Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
pertengkaran


__ADS_3

ke esokan harinya di Mansion Sinaga.


tepatnya di taman belang Mansion.


kini sepasang suami istri itu tengah menikmati sejuknya pagi di sana, keduanya saling berbincang sambil di temani teh hangat yang berada di atas meja yang terbuat dari kayu ber ukiran klasik si sana.


" sayang bagaimana kakimu " tanya Bima kepada sang istri,


" sudah tidak bengkak lagi suamiku " jawab Zahra dengan nada suara yang sangat pelan.


" baguslah kalau begitu "


" sayang " panggil Zahra.


" iya "


" aku ingin meminta nomor ponsel milik Adinda, aku ingin dia menjadi teman dekatku sayang "


" memangnya kau ingin berbicara apa dengan nya Zahra "


" sayang, ya adalah namanya juga perempuan "


" apa kau berniat menjodohkan rekan nya itu dengan sekertaris Revan Zahra "


" sedikit hehehe...... "


" sayang kau jangan terlalu sibuk mengurusi hidup mereka itu terserah sekertaris Revan "


" sayang apa kau pikir tujuan ku hanya itu, aku ingin punya teman apa tidak boleh, setiap hari aku selalu di mansion dan tak pernah keluar, aku bosan "


" sayang maaf jika itu membuatmu bosan, tetapi setelah anak kita lahir, kita akan sering sering jalan jalan bagaimana hem "


" benarkah kau akan sering mengajakku jalan jalan " tanya Zahra yang terlihat begitu bahagia.


" iya semua nya akan aku lakukan jika itu membuatmu bahagia Zahra " jawab Bima sambil mengembangkan senyuman


" ya sudah berikan aku nomor Dinda "


" hah.... tetap saja yang kau minta hanya itu sedari tadi, baiklah aku akan menanyakan langsung pada sekertaris Revan "


Zahra sedikit tersenyum.


kemudian Bima pun mulai mengeluarkan ponsel pintarnya untuk segera menghubungi sekertaris Revan.


sesaat kemudian panggilan terhubung.


" halo " ucap Bima setelah panggilan terhubung.


" ya halo tuan muda, ada yang bisa saya bantu " jawab sekertaris Revan di sebrang sana.


" istri ku meminta nomor ponsel milik rekan baru mu itu "


" maaf tuan sebenarnya untuk apa boleh saya tahu "


" Zahra ingin mempunyai teman, dan seperti nya dia cocok dengan rekan baru mu itu "


" ya baiklah tuan, saya akan menanyakan langsung nomor ponsel miliknya "


" tunggu tunggu,... kau sebagai orang yang paling dekat dengan nya saja tidak mempunyai nomor ponselnya "


" dasar kau ini, kalau kau nomor ponsel saja tidak punya bagaimana kau mendekati Van "

__ADS_1


" sepertinya saya tidak memerlukan tuan karena saya sudah satu apartemen bersamanya "


" APA.... sampai sedekat itu kau Van "


" ah... tidak tidak tuan, sebenarnya ceritanya panjang sampai dia sekarang tinggal satu atap bersama saya tuan "


" baiklah, lain waktu kau punya hutang penjelasan padaku "


" ba.. ba.. baik tuan "


" segera kirimkan nomornya "


" baik tuan "


dan panggilan pun terputus.


kemudian Bima pun kembali memasukkan ponsel pintarnya tersebut ke dalam saku celana miliknya.


" sayang bagaimana " tanya Zahra seperti antusias ingin memiliki teman baru.


" sebentar lagi sekertaris Revan akan segera mengirimkan nomor ponsel nya sayang " jawab Bima kemudian.


" ya sudah kalau begitu " sahut Zahra.


dan kedua pasang suami istri itu kini kembali bercengkrama ria di taman yang tepatnya di belakang mansion itu, sesekali keduanya menyeruput teh hangat nya dengan begitu santai.


" sayang " panggil Zahra.


" hem " jawab Bima dengan deheman saja.


dengan dirinya yang sambil memegang gelas teh di tangan nya.


" sayang nanti setelah aku melahirkan, dan anak kita sudah sedikit besar apa boleh aku melanjutkan kuliah ku " tanya Zahra yang seperti antusias menunggu jawaban dari suaminya.


" tidak boleh '' jawab Bima dengan nada dingin.


" begitu ya " sahut Zahra santai, Zahra tahu kalau suaminya sepertinya sedikit kesal padanya.


" ya " jawab singkat sambil pandangannya ke arah lain.


" sayang jawabanmu kenapa singkat sekali " ucap Zahra kemudian


" terus aku jawab apa hah " jawab Bima yang memang dirinya merasa kesal,


karena dirinya merasa sudah membicarakan hal ini bersama Zahra sebelum nya, dan sekarang Zahra menanyakan hal itu lagi untuk ke dua kalinya, padahal sudah jelas Bima melarang nya dari dulu.


meskipun tidak di perbolehkan seharusnya kau jawab biasa saja kan bisa, kenapa dia harus sedingin itu sih gumam Zahra dalam hati.


kemudian Bima bergegas meninggalkan Zahra sendirian di taman belakang sendirian, tanpa sepatah kata pun.


aku kan hanya bertanya saja, kenapa jadi dia yang meninggalkan aku, apa sampai sebegitu nya dia marah karena aku kembali menanyakan tentang kuliah monolog Zahra.


kemudian Zahra kembali memandangi bunga bunga yang sudah bermekaran itu,


yang dulu pernah ia belinya bersama Hendra di


toko bunga.


sedangkan Bima seperti baru tersadar meninggalkan istrinya di taman belakang, karena dirinya yang merasa kesal itu pada sang istri.


dan perlahan Bima kembali menuju taman belakang mansion tersebut, dan mendapati Zahra istri nya yang tengah berbicara sendiri sambil memandangi bunga bunga di hadapannya saat ini.

__ADS_1


sesekali mendapati istrinya tersenyum sendiri di sana.


dan perlahan Bima mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah sang istri seperti berjalan mengendap ngendap, supaya dirinya bisa mendengarkan apa yang di bicarakan gadis yang sebentar lagi menjadi seorang ibu tersebut.


berbeda dengan Zahra yang tak menyadari keberadaan Bima yang kini tengah berada di belakangnya itu.


Sedangkan Zahra kini kembali bermonolog sendiri di kursi kayu berukiran klasik itu.


kenapa jadi mengingat Hendra, padahal baru kemarin ia kembali keluar negri, dia sahabat yang baik, dan sekarang dia jadi adik ku hahaha.....sepertinya lucu sekali, awalnya teman tiba tiba jadi adik, Hen seandainya kakakmu sebaik dirimu dan tidak pernah bersikap dingin padaku monolog nya.


sedangkan Bima yang berada tak jauh dari belakang Zahra kini mulai mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangan nya, karena merasa dirinya di sama sama kan dengan sang adik, dan pemikiran nya seperti sang istri tak menerima dirinya apa adanya saat ini.


Bima yang mengingat istrinya kini tengah hamil itu memilih untuk berniat pergi dari sana, dan membiarkan Zahra sendirian saat ini di taman belakang Mansion.


dia berniat meninggalkan Zahra menuju kamar lantai atas kamar pribadi milik dengan sang istri.


Berbeda dengan Zahra yang saat ini tengah sendirian itu, setelah dirinya merasa cukup lama di sana,


Zahra berniat masuk ke dalam Mansion, kenapa suami tak kembali pikir Zahra, karena dirinya masih sedikit takut jika menaiki tangga sendirian.


perlahan gadis dengan perut membuncit itu berniat melangkahkan kakinya untuk segera memasuki Mansion.


langkah demi langkah ia kini mulai sampai di ruang tamu.


kemudian setelah nya Zahra mulai mengeluarkan nafas dari mulutnya, dan melanjutkan langkahnya yang mulai menaiki anak tangga sendirian,


kakinya mulai gemetaran, karena jarak taman belakang menuju kamarnya sedikit jauh, apalagi untuk seorang ibu hamil seperti dirinya.


sesaat kemudian Zahra mulai sampai di lantai atas, kenapa mansion terasa sepi sekali pikir Zahra, dan setelah itu dirinya berniat melanjutkan langkahnya yang sebentar lagi sampai di depan pintu kamar nya bersama sambil suami.


apa dia ada di kamar nya, kenapa dia tak berniat menyusul ku, kakinya rasanya gemetaran seperti ini untung saja aku sudah sampai di kamar monolognya.


Dan saat ini gadis cantik yang sebentar lagi menjadi ibu itu sampai lah di depan pintu kamar nya, perlahan Zahra membuka handel pintunya.


menampilkan kamar yang terlihat kosong di sana,


setelah itu Zahra berniat mencari keberadaan suaminya, dan ternyata Bima kini tengah duduk di sofa single di depan televisi kamarnya, sambil menyilangkan kedua tangan nya di data, menatap datar kepada Zahra.


Bima masih di selimuti rasa kesalnya saat ini pada sangat istri.


" sayang kenapa tak menjemput ku, kau masih marah ya,sayang aku hanya bertanya jika kau tidak memperoleh kan kan juga tidak apa ap........." ucap Zahra terhenti ketika Bima tiba tiba menyelanya.


" cukup Zahra, jangan bicara lagi " ucap Bima kemudian.


" sayang kau masih marah, aku minta maaf " ucap Zahra setelah itu dengan nada yang sangat pelan, karena melihat suaminya yang benar benar masih marah kepadanya.


" sudahlah lupakan " jawab Bima


" sayang '' panggil Zahra yang kini mulai mendekat ke arah Bima, sambil sedikit mengelus pelan pipi suaminya.


" singkirkan tangan mu Zahra " ucap Bima penuh dengan penekanan, dengan dirinya yang masih sangat kesal mengingat apa yang di bicarakan istrinya tadi di taman belakang mansion.


" apa aku sangat menjijikkan menurutmu hah " jawab Zahra yang kini kedua matanya mulai berkaca kaca.


sedangkan Bima tak berniat memandang nya tatapan nya masih tetap lurus ke depan.


Bima tak berniat membalas perkataan Zahra, dirinya mulai berdiri dengan gerakan cepat ia meninggalkan Zahra sendirian di dalam kamar, dan langsung menuju ruang kerjanya.


sedangkan Zahra saat ini seperti sakit sekali rasanya, baru kali ini suaminya melakukan hal itu, yang sepertinya terlihat sangat jijik padanya pikir Zahra.


gadis belia itu mulai meneteskan cairan bening nya dari kedua mata indah milikya itu.

__ADS_1


apa segitu salahnya diriku bahkan aku meminta maaf saja tidak ia pedulikan hiks... hiks... kenapa dia seperti dulu lagi yang dingin padaku, apa aku tidak pantas di maafkan meskipun karena hanya hal sepele monolognya.


gadis itu terus saja sesenggukan, hatinya merasakan sangat perih saat ini, sesekali Zahra mengusap kasar air matanya yang lagi lagi terus meleleh di kedua pipinya.


__ADS_2