Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
mulai akrab


__ADS_3

" Ya baiklah kalau begitu " ucap sekertaris Revan.


" apanya yang begitu tuan " tanya Adinda yang tak mengerti maksud dari atasannya tersebut.


hah...


sekertaris Revan membuang nafas.


" kau boleh bekerja di apartemen ku " ucap sekertaris Revan kemudian.


" benarkah tuan, tuan terima kasih dan setelah itu anda bisa memotong separuh gaji saya untuk menyicil hutang saya ke tuan " jawab Adinda yang begitu merasa sangat bahagia saat ini.


" hah... ya ya ya baiklah " sahut sekertaris Revan dengan santainya.


" tuan terima kasih banyak, ayo sekarang tuan duduk cicipi bekal saya mulai besok kan saya menjadi pembantu juga di rumah tuan " jelas Adinda yang menyeret kursi kerjanya untuk sang atasan duduk.


" tidak aku tidak mau " ucap sekertaris Revan dengan gaya angkuhnya itu.


" tuan duduk lah sebentar cicipi sedikit saja ya " ucap Adinda kemudian, dengan raut wajahnya seperti di buat memelas kepada atasannya.


" baiklah, tetapi ini terpaksa " jawab sekertaris Revan yang seperti tidak tega melihat raut wajah Adinda yang sengaja di buat buat tadi.


" ya terserah anda saja, yang penting sekarang anda harus mencicipi nya walaupun sedikit " jelas Adinda.


" ini tuan ayo coba jangan di lihat saja tuan " jelas Adinda lagi sambil tangannya menyeret kotak bekal miliknya ke arah sekertaris Revan yang kini tengah duduk di kursi kerja miliknya itu.


" iya Din, kau jangan cerewet aku merasa risih mendengarnya "


" ya baiklah aku diam, jika anda segera cicipi "


kemudian sekertaris Revan pun mulai mencicipi bekal milik Adinda sedikit demi sedikit,


sesaat kemudian sekertaris Revan terdiam sejenak, seperti merasakan rasa masakan gadis dua puluh tiga tahun itu yang tak lain adalah Adinda.


" tuan bagaimana hem... hem.. " ucap Adinda sambil menikmati turunkan kedua alisnya.


" lumayan " jawab sekertaris Revan begitu enteng nya padahal berbeda di dalam hatinya saat ini.


kenapa masakannya se enak ini ya padahal ini hanya masakan rumahan, dia memang pintar dalam segala hal, ada bagusnya juga aku menjadikannya sebagai baby sister ku di apartemen, ups.. maksudku pembantu di apartemen gumam sekertaris Revan.


sekertaris Revan bergumam sambil satu tangannya menepuk kening miliknya, karena merasa otaknya saat ini menjadi tak sinkron, entahlah apa sebenarnya yang ada di dalam hati dan pikiran nya itu.


" tuan kenapa " tanya Adinda


" oh tidak, tadi ada nyamuk di keningku " jawab sekertaris Revan membuat alasan.


" menurut saya di sini tidak ada tuan, ruangan sebagus ini mana ada nyamuk " ucap Adinda yang membenarkan alasan atasannya tersebut.


" sudah bahas lainnya saja, oh ya bekal kamu aku habiskan Din, gara gara kamu tadi memaksa aku jadi membuatku malas untuk turun kebawah " ucap sekertaris Revan yang kembali mencari cari alasan itu.


padahal sebenarnya sekertaris Revan merasa gengsi untuk memuji masakan Adinda yang merupakan rekan barunya itu.


" ya tuan habiskan saja, saya masih membawa satu kotak lagi " jawab Adinda.


" kamu makannya banyak, kenapa selalu bawa dua kotak hah " tanya sekertaris Revan dengan gaya angkuhnya.


" saya memang selalu bawa dua kotak tuan, siapa tau saya lapar lagi, kan bisa menghemat " jelas Adinda sambil mengambil tasnya dan mengeluarkan kotak bekal satunya lagi.


" Oh..." jawab sekertaris Revan yang hanya O saja.


" tuan bagaimana kalau kita duduk di sofa itu saja sambil saya makan, sebentar lagi kan jam istirahat selesai " jelas Adinda sambil memegang kotak bekal miliknya yang baru saja ia ambil di dalam tas kerjanya tersebut.

__ADS_1


" ya baiklah ayo " jawab sekertaris Revan


kemudian keduanya berpindah ke arah sofa, sedangkan Adinda mengekor di belakangnya.


" Din untuk apa kamu mengekor di belakang ku, sofa ini kan berhadapan, kamu duduk di sebelah sana " ucap Sekertaris Revan yang sesekali menoleh ke arah belakang tadi.


" oh iya tuan maaf hehehe... " jawab Adinda sambil sedikit tertawa dan juga cengengesan.


Dan saat ini antara atasan dan bawahan itu tengah memakan bekal bersama dan saling berhadapan.


Dan ini adalah hal yang pertama kali sekertaris dingin itu lakukan apalagi dengan seseorang wanita, bahkan berada di hadapan nya saat ini.


" tuan "


" hem "


tring


tring


tring


bunyi ponsel sekertaris Revan yang baru saja ia taruh di atas meja di dekat sofa itu.


Dilihatnya nama sang atasan yang tengah memanggilnya di layar ponsel miliknya.


tuan, pasti ada sesuatu yang penting monolog sekertaris Revan.


sambil memegang benda tipis nya tersebut.


" Din sebentar, tuan Bima sedang menelfon " ucap sekertaris Revan kepada Adinda.


sedangkan sekertaris Revan kini mulai mengangkat panggilan tersebut.


" halo " ucap Bima di sebrang telepon.


" ya halo tuan " jawab sekertaris Revan kemudian.


" sekertaris Revan bagaimana semua persiapannya "l tanya Bima kepada sekertaris kepercayaan nya tersebut.


" semua persiapan selesai tuan, kita tinggal menunggu hari nya saja " jawab sekertaris Revan kemudian.


" kerja bagus,..oh iya Van, perketat penjagaan, karena nanti pasti akan ada banyak sekali wartawan yang meliput di acara perusahaan, dan juga perketat penjagaan di sekitar ku, karena aku takut sesuatu terjadi pada Zahra dengan perutnya yang kini tengah membesar itu, kau faham " jelas Bima panjang lebar di sebrang sana.


" ya baik tuan, saya faham " jawab sekertaris Revan tegas.


" Dan ya satu lagi, seperti nya akhir akhir ini sedikit berubah Van, AA... iya aku tau pasti gara gara rekan barumu ya " goda Bima kepada sekertaris nya tersebut.


" ah... tuan ada ada saja, akhir akhir ini memang pekerjaan saya banyak sekali tuan, di tambah lagi menjelang acara ulang tahun perusahaan saya harus menyiapkan semua nya kan tuan " jelas sekertaris Revan yang seperti mencari banyak alasan itu.


" hah... alasan, cepat nikahi dia kalau kau menyukainya, dan seandainya kau nanti cepat cepat menikah aku akan menghadiahkan mu liburan kemanapun kau mau, dan sebuah rumah "


jelas Bima yang memang seperti sangat perhatian kepada sekertaris itu, ya...memang Bima sudah menganggap sekertaris Revan sebagai saudaranya selama ini begitu juga semua keluarga nya.


" tuan... " jawab sekertaris Revan yang seperti bingung harus menjawab apa atas perkataan atasannya saat ini.


" jangan banyak bertele-tele " sahut Bima di sebrang sana kemudian mematikan panggilannya itu dengan tiba tiba.


tut... tut... tut...


panggilan terputus.

__ADS_1


hah....tuan ada ada saja monolog sekertaris Revan.


sambil dirinya yang kini tengah memandangi ponselnya yang baru saja mati itu.


kemudian menaruh ponselnya kembali di atas meja, dan kini pandangannya juga kembali kepada kotak bekal di hadapan nya tersebut.


" tuan ada apa, sepertinya anda terlihat seperti orang yang sedikit kebingungan " tanya Adinda


yang sedari tadi melihat atasannya tak seperti biasanya itu, setelah mengangkat telepon dari pemilik perusahaan yang saat ini tengah ia tempati tersebut yang tak lain adalah Bima.


" ah.. aku tidak apa apa, sudah ayo lanjutkan makannya " jawab sekertaris Revan dengan santainya.


padahal sedari tadi dirinya memang kebingungan menjawab perkataan dari atasannya.


" iya tuan "


" tuan " panggil Adinda


" ada apa lagi " jawab sekertaris Revan yang memang lelah meladeni ucapan bawahannya itu yang ia anggap sedikit cerewet.


" begini tuan, saya tidak tahu rumah anda dimana, bagaimana saya bekerja besok " tanya Adinda sambil menggaruk kepalanya yang takut gatal.


" oh itu, aku tinggal di apartemen " jawab sekertaris Revan yang baru saja memasukkan sesuap nasi dan lauk ke dalam mulutnya.


" begitu ya tuan, terus saya datangnya jam berapa tuan " tanya Adinda lagi.


" jam lima pagi " jawab sekertaris Revan asal.


" hehehe... mana ada kendaraan jam segitu tuan untuk saya ke apartemen anda " sahut Adinda dengan raut wajah lesu.


" hah... kau ini merepotkan sekali, ya sudah kau tinggal di apartemen ku saja gampang kan " jelas sekertaris Revan dengan sangat santai.


" apa, yang benar saja tuan, kita tinggal di satu atap, apa yang orang kantor katakan jika mengetahui kita satu atap apalagi di apartemen milik anda " jawab Adinda


" ya sudah tidak usah bekerja denganku gampang kan "


ah.. bagaimana ya susah sekali, kos kos an ku baru saja kemarin aku bayar masa iya harus aku tinggal, sedangkan aku sepeda motor saja tidak punya, kalau tidak bekerja dobel seperti ini kapan aku bisa melunasinya, menyedihkan sekali monolog Adinda yang kini tengah berhenti tak menyendok bekalnya itu dengan wajahnya yang kini terlihat lesu.


" heh... jangan bicara sendiri, bagaimana kau mau tidak hem " tanya sekertaris Revan kemudian.


" iya iya baiklah tuan, saya bersedia, terus berangkat ke kantor nya bagaimana tuan " tanya Adinda untuk yang kesekian kalinya.


" ya kita berangkat bersama Din " jawab sekertaris Revan dengan entengnya.


" Apa,... tuan kalau seperti itu kita seperti... " ucap Adinda terhenti.


" seperti apa maksud mu, sepasang kekasih iya" jawab sekertaris Revan yang menghentikan acara makannya itu karena miliknya sudah habis tak bersisa.


" iya tuan lebih tepatnya sepasang suami istri iya kan tuan " sahut Adinda.


" ya.. ya.. ya, sudah jangan aneh aneh, habiskan makanannya waktu istirahat sebentar lagi akan habis " ucap sekertaris Revan kemudian yang kini telah selesai menghabiskan satu kotak bekal milik Adinda.


" iya tuan " jawab adinda.


hah... seperti nya sekertaris Revan, tak ada sedikit saja rasa untukku gumam Adinda.


" dan iya, satu lagi terima kasih bekalnya " ucap sekertaris Revan yang kini tengah berdiri untuk segera kembali ke kursi kerjanya itu, dengan mengembangkan senyumnya kepada Adinda.


" iya tuan sama sama " jawab Adinda kemudian.


apa dia tersenyum, ah.. aku seperti di buat meleleh, kenapa sikap nya berubah ubah ya, membuatku bingung saja gumam Adinda lagi.

__ADS_1


__ADS_2