Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
Adinda mulai tersadar


__ADS_3

Keo esokan harinya.


08.00 siang


Kini gadis cantik bermata bulat itu masih tak sadarkan diri dengan wajah nya yang masih terlihat pucat meskipun tak sepucat semalam , dengan keadaan detak jantung nya yang kini mulai berdetak normal.


Berbeda dengan sekertaris Revan yang masih setia menggenggam tangan mulus milik sang istri, sesekali dirinya mengusap pelan kening Adinda dan sesekali juga Revan menciumi tangan mulus yang kini mulai menghangat itu.


Adinda kapan kau bangun kau tak ingin melihat aku meminta maaf padamu ucap nya.


Dengan terus menggenggam tangan Adinda.


Sesaat pintu ruangan pasien terbuka.


JEG GLEK.......


suara pintu yang di buka dari luar


Menampilkan dokter Toni yang baru saja masuk ke dalam ruangan pasien dengan seragam serba putih nya.


" Pagi Van " ucap dokter Toni.


" pagi dok " jawab Revan dengan sedikit membalikkan tubuh nya ke belakang menatap dokter tampan tersebut.


" aku akan memeriksa istrimu sebentar " ucap dokter Toni kemudian.


" baiklah "


Dokter Toni pun kini mulai memeriksa keadaan Adinda yang masih tak kunjung sadar saat ini.


sedangkan sekertaris Revan kini mulai berdiri dari kursi kecil yang sedari malam tadi ia duduki tepatnya berada di samping ranjang sang istri.


Sesaat pintu ruangan kembali di buka dari luar.


JEG GLEK......


Menampilkan dua kepala yang sedikit menyembul ke dalam yaitu sepasang suami-istri yang tak lain adalah pemilik rumah sakit tersebut Bima dan Zahra.


Di sisi lain dua pria yang yang sedari tadi tengah fokus pada pemeriksaan keadaan Adinda kini langsung menoleh ke arah belakang yang mendapat i sang atasan berada di belakang keduanya.


" tuan anda....." ucap Revan sedikit terhenti karena tak menyangka yang datang adalah tuan nya sendiri.


" ya ini aku sekertaris Revan " jawab Bima.


" tuan tau dari mana " tanya sekertaris tampan itu.


" Toni " jawab Bima begitu santai


sedangkan sekertaris Revan sedikit melirik ke arah sang dokter yang kini tengah sibuk memeriksa keadaan sang istri.


" sekertaris Revan bagaimana keadaan Adinda " tanya Zahra tiba tiba.

__ADS_1


" keadaannya mulai membaik nona ini dokter Toni masih memeriksanya, tapi dia belum sadar sampai saat ini" jelas nya.


" begitu ya syukur lah,.. bagaimana bisa ini terjadi "


" saya juga tidak tau nona, tetapi sebelumnya dia sedikit berdebat kecil dengan saya "


" apa kau jangan jangan KDRT sekertaris Revan " tanya Bima menggoda sang sekertaris kepercayaannya tersebut.


" mana mungkin tuan saya seperti itu " jawab Revan seperti tak terima atas tuduhan atasan nya saat ini.


" hehehe....santai saja Van aku percaya padamu"


" Terima kasih tuan atas kepercayaan anda, tuan, nona, dan dokter Toni saya titip Adinda sebentar mumpung Dinda belum tersadar, sedari malam saya tak membawa baju ganti dan beberapa kebutuhan lain nya bisa kan saya titip dia sebentar saja pada kalian " ucap Revan


" ya baiklah sekertaris Revan pergilah kami akan di sini menemani Dinda " sahut Zahra.


" Terima kasih nona " jawab Revan


Sedangkan Bima dan dokter Toni menganggukkan kepalanya pelan.


Sekertaris Revan pun yang melihat ketiga nya seperti mengiyakan kini mulai bergegas pergi keluar keluar dari dalam ruangan yang tempati sang istri.


Kini ketiganya mulai mengobrol sesekali Zahra menanyakan keadaan Adinda pada dokter Toni yang menanganinya.


Beberapa saat...


Di lihat nya sekilas ada pergerakan dari arah ranjang Adinda.


" ya sudah ayo kita lihat "


" benar Bim kita lihat saja, semoga saja "


Ketiga nya mulai berdiri kemudian melangkahkan kaki nya ke arah ranjang Adinda.


Memang benar perlahan kedua mata milik Adinda mulai terbuka.


" Din kau sudah sadar "


Dinda sedikit tersenyum dengan penglihatannya yang belum begitu jelas menatap arah sekitarnya.


Sedikit perlahan kedua bola mata bulat nya kini mulai terbuka sempurna, pandangan nya perlahan menyusuri seluruh ruangan yang ber dominasi warna putih dengan peralatan medis yang berada di samping kanan kirinya itu .


Adinda sekilas melirik ke arah pergelangan tangan nya yang masih terlihat jelas jarum infus yang masih menempel di sana.


Kemudian pandangan nya tertuju pada Zahra istri dari sang atasan.


" nona aku masih hidup " ucap Adinda pada Zahra


" Dinda apa yang kau katakan kau di rumah sakit Din " jawab Zahra.


" Oh astaga ternyata aku masih hidup " ucap Adinda seperti terlihat wanita bodoh.

__ADS_1


" Dinda kau tak boleh bicara seperti itu, sebenarnya apa yang terjadi Din "


" ceritanya panjang nona, saat saya duduk di tepi kolam renang, saya berniat ingin menghubungi nona eh ternyata baterai ponsel saya habis setelah itu saya mencoba menghidupkan lagi dan ternyata ponsel nya luput dari genggaman saya nona akhirnya ponsel saya masuk ke dalam ke kolam renang, saya ingin mengambilnya eh saya juga tenggelam, saya baru teringat kalau saya tak bisa berenang hehehe.... " jelas Adinda panjang lebar sambil sedikit tertawa kecil.


" astaga Dinda itu bahaya sekali, kau harus lebih hati hati " ucap Zahra.


" iya nona hehehe.... lain kali aku akan mengingat nya, bagaimana kabar baby Sheina "


" Dia sangat baik Din "


" syukurlah kalau begitu "


" Dokter kemana suami saya " tanya Adinda pada dokter Toni.


" oh suami kamu tadi sedang keluar sebentar " jawab Toni.


" begitu ya, dokter dokter apa dia mengkhawatirkan aku " tanya nya lagi tanpa rasa malu.


" sangat, kau tau sekertaris Revan seperti pria gila saat melihat keadaan mu kritis dan hampir tak tertolong "


" benarkah, kasihan juga tapi dia ya tetapi dia juga sedikit menyebalkan, emmm.... aku punya ide bagaimana kalau dokter nona dan tuan ikut andil dengan rencana saya " ucap Adinda kemudian seperti menemukan ide untuk mengerjai sang suami yang sedikit menyebalkan itu menurut nya.


" rencana apa memang nya Din " tanya Zahra.


Adinda pun kini mulai menceritakan panjang lebar rencananya untuk menjahili sang suami pada ketiga nya.


Sesekali kedua pria itu yang tak lain dokter Toni dan Bima kini saling lirik kemudian mengeluarkan senyum jahatnya, sesekali keduanya tiba tiba tertawa lepas setelah mendengar rencana dari Adinda.


Sedangkan Zahra seperti sedikit tak setuju, karena menurut nya sedikit keterlaluan untuk mengerjai sekertaris Revan.


" Din itu tak boleh " ucap Zahra sedikit memperingati Adinda.


" Zahra sayang diam lah, bukan kah kau dulu sempat mengerjai ku juga seperti Dinda sewaktu dirimu di rumah sakit " sahut Bima kemudian.


" hehehe... itu kan dulu sayang " jawab Zahra sedikit tertawa karena memang benar apa yang di katakan sang suami padanya.


" sama saja bedanya kau berpura-pura amnesia dan melupakan aku, sedangkan Dinda..." ucap Bima sedikit terhenti karena di sahut Dinda dengan tiba tiba.


" berpura-pura meninggal hehehe... benar kan tuan " sahut Adinda yang juga ikut tertawa.


" hehehe.... benar kalian berdua sepertinya memang sedikit menyebalkan untuk mengerjai seseorang " jelas Bima pada kedua wanita di tersebut.


" apa kau bilang aku sedikit menyebalkan, ya sudah untuk hari ini tak ada jatah untuk mu " ucap Zahra setelah mendengarkan apa yang suami nya


" hehehe... sayang apa yang kau katakan sih tadi aku hanya bercanda Zahra " ucap Bima yang merasa sangat takut akan ancaman sang istri.


" aku bilang tidak ya tidak " jawab Zahra sedikit memanyunkan bibir nya.


Sedangkan Adinda dan dokter Toni langsung saling pandang melihat ke bucinan sang atasan kepada istrinya tersebut.


Bima kau benar-benar sudah tepat di tangan pawang yang cocok seperti nona Zahra gumam dokter Toni.

__ADS_1


Astaga mendengar ancaman nona begitu saja nyali mu langsung menciut tuan, memang benar-benar kebucinan tingkat dewa gumam Adinda.


__ADS_2