Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
Dua puluh tahun berlalu


__ADS_3

Dua puluh tahun berlalu setelah kedua pria antara atasan dan bawahan alias Bima dan Revan telah mempunyai seorang putra dan putri, yang memang keduanya telah di jodoh kan sejak kecil bahkan sebelum anak dari sekertaris Revan lahir waktu itu.


Barra dan Sheina ya itulah kedua nama putra dan putri dari Bima dan Revan yang memiliki selisih umur kurang lebih satu tahun itu.


Sheina berumur 21tahun sedangkan Barra 20 tahun, tetapi keduanya justru seperti berbanding terbalik, pemikiran Barra justru lebih dewasa di banding kan Sheina, mungkin karena Sheina terlalu di manjakan oleh sang papa dengan kehidupan mewah nya.


Keduanya memiliki sifat yang sangat berbeda, Sheina putri Bima memiliki sifat seperti Zahra sang ibu yang mudah bergaul dan juga murah senyum serta pintar.


Berbeda dengan Barra yang mewarisi watak dari sang ayah yaitu sekertaris Revan, berwatak dingin, kaku, cuek tetapi masalah kepintaran nya sudah tak di ragukan lagi mungkin bisa di bilang atas rata rata untuk mengalahkan Sheina.


Tak lupa keduanya juga memiliki paras cantik nan tampan, Sheina yang mewarisi wajah Zahra yang cantik nya bak wanita Korea dengan bibir tipis nya tersebut, sedangkan Barra sangat mewarisi wajah tampan dari sekertaris Revan yang memiliki wajah tampan, berahang tegas serta tubuh atletis nan tinggi.


Ya kedua nya antara Barra dan Sheina memang tak ada yang tau tentang perjodohan nya sedari kecil, memang keluarga masing masing tak berniat untuk memberi tahu nya terlebih dahulu.


Apalagi di lihat nya sedari kecil keduanya sepertinya tak pernah saling melengkapi, Sheina yang ceria sedangkan Barra jarang sekali berbicara bahkan terkesan kaku.


Maka Dari itu keduanya saling membenci apalagi Sheina putri kecil Zahra yang tumbuh dewasa dengan cantik nya itu, dirinya membenci Barra bahkan seperti musuh bebuyutan sedari kecil.


Berbeda dengan Barra yang memang jarang bicara itu, dirinya Justru merasa cuek akan Sheina yang menurut nya terlalu manja dan bawel.


Keduanya sama sama menempuh pembelajaran di luar negri tetapi seperti nya di negara yang berbeda, karena dari masing masing keluarga sudah tau jika keduanya di satukan pasti yang ada hanya pertengkaran yang tak akan ada ujung nya.


Luput dari itu mungkin keduanya akan saling diam satu sama lain seperti lomba membisu seharian.


Barra menempuh kuliah nya di Inggris sedangkan Sheina di Amerika.


Dan hari ini keduanya akan kembali pulang ke Indonesia karena kuliah keduanya telah selesai.


******


Di mansion.


Langkah kaki mulai memasuki mansion bak istana milik Bima.


tap...


tap...


tap....


Sebuah suara kini mulai terdengar nyaring.

__ADS_1


" mama .... Sheina pulang ma " Teriak Sheina yang baru saja sampai di ruang tamu dan di ikuti salah satu pelayan perempuan yang tengah membantu menyeret satu koper hitam milik nya.


" Sayang kau sudah pulang " jawab Zahra dari arah meja makan.


" mama kenapa tak menyambut Sheina, hanya para pelayan saja di depan " ucap Sheina dengan bibir memanyun, kemudian melangkah kan kaki nya ke arah meja makan.


" maaf sayang mama sedang melihat tatanan masakan para pelayan untuk persiapan menyambut putri mama yang cantik satu ini " ucap Zahra gemas sambil mencubit sebelah pipi milik sang putri yang kini telah tumbuh dewasa tersebut.


" Ma papa kemana " tanya Sheina yang kini mulai duduk di kursi meja makan.


" sebentar lagi pulang sayang " jawab Zahra lembut.


" non koper nya bibi taruh di kamar non Sheina ya " ucap pelayan perempuan yang bernama bi Nani.


" iya bi sekalian tas kecil ini bi bawakan juga ke kamar ya "


" iya non " jawab bu Nani lagi kemudian segera bergegas membawa tas milik anak atasan nya tersebut ke arah kamar lantai atas.


Di meja makan Sheina dan sang mama masih mengobrol entah apa yang di bicarakan keduanya.


Tak berselang lama Bima baru saja memasuki mansion mewah nya di ikuti Heri kepala pelayan mansion pengganti sang ayah pak Tejo yang sudah tua, membawakan jas serta tas kerja milik Bima yang masih setia mengekor di belakang tuan nya.


" Sheina kau sudah sampai sayang, putri papa sekarang sudah dewasa bahkan sekarang terlihat sangat cantik, bagaimana kabarmu hem " ucap Bima di sela sela pelukan nya dengan Sheina putri satu satu nya kesayangan nya itu.


" Terima kasih pa, kabar Sheina sangat baik "


" papa sangat merindukan mu sayang " ucap Bima yang perlahan mulai melepaskan pelukan di antara keduanya.


" Sheina juga pa " tatap Sheina pada wajah sang papa penuh kerinduan.


" kau bertambah cantik Shei " ucap Bima merasa kagum pada kecantikan sang putri yang mewarisi kecantikan dari istri nya itu.


" iya dong.....mirip seperti mama kan pa hehehe... " ucap Sheina tertawa kecil.


" hehehe.....iya kau benar sekali " jawab Bima sambil mencubit gemas hidung mancung milik sang putri.


Sedangkan Zahra tersenyum menatap keduanya antara anak dan ayah yang saling merindu itu, sesekali Zahra menggeleng geleng kan kepalanya pelan.


" Hei sudah ayo segera makan kalian berdua kan baru saja datang pasti sangat lapar, sore ini mama khusus memasakkan kalian berdua" teriak Zahra dari arah meja makan yang tak seberapa jauh dari arah ruang tamu.


Keduanya antara ayah dan anak kini saling pandang.

__ADS_1


" ayo sayang papa juga sudah lapar " ajak Bima.


" iya ayo pa Sheina juga rindu sekali dengan masakan mama "


kemudian dengan segera Bima dan sang putri segera menuju arah meja makan untuk makan bersama.


*******


Kediaman rumah mewah milik sekertaris Revan.


Sekertaris Revan baru saja sampai di kediaman rumah mewah nya setelah tadi mengantarkan sang tuan di persinggahan nya sana , ia mulai memasuki ruang tamu dan langsung di sambut oleh sang istri yaitu Adinda.


" Papa sudah pulang "


" iya Ma, putra kita belum sampai "


" belum pa mama juga sedari tadi menunggu Barra "


Seketika bel rumah mewah nya berbunyi.


Ting... tung...


Ting.... tung....


Dengan segera seorang pelayan rumah berlari ke arah pintu, dan mulai membuka nya perlahan.


" tuan muda " ucap bibi pelayan bernama bi Ani yang sedikit terkejut oleh kedatangan pria muda tampan yang kini tepat berada di hadapan nya tersebut.


" hem " jawab nya dengan deheman saja.


untung tuan muda tampan jawab nya hem saja, kalau jelek udah bibi gablok tuh bibir... astaga untung aja di dalam ati gumam bi Ani.


" nyonya, tuan ....tuan Barra datang " teriak bi Ani.


" bi apa sih teriak teriak segala risih tau " ucap Barra dengan gaya cuek serta angkuh nya kemudian sambil memasang wajah kaku nya.


" maaf tuan bibi terlalu bahagia " jawab bibi sedikit menundukkan kepala.


Barra hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil memutar kedua bola mata nya malas, ketika mendapat jawaban dari pelayan perempuan di rumah nya itu.


Kemudian melanjutkan langkah nya memasuki ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2