
" ayo sayang kita pergi " ucap Bima kepada Zahra dengan senyuman lembut, dan juga satu tangan nya yang masih menempel di pinggang Zahra secara posesif itu.
sedangkan Zahra mengangguk i nya dengan senyuman sebagai balasan ucapan kepada suaminya itu, dan setelah itu keduanya melangkahkan kakinya berniat pergi meninggalkan ketiga gadis tidak punya akhlak tersebut, setelah baru beberapa saat melangkah kini dirinya berhenti, kemudian menoleh kebelakang.
" dan satu lagi, aku bukan kakakmu, jadi jangan panggil aku kakak, dasar bocah tengik " ucap Bima kemudian meninggalkan ketiga gadis yang ketakutan itu yang mulai berjingkrak jingkrak di sana.
sedangkan orang-orang yang sedari tadi berada di sekitar meja makan tempat Fara dan Bima makan itu pun kini mulai sibuk berbisik bisik dengan pikirannya masing-masing.
oh jadi itu pengusaha muda sukses yang tampan itu, benar-benar sangat tampan.
iya benar aslinya memang tampan sekali, pantas saja istrinya sangat cantik ya.
iya iya aku baru kali ini melihatnya secara langsung.
lihat tiga gadis ini memang benar-benar tidak punya akhlak, seperti gadis tidak berpendidikan saja.
jadi ini putri dari pemilik Soraya group dan lihat saja nanti SORAYA group, akan bangkrut dalam sekejap.
begitu lah kira kira bisik bisik orang orang yang berada di sekitar meja makan yang tadi di tempati oleh kedua pasang suami istri itu, yang saat ini masih terdengar jelas di telinga tiga gadis yang mulai jingkrak jingkrak ketakutan itu.
sedangkan Bima dan Zahra langsung melanjutkan langkahnya meninggalkan restoran mewah di pinggir pantai tersebut.
beberapa saat kemudian.
keduanya sudah memasuki mobil sport hitam milik Bima.
dan kini keduanya diam, kemudian Zahra memutar tubuhnya menghadap ke arah suaminya yang masih terdiam itu.
Zahra tau kalau suaminya masih kesal atas kejadian tadi di restoran itu, dan sekarang dirinya yang mulai akan mencairkan suasana itu.
" sayang, tatap aku " ucap Zahra kepada suaminya,
kemudian perlahan Bima mulai menatap kedua bola mata milik istrinya itu.
" sayang terimakasih kau telah membelaku di sana, dan mengakui ki di depan mereka "
" Zahra, kenapa kau diam saja ketika mereka menjahati mu sayang, bahkan gadis itu mau menamparmu "
ucap Bima yang mulai mengelus rambut istrinya itu dari samping dan memandangi wajah Zahra penuh dengan kasih kasang.
" sayang aku tau kau akan datang menyelamatkanku di saat keadaan yang seperti tadi, dan aku tau kau akan melindungiku dari mereka "
ucapnya Zahra dengan begitu yakinnya sambil menatap Bima dan tersenyum.
" Zahra kau tau aku tidak rela jika ada satu saja orang saja menghinamu bahkan sampai di depanku, dan aku akan menghancurkan sekejap "
__ADS_1
" iya aku tau sayang kalau kau akan selalu melindungiku, tetapi jangan berlebihan sayang itu tidak baik "
" Zahra kenapa kau membela orang-orang yang jahat padamu heh, sedangkan aku ingin melindungi mu "
" iya aku tau sayang, begini saja seandainya kau menarik semua saham-saham mu di perusahaan ayah Erina seperti tadi yang kau bicarakan kepada sekertaris Revan di telfon, pasti perusahaan ayahnya akan bangkrut, dan apa kau tidak memikirkannya, akan ada banyak karyawan di perusahaan milik ayah Erina yang menjadi pengangguran sedangkan mereka memiliki keluarga yang harus mereka nafkahi sayang mereka memiliki istri dan anak, dan di dalam masalah ini aku tidak berniat membela Erina sayang "
sedangkan Bima yang mendengar kan penjelasan istrinya itu langsung terdiam.
kenapa pemikiran Zahra bisa sampai situ, sedangkan aku saja tak sampai situ memikirkan hal yang sangat sepele menurutku, tetapi Zahra mengatakan itu semua dengan memakai hati, yang sangat logis dan masuk di akal, apa memang pikiran nya sebaik itu dan selembut itu hatimu wahai istri ku Zahra, sungguh tepat aku memilih mu menjadi istri ku Zahra gumam Bima dalam hati.
" sayang kenapa kau baik sekali hah, aku saja tidak sampai situ memikirkan perusahaan orang "
" maka dari itu, pikirkanlah mulai sekarang suamiku "
" Zahra aku beruntung sekali memilki istri seperti dirimu sayang "
" aku juga sayang "
ucap Zahra sambil mencubit hidung suaminya gemas, kemudian Zahra kembali terdiam dan memandang intens kedua bola mata milik Bima.
" I love you my cold husband ( aku mencintaimu suami dinginku) "
ucap Zahra lagi kepada Bima suaminya sambil mengembangkan senyuman nya.
" I love you too my most adorable wife ( aku juga mencintaimu istriku yang paling menggemaskan) "
kedua sejoli itu kini saling pandang dan tatapan mereka bertemu, kemudian keduanya saling mendekat dan memejamkan mata, setelah itu terjadilah ciuman yang berdurasi sangat lama di dalam mobil sport hitam itu dengan kaca mobil yang tidak tembus pandang dari luar, keduanya saling menautkan bibir masing-masing.
beberapa saat kemudian
ciuman itu di lepas oleh keduanya karena sedikit merasa kehabisan nafas.
kedua pasangan sejoli itu kemudian saling mengelap bibir pasangannya masing-masing karena sedikit basah di sana, dengan kedua mata yang saling menatap penuh gairah dan setelah itu Bima mulai mendekat lagi ke arah Zahra, tetapi Zahra menghentikannya.
" eittsss.... di sini tempat umum sayang, kita lanjutkan di mansion saja "
Bima terkekeh sedikit sambil tersenyum, baru saja dirinya terbawa suasana yang panas dan membuat di bawah sana meronta ronta ingin keluarkan, tetapi istrinya menghentikan nya.
" ya sudah ayo kita pulang tuan putri ku " ucap Bima sambil mengacak-acak pelan rambut istrinya itu.
setelah itu Bima mulai mengambil kunci mobil di dalam saku celananya kemudian langsung memasangkan di tempat nya, dan mulai menghidupkan mesin mobil sport hitamnya itu.
kemudian Bima sekilas melihat ke arah istrinya.
" sayang pakai sabuk pengamanannya " ucap Bima
__ADS_1
" iya sebentar suamiku "
" biar aku saja yang memasangkannya "
" iya silahkan tuan " ucap Zahra yang berniat mengajak suaminya bercanda itu.
" iya nona Zahra " jawab Bima membuat istrinya mengulum senyuman di bibir tipisnya itu.
sesaat kemudian
" sudah selesai sayang "
ahhh...
desah Zahra
" sayang apa yang kau lakukan, itu sakit " ucap Zahra yang merasakan sedikit sakit akibat kelakuan Bima yang tiba tiba meremas benda kenyal miliknya itu.
" maaf sayang, tanganku terlalu gemas melihatnya, dan kau juga kenapa mengeluarkan ******* seperti itu sayang, aku tidak tahan mendengar nya " jawab Bima yang seperti tidak ada apa apa itu.
" sayang itu bukan *******, itu karena aku kaget dan merasakan sedikit sakit karena ulah mu itu " jelas Zahra kepada suaminya.
" sayang itu *******, kau ini bagaimana sih " ucap Bima tidak mau kalah.
" bukan sayang, itu bukan ******* " jawab Zahra lagi yang tetap kekeh.
" iya sayang itu ******* " sahut Bima yang memang di dengarnya itu sebuah ******* dari bibir Zahra istrinya.
" bukan " ucap Zahra
" iya " sahut Bima
" bukan "
" iya "
" terserah kau saja " ucap Zahra yang merasa lelah meladeni suaminya itu.
" hahaha.. istriku marah ya, ya baiklah itu bukan ******* sayang, maaf "
jelas Bima sambil menoleh ke arah istrinya.
" hey... Zahra menghadap kepadaku, jika aku sedang berbicara " ucap Bima lagi tetapi penuh penekanan.
" hem... sedari tadi bilang seperti itu kan enak "
__ADS_1
jawab Zahra seperti sudah menang tetapi raut wajahnya sedikit di buat cemberut, karena merasa kesal pada suaminya saat ini.
sedangkan di dalam hati Bima saat ini sudah merasa tak tahan menahan tawanya saat ini atas tingkah istrinya itu, karena Bima melihat istrinya itu seperti tidak mau kalah sedikitpun padahal itu jelas jelas memang sebuah ******* yang keluar dari bibir tipisnya itu.