Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
Detak jantung Adinda


__ADS_3

Perlahan semua dokter kini mulai menunduk kemudian melepas satu persatu alat medis yang menempel di tubuhnya.


Ruangan yang serba putih itu akhirnya mulai terbuka ruang yang selalu membuat seseorang dag dig dug.


Satu persatu dokter mulai keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada seseorang yang begitu penting nomor dua setelah Bima ya itu adalah sekertaris Revan.


Sedangkan dokter Toni satu satunya dokter terakhir yang keluar dari ruangan tersebut dengan pandangannya tertunduk seperti raut wajah tak bisa di artikan lagi saat ini.


" Dokter Toni bagaimana keadaan istri ku cepat katakan, kenapa semua dokter hanya diam dan melewati ku saja tanpa mengatakan apapun " tanya Revan dengan pikiran yang sudah kemana mana saat ini.


" Sekertaris Revan maaf " ucap dokter Toni terlihat wajahnya sangat lesu.


" maaf katamu, aku tak ingin mendengar kata maaf mu Ton, aku tanya bagaimana keadaan istri ku " jelas Revan yang merasa tak terima dengan keadaan.


" aku....aku...tak bisa " ucap dokter Toni terbata bata kemudian kembali menundukkan kepalanya pelan.


" jangan katakan itu, sembuhkan istriku dia baik baik saja bukan "


" sekertaris Revan maaf, aku tak bisa menyelamatkan istrimu "


" tidak... tidak mungkin Ton, kau gila hah aku akan bilang pada tuan Bima agar memotong gaji mu kalau kau tak becus bekerja bukankah kau takut iya kan, jadi cepat selamat istri "


" Sekertaris Revan aku tak bercanda " ucap Toni dengan keseriusan.


" kau pikir aku bercanda hah...aku baru saja menikah tak mungkin dia meninggalkan ku " ucap Revan yang kini mulai mencengkram kemeja milik dokter Toni seolah dirinya tak terima dengan apa yang di katakan dokter berparas tampan tersebut.


" sekali lagi maaf Van, aku tak bisa menyelamatkan istri mu aku hanya perantara nya saja " jelas Toni yang lagi lagi kembali menundukkan kepalanya.


Dengan segera sekertaris Revan mulai melepaskan cengkraman tangan nya pada kemeja putih milik dokter Toni.


Kemudian segera bergegas masuk untuk melihat tubuh Adinda yang masih tergeletak di ranjang dengan keadaan sudah pucat pasih tubuh nya terasa sangat dingin dan mulai memutih.


Sayang bangun...jangan tinggalkan aku sendirian bukan kah kau juga sangat mencintai ku, dan aku juga sangat mencintai mu, aku mohon Dinda bangun lah ucap Revan begitu terdengar pilu saat ini.


Sambil dirinya yang terus memeluk tubuh Adinda yang sudah tak bergerak di atas sana.


.....D I N D A......


teriak Revan seolah olah sudah tak memperdulikan ruangan sekitar.


Revan begitu histeris Isak tangis nya kini mulai terdengar tak karuan dari luar ruangan serba putih itu.


Sedangkan dokter Toni yang masih berada di luar ruangan tersebut kini kembali masuk menemui Revan di dalam sana yang masih setia memeluk tubuh sang istri di dalam sana.


" Revan bersabar lah ini rencana yang di atas " ucap Toni sambil memegang pundak Sekertaris tampan sekaligus orang terdekat tuan nya itu.

__ADS_1


" Periksa dia lagi Toni aku mohon " ucap Revan kemudian melepaskan pelukan nya pada tubuh Adinda, yang kini beralih menatap dokter Toni penuh harap.


" Van tapi istrimu telah tiada, aku tak bisa apa apa " jawab nya.


" tidak.. tidak.. tidak mungkin, aku bilang cepat lakukan istriku masih hidup " ucap Revan yang lagi lagi tak percaya akan kenyataan di hadapannya saat ini


" tapi Van "


" CEPAT AKU BILANG, aku yakin dia masih hidup " teriak Revan pada dokter Toni yang langsung membuat nyali dokter tersebut langsung menciut.


" ii...iii... iya baiklah " jawab Toni sedikit terbatas.


Atasan dan bawahan sama sama menakutkan, hah.. maaf Van aku tak sengaja mengatai mu kau sih menakutkan sebenarnya aku juga sangat kasihan padamu gumam dokter Toni.


Dengan segera dokter Toni kembali memakai peralatan medisnya sambil memasang di tubuh Adinda mencoba sekali lagi menggosok gosokkan alat medis yang seperti setrika itu kemudian menempelkan pada dada Adinda, untuk memancing detak jantung yang memang sudah tak berdetak mungkin bisa di bilang untuk selamanya.


Sesaat setelah dokter Toni menempelkan alat medis nya pada dada Adinda.


JEDEG.... DEG.... DEG...


tak ada respon


Dokter Toni menggelengkan pelan kepalanya tapi tak bersuara menatap Revan.


Sedangkan Revan mengisyaratkan kembali untuk mencoba nya satu kali lagi kepada dokter tampan tersebut agar kembali mencobanya.


JEDEG... DEG... DEG...


tetap tak ada respon.


Sekertaris Revan kini seperti seolah benar-benar runtuh ke dalam jurang yang paling dalam, seolah dirinya kehilangan segalanya ketika mendapati sang istri memang benar benar sudah tiada.


Dirinya kembali memeluk tubuh gadis yang sudah tak bernyawa itu.


...D I N D A...


teriak nya dengan nada suara yang sudah menggema di seluruh ruangan serba putih tersebut.


Sedangkan dokter Toni yang melihat keadaan sekertaris Revan yang terlihat begitu sangat menyedihkan saat ini, dirinya berniat kembali mengambil alat medis nya mencoba menggosok gosok kan alat medis tersebut kemudian menempelkan alat seperti setrika itu pada dada Adinda.


" Minggir Van " ucap nya pada Revan penuh harap.


Pria tampan itu langsung menyingkir dari tubuh Adinda dengan kedua matanya yang sudah terlihat memerah dan sembab karena terlalu lama menangis.


JEDEG...DEG... DEG...

__ADS_1


Tak ada respon.


Dokter tampan itu kembali menggosokkan kembali alat medis nya dan ini usahanya yang memang benar benar terakhir kali.


JEDEG... DEG... DEG.....


S e s a a t....


Layar tipis yang berada di samping ranjang yang di tiduri Adinda bagaikan TV tabung kecil itu tiba tiba berbunyi, dengan menampilkan sebuah garis yang tadi nya lurus kini mulai bergaris zigzag, tanda bahwa jantung Adinda kini tiba tiba kembali berdetak meskipun masih sangat lemah.


....tit... tiiit... tiitt...tit.. tit...tit....


Bunyi bip di layar monitor.


Dengan segera dokter Toni langsung gembira bisa menyelamatkan satu nyawa.


" Revan istri mu Van, jantung nya kembali berdetak" ucap dokter Toni seperti seolah-olah tak percaya dengan keajaiban di depan matanya.


" Terima kasih Toni, Terima kasih " jawab Revan tiba tiba dengan raut wajah yang begitu terlihat sangat bahagia seperti tak bisa di ungkapan dengan kata kata.


" Dinda kau kembali untukku " ucap Revan sambil menatap wajah Adinda dengan dirinya yang kini kembali mendekap tubuh lemah tak berdaya itu.


" yang di atas masih mentakdirkan dirimu dengan nya Van,dan semua ini adalah keajaiban " ucap dokter Toni.


" ii... ii.. iya Ton kau benar , terima kasih banyak ini semua juga karena dirimu '' jawab Revan yang kini mulai menggenggam tangan sang istri begitu sangat erat.


" baiklah kalau begitu sebentar lagi istri mu akan di pindah ke ruang pasien, aku pamit pulang duluan " ucap dokter Toni yang baru saja selesai menaruh semua alat medis nya.


" ya baiklah,...sebelum nya terima kasih banyak" ucap Revan sungguh sungguh.


" ya sama sama " jawab dokter Toni


kemudian dokter tersebut melangkah ke arah Revan.


" Jaga istri mu baik baik " ucap Toni sambil menepuk pelan pundak pria tampan di samping nya itu.


" ya aku akan menjaganya baik baik " jawab Revan mantap.


Kini dokter Toni pun bergegas keluar dari dalam ruangan serba putih itu dengan hati yang begitu lega dan bahagia karena bisa memperjuangkan satu nyawa yaitu Adinda.


ASSALAMUALAIKUM KAK UDAH TERJAWAB YA ADINDA NYA MASIH HIDUP, MUNGKIN MULAI BESOK AUTHOR SEMENTARA TAK BISA NAMBAH BAB DULU KARENA NUANSA IDUL FITRI.


AUTHOR MINTA MAAF SEBELUMNYA JIKA BANYAK SALAH, MAAFKAN AUTHOR JIKA DARI AWAL KARYA AUTHOR BANYAK KATA YANG KE ULANG DAN BERTELE-TELE KARENA INI KARYA AUTHOR YANG PERTAMA,


DAN AUTHOR INSYAALLAH AKAN BERUSAHA ME REVISI SEMUANYA DARI AWAL DAN MAAF JIKA MERASA BOSAN BACANYA.

__ADS_1


MINAL AIDIN WALFAIDZIN SEMUANYA. 😍😍🙏🙏🙏


__ADS_2