
Malam panjang telah berlalu dan kini sudah berganti menjadi pagi hari, pagi yang begitu sangat dingin, sedangkan Sheina masih setia memejamkan kedua matanya.
Jam kecil di atas nakas mulai berdering.
tring... tring... tring....
Seketika Sheina langsung membuka kedua mata nya perlahan kemudian ia menutup nya kembali di rasa malas untuk bangun, ia berniat membalikkan tubuh nya untuk memeluk pria tampan yang biasa menemaninya tidur di atas ranjang setiap hari nya itu.
Tetapi ia sedikit terdiam tatkala tangan nya tak mendapati tubuh kekar yang biasa ia jadikan guling di tempat tidur nya.
Sheina mulai meraba raba dengan kedua mata terpejam,
dan memang benar tangan putih mulus milik nya tak mendapati tubuh kekar yang biasa menghangatkan tubuhnya di pagi hari seperti pagi ini.
Seketika ia kembali membuka kedua matanya sambil membenarkan posisi tubuh nya yang sedikit terduduk menatap ke samping ranjang.
" Barra " ucap nya ketika tak mendapati Barra di samping nya.
Gadis itu sedikit termangu kemudian langsung mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan kamar.
" Sayang kau di mana, kenapa kau tak membangunkan aku " ucap nya lagi.
Dengan segera ia bangun dari sana untuk mencari keberadaan sang suami di seluruh penjuru kamar.
Di rasa tak ada Sheina segera menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
*
Di lantai bawah.
Sheina mulai duduk di meja makan, sedangkan beberapa pelayan tengah sibuk di dapur membuat beberapa olahan yang sebentar lagi akan matang.
" Bi " panggil Sheina pada salah satu pelayan.
" ah iya non " jawab wanita paruh baya yang mulai berlari kecil menuju ke arah Sheina sebut saja Bi Ana.
Kepala pelayan di mansion yang sangat akrab dengan gadis berparas ayu tersebut.
" Bibi suami Sheina kemana " tanya nya.
__ADS_1
" Ya non tadi tuan memberitahu saya kalau berangkat pagi pagi ke luar kota "
" oh iya Sheina lupa Bi, kenapa dia tak membangunkan ku ya Bi " jawab Sheina sambil menepuk pelan kening nya.
" non tuan bilang tadi memang sengaja karena tidak ingin melihat non bersedih " ucap sang Bibi.
" benarkah Bi "
" iya non percaya sama saya "
Sheina tersenyum mendengar penuturan Bi Ana, hatinya merasa sedikit tak rela sebenarnya tapi juga bahagia karena Barra begitu menghawatirkan dirinya.
" ya sudah Bibi lanjutkan pekerjaan Bibi "
" iya baiklah non, saya permisi " sahut Bi Ana
kemudian melenggang pergi meninggalkan Sheina yang masih duduk diam di kursi meja makan.
*
*
Sheina baru saja duduk di sisi ranjang ia sedikit melirik ke arah nakas ada sebuah kertas kecil berwarna putih di sana.
Ia segera mengambil nya dan membaca tulisan di kertas kecil itu, sebuah kertas yang di tulis oleh Barra untuk dirinya.
Sesaat senyum nya terlihat mengembang.
Aku juga mencintai mu, segera lah kembali aku menunggu mu ucap nya.
kemudian melipat kertas kecil tadi untuk ia masukkan ke dalam laci.
Tring... tring.... tring...
Tiba tiba nada ponsel nya terdengar nyaring.
Sheina segera mengambil ponsel milik nya di atas meja rias, dan menatap layar tipis nya di sana.
Lagi lagi senyuman nya melengkung lebar ketika mendapati sebuah nama seseorang pria tampan yang baru saja ia cari tadi.
__ADS_1
" Barra " ucap nya sambil menatap layar.
Sheina segera mengangkat sambungan telepon itu.
" halo " ucap nya dengan hati yang begitu sangat bahagia.
" halo sayang bagaimana pagi mu, maaf aku tak membangunkan mu aku tak ingin melihat raut wajah tak rela mu itu atas kepergian ku Shei " jelas Barra dari sebrang sana.
" iya aku mengerti sayang, dan aku sudah membaca surat kecil yang kau tulis "
" benarkah "
" yah... aku juga sangat mencintaimu ''
" hehehe....ingat setelah aku kembali nanti aku akan menagih janjimu padaku " ucap Barra seolah mengingatkan sesuatu yang pernah ia pinta pada sang istri.
Sheina sedikit berfikir apa yang di maksud pria tampan di sebrang telepon itu, tetapi Sheina seolah lupa janji apa yang di maksud Barra batin nya.
" janji apa heh... memangnya aku punya janji ya padamu " Sheina sambil menggaruk garuk kepala bagian belakang seolah mengingat ingat.
" sayang jangan pura pura lupa "
" iya apa... aku memang tak mengerti yang kau maksud suami ku "
" sebuah malam panjang, masih ingat kan " Barra mengingatkan.
" astaga iya iya aku ingat, aku akan menepati janji itu kau puas "
" hehehe.....ya sudah mandi sana kau sangat bau " goda Barra.
" hehehe.....kenapa kau bisa tau aku belum mandi, ya sudah baiklah aku akan mematikan sambungan telepon nya "
" ya baiklah sayang, aku mencintaimu " ucap Barra terdengar tulus.
" aku juga mencintaimu " Sahut Sheina.
tut... tut... tut...
Panggilan pun terputus.
__ADS_1
Sheina tersenyum sambil menempelkan bibir nya di layar ponsel yang baru saja ia matikan itu.