela langkah Sheina.
sontak langkah Sheina terhenti, kemudian membalikkan tubuh nya kebelakang setelah itu melangkah mendekati Barra.
" tidak jadi sudah jelas " ucap Sheina datar.
" ya baiklah saya akan masuk untuk segera melaporkan kelakuan anda pada tuan " jawab Barra terlihat begitu santai kemudian berniat melangkah memasuki mansion Sheina.
" ternyata nyali anda sangat ciut ya nona hehehe... " ucap Barra sedikit tertawa sambil menundukkan kepala karena sudah tak tahan menahan tawa nya sedari tadi.
JDUGHH....
bunyi sepatu hitam Barra yang baru saja di injak Sheina dengan begitu keras nya.
" aw.... sakit " ucap Barra lagi meringis kesakitan kemudian memegangi ujung sepatunya.
" hehehe......bagaimana sakit kan, maka nya jangan meledekku sekertaris B A R R A " ucap Sheina tertawa seolah dirinya sedikit lega melampiaskan kekesalan nya tersebut dengan menginjak sepatu bawahannya tersebut.
Setelah berucap Sheina segera melanjutkan langkah nya memasuki mansion tanpa menghiraukan lagi pria tampan yang masih meringis kesakitan itu saat ini.
Sedangkan Barra masih berdiri di tempat nya.
" awas kau S H E I N A gadis bar bar " ucap nya
kemudian segera berbalik melangkah memasuki mobil untuk pulang.
*******
Kediaman rumah mewah keluarga Barra.
Baru saja Barra memasuki rumah mewah nya dirinya sudah di sambut hangat oleh kedua orang tua yaitu Revan dan Adinda di ruang tamu, yang terlihat sudah siap dengan pakaian yang seperti terlihat akan menghadiri suatu acara.
__ADS_1
" sayang kau sudah pulang " ucap Adinda kepada sang putra.
" iya Ma, mama dan papa mau kemana " tanya Barra ketika menatap intens pakai kedua nya dari atas sampai bawah.
" segera bersiaplah Barra papa dan mama akan mengajakmu " sahut Revan.
" kemana Pa, Barra malam ini ada acara keluar bersama putri tuan Bima atasan papa "
seketika Revan tersenyum kemudian tertawa kecil
" hehehe... iya itu gampang nanti juga kau akan bertemu dengan nya "
" maksudnya " ucap Barra memperjelas.
" Barra jangan banyak tanya "
" tapi "
" Barra " ucap Revan penuh penekanan.
Sedangkan Barra dan sang mama sudah mengetahui akan perkataan Revan yang penuh penekanan itu pasti tak ingin mendengar penolakan tentu nya.
" ya baiklah aku akan segera bersiap " jawab Barra sambil memutar kedua bola mata nya malas.
Dengan segera Barra bergegas menuju kamar.
*******
Kembali ke mansion Sinaga.
Seluruh keluarga kini sudah bersiap, bertepatan juga dengan kedatangan Fanya putri Hendra adik dari Bima yang resmi tinggal di luar negri penerus perusahaan papa Brandon yang dulu nya di bangun di sana.
Di kamar Sheina baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
Sedangkan pintu kamar nya baru saja di ketuk dari luar.
Tok... tok..... tok
" siapa " ucap Sheina dari dalam kamar mewah nya yang berdominasi warna serba putih tersebut.
" saya nona Shei " sahut Bi Nani yang berada di luar kamar.
" iya ada apa Bi Nani "
" Non Sheina anda di suruh memakai pakaian yang sopan ada tamu kata nyonya , dan di lantai bawah nona Fanya juga baru saja sampai "
" benarkah Bi, ya baiklah tunggu bilang pada mama aku akan segera turun " jawab Sheina terdengar sangat bahagia akan kedatangan saudara nya itu.
" baik Non "
Non Sheina sama seperti nyonya Zahra begitu ceria dan gampang akrab dengan siapa pun, cantik pula sifat nya persis Non Zahra gumam Bi Nani sambil tersenyum.
__ADS_1
kemudian bergegas menuju lantai bawah.