
Pandangan Barra kini terus mengarah ke depan, pikiran sudah melayang kemana mana, ia terus mengendarai mobilnya tanpa tau arah tujuan untuk mencari keberadaan sang istri.
Sesekali ia menoleh ke arah kanan kiri jalan berharap menemukan wanita yang ia cari,tapi sayang sedari tadi ia berputar putar tak sedikit pun menemukan keberadaan Sheina.
Sesaat perkataan dokter Shasa dan Earth kembali terngiang ngiang di telinganya.
Seolah-olah dirinya kembali merasa sangat bersalah dalam hal ini.
" Aku berjanji akan membuatmu sembuh Shei, maafkan aku sebelum nya,maafkan " ucap nya dengan penuh rasa bersalah.
" kau ada di mana sekarang, aku harus mencarimu kemana, sedangkan nomor ponsel mu tak bisa di hubungi '' ucap nya lagi penuh ke khawatiran.
Barra terus melajukan mobil sport nya, bahkan ia menuju tempat tempat yang pernah ia datangi bersama sang istri dulu.
Tetapi hasil nya tetap saja nihil.
Setelah lama berputar putar, Barra berniat menghubungi kedua orang tua nya dan mertua tetapi Barra urungkan ia tak mau masalah ini melebar sebelum menyelesaikan nya terlebih dahulu bersama Sheina.
*
*
Di tempat lain.
Di tepi danau indah tepatnya di ujung perkotaan.
Seorang wanita tengah duduk terdiam di sebuah bangku kayu dengan tatapan bahagia nya walaupun di dalam hatinya sebenarnya hanya ada kesedihan,
wanita itu memakai gaun selutut berwarna moka dan juga switer senada yang membalut sempurna di tubuh yang kini terlihat mengurus itu.
Pandangan nya terus menatap ke arah danau hijau yang begitu terlihat tenang, damai dan indah jika di sore hari nanti.
Wajahnya yang sudah pucat pasi menggambarkan jelas keadaan nya yang sedang tidak baik baik saja saat ini.
Sesekali ia mulai memegangi kepalanya yang mulai terasa pening.
__ADS_1
Begitu juga darah yang begitu sering menetes dari hidung mancung nya.
Sheina masih tak mengeluarkan sepatah kata pun sedari tadi ia duduk di sebuah bangku kecil tersebut.
Ia masih terdiam dengan tatapan kosong nya.
Perlahan lelehan air matanya luruh ke bawah membasahi kedua pipi mulus miliknya.
Bibir nya mulai terbuka berucap sesuatu.
" Setidaknya aku bisa pergi dengan tenang, semoga setelah kepergian ku nanti kau akan mendapatkan pengganti ku lebih segalanya dari ku Barra " ucapnya menahan rasa sesak di dada.
Sungguh takdir yang tak pernah ia inginkan sebelum nya, tetapi bagaimana lagi seandainya boleh menolak pasti akan ia tolak dan lebih memilih untuk bersama pria yang ia sayang tentu nya.
*
Kini waktu sudah menunjukkan sore hari, tetapi Sheina masih setia duduk di sana walaupun keadaan di sekitarnya mulai terlihat sepi sedangkan hembusan angin sepoi-sepoi bertambah kencang.
Perlahan ia sedikit menggosok gosok pelan bahu nya dengan kedua tangan karena di rasa sedikit kedinginan, raut wajahnya seperti tak bisa di artikan lagi, wajahnya benar-benar sudah terlihat pucat memutih, tubuhnya mulai terasa dingin.
Tiba tiba tak ia sadari dari arah belakang bangku kayu yang tengah ia duduki,
terlihat sedikit ada sebuah cahaya lampu yang menyoroti tubuh nya dari arah kejauhan.
Sebuah teriakan yang terdengar sangat nyaring.
" S H E I N A " teriaknya.
Tetapi Sheina sudah tak memperdulikan apapun lagi.
Sedangkan Barra langsung berlari ke arah nya sambil membuka jas hitam yang masih menempel di tubuh atletis nya itu.
*
" Sheina, sayang ini benar-benar kau " ucap nya dan langsung menutupi tubuh Sheina dengan jas hitam nya.
__ADS_1
Setelah itu menangkup wajah pucat sang istri dan memeluknya erat.
Berbeda dengan pandangan Sheina yang sudah buram dan mulai kehilangan kesadaran itu.
" Sayang maaf kan aku " Ucap Barra lagi dengan sedikit isak tangis nya di sela sela pelukan.
" kau pasti sembuh, kau pasti sembuh Shei percayalah padaku, ayo kita pulang sekarang sayang di sini sangat dingin " ucap Barra panjang lebar sambil mengelus rambut sang istri dari belakang punggung nya.
Merasa tak ada sahutan.
Barra berniat sedikit mengendurkan pelukan nya dan menatap wajah wanita yang berada di pelukan nya tersebut.
" Sheina " panggilnya.
wajah Barra terlihat sedikit terkejut ketakutan melihat kedua mata sang istri sudah terpejam.
" sayang " panggilnya lagi sedikit menggoyahkan bahu Sheina.
" Sayang bangunlah, Sheina jangan membuatku khawatir Shei "
lagi dan lagi kali ini Barra sedikit menepuk nepuk pelan pipi sang istri.
Kedua mata Sheina tetap terpejam.
Sedangkan lelehan air mata Barra perlahan mulai meluncur bebas di kedua pipi nya.
" Sheina bangun Shei ini tidak lucu, kau boleh menghukum ku nanti atas kesalahan ku sekarang bangunlah "
" Sheina aku mohon " pinta nya.
Merasa sedari tadi tak ada sedikit pun reaksi Barra langsung menggendong tubuh rengkih sang istri menuju mobil.
Sungguh keadaan Sheina kini terlihat sangat memprihatinkan.
Barra mulai menancapkan pedal gas nya, setelah tadi memasukkan tubuh Sheina ke dalam mobil.
__ADS_1
Dengan kecepatan tinggi nya Barra segera membawa Sheina menuju rumah sakit.