
Masih di rumah sakit
Kini Zahra gadis belia yang kini telah menjadi seorang ibu itu telah satu minggu berada di dalam rumah sakit.
Dan saat ini dirinya sudah di perbolehkan untuk pulang dari pihak rumah sakit.
Perlahan gadis berparas ayu itu ingin segera mengganti baju biru pasien nya dengan baju rumahan casual yang biasa ia pakai.
Karena saat ini semua keluarga sudah siap akan kepulangan menantu beserta cucu pertama konglomerat terkaya yang tak lain Brandon sinaga tersebut.
" maaf mama dan ibu bisa keluar sebentar " ucap Bima kepada dua wanita paruh baya tersebut.
" memangnya kenapa Bima " tanya Mama Alisya.
" aku ingin membantu Zahra mengganti bajunya ma, karena dia sedikit kesulitan sedangkan jahitan di perutnya masih basah " jelas Bima.
" ya sudah mama dan bu Fatma saja yang membantu istri kamu, kamu keluar saja bersama pria lain nya sana " keduanya wanita paruh baya itu menawarkan diri.
" ah... tidak.. tidak... biar Bima saja yang membantunya ma " jawab Bima yang merasa tidak lega jika bukan dirinya yang mengganti pakaian di tubuh Zahra.
Mama Alisya dan bu Fatma kini saling pandang sambil tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya pelan kepada pria tampan yang kini sangat posesif kepada sang istri.
" ya sudah mama keluar bersama bu Fatma " ucap mama Alisya lagi.
" ayo bu " ajak nya kepada besan.
Kemudian kedua wanita paruh baya itupun segera keluar dari dalam ruangan.
sedangkan Zahra hanya geleng geleng kepala karena sudah tau akan ke posesifan sang suami jika menyangkut dirinya.
Kini di dalam ruangan tersebut tinggal lah Zahra dan Bima, yang kini tengah membantu sang istri untuk berganti baju, etss..... jangan lupakan satu bayi mungil cantik yang kini tengah berada di inkubator tersebut.
Sedangkan saat ini tubuh indah itu sudah polos hanya memakai bra dan cd saja yang masih menempel di tubuh Zahra, yang selama satu minggu ini sudah tak di jamah lagi oleh Bima, terlihat bertambah berisi apalagi bagian dua benda kenyal milik istri pemilik Sinaga group itu.
Bima sedikit tersenyum menatap benda kenyal tersebut, yang kini bukan lagi khusus untuk dirinya.
Melainkan putri kecil yang saat ini tengah berada di samping ranjang dekat nya, tepatnya masih berada di dalam kotak inkubator.
" Suami ku kenapa kau tersenyum sendiri, pikiran mesum mu datang ya " tanya Zahra seperti sudah mengerti arti senyuman suaminya tersebut,
" hehehe... kau ini ya " jawab Bima sedikit tertawa karena dirinya merasa sudah ketahuan oleh Zahra.
__ADS_1
" lalu apa " tanya Zahra.
" aku hanya suka saja melihat tubuh mu sekarang bertambah berisi Zahra, dan juga ini " ucap Bima yang kemudian sesekali menoel satu bukit kembar milik sang istri.
" aw... jangan nakal, ini bukan milikmu lagi sayang " jawab Zahra.
" sayang apakah sedikit saja tidak boleh " tawar Bima dengan raut wajah yang di buat sedikit memelas.
" tidak boleh ini milik putri kita Sheina, iya kan sayang anak mama " ucap Zahra sambil menatap kotak kaca bening yang menampakkan putri kecilnya itu di dalam sana.
" memang sampai kapan Sheina menyusu " tanya Bima dengan dirinya yang penasaran.
" mungkin dua sampai tiga tahun " jelas Zahra seperti memikirkan sesuatu.
" APA... yang benar saja, terus yang di bawah sana sampai kapan aku bisa mencicipi nya lagi" tanya Bima
yang kini mimik wajahnya memang terlihat sangat melas, berharap sang istri segera menjawab nya dengan jawaban yang membuat hatinya kembali lega.
" emmm.... mungkin sampai satu tahun baru bisa " jawab Zahra asal.
" APA,..... Zahra sayang yang benar saja, tidak mungkin sampai selama itu, milikmu kan tidak jahitan sayang, yang jahitan di perut mu, kau mau membodohi ku ya hah... ayo jawab "
" iya juga ya,.. baiklah sebentar lagi aku akan menanyakan pada dokter Toni atau Rani, semoga saja sampai dua minggu dokter sudah memperbolehkan nya untuk aku mencicipi milikmu itu, aku sangat rindu sayang pada lipatan sempit itu "
" hehehe.... apa lipatan sempit " ucap Zahra sedikit tertawa, dengan dirinya yang menahan sakit jahitan di perutnya.
" iya "
" dasar kau ini ya,.. sayang mana bisa dua minggu pasti dokter akan menyaran kan paling lama mungkin lima bulanan "
" APA... lima bulan, satu minggu saja aku tidak tahan jika tidak melakukan nya dengan mu, apalagi ini, tadi kau bahkan bilang satu tahun, apa kau pikir milik ku tahan hah, mungkin sampai milikku beruban menunggu lipatan sempit milikmu bisa di pakai "
" hahaha..... sayang, aku geli sekali dengan kata-kata mu beruban itu hehehe.... aku tidak tahan menahan tawa seperti ini "
" aww.... sakit " pekik Zahra sambil sedikit meringis kesakitan.
Karena memang tadi dirinya merasa tawanya sedikit keras jadi di area perutnya sedikit kembang kempis karena tawa itu di area jahitan perutnya.
" Zahra kau kenapa sayang, ada apa dengan jahitan di perut mu " tanya Bima yang kini sangat khawatir dengan keadaan sang istri.
" kau jangan membuat ku tertawa "
__ADS_1
" siapa yang membuatmu tertawa Zahra, bukan kah kau sendiri yang tertawa kenapa jadi menyalahkan aku "
" kau tadi bilang beruban, dan aku tidak tahan dengan kata katamu itu "
" ya sudah aku diam, tapi apa mungkin memang sampai lima bulanan, baru aku bisa mencicipi lipatan sempit milikmu "
" sayang sebaiknya kau tanyakan saja kepada dokter supaya kau lega dan tidak mengira diriku yang membodohi dirimu lagi "
" ya.. ya... ya baiklah, semoga saja hanya dua minggu "
astaga suamiku kenapa kau kekeh sekali sih, mana ada sesudah melahirkan boleh melakukan hubungan intim setelah dua minggu, benar benar lelaki satu ini gumam Zahra dalam hati.
" sayang cepat, kenapa kau lama sekali mengganti bajuku, aku ingin segera pulang sayang "
" iya iya sabar, Zahra aku mencicipi sedikit susu milik Sheina boleh kan, sedikit saja ya "
" astaga suamiku kenapa kau kekeh sekali sih, itu milik Sheina, bukan milikmu lagi sayang "
" sayang mengerti lah sedikit saja, sudah satu minggu kau tak memberikan benda kenyal mainan ku ini kepadaku "
" ya sudah cepat "
Benar benar padahal ini sudah milik putri nya tapi masih saja tidak tega untuk mengikhlaskan nya gumam Zahra lagi.
sesaat.
Bima melepaskan bibirnya dari ujung kedelai hijau yang menempel pada benda kenyal milik Zahra, sambil raut wajahnya yang sedikit meringis.
" kenapa sayang wajahmu seperti itu heh.... enak ya rasa susu nya "
" sayang aku tidak suka rasanya hambar "
" hehehe.... aku kan sudah bilang suamiku, ini hanya untuk putri kita dan bukan lagi untukmu, kau sih di bilangi selalu ngeyel bukan " jelas Zahra
" iya iya maaf " ucap Bima.
" putri papa ini papa kembalikan gentong susunya, papa sudah tidak suka rasanya tidak menyatu dengan lidah papa hehehe.... " ucap Bima sambil menatap kotak inkubator putrinya yang berada di dekatnya itu
" hehehe..... dasar kau ini ya " ucap Zahra
yang merasa candaan suaminya itu membuat nya sedikit geli, dan juga saat ini lagi lagi Zahra sedikit menahan rasa sakit di perutnya karena kelakuan sang suami yang membuatnya lagi lagi tertawa itu.
__ADS_1