
Bima pun langsung mengambil kantong plastik berwarna hitam itu dari sekertaris Revan, kemudian melangkahkan kakinya dengan langkah cepat menuju ke dalam mansion.
sedangkan sekertaris Revan dan Pak Tejo saling pandang dan keduanya kini tengah mengikuti tuan mudanya ke lantai atas, karena merasa takut akan terjadi sesuatu pada nona mudanya jika tuan mudanya sudah sangat marah besar seperti saat ini.
sedangkan di lantai atas tepatnya di kamar mewah yang di tempati Zahra itu.
kini Zahra baru keluar dari dalam kamar mandi, karena sedari tadi perutnya terasa sakit.
kemudian Zahra melangkahkan kakinya ke arah ranjang king size nya itu, tetapi ia tak melihat kantong plastik hitam yang di tinggal di atas ranjangnya tadi sewaktu dirinya terburu buru untuk kemarin mandi.
kemana kantung plastik itu ya, apa aku sudah menaruhnya di dalam lemari kecil, sebaiknya aku lihat saja ucap Zahra.
kemudian dirinya langsung mencari sesuatu yang menurutnya sangat penting itu, tetapi Zahra tak menemukannya sama sekali, Zahra terus mencarinya di nakas maupun lemari, di ranjang bahkan seprei kasur itu sudah tak berbentuk karena Zahra sudah mengobrak abrik nya dan kini dirinya tengah bingung harus mencarinya dimana.
beberapa saat kemudian pintu kamar di buka dari luar.
sedangkan Zahra seperti orang yang sangat syok, ketika melihat suaminya tiba tiba membuka pintu kamar secara mendadak itu.
dan sekarang Bima melangkahkan kakinya ke arah Zahra mungkin jarak mereka saat ini satu meter dan keduanya saling pandang.
sesekali Zahra menundukkan kepalanya.
" apa yang kau cari sayang " ucapnya santai tetapi seperti sangat menakutkan untuk di dengar
" ah... ti..tidak ada sayang " jawab Zahra dengan suara terbatas - bata.
" apakah kau mencari ini "
ucap Bima kemudian mengeluarkan tiga tablet obat kontrasepsi yang masih utuh dari kantong plastik hitam itu di hadapan Zahra.
" aa.. aa.. aku bi.. bi.. sa....men....."
ucap Zahra terbata bata karena saking takutnya dia sambil melangkah mundur menjauhi Bima, sampai tubuh dan kepala nya membentur tembok di belakang nya begitu sangat keras, dan sedikit mengeluarkan darah dari jahitan di kepala belakang nya akibat kecelakaan satu bulan yang lalu yang mengenai jahitan yang belum sepenuhnya kering itu.
sedangkan Bima yang sangat emosi sekarang, membuat kata kata Zahra terhenti ketika Bima menyahutnya dengan nada tinggi itu.
__ADS_1
" cukup Zahra " ucap Bima dengan nada yang sangat tinggi membuat Zahra kaget dan menghentikan kata katanya itu.
" apa maksudnya semua ini hah, ayo jawab "
ucap Bima lagi yang terus mendekat ke arah Zahra yang tubuhnya sudah membentur tembok itu.
" dengarkan aaa.. aku "
jawab Zahra dengan kedua matanya yang mulai mengembun di kedua pelupuk matanya itu sesekali menundukkan kepalanya, karena Zahra merasa ketakutan sekali saat ini, dengan badannya yang saat ini terasa dingin.
" tegakkan kepalamu jika sedang berbicara kepadaku "
ucap Bima yang membuat Zahra langsung mendongakkan kepalanya itu, kemudian Bima dengan tiba tiba mencengkram sedikit dagu Zahra, sangking marahnya Bima sampai lupa kalau hal itu membuat Zahra kesakitan dan semakin bertambah ketakutan kepadanya saat ini.
" apa lagi yang ingin kau jelaskan hah " ucap Bima yang merasa darah pada tubuhnya sudah mendidih dan sedikit menekan dagu Zahra membuat Zahra semakin susah untuk bicara dan akan menjelaskan semua itu kepada suaminya.
" sakit.. lepaskan ini sangat sakit "
ucapnya begitu sulit keluar dari dalam bibirnya karena Bima benar-benar menekannya sangat sangat keras sampai lupa, wanita yang ia sayangi sekarang sedang kesakitan.
dan seketika kedua mata Zahra yang mengembun sedari tadi itu akhirnya lolos juga dari kedua pelupuk matanya dan kini dengan derasnya membasahi kedua pipi mulus Zahra.
kemudian Bima masih dengan rasa kesal dan amarahnya setelah itu Bima langsung meninggalkan Zahra sendirian di kamar, kemudian menuju ke ruang kerjanya dengan keadaan yang sulit di artikan.
sedangkan Zahra kini tengah meringkuk di dekat ranjang king size itu dan menangis sejadi jadinya dengan memeluk kedua lututnya.
sedangkan darah yang keluar dari jahitan belakang kepalanya, yang membuatnya sedikit ngilu dan saat ini sudah merembes membasahi gaun bagian atas punggungnya yang sudah tak di pedulikan nya lagi oleh Zahra
kemudian Zahra terdiam sejenak
ia memikirkan bahwa suaminya tidak akan memaafkan nya kali ini, dan Zahra juga berfikir suaminya saat ini pasti tidak akan mendengar penjelasan nya walaupun bagaimana pun caranya Zahra menjelaskannya.
Dan begitupun dengan mama Alisya yang selama ini menyayanginya dan sangat menginginkan sekali dengan kehadiran seorang cucu.
Zahra sekarang merasa mungkin suami dan kedua mertuanya tidak akan menerima nya lagi, dan yang pasti mama Alisya akan kecewa pada dirinya setelah semua yang ia lakukan saat ini.
__ADS_1
aku harus bagaimana sekarang, aku harus bagaimana, suamiku mungkin tidak akan pernah memaafkan aku dengan kejadian semua ini,
Ma maafkan Zahra jika Zahra tidak bisa menjadi menantu yang baik untuk mama ucap nya penuh derai air mata yang sudah menganak sungai.
kemudian Zahra berdiri dan melangkahkan kakinya untuk mengambil sesuatu di dalam lemari kecil itu.
Zahra mengambil pulpen dan satu lembar kertas kosong dan Zahra mulai menulis di sana.
dan setelah selesai menulis Zahra menaruh secarik kertas tersebut di atas nakas, kemudian Zahra bergegas berdiri lagi kemudian pergi melangkahkan kakinya keluar dari kamar dengan keadaannya yang masih sangat lemah dan acak acakan itu, kini dirinya melangkahkan kakinya menuruni anak tangga dan beberapa saat kemudian Zahra sampai di lantai bawah pada saat itu keadaan mansion sangat sepi.
Zahra terus saja melangkahkan kakinya meskipun dengan keadaan nya saat ini.
sedangkan Bima dan sekertaris Revan masih berada di ruang kerja entah apa yang mereka lakukan sekarang.
kembali keadaan Zahra
Kini Zahra telah sampai di gerbang depan mansion.
dan pada waktu itu, para penjaga alias para satpam mansion sedang asyik bermain catur dan keadaan gerbang waktu itu sedikit terbuka di sana, sehingga para penjaga lalai tidak mengetahui kalau nona mudanya baru saja keluar dari gerbang besar yang menjulang tinggi itu.
Zahra terus melangkahkan kakinya di pinggir jalan dengan matahari yang mulai naik ke atas, dan Zahra berniat pergi ke rumah ibunya, yang mungkin sedikit jauh dari mansion.
ibu, ayah maafkan Zahra, Zahra janji akan mengganti pengobatan ayah setelah ini kepada mama Alisya, Zahra berjanji akan bekerja keras Zahra akan bertanggung jawab atas semuanya ayah, suami Zahra sekarang sudah tak mencintai Zahra lagi ibu ucap nya penuh derai air mata sesekali ia menunduk mengusap air matanya yang sedari tadi terus saja mengalir tiada henti.
kini Zahra telah jauh dari arah mansion.
sedangkan di mansion saat ini.
tepatnya di ruang kerja Bima saat ini.
" kenapa dia melakukan ini Van kenapa " ucapnya kepada sekretaris Revan.
" tuan tenangkan hati anda, supaya anda bisa berfikir sehat, mungkin nona muda punya alasan tersendiri melakukan semua ini tuan, anda harus mendengar penjelasannya tuan " ucap sekertaris Revan mencoba menjelaskan kepada tuan mudanya itu.
" kau benar Van tapi mengapa, apa dia tidak mau mempunyai anak dariku, atau dia akkkhh aku tidak tau "
__ADS_1
" tuan tenang, tenangkan diri anda sebelum semuanya hancur tuan, jika anda tidak bisa menenangkan diri anda seperti saat ini, apa anda mau nona Zahra meninggalkan anda karena anda terus keras kepada "
" kau benar Van, apa yang sudah aku lakukan, akkkhhh... " ucap Bima merasa menyesal setelah apa yang ia lakukan kepada istrinya dan tidak mendengarkan penjelasan istri waktu itu, tetapi terus menekannya.