Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
Zahra terjatuh


__ADS_3

setelah lama menangis Zahra berniat ke melangkahkan kakinya ke kamar mandi, untuk buang air kecil di dalam sana.


perlahan gadis yang sebentar lagi menjadi ibu itu, mulai masuk dengan kakinya yang sedari tadi terasa gemetaran.


sesaat kemudian setelah selesai Zahra perlahan melangkah kakinya untuk segera keluar dari dalam kamar mandi, baru beberapa langkah kepalanya tiba tiba pusing kedua matanya mulai berkunang kunang,


kakinya tambah bergetaran dan Zahra perlahan mulai berpegangan pada sisi dinding kamar mandi, karena dirinya yang sangat merasa pusing itu melihat tangan nya sendiri seperti menjadi tiga, Zahra terus mencoba berpegangan tetapi sayang baru dirinya kembali berpegangan dengan penglihatan nya yang mulai buram itu tangan tak tepat sasaran memegang sisi kamar mandi dan akhirnya.....


BRUKKKK.................


bunyi tubuh Zahra yang kini telah terjatuh di lantai kamar mandi.


AAKKKHHHHH................


teriak Zahra dengan teriakan yang menggema di dalam kamar mandi.


Sakit... sakit... anakku.... tolong... hiks.. hiks....


tolong anak ku, darah....... tolong....selamat kan dia..... hiiiikkksss......


tolong aku mohon, ini sangat sakit, suamiku kau dimana hik..... hiks.....monolognya.


dengan suara yang mulai tak terdengar.


Zahra terus meneteskan air matanya sendiri di kamar mandi dengan suaranya yang kini perlahan mulai hilang.


Ya gadis yang sebentar lagi menjadi ibu itu kini terjatuh dan mengalami pendarahan yang begitu hebat, tangis nya begitu pilu, menahan sakitnya sendirian saat ini.


kini kesadaran nya mulai menghilang, kedua matanya mulai tertutup rapat, dan bibirnya pun kini sudah seperti membisu, wajahnya sangat pucat, dan juga keringat yang kini bercucuran di keningnya.


sedangkan darah yang keluar terus mengalir di kedua selangkangannya.


Zahra sudah tak sadarkan diri saat ini.


sedangkan di ruang kerja.


Bima masih dengan dengan rasa kesalnya, kemudian ponsel nya berbunyi


tring


tring


tanda pesan masuk ke dalam ponselnya, di lihat nya pesan itu dari sekertaris Revan.


perlahan Bima mulai membuka nya, dan ternyata isinya adalah kiriman nomor rekan barunya itu, yang sedari tadi di minta oleh istri nya.


kemudian setelah melihat isi pesan itu, Bima kembali menaruh ponselnya di atas meja kerja di ruangannya itu.


lagi apa dia sekarang, kenapa tak menyusul ku ke sini, aku akan sedikit mendiamkan nya, siapa suruh membayangkan Hendra segala dan membanding bandingkan aku dengan nya, aku penasaran dia sedang apa saat ini, sebaiknya aku lihat saja, dan setelah itu aku akan kembali kesini lagi, aku sudah berniat untuk mendiamkan nya satu hari ini saja monolog Bima.


kemudian pria tampan bertubuh atletis itu bergegas meninggalkan ruang kerjanya, baru beberapa langkah kemudian berhenti.


aku ke sana apa tidak ya, aku kan hanya memeriksa dia, setelah itu aku akan seharian di ruang kerja, sesekali menghukumnya seperti itu kan tidak apa apa, tapi perasaan ku kenapa sedikit tidak enak ya monolognya lagi.


dan kemudian Bima melanjutkan langkahnya menuju kamar pribadinya bersama Zahra.


sesaat kemudian.


sampailah Bima di depan pintu kamar miliknya, dan perlahan Bima mulai membuka pintu kamar nya tersebut.

__ADS_1


JEG GLEK....


bunyi handel pintu yang di buka oleh Bima, di lihatnya kamar itu kosong, dirinya terus melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar.


kemana dia, apa dia di kamar ganti, tidak mungkin untuk apa di sana dia kan sudah mandi dan berganti baju, apa dia di kamar mandi emmm..... sepertinya iya kamar mandinya tertutup, sebaiknya aku menunggunya keluar, dan setelah dia keluar dan aku mengetahui keadaannya, aku akan segera ke ruang kerja seharian monolognya.


sepuluh menit kemudian.


Zahra tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi.


sedangkan Bima masih saja menunggu istrinya keluar dari sana.


kenapa dia lama sekali sih, apa yang dia lakukan di dalam, sebaiknya aku lihat saja monolognya lagi.


Bima pun bergegas menuju kamar mandi, dirinya mendapati pintu kamar mandi yang tertutup,


Bima mulai menggedor nya dari luar.


JEDOR......


JEDOR.....


tidak ada sahutan dari dalam.


" Zahra kau di dalam, Zahra cepat buka pintunya " ucap Bima yang mulai khawatir dengan keadaan istrinya di dalam sana.


Bima kembali menggedornya


JEDOR.... ....


JEDOR.........


JEG GLEK......


bunyi handel pintu kamar mandi yang di buka oleh Bima.


dan ternyata pintu tidak di kunci.


Bima kemudian langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


kemudian langkahnya terhenti, mendapati tubuh gadis yang sangat ia sayangi kini tergeletak tak berdaya di lantai kamar mandi, dengan darah yang terus mengalir di kedua ************ milik Zahra.


ZAHRA........


sayang kau kenapa,


Zahra bangun sayang,


bangun,


Zahra aku mohon bangun sayang


Darah...... darah ini..... tidak tidak tidak.....


aku datang, hei buka kedua matamu Zahra, ayo sekarang kita ke rumah sayang, kau akan baik baik saja Zahra, aku bersamamu monolog Bima.


Dengan dirinya yang saat ini langsung menggendong tubuh istrinya menuju rumah sakit, dengan keadaan yang terlihat sangat kacau.


sesampainya di lantai bawah, ada pak Tejo yang baru saja lewat.

__ADS_1


" tuan ada apa dengan nona " tanya pak Tejo kepada atasannya tuan mudanya tersebut.


" jangan banyak bicara, cepat hubungi mama dan suruh ke rumah sakit '' jawab Bima.


" baik tuan " sahut Pak Tejo kemudian.


***********


di tengah perjalanan.


" lebih cepat lagi istriku sedang kesakitan " ucap Bima kepada supir pribadi keluarga nya.


" baik tuan " jawab sipit pribadi tersebut, yang kelihatan seperti sedikit ketakutan.


" kau bisa mengendarai mobil atau tidak hah,... Akkh.... aku bilang cepat, tambah kecepatannya" ucap Bima lagi dengan nada sangat tinggi kepada sopir.


*********


sesampai nya di rumah sakit.


" cepat bawa istriku, dia sedang kesakitan, cepat aku bilang " ucap Bima kepada para suster rumah sakit.


" iii... iya tuan " jawab beberapa suster tersebut dengan sedikit ketakutan.


kini tubuh Zahra pun berada di atas brankar, seluruh para suster dan dokter mulai kalang kabut, karena pemilik rumah sakit mereka kini datang dengan keadaan seperti marah marah, dan kebingungan melihat keadaan istrinya yang menghawatirkan itu.


suster, dan para dokter termasuk juga dokter Toni dan juga dokter Rani kemudian juga Bima, kini terus mendorong brankar tersebut untuk segera masuk ke dalam ruang ICU.


sesampainya di ruang ICU.


" tuan sebaiknya anda di luar " ucap suster wanita.


" tidak aku ingin ikut ke dalam menemani istriku" jawab Bima yang sedikit dangkal.


kemudian dokter Rani keluar dalam ruang ICU tersebut,setelah tadi seorang suster memberi tahu tahu Bima tidak mempan.


" tuan, saya mohon kerja samanya, istri anda saat ini keadaan nya sangat menghawatirkan ini masalah keselamatan nyawanya, bukan kah anda sangat mencintai keduanya kan " ucap dokter Rani kepada pemilik rumah sakit tersebut yang tak lain adalah Bima.


" ya sudah kalau begitu, aku mohon selamat kan Zahra dan anak ku, dia adalah hidupku" jawab Bima yang mulai mengerti dengan keadaan.


" pasti saya usahakan semampu saya tuan "


" aku percaya padamu "


kini Bima mondar mandir tak jelas di depan ruang ICU yang mulai tertutup rapat itu, pikiran nya seolah kemana-mana ia terus menyalahkan dirinya sendiri atas semua ini.


ini semua gara gara aku, seandainya saja aku tidak meninggalkan Zahra sendirian di kamar mungkin semuanya tidak akan terjadi, Zahra bertahanlah, maaf kan aku monolognya.


sesekali pria tampan itu mengacak acak kasar rambutnya, kini penampilannya sangat acak acakan.


setelah berdiri berjalan mondar-mandir Bima kemudian duduk di kursi tunggu tepatnya di dekat ICU.


KAK JANGAN LUPA BACA NOVEL AKU LAINYA :


- PERBUDAKAN KU BERAKHIR DI PELAMINAN.


- DUNIAKU TAK SELEBAR DAUN KELOR.


KAK JANGAN LUPA LIKE, VOTE, SAMA KOMENTAR NYA ☺☺😊😘😍😍

__ADS_1


__ADS_2