Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
rekaman video


__ADS_3

Seminggu berlalu semenjak melihat video Sheina tengah bersama sang mantan kekasih terdahulu nya yang tak lain adalah Earth.


Barra, pria tampan itu kini sangatlah berubah, ia sering mendiamkan sang istri bahkan waktunya terkadang ia habis kan di ruang kerja sepulang dari kantor.


Tetapi masalah ranjang ia justru berbeda, Barra malah sangat sering meminta hak nya pada Sheina meskipun keadaan sang istri sudah sangat kelelahan tak bisa mengimbangi keinginan nya yang tambah hari tambah menggila itu.


Di kamar.


Sheina tengah tergeletak lemas tak berdaya dengan tubuh polos nya yang terbalut selimut putih tebal.


Pandangannya menatap langit-langit kamar, kali ini ia sungguh terlihat sangat menyedihkan terlihat sangat acak acakan akibat kelakuan Barra.


Sedangkan pria itu kini telah berangkat ke perusahaan karena waktu juga sudah siang.


Perlahan lelehan air matanya mulai membasahi kedua pipi mulus nya.


Membangunkan tubuhnya saja ia serasa tak kuat, padahal siang ini ia berniat akan pergi ke rumah sakit dengan kondisinya yang semakin memburuk itu, tubuhnya yang dulu ramping kini sedikit demi sedikit bertambah kurus.


" tak apa dia berubah padaku, toh pada akhirnya sebentar lagi aku akan meninggalkan nya, dan dia juga tak akan begitu bersedih setelah kepergian ku " ucap nya.


Perlahan demi perlahan.


Sheina mencoba membangunkan tubuhnya, tiba tiba beberapa tetesan merah jatuh membasahi selimut putih tebal yang masih menempel pada tubuh polos nya itu.


" Darah " ucap nya pelan sambil menatap bercak merah di selimut.


Kemudian Sheina menempelkan beberapa jarinya di bagian bawah hidung mendapati ada yang basah di sana.


Setelah nya ia menatap beberapa jari nya.


" Waktu ku tak akan lama lagi, semua gejala di tubuh ku semakin jelas terlihat akhir akhir ini " ucap nya.


Sheina mencoba mengambil sesuatu di dalam laci nakas yang berada di sebelah ranjang.


Ia mengambil sebuah sebuah buku kecil di sana dan perlahan mulai menulis.


Hari ke delapan tulis nya.


Darah kembali menetes tepat di buku kecil yang baru saja ia tulis.


Wajah nya terlihat sangat pucat.


Ia kembali melanjutkan tulisan nya tak perduli darah itu terus saja menetes,


tetapi entah apa yang ia tulis di buku deary kecil nya, yang satu minggu ini sudah menjadi teman curhat nya setelah ia mengidap penyakit nya tersebut.


Setelah nya ia bergegas menuju kamar mandi, untuk segera bergegas menuju rumah sakit.


*


*


Sedangkan di tempat lain.


Perusahaan SINAGA. GROUP.


Barra tengah marah marah di ruang rapat entah apa yang jadi persalahan nya , memang akhir akhir ini mood nya sedikit kacau, sejak melihat video berdurasi pendek itu.


Rapat di bubarkan,

__ADS_1


kemudian ia segera kembali ke ruangan nya sendiri ruangan khusus CEO.


Ponsel di dalam saku milik nya tiba tiba berdering.


tring.... tring.... tring.....


Barra segera mengambil dan menatap layar tipis nya di sana, keningnya sedikit mengerut ketika sebuah nama memanggil nya.


" pasti ada sesuatu yang penting " ucap Barra.


kemudian menggeser bulatan hijau di sana.


Panggilan terhubung.


" halo "


" halo tuan ada sesuatu yang penting untuk saya sampaikan " sahut seseorang dari sebrang telepon.


" apa, cepat katakan lah "


" istri anda baru saja keluar tuan "


" apa dia bersama supir "


" tidak tuan sendirian memakai mobil sport merah yang kemarin nona pakai " jelas orang suruhan Barra itu lagi.


" ikuti dia cepat dan segera laporkan padaku apa yang kau lihat, jangan ada yang kau sembunyikan sedikitpun "


" baik tuan "


Panggilan terputus.


Barra kembali memasukkan ponsel nya ke dalam saku, Setelah itu mendekat ke arah dinding tebal bening menatap ke arah luar dengan kedua rahang nya yang mengeras menahan kekesalan nya yang ingin sekali membeludak.


*


Di sisi lain.


Di tengah perjalanan, Sheina tengah menyetir mobil sport nya dengan sangat pelan, hatinya sungguh tak karuan ketika dokter mengatakan bahwa hidup nya tak akan bertahan lama jika terus terusan di biarkan seperti ini tanpa penanganan alat medis.


Tetapi sesaat lamunan nya teralihkan ketika sebuah mobil hitam di samping nya terus mengklakson.


TIN.... TIN.... TIN... TIN....


Sheina sedikit menoleh ke arah samping setelah kemudian menurunkan sedikit kaca jendela mobil nya.


Seseorang pria tampan blasteran di dalam mobil hitam tengah tersenyum padanya.


" Kak Earth " ucapnya kemudian membalas senyuman itu.


Sedangkan Earth seperti mengisyaratkan sesuatu pada Sheina di dalam mobilnya sana yang kini masih berjalan sejajar dengan mobil sport merah milik Sheina.


Sheina mengerti akan isyarat itu dan menganggukkan kepalanya pelan.


*


Restoran.


Sheina dan Earth akhirnya sampai di restoran keduanya mulai duduk di sebuah kursi dan mulai mengobrol.

__ADS_1


" bagaimana keadaan mu " tanya Earth.


Gadis berparas ayu tersebut sedikit menundukkan kepala.


Bagaimana seseorang tau keadaannya tidak baik baik saja, sedangkan Sheina selalu menutupi wajah cantik yang sudah pucat itu dengan make up.


" kenapa kau tanyakan itu kak, sudah bahas lain nya saja " sahut Sheina mengalihkan pembicaraan.


" Shei aku tau kau tadi dari rumah sakit kan "


" kenapa kau tau "


" tentu saja aku juga dari sana "


" ada apa dengan dirimu kak, apa kau juga sakit "


" hehe... tidak... "


" lalu "


" aku hanya mengantarkan sesuatu pada kekasih ku "


" wah pacar kakak seorang dokter di sana, siapa mungkin saja aku mengenal nya "


" tentu saja kau pasti mengenal nya Shei, itu kan rumah sakit milik keluarga mu "


" ah kau ini kak, sudah katakan saja siapa "


" Shasa "


" Astaga dokter Shasa, dia yang menangani aku kak, ya meskipun aku ke sana tak berniat berobat ah sudahlah lupakan itu, kau kapan menikahinya "


" Sebentar " sahut Earth kemudian mengambil sebuah undangan pernikahan dari dalam sakunya.


" ini " ucap Earth sambil menyodorkan sebuah undangan.


Sheina tersenyum menutup undangan itu.


" sebenarnya aku ingin mengantarkan undangan ini ke mansion mu, tapi malah bertemu di jalan ya sudah aku berikan sekarang "


Sheina mengangguk angguk mengerti akan perkataan Earth.


" kapan kak " tanya nya dengan raut waah bahagia nya.


" sudah kau lihat undangan nya saja nanti setelah kau sampai mansion mu " sahut Barra.


" ya baiklah, aku akan mengajak Barra nanti " lagi lagi dengan senyuman sumringah nya.


" ok " Earth juga ikut tersenyum.


" ya sudah kak aku pulang duluan ya " Pamit nya.


" apa kau tidak ingin memesan sesuatu dulu "


" ah tidak Terima kasih, aku duluan "


" ya baiklah hati hati " sahut Earth sambil menatap kepergian Sheina yang mulai menjauh darinya.


Sedangkan dari arah kejauhan seseorang kembali mereka kebersamaan keduanya seperti satu minggu yang lalu.

__ADS_1


" Sudah aku kirim, dan setelah ini bagaimana reaksi tuan melihat dua video ini " ucap pria itu merasa takut sendiri membayangkan kemarahan sang tuan.


Setelah itu ia segera masuk ke dalam mobil mengikuti mobil yang di kendarai Sheina dari belakang.


__ADS_2