
Siang menjelang.
Sheina baru saja keluar dari dalam kamar mandi, dengan kedua mata nya yang sedikit sembab mungkin karena ia terlalu lama menangis di dalam sana.
Gadis yang kini terlihat sedikit pucat itu mulai meraih jaket untuk menutupi lengan nya yang memar kemudian juga meraih tas kecil di atas meja rias,
tak lupa ia sedikit memoles wajahnya yang pucat itu dengan make up agar tak ada yang mencurigai nya.
Dirinya segera menuju lantai bawah, siang ini Sheina berniat akan pergi ke rumah sakit memeriksakan tentang kondisinya yang semakin hari tubuhnya tambah rentan akan semua hal.
" Bibi bersihkan pecahan vas bunga di kamar ku ya tadi aku tidak sengaja menjatuhkan nya" perintah Sheina kepada kepala pelayan alias Bi Ana.
Yang tengah berpapasan dengan langkah nya di anak tangga menuju kamar nya itu.
" tapi nona tidak kenapa kenapa kan non " tanya Bi Ana dengan raut wajah sangat khawatir.
" tidak Bibi tenang saja " Sheina meyakinkan.
" Syukur lah Bibi jadi lega non, Bibi baru saja mau ke kamar nona mengambil piring kotor "
" ya sudah sana lanjutkan "
" iya non baik, tapi maaf non sebelum nya nona mau kemana kok pakai jaket segala nona tidak enak badan "
" ah ini Bi Sheina mau belikan sesuatu untuk Barra tapi jangan bilang bilang siapa siapa , masalah jaket Sheina cuma pengen aja sudah lama tidak Sheina pakai, lagian cuaca panas juga kan Bi "
" oh gitu ya non hati hati ya "
" iya Bi, etss... Bibi bilang saja kalau Sheina pergi ke mall ingin belanja mengerti kan Bi "
" iya non Baik " sahut Bi Ana sambil mengacungkan jari jempol nya.
Membuat Sheina tersenyum seketika begitu juga Bi Ana.
Setelah itu ia segera melanjutkan langkah nya untuk menuju garasi super luas nya di sana , kali ini dirinya akan pergi sendirian supaya tak membuat sopir alias Pak Anto curiga pada nya ketika tempat yang Sheina tuju adalah rumah sakit.
*
Di garasi.
Pak Anto mulai mendekati sang majikan yang menuju ke arah nya itu, jarang sekali nona nya tersebut sampai masuk ke dalam sana.
Tumben sekali nona Sheina sampai masuk ke dalam garasi, bahkan baru kali ini gumam Pak Anto.
" Nona ada yang bisa saya bantu " tanya Pak Anto.
" Pak berikan saya kunci mobil yang merah " pinta Sheina.
" non maaf sebelumnya, tuan tidak memperbolehkan jika anda keluar sendirian harus dengan saya non karena tuan takut jika terjadi apa apa pada nona " jelas Pak Anto.
Sheina tersenyum sambil geleng geleng kepala seolah ia ingin terlihat natural atas rencana nya itu.
" Pak Anto tenang saja, saya hanya sebentar sebaiknya bapak berikan kuncinya dan tanyakan semua pada Bi Anda dan Pak Anto akan langsung mengerti " jelas nya dengan raut wajah yang terlihat santai agar tak menimbulkan kecurian sedikit pun.
" Benar non " jawab Pak Anto yang masih tak yakin.
" sudah sana cepat tanyakan Bi Ana "
" ya sudah kalau begitu ini kunci nya hati hati ya non "
" ya Pak tenang " sahut Sheina.
__ADS_1
Dengan segera ia masuk ke dalam ferari merah nya dan mulai menancapkan pedal gas nya meninggalkan area mansion besar nya tersebut.
*
Di lain tempat.
Tepatnya di ruang CEO Sinaga. group, pria tampan kini tengah terlihat senyum senyum sendiri tak jelas sambil menatap ke arah dinding kaca tebal bening di samping meja kerja nya.
Ia tersenyum mengingat kejadian kemarin malam, sebuah malam panjang bersama sang istri kesayangan nya itu.
Senyum nya mulai memudar ketika pikiran nya beralih ingin menghubungi sang istri,
Barra mulai menghubungi nomor ponsel Sheina.
Tetapi tak sedikit pun yang di angkat nya, Barra kembali beralih menghubungi nomor
telepon tapi kali ini nomor telepon mansion,
Karena untuk memastikan keadaan wanita yang ia cintai nya itu dalam keadaan baik baik saja saat ini.
Panggilan terhubung.
" halo "
" halo tuan " sahut Bi Ana dari sebrang sana.
" dimana istri ku Bi "
" Em... nona.. em... nona sedang tidur siang tuan katanya tubuh nya terasa lelah "
" benarkah yang katakan itu " sahut Barra sedikit ragu dengan jawaban Bi Ana yang sedikit terbatas bata.
" ii... iya tuan benar " kembali terbata bata.
Tetapi kali ini bibir nya mengiyakan meskipun suara Bi Ana masih terdengar terbata bata dari sebrang sana, yang jadi intinya saat ini dari penjelasan Bi Ana adalah istri kesayangan nya itu tengah tertidur pulas membuat hatinya seketika langsung lega.
Seutas senyuman mengembang dari kedua sudut bibir nya.
Pasti dia merasa kelelahan karena bercinta dengan ku tadi malam pikiran Barra saat ini.
Panggilan pun terputus.
Barra kembali memasukkan ponsel nya ke dalam saku.
Kemudian segera bergegas menuju ruang rapat karena sebentar lagi ada rapat yang begitu sangat penting bagi perusahaan.
*
*
Di sebuah restoran.
Sheina tengah duduk di sebuah kursi meja setelah tadi dirinya dari rumah sakit dan mall untuk membeli beberapa sesuatu di sana.
tak lama kemudian di susul oleh seorang pria yang mulai duduk di kursi tepat berhadapan dengan nya.
Singkat cerita Sheina tengah berada di mall memilih sesuatu barang di sana, tak ia sadari mobil nya sedari tadi yang baru keluar dari area rumah sakit teryata di ikuti oleh mobil milik Earth di belakang sampai menuju mall, Earth memberanikan diri untuk menemui Sheina dan akhirnya Sheina memutuskan untuk melanjutkan obrolan nya di restoran karena Sheina tak mau ambil resiko kalau tau anak buah sang suami akan menimbulkan hal yang fatal.
Kembali ke restoran.
Pria itu memulai obrolan sambil menatap intens wajah Sheina yang kini terlihat sangat pucat.
__ADS_1
" Ada apa dengan dirimu, seperti nya ada sesuatu hal yang kau sembunyikan Shei " ucap pria itu yang tak lain adalah Earth.
" Emm... ya kau benar kak Earth aku memang menyembunyikan sesuatu " jawab Sheina sesekali menundukkan kepala.
" apa itu, kau bisa cerita padaku... ya meskipun aku hanya masalalu mu saja tetapi aku sudah menyadari itu semua Sheina, anggap saja aku teman curhat mu bagaimana" jelas pria blasteran tampan tersebut.
Sheina tersenyum mendengar jawaban Earth, ia tahu memang sedari dulu Earth adalah seorang pria baik baik.
" Terima kasih kak " sahutnya.
" ya... ya.. ya, katakan lah apa yang kau sembunyikan apa itu sebuah masalah aku akan mencoba membantumu "
" bukan kak " sahut Sheina lagi lagi kembali menundukkan kepala nya
" lalu " Earth seolah di buat penasaran.
" Aku.. aku..." mulai mendongakkan kepala.
" aku mengidap sebuah penyakit " tutur Sheina
" penyakit " Earth seolah meyakinkan dengan kening yang sedikit mengkerut.
Sheina mengangguk pelan.
" hem, penyakit "
" penyakit apa " tanya Earth yang di buat terkejut seketika.
" leukimia " nada pelan.
" A P A " mulut Earth sampai menganga karena saking terkejutnya.
" kau serius Shei, lalu bagaimana keluarga besar mu "
" mereka tak ada satu pun yang mengetahui nya kak "
" Barra "
" ya dia juga tak mengetahuinya, aku merahasiakannya semua ini darinya "
" Sheina apa yang kau lakukan ini demi nyawamu sendiri "
" kak aku mengerti maksud mu, tetapi meskipun aku memberi tahu mereka semua itu percuma aku hanya akan membuat mereka bersedih sedangkan penyakit ku semakin hari semakin memburuk "
" tapi Shei "
" kak aku mohon, dan juga jangan katakan ini pada jessy meskipun dia sedang berada di luar negeri "
" Shei apa yang lakukan kau pasti bisa sembuh " kekeh Earth.
" kakak tidak akan, percayalah aku mohon padamu " sahut Sheina sambil menyatuh kan kedua telapak tangan nya di depan dada seolah memohon.
" tap... tap... tapi.... "
" kak "
" ya baiklah " sahut Earth terpaksa mengiyakan
meskipun di dalam hatinya begitu terasa berat.
Sedangkan Sheina tersenyum mendengar nya.
__ADS_1
Keduanya terus mengobrol entah apa yang mereka bicarakan selanjutnya, tanpa mereka sadari seseorang dari sudut kejauhan yang berbeda tengah merekam keduanya yang sibuk mengobrol.