Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
bingung ingin menjelaskan


__ADS_3

Satu bulan berlalu.


Hubungan Sheina dan Barra semakin membaik keduanya kini saling terbuka satu sama lain, Sheina sudah tak malu malu lagi dalam hal berciuman begitu juga Barra yang sudah seperti budak cinta karena rasa sayang nya pada Sheina.


Ya Barra dan Sheina kini sudah tak lagi tinggal di apartemen mewah nya, melainkan keduanya kini sudah pindah ke mansion besar pemberian dari papa Bima sebagai hadiah perkawinan nya dulu,


karena keduanya sudah saling mencintai dan sudah di anggap siap untuk memberi kan cucu untuk kedua keluarga mereka tentunya.


Sheina kini lebih sering menghabiskan waktunya di dapur bersama beberapa pembantu di mansion besar nya untuk membantunya belajar membuat olahan kue dan beraneka macam masakan,


sebuah aktivitas yang ia tekuni saat ini untuk mengisi waktu luang nya sebagai istri Barra,


dengan dirinya yang sudah tak lagi menjadi CEO di perusahaan SINAGA. GROUP milik sang papa,


karena sudah di gantikan oleh Barra menantu kepercayaan Bima.


Dan di sore ini Sheina baru saja selesai dengan dengan aktivitas memasak nya, dengan segera ia menuju lantai atas tepat nya di kamar nya yang berukuran sangat luas itu, untuk membersihkan tubuh karena dirasa Barra sebentar lagi akan pulang dari perusahaan.


*


Sheina kini tengah duduk di kursi meja rias nya, ia tengah sibuk menyisir rambut sambil memberi sedikit polesan make up tipis di wajah cantiknya.


" seperti nya sudah " ucap nya sambil menatap pantulan wajah cantik nya di depan cermin.


JEG... GLEK....


Sebuah bunyi pintu kamar yang tiba tiba saja di buka.


Sheina langsung menatap ke arah pintu tersebut.


Kedua sudut bibir nya langsung mengembang ketika mendapati sang suami yang baru saja masuk ke dalam kamar.


" Sayang kau sudah pulang " ucap Sheina yang kemudian langsung berdiri melangkah ke arah Barra.


" iya, kenapa kau tak menyambut ku di bawah" tanya Barra.


" maaf,.. aku baru saja selesai mandi " jelas Sheina.


" tak masalah "


Barra mulai mendekat ke arah Sheina yang kini juga mulai mendekati dirinya.


" kau marah padaku " tanya Sheina yang sudah berada di hadapan nya dan mulai mencopot dasi milik Barra dengan perlahan sambil menatap kedua bola mata sang suami.


" tidak, mana mungkin mu " jawab Barra sambil menyentil pelan hidung Sheina.


Sheina tersenyum atas kelakuan Barra.

__ADS_1


" sayang kau wangi sekali " ucap Barra yang kini tengah menarik pinggang Sheina agar menempel pada tubuh nya.


" ah benar kah, padahal aku memakai sabun dan sampo seperti dirimu juga kan "


" Tapi kenapa bisa berbeda, kau sangat wangi Shei " jawab nya


" membuat menginginkan mu " bisik nya penuh dengan nada sensual


membuat bulu kuduk Sheina langsung merinding seketika.


" Barra geli "


" biarkan saja, aku memang sengaja " jawab Barra santai dengan kedua mata nya yang kini tengah menatap lekat mata Sheina.


Keduanya saling pandang.


hening.


Barra perlahan melepaskan pinggang Sheina,


keadaan masih tetap hening.


" bisakah aku meminta nya malam ini " ucap Barra di keheningan.


Sheina tak langsung menjawab masih menundukkan kepala nya.


" Sayang ak... aku " perlahan mengangkat wajahnya menatap Barra


" emmm... bu... bukan " seolah bingung untuk mengutarakan yang ia maksud.


" lalu "


" emmm... aku.... emm... " lagi lagi bibir Sheina seolah keluh.


" Ah sudah lah lupakan " jawab Barra kesal kemudian langsung melenggang pergi menuju kamar mandi melewati Sheina yang masih termangu.


Ya pria tampan itu kali ini benar-benar kesal sudah berapa lama ia bersabar menunggu Sheina yang selalu bilang tidak siap untuk bercinta dengannya setiap kali dirinya mengajak melakukan itu layak nya pasangan suami istri lain nya.


" Barra tunggu hei... " Sheina mulai mengejar langkah Barra dan memeluknya dari belakang.


Seketika langkah itu terhenti.


Sheina masih tetap memeluk punggung Barra sambil memejamkan kedua matanya.


Keadaan kembali hening, Barra tak berniat sedikit pun mengeluarkan sepatah kata pada sang istri.


Sheina kini langsung beralih berada di depan Barra dan kembali memeluk tubuh itu,

__ADS_1


dan mulai berucap.


" Sayang kau marah kan padaku " ucap Sheina tapi tak di jawab oleh Barra.


Pria tampan itu hanya diam sambil memutar kedua bola mata nya malas.


" sayang jawab aku " ucap Sheina lagi.


" Ah sudah lah aku lelah, minggir " Barra langsung melepaskan pelukan sang istri kemudian melanjutkan langkah nya menuju kamar mandi.


Tak lupa ia menutup pintu kamar mandi tersebut tetapi dengan sangat keras.


BRAKKK.....


Membuat Sheina sedikit terkejut akan kekesalan sang suami.


" Ah bagaimana menjelaskan nya, aku tau dia sangat kesal padaku, tapi bagaimana lagi " ucap nya.


Sheina terus mondar mandir tak jelas di depan pintu kamar mandi seolah mencari ide supaya Barra tak marah lagi padanya saat keluar kamar mandi nanti.


Sheina mulai berjalan ke arah ruang ganti, dimana ia akan mencari pakaian dinas malam nya alias lingerie pink pemberian sang mertua.


Ia segera membuka pintu lemari pakaian nya yang serba kaca itu, Sheina sedikit ragu saat memegang nya.


Karena sedikitpun Sheina sangat tak menyukai pakaian kurang bahan itu, bahkan memegang nya saja ia ketar ketir kegelian.


Terus bagaimana ia akan memakainya.


Apa iya aku harus memakai nya walaupun tak bisa melakukan itu malam ini bersamanya,


memegang nya saja aku kebingungan apalagi memakai nya, ah sungguh aku sangat malu sekali dengan pakaian tembus pandang ini monolog nya panjang lebar.


Tapi apa boleh buat, ia tak tau cara apalagi yang harus ia lakukan saat ini otaknya serasa buntu, dan hanya ide itu yang ada di pikiran nya.


Kata mama Dinda lingerie ini seperti jimat mampu membuat pria luluh , apa iya, menurut ku sih justru membuat pria emm....ah sudah lah masa bodoh aku tak ingin berfikir aneh aneh monolog nya lagi.


Sheina segera memakai lingerie itu kemudian berkaca di depan cermin besar di dekat lemari king size nya tersebut.


Astaga.. astaga... bagaimana pikiran Barra kalau melihat ku tiba tiba memakai pakaian seperti ini, ah sudahlah yang penting dia tak kesal lagi padaku dan aku akan berusaha menjelaskan nya.


Setelah itu Sheina segera keluar dengan kedua tangan nya yang ia silangkan di depan dada seolah menutupi bagian dada nya yang terlihat menyembul keluar.


Sheina kini sudah berada di depan pintu kamar mandi, kemudian mengetuk pelan pintu tersebut.


TOK.... TOK.... TOK....


" sayang belum selesai ya " Ucap Sheina.

__ADS_1


" kenapa memang nya hah " teriak Barra dari dalam kamar mandi sana.


Sheina memanyunkan bibirnya ke depan saat mendengar jawaban dari sang suami ia tau Barra masih kesal padanya.


__ADS_2