
Sepertinya dia sudah sangat akrab dengan anak anak panti itu gumam Barra lagi.
Yang masih setia menatap punggung Sheina dari kaca mobil hitam di samping nya yang tak tembus pandang tersebut.
Sesaat...
Sheina mulai memasuki mobil setelah ia selesai memberikan beberapa paper bag dan bungkusan makanan untuk anak panti tadi.
JEG.. GLEK....
Sheina baru saja membuka pintu mobil setelah itu segera duduk tanpa melihat ke arah Barra yang sedari tadi masih setia mengembangkan senyum untuk dirinya.
Berbeda dengan Barra yang baru saja menyadari akan kelakuan nya itu, dengan segera Barra langsung menatap ke arah depan seolah melihat jalanan yang mulai terlihat sepi.
" ayo jalan kan mobil nya, apa yang kau lihat "
" ah ya maaf aku hanya melihat jalanan seperti nya sudah sangat sepi, kita harus segera pulang "
" ya kau benar "
Dengan segera Barra menghidupkan mesin mobil kemudian menancapkan pedal gas nya meninggalkan panti.
*
Perjalanan.
Kedua nya yang sedari tadi diam kini Barra memulai obrolan.
" kau sering ke sana " tanya Barra di sela sela ia tengah fokus menyetir.
" kemana " jawab Sheina yang tak mengerti arah pembicaraan Barra.
" Panti " sahut Barra singkat.
" oh... tidak juga sekarang jarang ini baru dua kali semenjak aku pulang kuliah dari luar negri beberapa bulan yang lalu " jelas Sheina.
" tapi sepertinya kau sangat akrab dengan mereka semua " tanya Barra yang sebenarnya di selimuti rasa penasaran nya itu.
" hehehe... ya memang mereka seperti keluarga bagiku dan juga bagi keluarga ku, termasuk nenek Alisya dulu dia donatur tetap di panti itu sampai ia tiada bersama kakek Brandon " jelas Sheina lagi yang sesekali menatap pria tampan yang tengah fokus menyetir.
" oh begitu "
__ADS_1
" ya... dan kau tau nenek dulu pertama kali bertemu dengan mama di sana dan setelah itu ia berniat menjadikan mama sebagai menantu nya sewaktu mama ke panti bersama ibu nya alias nenek ku nenek Fatma"
" bukan kah cerita nya papa Bima yang sudah mengincar mama Zahra sewaktu masih sekolah dulu "
" kenapa kau bisa tau " ucap Sheina.
" kau lupa aku putra siapa heh " sahut Barra enteng tanpa menoleh sedikitpun ke arah Sheina.
" ya aku sudah tau, sekertaris kepercayaan papa dan kakek....aku bangga sekali melihat pengabdian nya, cara kerja nya, semoga saja kau bisa meniru dia "
" kau menyepelekan aku ya " sahut Barra yang langsung menoleh ke arah Sheina karena merasa sedikit kesal nya.
" tidak, siapa yang menyepelekan mu sih " Sangkal Sheina
" lalu kau bilang tadi " kekeh Barra.
" ah... sudah lah aku malas berdebat, aku mengantuk "sahut Sheina yang mulai sedikit menguap.
" heh... heh... heh... tunggu kau jangan tertidur di dalam mobil "
" memang nya kenapa hah apa masalah " sahut Sheina seolah tak terima.
" kau ingat saat kita baru saja selesai resepsi kau tertidur di dalam mobil dan aku menggendong mu sampai kamar apartemen "
" tubuhmu sangat berat Sheina, apa sudah jelas nona "
" apa kau bilang.....terserah kau saja aku mau tidur, jika nanti sudah sampai bangun kan aku kau bisa kan "
" hah... dasar tidur saja seperti orang pingsan susah sekali di bangun kan "
" sudah diam setir mobilnya dengan benar " sahut Sheina sambil kedua mata nya yang perlahan mulai terpejam.
gadis ini tingkah nya terkadang sangat menyebalkan, terkadang terlihat dewasa, dan terkadang seperti gadis yang sangat manja, emm...tapi jika seperti tadi sungguh tak ku sangka dia seperti AKHH... kenapa pikiran ku jadi di penuhi dia terus membuat hatiku sadari tadi terus bergumam saja.
Sesaat setelah bergumam Barra melirik ke arah Sheina yang sudah tertidur pulas itu, kemudian kembali menatap ke arah jalanan depan.
Sesampainya di area parkir apartemen seperti biasa Sheina tetap tertidur pulas tak sedikitpun bisa di bangunkan,
Dan akhirnya untuk ke dua kali Barra kembali menggendong tubuh Sheina menuju apartemen yang mereka tempati bersama.
*
__ADS_1
*
Pagi menjelang.
Di sebuah dapur Sheina mulai memasak, entah apa yang kali ini akan ia masak untuk Barra.
Gadis yang terbiasa manja itu seperti nya mulai belajar memasak melalui ponsel milik nya,
ia tahu bahwa pernikahan nya dan Barra tak akan berlanjut lama, maka dari itu Sheina ingin pintar soal masak memasak yang akan ia jadi kenangan suatu saat setelah kata perceraian terucap di antara bibir kedua nya, seperti perjanjian yang mereka tulis di selembar kertas satu sama lain, kemarin.
Sedangkan Barra mulai keluar dari dalam kamar sambil mengenakan pakaian santai nya, kemudian segera duduk di sofa ruang tamu menyeruput segelas kopi hitam buatan Sheina.
Berbeda dengan Sheina yang menyadari Barra sudah berada di ruang tamu yang tak seberapa jauh dari arah dapur mewah nya yang serba putih itu.
" Kau sudah bangun " ucap Sheina sekilas menoleh kemudian kembali sibuk dengan wajan panas di hadapan nya.
" hem " sahut Barra singkat tanpa menoleh sedikit pun.
" terimakasih tadi malam, maaf menyusahkan mu " ucap Sheina lagi yang masih sibuk di tempat penggorengan.
" tak masalah, bukan kah itu sudah kedua kali nya kau menyusahkan aku " jawab Barra dengan nada datar nya tanpa kembali menoleh.
Membuat Sheina terdiam kemudian mengecilkan sedikit suhu api di kompor nya.
apa hal sepele seperti itu sangat menyusahkan nya gumam Sheina.
Dengan segera Sheina langsung mematikan kompor karena di rasa tumisan kangkung nya sudah matang.
Ia mulai menaruh nya di piring, kemudian sambil membawa piring satunya lagi yang sudah berisi macam olahan seafood lain nya.
Sheina segera menata rapi hasil masakan nya itu di atas meja makan, beserta dua piring kosong dan juga sendok.
" makan lah sudah matang " ucap nya kemudian kali diam tanpa ada ocehan lagi dari bibir tipis nya.
Dengan segera Sheina mengambil nasi dan lauk tanpa menunggu Barra untuk sarapan pagi bersama.
Barra mulai mendekat ke arah meja makan, sesaat ia menatap sekilas ke arah Sheina.
H e n i n g ......
Di lihatnya piring sudah bersih Sheina segera mencuci piring miliknya, kemudian menuju kamar tanpa sepatah katapun yang keluar dari dalam bibir nya.
__ADS_1
Barra menghentikan sejenak satu sendok yang baru saja akan masuk ke dalam mulut nya kemudian kembali menaruh nya di atas piring ketika pintu kamar Sheina baru saja tertutup.
Ada apa dengan nya ucap Barra seolah sedikit berfikir tetapi tak menemukan jawaban.