
setelah lima belas menit kemudian Bima telah selesai dengan ritual mandinya, dan kini ia telah siap turun ke bawah bersama zahra untuk makan malam bersama.
Bima dan Zahra kini menuruni anak tangga satu persatu. Sedangkan di meja makan semua orang telah berkumpul,
semua pelayan sudah berbaris rapi di dekat meja makan, untuk menyambut tuan dan nyonya mereka makan malam dan pak Tejo pun telah berdiri di belakang kursi papa Brandon sambil menundukkan kepalanya jika tuanya memerlukan sesuatu.
sedangkan Hendra yang sedari tadi duduk di meja makan kini pandangannya teralihkan kepada pasangan suami istri yang menuruni anak tangga itu.
Zahra kau terlihat sangat cantik sekali, sayang sekali kau telah menjadi istri kakakku gumam Hendra dalam hati.
Bima sedari tadi tau kalau adiknya sedang memandangi istrinya itu, tetapi Bima berpura-pura biasa saja. Kemudian Bima menggandeng tangan Zahra setelah sampai di lantai bawah, sedang Zahra yang merasa tangannya di pegang oleh Bima merasa bahwa suaminya itu tidak seperti biasanya. Kemudian Zahra melihat ke arah Hendra yang sedang memandangnya dari kejauhan.
pantas saja dia menggandeng tanganku pasti gara - gara hendra yang sedang melihat kesini, dasar suami posesif apa segitunya dia mencintaiku sampai - sampai hal sepele seperti ini saja membuatnya cemburu gumam Zahra dalam hatinya.
Zahra terus saja bergumam sambil berjalan ke arah meja makan. Setelah sampainya di meja makan Bima dan Zahra pun duduk, Zahra sibuk mengambilkan makan untuk suaminya, sedangkan Bima yang sedari tadi hanya diam itu sesekali melihat ke arah adiknya yang tak berkedip memandang Zahra.
kau memang harus segera kembali ke luar negri Hen gumam Bima dalam hatinya yang merasa kesal kepada adiknya itu.
" sayang ambilkan aku itu " ucap Bima kepada istrinya sambil menunjuk lauk yang di inginkan nya itu.
" sayang kau kan alergi seafood, kau tidak boleh makan yang itu " jawab istrinya itu kemudian melanjutkan makannya.
" Oh iya aku lupa " ucap Bima yang membuat alasan supaya adiknya merasa iri kalau Zahra sangat perhatian kepadanya.
padahal dia tau kalau dirinya sendiri alergi seafood kenapa bisa lupa, alasan yang tidak masuk akal gumam Zahra.
sedangkan mama Alisya dan papa Brandon hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan anaknya yang tidak masuk akal itu.
syukurlah ternyata Bima sangat menyayangi zahra tidak sia - sia aku menjodohkan mereka gumam mama Alisya.
mama Alisya merasa sangat lucu sekali melihat tingkah anaknya yang satu ini kepada istrinya.
sedangkan Hendra yang mendengarkan dan melihat kemesraan kakak dan gadis yang pernah ia disukainya itu kini selera makannya hilang. Bima yang melihat adiknya seperti itu hanya terkekeh dan sedikit tersenyum samar.
kau itu masih kecil Hen,sebaiknya kau serius dulu dalam kuliahmu yang masih panjang diluar negri sana gumam Bima dalam hati.
__ADS_1
Bima bergumam terus bergumam dalam hatinya seperti membanggakan dirinya yang terlebih dahulu mendapatkan Zahra.
beberapa saat kemudian ritual makan pun telah selesai kini semuanya tengah berkumpul di ruang keluarga bercengkrama sambil di bumbui gelak tawa di sana, jarang sekali mereka bisa berkumpul bersama karena suatu alasan yaitu pekerjaan.
" mungkin beberapa hari lagi mama akan ke luar negri sayang, mama mungkin akan lama di sana karena pekerjaan papa banyak di sana "
ucapan mama Alisya kepada Zahra.
" memang sampai kapan di sana Ma " tanya Zahra
" sampai mama punya cucu baru mama tidak akan kembali lagi ke sana dan menetap di sini sayang "
sedangkan Zahra hanya tersenyum mendengarkan perkataan mama Alisya.
" Zahra pasti sangat merindukan mama kalau lama - lama di sana Ma " sahut Zahra sambil memeluk mama Alisya yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri itu.
" Mangkanya cepetan buatkan mama cucu, biar mama di sini terus iya kan Pa "
papa Brandon mengiyakan kata - kata istrinya itu sambil menyeruput secangkir kopi.
setelah lama mereka berbincang-bincang, kini semua anggota keluarga pun telah memasuki kamarnya masing - masing karena sudah larut malam.
" sayang " ucap Bima kepada istrinya yang kini telah keluar dari ruang ganti memakai piyama warna maron itu.
" ada apa suami ku " ucap Zahra sambil mengikat rambutnya ke atas memperlihatkan leher jenjangnya itu.
" kesini sebentar " ucap Bima lagi
kemudian Zahra menaiki kasur karena sedari tadi Bima telah bersandar si sandaran kasur king size nya itu.
" ada apa suamiku " sahut Zahra
" sayang apa kau tidak ingin membuatkan mama cucu setelah kau selesai datang bulan " tanya Bima dengan nada lembutnya.
" sayang jangan bicarakan itu lagi aku malu mendengarnya " ucap zahra yang pipinya sudah memerah menahan malu di depan suaminya.
__ADS_1
" kau lucu sekali Zahra " ucap Bima sambil mengelus pipi istrinya itu.
" aku akan pelan - pelan istriku kau jangan takut " ucap Bima lagi - lagi menundukkan kepalanya.
" suamiku bisakah kau menunggu ku sebentar saja agar aku siap " ucap Zahra ragu - ragu takut suami posesif nya itu marah padanya.
" baiklah kalau begitu aku akan menunggumu sebentar saja, iya kan tidak lebih " jawab Bima menjelaskan
Zahra kemudian menganggukkan kepalanya kepada Bima sebagai tanda mengiyakan perkataan suaminya itu.
Dan keduanya langsung tersenyum
" Terima kasih sayang " ucap Zahra kemudian memeluk tubuh Bima. Bima pun membalas pelukan istrinya itu dan mencium pucuk kepala Zahra.
" Terima kasih kau telah sabar menunggu ku sayang " ucap Zahra lagi kepada suaminya.
Bima yang mendengarkan perkataan istrinya pun kembali tersenyum.
Namun di dalam hatinya paling dalam, Bima sebenarnya ingin sekali melakukan itu dengan istrinya tetapi Bima tidak ingin memaksa istrinya dan Bima takut istrinya jadi tertekan karena ketakutannya itu.
" ya sudah sekarang kita tidur sayang ini sudah malam " ajak Bima kepada Zahra karena ini memang sudah larut malam.
Zahra menganggukkan kepalanya kepada Bima
sebagai balasan perkataan suaminya itu.
kemudian Bima merebahkan tubuh istrinya dan menyelimuti Zahra sampai dada. Zahra yang mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya langsung mengembangkan senyumnya.
Bima kemudian memandangi wajah Zahra sepersekian detik mereka saling menatap satu sama lain, kemudian Bima mencium bibir tipis Zahra dengan lembut kini mereka saling menautkan bibir masing - masing entah apa yang dilakukan didalam sana, keduanya sangat menikmati ciuman itu yang berubah menjadi ciuman panas Bima kini beralih menciumi leher jenjang Zahra.
Dan beberapa saat kemudian Bima menghentikan ciuman dari leher jenjang Zahra itu, karena takut terjadi sesuatu yang lebih sedangkan Zahra sekarang masih datang bulan dan Zahra juga masih takut untuk melakukan itu pikir Bima.
" ya sudah sekarang tidurlah sayang ini sudah malam.
" iya sayang " jawab Zahra sambil tersenyum melihat suaminya itu.
__ADS_1
" selamat malam istriku yang menggemaskan " ucap Bima sambil mencubit hidung Zahra kemudian mencium kening Zahra.
tak beberapa lama kemudian mereka pun terlelap dalam tidurnya dengan tangan Bima yang memeluk perut rata istrinya itu.