Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
rumah sakit dan kantor


__ADS_3

Kini Bima, mama Alisya, dan bu Fatma tengah menuju ruang khusus bayi ia dan kedua wanita berbeda umur itu mulai masuk ke dalam ruangan setelah tadi menanyakan tempat dimana sang bayi di taruh oleh suster.


perlahan Bima mulai mendekat ke arah kotak bayi bersama kedua ibu paruh baya itu yang tak lain mama Alisya dan bu Fatma ketiganya mulai mendekat ke arah kotak tersebut,


yang terbuat dari kaca bening itu, di lihatnya seorang bayi perempuan kecil yang tengah menggeliat pelan terlihat sangat lucu menggemaskan di dalamnya.


dengan wajah yang sangat cantik bibirnya tipis, hidung mancung, dengan kedua matanya yang masih terpejam.


" ma lihat dia anak ku ma " ucap Bima kepada mama Alisya yang terlihat begitu sangat bahagia melihat sosok bayi kecil yang berada di kotak inkubator.


" iya sayang ini anak kamu, dia sangat cantik sekali " jawab mama Alisya kepada putra pertamanya itu.


" cucu nenek cantik sekali " ucap ibu Fatma kepada cucunya yang saat ini tengah berdoa di kotak inkubator tersebut.


" ya bu Fatma, wajahnya cantik sekali mirip seperti Zahra " ucap mama Alisya kepada besannya.


" halo anak papa, sayang kau cantik sekali mirip sekali dengan wajah mama sangat menggemaskan, ini ada nenek kamu di belakang papa " ucap Bima dengan penuh rasa bahagianya melihat putri pertamanya saat ini.


" ma " panggil Bima papa mama Alisya.


" iya "


" dia mirip sekali ya dengan Zahra, menantu kesayangan mama, lucu dan sangat menggemaskan " ucap Bima yang lagi lagi mengembangkan senyum nya.


" iya kau benar sayang dia sangat mirip dengan Zahra "


" iya nyonya, mungkin Zahra jika sudah sadar dan mengetahui bayinya akan sedikit kaget dan juga bahagia karena anak nya sangat mirip sekali wajahnya " jelas bu Fatma pada besan nya.


" hehehe..... iya iya bu, semoga saja Zahra cepat sadar ya "


" ibu dan mama bisa keluar sebentar kan, Bima mau meng adzani anak Bima sekarang " ucap Bima kemudian.


" ya baiklah sayang kalau begitu, sebenarnya mama dan mertua kamu masih ingin di sini Bima,ya sudah ayo bu Fatma "


" iya nyonya ayo "


Kedua wanita paruh baya itu pun kini mulai keluar, dan saat ini tinggal lah Bima dan anak nya yang masih berada di kotak inkubator.


pria tampan bertubuh atletis tersebut kini mulai mengadzani anak pertamanya itu dengan hati yang sangat bahagia.


sesaat kemudian Bima telah selesai dengan ritual mengadzani anaknya itu, setelah itu Bima kembali memandangi bayi kecil yang masih berada di kotak inkubator tersebut.


sayang cepat besar, papa ingin sekali menggendong mu bersama mama, apa anak papa tau wajah mama mirip sekali dengan mu sayang, dan setelah mama sadar pasti mama akan bahagia melihatmu, kamu akan selalu menjadi kesayangan papa dan mama nak monolog Bima.


yang sesekali pria tampan bertubuh atletis itu, meneteskan air matanya mengingat keadaan sangat istri, dan juga kebahagiaan bayi kecil yang telah masuk dalam kehidupannya.


Berbeda diluar ruangan tunggu tepatnya di depan ruangan yang di tempati Zahra, salah satu dari keluarga keduanya masuk bergantian melihat gadis delapan belas tahun yang mereka sayangi itu terbaring lemah di dalam sana.


sedangkan sekertaris Revan kini telah kembali ke kantor setelah tadi melihat keadaan istri dari atasannya itu.


***********


perusahaan pencakar langit Sinaga. Group.


tepatnya berada di dalam lantai teratas, ruangan khusus untuk para petinggi petinggi perusahaan, yaitu ruangan berpendingin milik sekertaris Revan.


sekertaris tampan tersebut kini baru saja sampai di ruangan nya, terlihat di sana gadis yang berhasil mengambil hatinya itu, kini tengah serius mengerjakan pekerjaan nya yang menumpuk di atas meja, tanpa menghiraukan kehadirannya.


sesekali sekertaris Revan berdehem agar Adinda menoleh kepadanya, dan bertanya


sesuatu kepadanya.


dia sepertinya sedikit berubah padaku sejak kejadian itu, hah... sebaiknya aku duluan yang mencoba mengajaknya bicara saat ini gumam sekertaris Revan.


" Din " panggil sekertaris Revan pada Dinda


Dinda tak menjawab nya, karena dirinya tengah fokus pada pekerjaannya itu.


" Dinda " panggil sekertaris Revan lagi.


" eh iya tuan, ada apa " jawab Dinda setelah itu karena baru tersadar atasannya memanggilnya saat ini.


" apa se fokus itu sampai membuatmu tak melihat aku datang " ucap sekertaris Revan kepada Adinda.

__ADS_1


" saya melihat tuan datang tadi "


" terus kenapa kamu diam saja "


" memangnya saya harus bicara apa tuan "


" kamu pikir saja sendiri " ucap sekertaris Revan dengan nada sedikit kesal.


tetap saja menyebalkan pria tampan satu ini, awas kau ya gumam Adinda dalam hati.


" tuan " panggil Dinda.


" apalagi " jawab sekertaris Revan yang masih dengan nada kesalnya.


" bagaimana keadaan nona Zahra " tanya Dinda kemudian.


" keadaannya kritis Din "ucap sekertaris Revan sedikit lesu.


" kasihan sekali ya, tuan apa kau bisa memberi alamat rumah sakit nya padaku, nanti sore aku akan ke sana "


" nanti akan aku antar ke sana sepulang dari kantor " ucap sekertaris Revan di dalam hati nya yang sangat bersemangat.


" tidak perlu tuan, saya akan berangkat bersama teman saya '' jawab Adinda menolak ajakan sekertaris tampan tersebut.


" ya saya punya teman laki-laki namanya Joe "


" sebaiknya kamu saya antar saja Din " kekeh sekertaris tampan tersebut.


" tidak apa apa tuan, saya ingin berangkat sendiri, saya juga ingin ketempat lain soalnya bersama dia " jelas Adinda


" kemana " tanya sekertaris Revan yang kini mulai merasa kebakaran jenggot.


" restoran " jawab Adinda santai.


" untuk apa kesana " tanya sekertaris Revan dengan sejuta ke kepoan nya itu.


" kencan lah tuan, saya baru saja mengenalnya dan kami ingin menjalin hubungan yang lebih serius lagi setelah itu saya akan pergi dari apartemen anda dan menikah dengan nya " jelas Adinda lagi.


" tuan kecilkan suaramu, telingaku rasanya seperti jebol " ucap Adinda sambil menggosok gosok pelan telinganya.


" ah ya maaf, kamu tidak takut Din, kamu kan baru mengenalnya '' ucap sekertaris Revan seperti memprovokasi supaya Dinda tak jadi kencan dengan laki laki yang baru ia anggap nya teman itu.


" untuk apa takut dia berniat serius kepada saya tuan, dan saya juga mulai ada perasaan padanya " jelas Adinda yang mulai membuat aura di tubuh pria tampan di sampingnya itu menyeramkan.


" apa secepat itu, ahh... ini sungguh gila perasaan apa yang kau punya dalam waktu dekat seperti itu " jawab sekertaris Revan yang di buat setenang mungkin.


" cinta " jawab Adinda dengan santai.


" jangan main cinta cinta an, fokus pada pekerjaan " jelas sekertaris Revan penuh penekanan.


" iya tenang saja tuan, itu tidak akan mengganggu " jawab Adinda yang selalu santai itu.


setelah itu obrolan berakhir.


sedangkan sekertaris Revan merasa kebakaran jenggot saat ini, dirinya berusaha menenangkan hatinya yang mulai ketakutan kehilangan gadis yang baru baru ini mengisi hatinya tersebut.


tidak mungkin Dinda menyukai pria lain selain diriku, yang benar saja, aku harus bisa mencegahnya, dan dia bilang tadi akan segera menikah dan keluar dari apartemen ku, tidak... ini tidak bisa di biarkan gumam sekertaris Revan.


beberapa jam kemudian.


jam istirahat kantor telah tiba, seperti biasa Adinda membawa bekal di dalam tasnya.


sedangkan sekertaris Revan saat ini sedikit melirik ke arah Adinda yang kini mulai membuka bekalnya itu.


" Din " panggil sekertaris Revan.


" iya tuan ada apa "


" tidak ada "


" ayo tuan makan bekal bersama saya "


" kenapa kau tadi pagi tidak membawakan bekal untukku "

__ADS_1


" biasanya kan tuan tidak suka saya bawakan bekal, dan selalu menolak "


" iya juga "


" ya sudah kita satu bekal bersama bagaimana "


" apa boleh "


" boleh lah tuan, ya sudah duduk lah di sini "


" baiklah kalau begitu "


Kini keduanya mulai memakan bekal dengan satu wadah bersama.


" tuan "


" iya "


" apa tuan tidak jijik makan satu wadah bersama seseorang seperti saat ini "


" tidak, jika seseorang itu kamu "


DEG.........


uhuk... uhuk......


Dinda langsung terbatuk mendengar penjelasan sekertaris Revan.


" maksud tuan "


bilang saja karena kau memiliki perasaan padaku tuan, dan aku akan mengurungkan niat ku untuk kencan gumam Adinda dalam hati.


" pelan pelan din ini minumannya "


" terima kasih "


" maksud saya karena kamu orang nya bersihan, maka dari itu saya mau satu bekal berdua "


" seperti itu ya "


ternyata hanya itu,... sudah Din menyerah lah dia tidak memiliki perasaan sama sekali padamu gumam Adinda dalam hati.


" Din "


" iya "


" saya ingin bertanya, seandainya kamu menyukai seseorang dan kamu takut kehilangannya apa kamu akan segera menyatakan perasaan mu kepadanya Din, atau kamu menunggu waktu yang tepat untuk membuat nya bahagia karena sesuatu hal "


" saya juga bingung tuan mau jawab apa atas pertanyaan tuan "


sekertaris Revan apa kau benar benar sudah mempunyai seseorang di dalam hatimu, Revan lihat aku gadis yang berada di depan mu, aku mencintaimu tuan gumam Adinda dalam hati.


seolah hatinya menjerit atas suatu pertanyaan yang di sampaikan pria tampan itu kepadanya.


" tuan kalau menurut anda, seandainya anda menyukai seseorang dan ternyata seseorang itu sama sekali tak mencintai anda bagimana tuan "


" kalau saya jadi kamu, saya akan menjauh dari hidupnya Din, untuk apa kita memperjuangkan seseorang tapi seseorang itu tidak menginginkan keberadaan kita,sebaiknya kamu mencari yang baru Din "


hahaha... apakah aku berhasil memprovokasi nya, sebentar lagi Dinda tidak akan melanjutkan acara kencan nya itu, dan segera melupakan laki laki tidak jelas itu bukan kau pintar Van gumam sekertaris Revan dalam hati.


" ya tuan anda benar "


seandainya kau tau pria itu adalah dirimu sekertaris Revan, ingin sekali rasanya aku menangis, karena selama ini keberadaan memeng tak di anggap oleh mu gumam Adinda dalam hati.


mungkin saat ini jika berada di dalam kamar Dinda langsung mengunci kamarnya dan menangis seharian di dalam sana.


KAK JANGAN LUPA BACA NOVEL AKU LAINYA :


- PERBUDAKAN KU BERAKHIR DI PELAMINAN.


- DUNIAKU TAK SELEBAR DAUN KELOR.


KAK JANGAN LUPA LIKE, VOTE, SAMA KOMENTAR NYA ☺☺😊😘😍😍

__ADS_1


__ADS_2