
18.00 wib.
tepatnya di kamar pribadi milik suami istri.
" sayang ayo ke lantai bawah semua nya sudah menunggu di sana, tukang make up juga menunggumu di sana " ucap Bima kepada sang istri.
" iya suamiku, kau jadi berisik sekali "
" sayang khusus hari ini aku memperbolehkan mu memakai make up "
" iya, ayo sekarang kita ke lantai bawah "
Bima kemudian langsung menggandeng tangan sang istri untuk segera keluar dari kamar pribadinya, setelah itu segera menuju lantai bawah tepatnya di ruang keluarga.
perlahan keduanya mulai menuruni anak tangga satu persatu.
dan sesaat kemudian kini keduanya telah sampai di lantai bawah dan menuju ruang keluarga.
Sedangkan di ruang keluarga kini anggota keluarga Sinaga telah berkumpul, begitu juga dengan Hendra yang baru beberapa jam pulang dari luar negri itu.
" Menantu mama sini sayang " panggil mama Alisya dari kejauhan.
" Zahra sini " panggil Hendra juga yang kini juga berada di ruang keluarga bersama mama Alisya dan juga papa Brandon.
" iya " jawab Zahra sambil tersenyum.
" ingat sayang, jangan terlalu dekat dengan Hendra aku cemburu " ucap Bima di sela sela langkahnya menuju ruang keluarga saat ini.
" hehehe... iya iya, suamiku " jawab Zahra sambil menoleh ke arah pria tampan yang saat ini tengah menggandeng tangan nya tersebut.
dan setelah lama melangkah kini keduanya telah sampai di ruang keluarga yang begitu luas.
" Za bagaimana kabarmu "
" baik Hen, kabarmu bagaimana "
" aku juga baik Za , emm....sebentar lagi aku punya keponakan, semoga saja mirip kamu ya Za kalau mirip kakak pasti sifatnya kayak kakak dingin seperti es batu "
" hehehe.... kau ini Hen ada ada saja "
" Hendra "
" hehehe... iya kak maaf, aku hanya bercanda, apa kau tidak merindukan adik laki-laki mu satu satunya ini hah "
" sedikit "
" heh... dari dulu begitu saja, padahal di dalam hati kau sangat merindukan ku kan "
" tidak "
'' hah.. alasan, oh iya kak terimakasih atas semua yang kau lakukan untukku di sana dan semua fasilitas yang kau berikan padaku "
" iya belajar yang rajin di sana, dan kelola perusahaan milik papa dengan benar, karena kau yang akan meneruskan nya dan harus membuat perusahaan itu menjadi berkembang pesat iya kan pa "
" iya benar yang di katakan kakak kamu Hen "
" ya pa tenang saja "
" kakak seandainya aku berhasil membuat perusahaan papa di sana berkembang pesat bagaimana, kau akan menghadiahkan aku apa heh "
'' terserah kau saja, apa yang kau inginkan akan ku turuti "
__ADS_1
" emm,... berikan aku hadiah mobil sport pengeluaran terbaru bagaimana "
" apa tidak kurang "
" hah... kakak kenapa kau songong sekali, karena ada Zahra ya "
" hehehe... kau ini, tanyakan saja padanya, aku selalu menyuruhnya menghabiskan uangku untuk membeli apapun yang ia mau, tetapi dia selalu menolaknya bahkan black card yang aku berikan saja tak pernah ia sentuhnya "
" hehehe.... memang iya Za "
" ii.. iya hehehe.. "
" kau ini bagaimana Za uang milik kakak tidak akan habis meskipun kau habiskan di dalam satu kartu black card milik kakak yang di berikan padamu "
" hehehe... aku tidak menginginkan apa apa Hen, dan aku juga tidak hobi menghabiskan uang "
" Za... Za.. "
" kakak kau tepat sekali memiliki istri seperti Zahra yang polos itu, pantas saja mama sangat menyayangi menantunya " ucap Hendra kepada Bima kemudian pandangan nya beralih menatap sang mama.
" Iya dong pilihan mama, iya kan sayang " jawab mama Alisya kepada Hendra kemudian beralih menatap ke arah Zahra.
" Hehehe... iya ma " jawab Zahra yang sedikit cengengesan karena dirinya merasakan malu atas perkataan Hendra.
sedangkan lainnya ikut tersenyum mendengarkan perdebatan kecil antara ibu anak dan menantunya tersebut.
" ya sudah sekarang semua laki-laki bersiap di kamar masing masing, mama dan Zahra akan segera di rias secantik mungkin ia kan sayang "
" ii.. ii. iya ma "
" iya iya ma kita semua akan kembali ke kamar masing masing kami juga kan ingin terlihat tampan iya kan anak anak papa ''
sahut papa Brandon yang tak mau kalah itu kemudian sambil beralih memandangi kedua putranya yang tampan itu.
berbeda dengan Bima yang hanya menggeleng geleng kan kepalanya pelan itu, saat melihat tingkah antara lelaki keduanya yang tak lain adalah papa dan adiknya Hendra,
dan ketiganya pun kini bergegas ke kamarnya masing-masing untuk segera memakai setelan jas yang sudah kirimkan oleh para desainer profesional langganannya tersebut.
sedangkan mama Alisya dan dan Zahra kini tengah di make up secantik mungkin oleh para make up artis profesional yang juga langganan ma Alisya selama ini.
" rias menantu saya secantik mungkin ya "
" ya nyonya Alisya pasti, karena memang menantu anda sebenarnya sudah sangat cantik dari sananya nyonya dan juga sangat muda, terlihat serasi sekali dengan tuan Bima "
" terima kasih kak " ucap Zahra sambil tersenyum.
dan mama Alisya pun ikut tersenyum kepada penata rias tersebut dan juga Zahra menantu kesayangannya.
berbeda di tempat lain.
tepatnya di apartemen milik sekertaris Revan.
" rias dia secantik mungkin kau mengerti, dan ya satu lagi pakaikan dia gaun pas untuknya jangan terlalu terbuka aku tidak suka "
" baik tuan kalau begitu "
dan kini Adinda pun mulai di rias oleh para perias profesional itu di dalam kamarnya,
sedangkan sekertaris Revan kini juga segera menuju kamarnya untuk memakai setelan jas yang baru saja di kirimkan oleh desainer langganan nya yang juga sebenarnya langganan keluarga Sinaga juga.
beberapa saat kemudian sekertaris Revan telah keluar dengan setelah jas biru dongker nya itu dengan tatanan rambut yang begitu rapi terlihat sangat tampan, dan juga terlihat gagah di lihat nya saat ini.
__ADS_1
maklum lah sekertaris Revan kan sebelas dua belas belas dari atasannya yang memiliki ketampanan di atas rata rata itu, dan juga memiliki sejuta kharisma yang tak pernah luntur di lihat para wanita.
Kini sekertaris tampan itu menunggu rekan barunya alias Adinda yang masih belum selesai di otak ati oleh penata busana dan perias profesional nya itu di dalam sana.
sesaat kemudian.
" tuan sudah selesai "
ucap kedua wanita penata busana sekaligus perias profesional yang di datangkan langsung ke apartemen nya itu.
perlahan Adinda keluar dengan balutan gaun berwarna yang juga senada dengannya yaitu berwarna biru dongker yang terkesan sangat mewah dan berkelas sesuai keinginannya itu.
Di lihatnya gadis dua puluh tiga tahun itu kini sangat cantik, dengan gaun biru dongker yang saat ini ia kenakan seperti menonjolkan kulit putihnya yang terlihat sangat mulus,
kemudian anting permata dengan model yang simpel di kenakan dinda beserta rambut yang juga di ikatnya kebelakang tapi tidak tinggi ke atas melainkan di ikat bagian bawah yang sedikit di semprotkan hanspre agar tertata rapi.
Dinda terlihat seperti wanita yang sangat berkelas dan juga pas dengan jabatannya saat ini di perusahaan milik Bima yaitu sebagai rekan kerja dari tangan kanan pemilik SINAGA.GROUP.
sejenak sekertaris Revan terdiam sambil melihat penampilan Adinda yang menurut sangat cantik itu, seperti bukan Adinda yang seperti biasanya.
Din kau... sial kenapa dia terlihat sangat cantik sekali sih, seperti ingin mengalahkan kecantikan nona Zahra saja gumam sekertaris Revan dalam hati.
sekertaris Revan bergumam sambil kedua matanya tak berkedip sama sekali saat ini.
" tuan " panggil salah satu wanita dari perias profesional itu kepada sekertaris Revan.
" hei tuan " panggilnya lagi ketika mendapati lelaki tampan di hadapan nya saat ini tak berkedip melihat gadis yang baru saja di rias nya itu.
" ah... ya " jawab sekertaris Revan kemudian.
" kami permisi tuan " ucap kedua wanita yang di datangkan langsung ke apartemen nya itu.
" ya.. kerja kalian bagus, dan sebentar lagi aku akan mentransfer ke rekening kalian " jelas sekertaris Revan kepada ke-dua nya.
" ya tuan terima kasih "
" hem "
dan kedua wanita itu pun segera bergegas keluar dari apartemen sekertaris Revan.
dan saat ini hanya tinggal dirinya dan Adinda yang masih saja mematung di tempatnya tadi berdiri.
" Din ayo pergi kenapa kau masih berdiri di situ" panggil sekertaris Revan kepada Adinda.
" tuan " ucap Adinda.
" apalagi " tanya sekertaris Revan
" apa aku terlihat cantik " tanya Adinda.
" memangnya kenapa "
" aku... aku takut membuat mu malu di sana tuan "
" astaga Dinda,... kau tau kau terlihat sangat cantik malam ini "
" benarkah " jawab Adinda begitu sangat bahagia.
" iya " sahut sekertaris Revan yang membuat hati Adinda bertambah lega.
" ya sudah ayo kita berangkat " ucap Adinda kemudian
__ADS_1
" hah.. dasar kau ini " jawab sekertaris Revan kemudian.