Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
perusahaan


__ADS_3

sedangkan di perusahaan Sinaga Group.


tepatnya di ruangan sekertaris Revan.


keduanya saling diam, tak ada obrolan sama sekali, keduanya tengah sibuk dengan pekerjaan masing, masing yang masih menumpuk itu.


sesaat kemudian


Adinda mulai memijit keningnya yang terasa mulai berat itu.


dan perlahan gadis itu mengeluarkan ponselnya, di lihatnya di sana ada pemberitahuan masuk di sebuah aplikasi novelnya.


hehehe... ada ada saja monolog Adinda dengan sedikit tertawa itu.


yang kemudian sedikit menarik perhatian atasannya tersebut.


" hei... apa kau tidak tau ini masih jam kerja hah, jangan bermain ponsel, apalagi tertawa tidak jelas seperti itu " ucap sekertaris Revan tiba tiba.


sedangkan kan Adinda mulai mendongakkan kepalanya menatap atasannya tersebut.


" tuan... saya cuma melihat pemberitahuan di ponsel saya, dan saya juga tidak tertawa dengan seseorang di dalam ponsel saya " jelas Adinda saat ini.


" terus tadi kau tertawa bukan " ucap sekertaris Revan kemudian.


" ya memang tadi saya tertawa tetapi bukan dengan pacar, karena saya tidak mempunyai pacar, saya hanya menertawakan komentar para pembaca novel saya, sudah jelas kan tuan" jelas Adinda lagi.


" terserah kau saja.. tertawa dengan siapa saja, itu bukan urusanku " ucap sekertaris Revan lagi dengan nada angkuhnya yang sedikit membuat hati Adinda merasa sakit hati atas perkataan atasannya tersebut.


" ya tuan anda memang benar bukan urusan anda, dan saya tadi cuma berniat menjelaskan saja, maaf jika saya salah " jelas Adinda kemudian


" emm... maksud ku bukan seperti itu Din " ucap sekertaris Revan yang merasa sedikit tidak enak sendiri itu dengan perkataan nya tadi yang sedikit menyinggung perasaan Adinda.


" sudah tuan tidak apa apa lupakan saja " jawab Adinda yang memang sudah malas untuk berdebat.


" Din.. " panggil sekertaris Revan.


" Maaf tuan bukannya ini masih jam kantor ya, dan dilarang banyak bicara " jawab Adinda setelah itu.


" ya kau benar " sahut sekertaris Revan yang kemudian dirinya memilih diam dengan perasaan tidak enaknya itu kepada bawahannya yang tak lain adalah Adinda.


ah.. aku jadi merasa menyakiti hatinya, kenapa aku jadi lemah seperti ini karena seorang wanita sih, padahal dia bukan siapa siapa di hidupku gumam sekertaris Revan.


sesaat kemudian.


keduanya tetap saling diam tak ada sama sekali obrolan saat ini, dengan di sibukkan nya pekerjaan masing masing.


sesekali sekertaris Revan melirik ke arah Adinda yang tengah sibuk mengotak atik benda layar tipis di atas meja nya tersebut.


beberapa jam kemudian.


waktunya istirahat kantor telah tiba, Adinda seperti biasa tetap diam di tempatnya bekerja tanpa ada pergerakan.


sedangkan sekertaris Revan sesekali kembali melirik ke arah rekan kerja wanitanya tersebut, yang mulai membuka bekalnya itu.


bagaimana caraku mengajaknya bicara ya, ah kenapa jadi begini sih, sebenarnya aku ingin meminta maaf padanya kenapa seperti susah sekali mengatakannya gumam sekertaris Revan dalam hati.


kini Adinda juga sedikit melirik ke arah sekertaris Revan kemudian menundukkan pandangannya kembali menatap bekalnya itu.


" Din " panggil sekertaris Revan kemudian.


" iya " jawab Adinda singkat.


" emm... masalah tadi, aku minta maaf " ucap sekertaris Revan lagi.


" iya " jawab Adinda singkat lagi.

__ADS_1


" Din " panggil sekertaris Revan untuk yang kedua kalinya.


" apalagi sih tuan " jawab Adinda yang sedikit merasa kesal tersebut.


" heii.. kau kenapa jadi berani seperti itu kepadaku ingat aku ini atasanmu " jelas sekertaris Revan yang mulai terpancing emosi saat ini.


" tuan sih.... kau mengajakku bicara terus saat aku makan, bagaimana kalau nanti aku tersedak " jawab Adinda dengan polosnya.


" habisnya kau, aku berniat minta maaf padamu, tetapi jawabanmu cuma iya saja "jelas sekertaris Revan lagi.


" terus saya harus jawab apa supaya anda puas tuan " ucap Adinda setelah itu.


" Din kau sedikit menyebalkan ya " jawab sekertaris Revan yang memang sedikit kesal pada bawahannya tersebut.


" terse..... " sahut Adinda terhenti.


ketika ponselnya yang berada di atas meja kerjanya tengah berbunyi saat ini.


kring... kring... kring.


bunyi ponsel milik Adinda di atas meja kerjanya.


perlahan gadis dua puluh tiga tahun itu mulai melihat layar ponsel nya, ada sebuah nomor baru yang menelponnya.


nomor ini... tidak, tidak, tidak monolog Adinda.


kemudian Adinda segera memencet lingkaran berwarna merah di ponselnya, dan perlahan Adinda mulai mengelus dadanya sambil membuang nafas beratnya.


sedangkan sekertaris Revan yang sedari tadi melihat tingkah Adinda itu seperti ada sesuatu yang di sembunyikan di belakangnya.


" Hey... kau kenapa " ucap sekertaris Revan kemudian.


" tidak, aku tidak apa apa " jawab Adinda seperti sedikit gelagapan.


kemudian ponselnya kembali berbunyi lagi.


apa, dia menelfon lagi, aku, aku, aku.. harus bagaimana sekarang gumam Adinda dalam hati.


Adinda bergumam dalam hati sambil dirinya yang saat ini terlihat sangat ketakutan untuk mengangkat telepon nya tersebut.


sedangkan sekertaris Revan tambah penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada gadis cantik di hadapannya itu pikirnya.


kemudian sekertaris Revan pun berniat untuk melangkah ke arah meja kerja milik Adinda, dan setelah sampainya di sana sekertaris Revan berniat mengambil ponsel milik Adinda yang masih berbunyi tersebut.


" tuan jangan angkat tuan saya mohon " ucap Adinda kemudian ketika melihat atasannya itu mulai memegang ponselnya.


" diam lah Din " jawab sekertaris Revan sambil fokus ke layar ponsel milik Adinda.


" tuan saya mohon " sahut Adinda dengan nada suara memelas.


" Dinda.....shhhtttttt diam lah " ucap sekertaris Revan kemudian sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya.


dan perlahan sekertaris tampan itu pun mulai menggeser bulatan warna hijau di layar ponsel milik Adinda.


" halo " ucap sekertaris Revan kepada seseorang di sebrang sana.


" halo Adinda cantik, bagaimana dengan janjimu ingat bulan ini kau harus melunasi hutang orang tuamu, jika tidak kau tau bukan apa yang aku lakukan, aku akan menikahi mu secara paksa " jelas lelaki di sebrang telepon sana.


" heh... enak sekali kau bicara, kau tau sekarang berbicara dengan siapa hah " ucap sekertaris Revan dengan entengnya.


" siapa kau, ingat Adinda akan segera menjadi milikku karena aku tau dia tidak akan bisa melunasi hutang orang tuanya " ucap lelaki di sebrang telepon itu yang tak lain adalah lelaki penagih hutang.


" enak saja kau bilang, aku adalah calon suaminya, sebutkan saja berapa hutang Adinda padamu hah " ucap sekertaris Revan dengan lantangnya.


sedangkan Adinda menganga mendengar ucapan dari atasannya tersebut.

__ADS_1


" heh... sombong sekali kau, dua ratus juta dengan semua bunganya apa kau sanggup "


" hahaha.... sangat kecil apa kau tidak salah hitung bung " ucap sekertaris Revan dengan gaya angkuhnya itu.


" sialan kau, cepat bayar jika kau mampu " jawab lelaki di sebrang telepon tersebut.


" baiklah kirim sekarang nomor rekening mu "


" baiklah kalau begitu,awas jika kau sampai bohong " ancam lelaki di sebrang telepon.


" jangan banyak bicara, aku benci orang yang terlalu banyak bertele-tele lihat saja sebentar lagi akan masuk di rekening mu " jelas sekertaris Revan


" ok "


tut... tut... tut


panggilan terputus.


" tuan apa yang kau katakan hah, kau pikir itu jumlah yang sedikit, aku saja mungkin sampai tua nanti menyicilnya baru akan lunas " ucap Adinda setelah tadi mendapat sambungan telepon dari penagih hutang itu.


" hehehe.... apa yang kau katakan Din, itu hal yang sangat mudah bagiku " jawab sekertaris Revan dengan sedikit tertawa.


" terus saya menyicil kepada anda bagaimana tuan, emmm....atau begini saja saya akan bekerja di rumah anda sebagai pembantu bagaimana tuan dan kemudian anda potong gaji saya selama bekerja di rumah anda dan kantor bagaimana " jelas Adinda yang memang dirinya berniat untuk mengganti uang atasannya.


" hahaha.... Din, Din,... " tawa sekertaris Revan yang seperti melihat tingkah Adinda merasa lucu menurutnya itu.


" tuan apa yang kau tertawa kan " ucap Adinda kemudian.


" anggap saja itu sebagai permintaan maaf ku padamu Din " jelas sekertaris Revan dengan santainya.


" APA KAU BILANG " jawab Adinda dengan lantang nya yang memang dirinya merasa syok dengan apa yang di katakan atasannya.


" Din kecilkan suaramu " sahut sekertaris Revan yang merasa suara rekan kerja nya itu seperti menembus gendang telinga nya saat ini.


" ah....iya maaf tuan, tuan saya tidak bercanda, saya wanita mandiri tuan, saya bisa mencuci, memasak, membersihkan rumah dan masih banyak lagi yang bisa saya kerjakan tuan " jelas Adinda yang bersih kekeh untuk menyicil uang milik sekertaris Revan.


" tidak din, aku memang berniat membantumu "


" tuan saya tau anda banyak uang, tetapi menurut saya anda dewa penolong saya tuan " ucap Adinda


" bagaimana bisa " tanya sekertaris tampan tersebut.


" tuan bayangkan saja, sedari dulu saya bekerja banting tulang untuk membayar hutang kedua orang tua saya yang sudah meninggal " jelas Adinda.


" jadi kau seorang yatim piatu Din " ucap sekertaris Revan tiba-tiba.


" iya tuan "


" maaf Din jika aku menyinggung perasaanmu "


" tidak apa apa tuan santai saja "


" aku juga seorang yatim piatu Din "


" berarti kita sama tuan, tapi nasib kita yang berbeda " jelas Adinda.


" kenapa bisa "


" tuan bayangkan saja, saya hidupnya susah cari uang terus bayar hutang terus tak ada ujungnya, sedangkan anda enak jabatan tinggi pasti banyak uang, dan tidak dikejar kejar hutang " jelas Adinda lagi sedetail nya.


" hehehe.... kau ini, sekarang kan kau sudah tidak punya hutang, ini lihat aku sudah melunasi hutangmu bukan " jawab sekertaris Revan sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Adinda.


" iya tuan terima kasih, saya janji akan menyicilnya " ucap Adinda setelah itu


" apa yang kau katakan sudah lupakan saja "

__ADS_1


" tuan tak segampang itu menurut saya " ucap Adinda lagi.


__ADS_2