Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
will you marry me Dinda


__ADS_3

kemudian sekertaris Revan berniat menghentikan mobilnya, dan berniat menyusul langkah Adinda,


" Dinda tunggu Din "


Susah sekali meluluhkan hati gadis satu ini, aku memang benar benar di buat gila oleh cinta, Maaf tuan jika dulu aku sering menggerutuimu ternyata memang iya cinta bisa membuat kita seperti orang bodoh dan sekarang berpindah pada diriku gumam sekertaris Revan.


Sambil terus melangkah untuk menggapai tangan Adinda.


" Dinda " ucap sekertaris Revan setelah tangan nya berhasil menggapai tangan putih mulus itu.


" bukan kah aku sudah bilang aku tidak mau apa masih kurang jelas heh,... kau dan aku sudah tidak ada hubungan "


" DINDA " ucap sekertaris Revan dengan nada sedikit tinggi.


" teruslah berteriak aku tambah tau bahwa kau pria brengsek dan suka memaksa, aku benci dirimu sekertaris Revan "


" tarik kata katamu itu "


" bukan kah memang seperti itu "


" Dinda jangan buat aku untuk bertindak lebih "


" kau siapa memangnya, lepaskan tangan ku sakit "


tanpa babibubebo sekertaris tampan itu langsung memikul tubuh Adinda seperti karung beras.


" akkh.... " teriak Adinda.


" apa yang kau lakukan turun kan aku " ucap Adinda yang kini tubuhnya sudah menggelantung di pundak sekertaris Revan seperti sebuah karung beras.


" diam " jawab sekertaris Revan yang kini sudah emosi.


" dasar pria pemaksa " ucap Adinda sesekali jari jari lentiknya mencubit punggung sekertaris tampan itu.


" terserah kau saja, masuk ke dalam mobil jangan sampai kau keluar dari dalam sini mengerti " ucap sekertaris Revan yang kini sudah memasukkan tubuh Adinda ke dalam mobil bagian depan tepatnya di samping kursi kemudi.


kemudian sekertaris Revan mengitari mobil mewahnya tersebut dan kini mulai masuk ke dalam mobil nya.


" Dinda dengar aku "


Dinda diam tak berniat menjawab sambil dirinya yang kini tengah perlahan melepas sepatu heels nya di bawah sana.


" Dinda jawab aku "


" Dinda kenapa kau tak menghiraukan aku sih "


" hei.... "


" aw... essstt... " Dinda sedikit meringis kesakitan saat kakinya mencoba perlahan ia keluarkan dari dalam sepatu.


" kaki mu kenapa hem, sini aku akan melihatnya" ucap sekertaris Revan penuh perhatian.


" tidak usah " Adinda menepis tangan berotot itu.


" Dinda " ucap sekertaris Revan dengan penuh penekanan.


Kemudian Adinda membiarkan kakinya yang sudah lecet itu untuk di lihat sekertaris Revan.


Karena dari nada panggilan kepada dirinya itu, Dinda sudah mengerti bahwa ucapan sekertaris tampan itu tak membutuhkan penolakan.


Memang kaki Adinda sebenarnya lecet karena gadis cantik itu terlalu lama berjalan di jalan ber kerikil itu tadi.


perlahan sekertaris Revan melihat kaki mulus milik Adinda.


Astaga kakinya kenapa bisa semulus ini, bagaimana dalaman...... Revan hentikan pikiran mesum mu, lihat kaki pacar mu yang lecet itu bukan memandangi nya terus menerus gumam sekertaris Revan.


sambil sesekali menggeleng geleng kan kepalanya pelan seolah olah menepis pikiran mesum di dalam otaknya.


kemudian pandangan nya kembali tertuju pada kaki milik Adinda yang memang mengalami lecet lecet itu.


" Din kakimu lecet lecet seperti ini, itu karena kau tidak menurut padaku "


Dinda tak berniat menjawab kemudian berniat menurunkan kakinya dari tangan sekertaris tampan tersebut.

__ADS_1


" siapa yang menyuruhmu menurunkan kaki hah " ucap sekertaris Revan sangat serius.


kenapa jadi dia yang terlihat menyeramkan sih, padahal harusnya aku yang merasa kesal gumam Adinda.


" aku "


" kau mau jadi pembangkang ya "


" memangnya siapa kau, kita sudah putus, lepaskan kakiku "


" DINDA "


Adinda terlonjat kaget dengan ucapan sekertaris Revan dengan nada tingginya itu.


" seperti nya aku sudah salah memahami mu selama ini, lepaskan " ucap Adinda penuh kekecewaan ketika sekertaris tampan itu mengeluarkan nada tinggi pada dirinya.


sambil mencoba menarik kakinya dari tangan sekertaris Revan.


Tangan mulus nya mulai menggapai bukaan pintu mobil, ingin sekali dirinya keluar saat ini, dengan kedua matanya yang kini mulai berkaca kaca di sana.


" Dinda hei jangan tinggalkan aku " ucap sekertaris Revan kemudian langsung menarik tubuh Adinda kedalam pelukan nya.


" lepaskan aku "


" tidak, aku tidak akan melepaskan mu, Din maaf kan aku sebelum nya, beri aku waktu sebentar saja untuk menjelaskan, maaf kan aku yang terlalu mengkhawatirkan dirimu, sampai meneriaki segala tadi dengan nada tinggi ''


" sepertinya ucapan mu sudah tak berarti padaku, aku ingin kita sendiri sendiri saja mulai saat ini bukan kah itu sudah jelas "


" Dinda aku mohon, dengarkan sebentar saja, kalau kau tidak mendengarkan penjelasan ku, maka aku tidak akan melepaskan pelukan ini "


Kenapa jadi memberi ku pilihan segala, dia yang bersalah tetapi seolah olah diriku yang membuat kesalahannya, dasar kau memang pacar yang sedikit menyebalkan, emm...maksud ku mantan gumam Adinda.


" ya sudah lepaskan, aku akan mendengarkan penjelasan mu "


" janji "


" iya "


sekertaris Revan pun tersenyum kemudian perlahan melepaskan pelukan itu.


" dengarkan aku Dinda "


" ya cepatlah jelaskan lama sekali "


" Din kau terlihat menggemaskan jika cemberut seperti itu "


" tidak usah mengalihkan pembicaraan "


" hehehe.... siapa yang mengalihkan pembicaraan memang kenyataan seperti itu "


" sebenarnya kau ingin menjelaskan atau sekedar basa basi sih, atau sebaiknya aku keluar saja dari mobil "


" ah.... jangan jangan, ya baiklah aku akan menjelaskan "


" Din " panggil sekertaris Revan


" apa "


" Sebenarnya tadi di restoran aku berniat mengetes mu saja "


" kau tidak ada pekerjaan mengetes diriku segala hah " ucap Adinda yang kembali merasa sedikit kesal pada pria tampan di samping nya saat ini.


" dengarkan dulu Dinda sayang "


" jangan panggil sebutan itu kau, kenapa kau kekeh sekali sih "


" maaf... "


kau memang sedikit menyebalkan Din panggilan saja kau permasalahkan awas kau ya jika sudah.... batin sekertaris Revan


" sepertinya kau tak berniat menjelaskan "


" aku akan melanjutkan nya Din, sebenarnya tadi aku ingin mengetes mu dan ingin mendengar jawabanmu, meskipun seandainya jawaban mu mau melakukan itu bersamaku aku tidak akan melakukan nya Din meskipun kita saling memiliki perasaan yang sama, aku mencintai dirimu bukan karena aku menginginkan hal itu darimu Din,

__ADS_1


Dan maafkan aku juga karena nada tinggi ku tadi kepadamu,aku tak berniat seperti itu Din, aku hanya mengkhawatirkan dirimu itu saja maaf jika aku terlalu posesif padamu " jelas sekertaris Revan dengan ketulusan hatinya.


" iii... iya aku sudah memaafkan mu, lantas apa tujuan mu mengetes diriku segala "


" Aku.... emmmm......" ucap sekertaris Revan sedikit terhenti.


" sudah jika tak berniat menjelaskan tak apa , bukankah kita sudah putus bukan dan aku sudah memaafkan mu " ucap Adinda kemudian berniat membuka pintu mobil untuk bergegas keluar dari dalam sana.


Tapi langkah tangan nya terhenti ketika akan membuka pintu.


" will you marry me " ucap sekertaris Revan yang kini di tangan nya sudah memegang sebuah kotak cincin berwarna abu abu beludru yang kini terbuka memperlihatkan sebuah cincin berlian putih yang begitu sangat indah dan berkelas tentunya. πŸ’


sekejap Dinda mematung tubuhnya seperti membeku dengan perkataan sekertaris Revan yang berada di belakang tubuhnya.


Dan perlahan Dinda kembali duduk di kursi mobil yang sedari tadi ia duduki itu, dan di lihat di hadapan nya saat ini pria tampan yang sedari tadi beradu argumen dengan nya kini tengah memegang sebuah kotak cincin berlian tepat di hadapan nya.


Pandangan Adinda kini menatap kedua bola mata milik sekertaris Revan.


sesaat dirinya kembali terdiam entah pikiran nya travelling kemana saat ini.


Apa dia tadi berniat mengerjai ku,dia mengajakku menikah, sekertaris Revan apakah ini benar yang aku dengar... astaga aku seperti ingin berteriak sekencang kencang nya tapi itu tidak mungkin, aduh bagaimana cara menjawab nya, apa aku sedikit mengerjainya juga sedari tadi dia kan membuatku kesal, AHA.... aku punya ide gumam Adinda.


" will you marry me Dinda " ucap sekertaris Revan lagi.


" emm.....sebelum nya.... emmm.. " ucap Adinda yang ia buat sedikit seperti orang kebingungan.


" maaf aku tidak bisa " jawab Adinda seperti di buat lesu.


Mendengar jawaban Adinda sekertaris Revan seperti langsung runtuh ke jurang yang paling dalam sedalam dalam nya, mendapat penolakan dari gadis yang selama ini ia perjuangkan itu.


" Din.....apa benar itu jawaban dari bibirmu " ucap sekertaris Revan seperti seseorang seperti putus asa.


" iya, maaf " ucap nya lagi


hahaha.... dia sekarang yang merasa perih bukan, tetapi melihat nya seperti itu aku jadi tidak tega ya gumam Adinda dalam hati.


Dan perlahan sekertaris Revan menutup kotak cincin berlian itu, yang beberapa hari ini sudah ia siapkan untuk Dinda.


" heh.... " sekertaris tampan itu membuat nafas beratnya, sesekali sebelah tangan nya mengusap pelan ujung matanya karena sedikit basah.


Merasakan semuanya kenapa jadi seperti ini, padahal jauh jauh hati dirinya senyam senyum sendiri memandangi cincin pilihan nya itu yang sebentar lagi akan berada di jari manis milik Adinda.


Sedangkan Adinda sedikit melirik ke arah sekertaris Revan.


Apa... dia sedikit mengeluarkan air mata, apa dia begitu mencintaiku ya, ah aku jadi merasa bersalah, sepertinya aku harus melanjutkan jawabanku tadi padanya gumam Adinda


dengan sedikit mengembangkan senyum di bibirnya.


" maaf " ucap Adinda lagi


sekilas sekertaris Revan menoleh ke arah gadis yang ia cintai itu.


" maaf aku tidak bisa menolak mu " ucap Adinda seperti tak punya dosa.


sekertaris Revan seperti tak mencerna ucapan Adinda padahal dia jelas jelas mendengar perkataan gadis dua puluh tiga tahun itu dengan jelas.


" apa yang kau katakan tadi Din " ucap sekertaris Revan yang ingin mendengarkan perkataan Adinda lagi.


" maaf aku tidak bisa menolak mu sekertaris Revan " jawab Adinda memperjelas nya.


" Dinda kau... kau menerimaku, kau mau menikah dengan ku " ucap sekertaris Revan dengan raut wajah yang tak bisa di artikan karena dirinya terlalu bahagia saat ini.


Adinda langsung menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum menatap wajah tampan sekertaris Revan.


PERHATIAN.


BAB BAB SELANJUTNYA AUTHOR BUAT KHUSUS SEKERTARIS REVAN DAN ADINDA YA, KERENA BIMA DAN ZAHRA SUDAH MEMPUNYAI ANAK JADI ZAHRA DAN BIMA UDAH JARANG KELUARNYA DI BAB BAB SELANJUTNYA.


KARENA NANTI AUTHOR MAU BIKIN JUDUL BARU ANTARA ANAK TUAN BIMA DAN SEKERTARIS REVAN OK😊😊😊


JANGAN LUPA BACA NOVEL AKU LAINYA KAK :


- PERBUDAKAN KU BERAKHIR DI PELAMINAN ( on going)

__ADS_1


- DUNIAKU TAK SELEBAR DAUN KELOR ( karya masih baru banget, on going )


KAK JANGAN LUPA LIKE, VOTE, SAMA KOMENTAR NYA ☺☺😊😘😍😍, πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2