Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
Sepulang dari Bali


__ADS_3

Sheina dan Barra mulai memasuki lorong apartemen, keduanya berjalan beriringan dengan keheningan sesekali pria tampan itu melirik ke arah Sheina yang sedari tadi hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun pada nya.


Sesaat keduanya kini telah sampai di depan pintu apartemen mereka, Barra mulai membuka kunci pintu dan masuk ke dalam sana.


Sedangkan Sheina dengan langkah cepatnya ia segera berlari kecil menuju kamar miliknya, kemudian langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


WSSHHH...


" Ah....sepertinya aku sudah lama sekali meninggalkan kamar ini " ucap nya sambil memejamkan kedua mata karena serasa sangat nyaman merebahkan tubuh di atas ranjang yang sudah satu minggu ini tak ia tiduri itu.


" Sama aku juga " sahut pria tampan di samping nya.


Seketika Sheina langsung membuka kedua matanya secepat kilat,


dengan dirinya yang baru sadar akan keberadaan Barra di samping nya.


Dan sontak saja membuat gadis itu langsung bangun dan menoleh ke arah Barra yang masih setia tiduran di sampingnya.


" apa yang kau lakukan di sini Bar " tanya Sheina masih dengan Keterkejutan nya.


" tidur, aku lelah Shei ingin beristirahat " jawab Barra begitu santai yang seolah tak terjadi apa apa.


" tapi ini kamar ku, kamar mu di sana " sambil menunjuk ke arah luar kamar.


" mulai sekarang ini kamar ku juga " lagi lagi Barra menjawab nya santai.


" bagaimana bisa seperti itu "


" kau istri ku, apa kau lupa itu kita akan memulai nya dari awal sayang "


sayang sayang rasanya aku ingin muntah mendengar nya gumam Sheina.


" Ya ya ya... terserah kau saja lah " jawab nya Sheina serasa malas.


Kemudian ia meraih bantal guling dan menaruh nya di bagian tengah ranjang untuk menjadikan pembatas antara dirinya dan Barra.


" untuk apa kau menaruh bantal guling di tengah Shei "


" ini pembatas kita mengerti "


" Mana ada....." perkataan Barra terhenti ketika sebuah nada ponsel berdering.


tring....


tring....

__ADS_1


tring....


Sheina menyadari bunyi ponsel itu adalah miliknya yang tengah berada di dalam tas kecil yang masih berada di samping nya.


Dengan segera ia mengambil dan mengangkat sambungan telepon tersebut yang tak lain adalah sang papa yaitu Bima.


" iya halo Pa " ucap Sheina dengan sang papa di sebrang sana.


" kau sudah sampai sayang " tanya Bima.


" ah iya Pa baru saja sampai "


" Sayang Bagaimana bulan madu kalian di sana, ini mama " ucap Mama Zahra


" ah Mama... ya begitu lah Ma "


Tadi Papa sekarang Mama, apa sampai ingin tahu nya mereka tentang bulan madu ku bersama pria menyebalkan satu ini waktu di Bali gumam nya.


" Apa nya yang begitu sayang " goda Zahra.


" ih.. apa sih Ma, Mama goda Sheina saja " jawab nya sambil mengerucutkan bibirnya ke depan.


Sedangkan Barra yang sedari tadi menyimak, kini dirinya mulai bertingkah agresif di dekat Sheina.


Ia mulai memeluk pinggang ramping milik Sheina dengan perlahan sambil tersenyum tak ada salah.


tetapi tak mengeluarkan sepatah kata pun karena takut akan terdengar sang Mama di sambungan telepon nya saat ini.


Dan lagi pria tampan itu mengulangi nya, memeluk perut rata milik Sheina untuk yang kedua kalinya.


Sheina tak tinggal diam ia kembali menghempaskan tangan itu bahkan saat ini ia sambil mencubit tangan itu dengan kerasnya.


" AW.....sakit " pekik Barra yang pura pura kesakitan dengan suaranya yang sedikit ia keras kan agar terdengar sang mertua di sambungan telepon.


Sedangkan Sheina langsung merubah ekspresi wajah nya membulatkan kedua matanya ketika mendengar teriakan Barra yang sangat keras itu,


gadis itu sedikit mengisyaratkan sesuatu pada Barra agar diam, menempelkan jari telunjuk nya di bibir nya sendiri agar Barra mengerti yang ia maksud.


Ya Barra memang sengaja mengerjai Sheina, gadis yang akhir akhir ini membuatnya sangat candu.


" ada apa Shei dengan Barra " tanya Mama.


Sheina kembali membulatkan matanya.


Seolah ia bingung harus menjawab apa pikir nya.

__ADS_1


pikiran nya seolah buntu karena kelakuan Barra.


" Em... anu.. anu Ma Barra... Barra.. Ah iya tangan Barra terjepit pintu " jawab Sheina mencari cari alasan.


Barra hanya cekikikan sendiri dalam diam melihat Sheina yang gelagapan mencari alasan karena ulah nya.


Hahaha...dia kebingungan mencari alasan gumam Barra.


" bagaimana bisa Shei " tanya Mama Zahra lagi.


" Mana....mana Sheina tau Ma " jawab Sheina seolah ingin menghindar dari pertanyaan.


Sedangkan Barra lagi lagi kembali berulah tetapi kali ini sedikit berbeda.


Ia langsung meraih ponsel yang menempel di telinga Sheina.


Sheina tak habis pikir oleh kelakuan pria tampan yang sudah berstatus suaminya itu, ia hanya bisa menganga kan mulutnya menatap ponsel yang kini sudah beralih menempel di telinga Barra.


" Ah maaf Ma Barra tadi bukan terjepit, tapi.... " ucap Barra terhenti sambil sedikit melirik ke arah Sheina yang kini tengah menatap ke arah nya.


" tapi karena Sheina sedikit agresif pada Barra semenjak sepulang dari Bali tadi Ma " jelas Barra yang semakin di buat buat.


Sheina tambah melongo mendengar perkataan Barra pada sang Mama di sebrang telepon sana.


Ia langsung mencoba merebut ponsel itu dari tangan Barra tapi usahanya tak berhasil.


" A P A,.... hehehe.....baiklah seperti nya Mama sedikit menganggu kalian, Mama matikan telepon nya " sahut mama Zahra sedikit tertawa kecil karena terkejut.


" ah iya Ma "


tut.... tut.... tut....


panggilan pun terputus.


Barra tersenyum kegirangan sedangkan ponsel yang ia pegang baru saja berhasil Sheina rebut dari tangan nya dan ternyata panggilan di ponsel nya itu telah terputus.


" B A R R A " teriak Sheina merasakan kekesalannya yang sudah di ubun ubun.


Tangan kanannya langsung meraih bantal dan memukul kan nya ke arah Barra yang masih tertawa kegirangan karena merasa berhasil membuat Sheina malu.


" Dasar pria gila, siapa yang agresif heh bukan nya kau yang selalu mendekati ku memaksa ku sesukamu " ucapnya sambil terus memukul tubuh Barra dengan bantal.


" Shei hentikan apa yang kau lakukan "


" aku tidak mau rasakan ini.. rasakan ini... rasakan ini " Sheina terus memukul dengan bantal mengeluarkan rasa kekesalan pada Barra.

__ADS_1


Barra tak tinggal diam tangan berotot nya langsung menarik bantal di tangan Sheina membuat gadis itu sedikit tertarik karena kalah tenaga,


tubuhnya langsung terjatuh di atas tubuh Barra membuat keduanya saling terdiam sesaat, mata yang saling menatap satu sama lain, bibir yang seolah membisu seribu bahasa, dada yang terus berdetak kencang seolah keduanya sudah saling mendengar detak jantung masing masing.


__ADS_2