Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
saling diam


__ADS_3

06.15 wib


berbeda di tempat lain, tepat nya berada di apartemen sekertaris Revan.


Adinda terbangun dengan tergesa-gesa dan dirinya baru tersadar kalau semalam yang menggendongnya ke dalam apartemen adalah atasan yang menurutnya dingin itu.


Astaga jam berapa ini, apa sudah jam nol enam seperempat, aku harus segara cuci muka dan segera masak, tapi tunggu bukan kah tadi malam, akkhh sebaiknya aku tanyakan sekertaris Revan saja monolog Adinda.


kemudian gadis dua puluh tiga tahun itu segera bergegas mencuci mukanya dan kemudian menuju dapur mewah milik atasannya tersebut.


*********


masak apa ya, aku akan mencari di lemari pendingin saja, ahh.... hanya ada telur, dan paha ayam sayuran nya tidak ada,sebaiknya aku masak yang ada saja, dan nanti aku akan bilang kepada sekertaris Revan untuk segera membeli keperluan dapur monolog Adinda.


kemudian Adinda pun mulai bertarung dengan alat tempurnya di dapur, memasak olahan makanan untuk atasan nya saat ini.


kemudian Adinda tak lupa membuatkan kopi hitam untuk rekan kerja nya itu.


sesaat kemudian.


kopi telah selesai ia taruh di meja ruang tamu tepatnya di depan televisi.


sedangkan sekertaris Revan pun kini mulai keluar dari dalam kamarnya dengan setelan celana kerja biru dongker, dengan atasan kemeja warna putih sedangkan jas nya masih ia pegang kemudian ia taruh di kursi depan televisi, sambil menunggu sarapan selesai dan kemudian akan memakainya.


sedangkan Adinda yang melihat atasannya yang baru saja keluar dari kamarnya itu, langsung menawarkan kopi yang telah ia buat nya untuk sekertaris Revan.


" Tuan, kopi silahkan anda minum, saya sudah membuatkan tadi " ucap Adinda kepada sekertaris Revan sambil mengembangkan senyumnya.


" ya terimakasih Din " jawab sekertaris Revan tanpa menoleh.


" oh iya tuan, apakah tuan tadi malam menggendong saya sampai kamar " tanya Adinda


" iya " jawab singkat sekertaris Revan dengan singkat nya.


" tuan, kenapa jawabannya singkat sekali,padahal saya ingin mengucapkan terimakasih kepada anda, oh iya ayo tuan segera sarapan ini sudah matang "


" iya "


dan sekertaris Revan pun segera menuju meja makan setelah tadi sedikit meminum kopi buatan Adinda.


sesampainya di meja makan.


" tuan maaf di lemari pendingin hanya ada itu saja, dan sudah tidak ada lagi persediaan lain nya " jelas Adinda.


" baiklah nanti sepulang kantor kau akan ku antar membelinya " jawab sekertaris Revan yaang baru saja duduk di kursi meja makan itu.


" baiklah kalau begitu tuan "


" tuan " panggil Dinda.


" hem "


" terima kasih atas semalam kau telah menggendongku sampai kamar "

__ADS_1


" iya sama sama "


" tuan kenapa " tanya Adinda yang merasa atasan nya itu sedikit berbeda.


" tidak, aku tidak apa apa, memang nya aku kenapa "


Dia kenapa ya, kenapa dia beda sekali hari ini, apa aku yang salah gumam Adinda dalam hati.


" tuan " panggil Adinda lagi.


" apalagi "


" tuan apa saya punya salah sama tuan, maaf jika saya bersalah " tanya Adinda yang merasa atasannya memang sedikit berbeda sedari tadi keluar dari kamarnya.


" maksud mu apa sih Din ''


" saya merasa sedari tadi tuan dingin kepada saya "


" memangnya kamu siapa, apa kamu baru tahu kalau aku seorang pria yang dingin seperti ini " ucap sekertaris Revan dengan angkuh nya membuat hati Adinda sedikit tersentak oleh perkataan nya.


DEG......


" maaf tuan,saya tau saya memang bukan siapa siapa anda, maaf kan saya sebelumnya " jawab Adinda kemudian.


dan setelah itu ia meneruskan acara memakan sarapan paginya dengan keheningan tanpa ada lagi pembicaraan sama sekali di meja makan di antara keduanya.


kemudian setelah acara makan sarapan pagi selesai, Adinda pun segera mengumpulkan semua peralatan dapur yang kotor untuk segera mencucinya.


sedangkan sekertaris Revan kini berada di sofa sambil menghabiskan kopi miliknya yang tadi di buatkan oleh Adinda.


kemudian setelah sekertaris Revan menghabiskan kopinya,dia berniat pergi menuju perusahaan tanpa menunggu Adinda.


Sedangkan Adinda tak mengetahui kalau atasannya itu kini meninggalkan dirinya sendiri untuk pergi ke perusahaan.


Adinda yang baru saja selesai mencuci piring itu, kini baru menyadari bahwa lelaki yang satu atap dengan nya itu telah berangkat terlebih dulu ke kantor.


Hah..... ternyata dia berangkat duluan, ya sudah tidak apa apa, memang nya siapa aku, benar juga perkataan, sebaiknya mulai sekarang aku tak berharap lebih darinya, dan setelah hutang ku lunas padanya aku akan pergi dari sini, dan tidak mungkin pula jika aku terus ada di apartemen yang bukan milikku monolog Adinda sambil membuang nafas nya kasar.


Kemudian gadis itu segera menuju kamar mandi di dalam kamarnya untuk segera membersihkan tubuhnya di sana.


sesaat kemudian,


setelah selesai Adinda segera mengganti bajunya dengan pakaian kantor kemudian bergegas pergi dari dalam apartemen menuju ke perusahaan tanpa membawa bekal seperti biasanya entah itu lupa atau apa.


sedangkan jarak apartemen sekertaris Revan dan perusahaan sedikit jauh.


sekilas Adinda berpikir, dirinya bisa sampai perusahaan atau tidak uang tabungan nya tinggal sedikit, dan tanggal gajian masih jauh.


sebaiknya aku jalan kaki saja tidak apa apa hitung hitung olahraga masih setengah tujuh lebih sedikit kan monolog Adinda.


sekilas gadis itu melihat jam tangan di pergelangan tangan nya.


semangat Dinda kau pasti bisa monolog Adinda yang seperti menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


kemudian Adinda mulai melangkah menuju perusahaan di mana saat ini tempatnya bekerja.


sedangkan di dalam perusahaan.


tepatnya diruang berpendingin milik sekertaris Revan.


lelaki itu seperti sedikit tidak fokus dengan pekerjaan yang sedikit menumpuk di mejanya, sedangkan pikirannya saat ini kemana mana.


memikirkan seorang gadis yang mulai mengisi hatinya satu minggu yang lalu yang sudah membuat dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama itu.


Dia sudah berangkat apa belum ya, ah lagi lagi memikirkan nya, ayo Revan pekerjaan mu mulai menumpuk fokus fokus monolognya.


kemudian sekertaris tampan itu kembali fokus pada pekerjaan nya yang sedari tadi tak kunjung selesai.


Berbeda dengan Adinda yang saat ini masih sampai di separuh jalan untuk menuju ke perusahaan, entah sampai jam berapa dirinya sampai.


Astaga sekarang sudah jam tujuh lebih, ayo dinda cepat cepat, apa kau tidak takut sekertaris dingin itu memarahimu kemudian memecat mu dan akhirnya hutangmu......, ah sudahlah sebaiknya aku sedikit berlari kecil untuk segera sampai di sana gumam Adinda dalam hati.


dengan dirinya yang terus fokus ke arah jalanan saat ini.


*********


hampir satu jam lamanya Adinda tak kunjung datang ke perusahaan.


sesekali sekertaris Revan memandangi kursi kosong tempat Adinda bekerja.


kemudian melihat jarum jam di pergelangan tangan nya, yang sudah menunjukkan jam setengah delapan siang.


Kemana Dinda, kenapa dia belum datang jam segini monolog sekertaris Revan yang kembali bingung karena satu gadis yang mulai mengisi pikiran dan hatinya itu.


dan sesaat kemudian.


pintu kaca bening tebal yang berada di ruangan sekertaris Revan di buka dari luar,


JEG GLEK ........


bunyi pintu yang di buka oleh Adinda.


menampilkan gadis cantik yang baru saja memasuki ruangan milik sekertaris dingin itu.


perlahan Adinda masuk tanpa menoleh ke arah sekertaris Revan dan Adinda pun langsung duduk di kursi kerjanya.


Dan langsung mengerjakan pekerjaan nya yang mulai menumpuk di atas mejanya, di antara keduanya kini hening tak ada obrolan sama sekali.


sesekali sekertaris Revan melirik ke arah Adinda yang kini mulai sibuk dengan pekerjaan nya itu.


dirinya sebenarnya ingin sekali berbicara pada Dinda, tetapi mulutnya terasa terkunci, dan tak tau apa yang harus ia bicarakan saat ini.


kemudian sekertaris Revan sedikit berdehem untuk memancing Adinda.


EKKG HEMM.........


EKKG HEMM.........

__ADS_1


tetapi tetap tak di gubris oleh Adinda.


akhirnya sekertaris Revan berniat untuk melanjutkan pekerjaan nya, dan setelah itu dirinya berniat mengajak Adinda setelah istirahat nanti untuk keluar perusahaan mengajaknya makan bersama.


__ADS_2