
kini waktu telah menunjukkan menunjukkan jam kerja telah usai.
sedangkan di lantai atas tepatnya di gedung pencakar langit milik Bima, di sebuah tuang mewah yang berpendingin.
" Din sekarang sudah jam pulang kerja, sebaiknya kamu langsung ikut saja ke apartemen milikku " ucap sekertaris Revan yang saat ini mulai merapikan meja kerjanya.
" tapi tuan, barang barang saya masih ada di kos kos an, bagaimana kalau saya ke sana dulu , dan setelah itu saya akan menuju apartemen milik anda " jawab adinda yang juga kini merapikan area meja kerjanya tersebut.
" baiklah terserah kau saja "
" tapi tuan... emm saya boleh meminta nomor ponsel anda supaya nanti saya tidak kesasar " ucap Adinda kemudian.
" heh... begini saja Din, aku akan mengantarmu ke kos an mu untuk mengambil barang barang mu itu, dan setelah itu kita langsung menuju apartemen bagaimana " jelas sekertaris Revan.
" baiklah kalau begitu tuan, tuan apa tidak merepotkan anda " tanya Adinda yang sedikit tak enak hati itu.
" kita kan satu jalur Din " jawab sekertaris Revan.
" ah... iya iya " sahut Adinda sambil manggut-manggut.
Dan setelah itu tak ada obrolan sama sekali.
keduanya kini melangkah bersama untuk segera keluar dari ruangan mewah tersebut, dan segera menuju ke arah lift.
TING...
bunyi lift yang baru saja di pencet oleh Adinda.
kemudian keduanya pun mulai masuk ke dalam lift tersebut.
dan keduanya saat ini saling diam seperti sedikit terlihat canggung, sesekali keduanya saling pandang, kemudian kembali menundukkan kepala.
kenapa hatiku jadi berdetak tak karuan seperti ini ya tapi seperti biasanya gumam sekertaris Revan dalam hati.
ah.... kenapa keadaannya jadi canggung seperti ini, aku jadi bingung harus bicara apa, diam juga bingung, ah.. keadaan macam apa ini gumam Adinda dalam hati.
ya keduanya saling bergumam di dalam hatinya masing masing saat ini.
sesaat kemudian pintu lift kini telah terbuka.
TING....
keduanya mulai keluar dari dalam lift dengan keadaan kantor yang kini mulai sepi dan keduanya saat ini tengah menuju parkiran khusus untuk petinggi perusahaan.
sesampainya di parkiran
sekertaris Revan mulai membuka pintu mobilnya, dan juga Adinda yang mulai membuka pintu mobil bagian belakang penumpang, sekilas sekertaris Revan menoleh ke arah Adinda.
" Din, apa yang kamu lakukan " ucap sekertaris Revan sambil melihat ke arah Adinda.
" membuka pintu mobil tuan " jawab Adinda polos.
" kau pikir aku sopir apa, pindah ke arah kursi depan " perintah sekertaris Revan.
" baik tuan " jawab Adinda yang kemudian kembali menutup pintu mobil bagian belakang, dan setelah itu beralih membuka pintu mobil bagian depan.
__ADS_1
dan saat ini keduanya tengah berdampingan, sesaat keduanya kembali saling diam.
kemudian Adinda memulai pembicaraan.
" tuan seperti nya saya sedikit lancang jika duduk di depan seperti ini " ucap Adinda sambil menoleh ke arah atasannya itu dengan jarak keduanya yang dekat saat ini.
" sudah diam jangan banyak bicara " jawab sekertaris Revan tanpa menoleh dan setelah itu langsung menancapkan pedal gas nya meninggalkan area parkir perusahaan.
Kini mobil mewah yang di kendari sekertaris Revan mulai membela jalanan kota , tetapi tetap keduanya saling diam tanpa adanya obrolan sedikit pun.
sesaat kemudian sekertaris Revan memulai pembicaraan.
" kenapa kau diam saja Din " ucap sekertaris Revan yang merasa sedikit canggung saat ini.
" tadi kan tuan yang menyuruh saya diam, ya sudah saya diam " jawab Adinda apa adanya.
" ya sudah mana arah jalan menuju kos kos an mu sekarang " ucap sekertaris Revan kemudian yang seperti mengalihkan pembicaraan itu.
" kita terus saja tuan, nanti ada belokan ke kiri masuk dan setelah itu ada gang kecil ya sudah di situ, gampang kan tuan " jelas Adinda kepada atasannya saat ini.
" ya baiklah kalau begitu " jawab sekertaris Revan dengan dirinya yang saat ini tengah fokus ke arah depan.
sesaat kemudian mobil mewah yang di kendarai sekertaris Revan kini tengah berada di dekat gang tempat kos kos an Adinda berada.
" tuan tunggu di sini saja, saya akan mengambil barang barang saya '' ucap Adinda ketika mobil mewah yang ia tumpangi itu berhenti di dekat gang menuju ke arah kos kos an nya tersebut.
" ya... memangnya siapa yang mau turun, jalan nya becek seperti itu " jawab sekertaris Revan dengan gaya angkuhnya.
" heh.. dasar menyebalkan " sahut Adinda dengan nada pelan tetapi masih terdengar jelas di telinga sekertaris tampan itu.
" tidak ada tuan, tuan mungkin yang salah dengar, ya sudah saya ke luar sebentar " jawab Adinda yang seperti membuat buat alasan itu.
dan kemudian Adinda pun mulai membuka pintu mobil mewah itu untuk segera keluar dari dalam ya, tetapi ada satu kejadian yang membuatnya sedikit memalukan.
JEG GLEK.........
suara pintu mobil yang kini tengah di buka nya.
dan sesaat kemudian.
DUGGG........
AWw..... aw... .. kepalaku
ucap Adinda ketika kepalanya tersangkut dan sedikit terbentur atasan mobil, dengan diri nya yang tadi lupa tak menundukkan kepalanya itu saat dirinya mulai keluar dari dalam mobil tersebut.
sedangkan sekertaris Revan saat ini tak kuasa menahan tawanya melihat tingkah bawahannya itu.
HUWAHAHAHA........
HUHAHAHA........
HAHAHA.....
tawa sekertaris Revan yang saat ini terdengar nyaring di telinga Adinda.
__ADS_1
" Din kenapa bisa hah... kau ini bagaimana sih " tanya sekertaris Revan yang kembali menahan tawanya.
" hehehe... tadi, tadi... ah.. sudahlah tuan, saya akan mengambil barang barang saya dulu " jawab Adinda yang saat ini tengah malas menjawab perkataan atasannya itu karena dirinya merasa sangat sangatlah malu saat ini.
" ya.. ya.. ya " jawab sekertaris Revan sambil menggeleng geleng kan kepalanya.
Sedangkan Adinda saat ini mulai menjauh dari arah mobil dengan langkah cepat untuk segera menuju ke arah tempat kos kos an nya, dan juga Adinda memang sudah tak tahan menahan rasa malunya itu.
Berbeda dengan sekertaris Revan yang saat ini kembali tertawa itu tetapi tak sekeras tadi.
Kenapa tadi dia bisa terbentur ya, apa dia tidak melihat pinggiran mobil setebal itu hahaha.... aku ingin selalu tertawa jika mengingat nya,
aku tau pasti dia menahan malunya saat ini, Dinda Dinda monolog sekertaris Revan.
kemudian lelaki itu menggeleng geleng kan kepalanya pelan sesekali ia tersenyum.
Ada apa dengan ku ya, untuk apa aku senyum senyum sendiri tak jelas seperti ini monolog nya lagi.
sesaat kemudian
Adinda telah keluar dari arah gang menuju kos kos an itu dengan membawa dua tas yang berisi barang barang miliknya,
Dan kemudian Adinda segera mendekat ke arah mobil mewah tadi yang mengantarkan nya, yang saat ini tengah terparkir sempurna di dekat gang nya tersebut.
JEG GLEK
suara pintu mobil yang baru saja di buka Adinda.
perlahan gadis itu masuk ke dalam mobil dengan membawa dua tas yang berisi barang barang nya itu yang seperti kelihatan kesusahan.
gadis ini sepertinya terlalu ribet, barangnya kenapa banyak sekali gumam sekertaris Revan.
" Din " ucap sekertaris Revan yang saat ini menatap ke arah Adinda dengan tatapan malas itu.
" ya tuan " jawab Adinda yang saat ini memaksa masuk dengan kedua tas besarnya ke dalam. mobil.
" taruh di kursi belakang kan bisa " ucap sekertaris Revan yang sebenarnya merasa sedikit kesal kepada bawahannya itu.
" hehehe.. iya ya, maaf tuan apa kau bisa menolong ku " ucap Adinda dengan sedikit tertawa.
" heh... merepotkan sekali mana " jawab sekertaris Revan sambil membuang nafas beratnya, kemudian meminta Adinda untuk segera mengulurkan tasnya kepada dirinya untuk ia lempar ke kursi belakang.
" ini tuan " sahut Adinda mengulurkan satu persatu tas besarnya tersebut.
dan...
BUGHHH..... BUGHHH....
suara dua tas besar milik Adinda yang di lempar oleh sekertaris Revan dengan sangat kencang nya itu.
" tuan jangan melemparnya keras keras seperti itu " ucap Adinda sambil memanyunkan bibirnya.
" sudah diam, jangan banyak bicara " jawab sekertaris Revan serius.
" heh.. selalu menyuruh ku diam " sahut Adinda kemudian gadis dua puluh tiga tahun segera mengunci mulutnya rapat rapat.
__ADS_1