
" tuan sedari tadi siang nona Zahra tidak keluar dari kamar dan juga tidak mau makan siang tuan "
jelas pak Tejo yang memang harus mengatakan semua kejadian di dalam mansion besar tersebut tanpa atasannya menyuruh sekalipun karena ini semua memang tugasnya.
" ya pak Tejo aku sudah mengetahui nya karena aku sudah menelfon istri ku tadi, mana tas ku biarkan aku saja yang membawa, kau pergilah sekarang ambilkan aku satu piring dan sendok bawakan ke kamar ku mengerti "
jelas Bima sambil menenteng satu kantong kresek di tangan kirinya yang berwarna putih.
" baik tuan " ucap pak Tejo kemudian bergegas memberikan tas kerjanya itu kepada atasannya lagi dan segera berjalan ke arah dapur untuk mengambil sesuatu di sana atas perintah tuannya.
sedangkan Bima kini tengah menuju kamarnya setelah tadi menaiki anak tangga.
sesaat dirinya sampai di depan pintu kamar dan perlahan membuka handel pintu tersebut.
cek klek
bunyi pintu kamar yang di buka Bima.
menampilkan Zahra yang sedang mondar mandir dengan mengenakan kemeja putihnya yang sedikit kebesaran itu, dan terlihat bertambah menggemaskan di mata Bima, ketika melihat ke arah bawah yang kemejanya hanya sampai paha istrinya itu, dan terlihat jelas di sana paha putih mulus istrinya.
Tetapi pikiran nya masih bingung ada apa dengan istrinya yang tiba tiba memakai kemeja nya itu.
Sekilas terbitlah senyuman dari bibirnya ketika melihat istrinya seperti yang ia lihat saat ini, dengan rambutnya di gulung ke atas menambah nilai plus di matanya.
sedangkan Zahra tak menyadari kalau pintu kamar yang berada di hadapannya itu telah di buka oleh suaminya sendiri.
" ekhhh... hemm, "
Bima berdehem seolah olah ingin menyadarkan Zahra yang tidak mengetahui kedatangannya itu.
sontak Zahra langsung menoleh ke arah yang punya deheman itu.
" sayang.... " ucap Zahra kemudian segera ber hambur memeluk suaminya seperti pasangan yang terpisah jauh lamanya itu.
" sayang, pelan pelan kau bisa jatuh Zahra, sepertinya kau begitu bahagia sayang hem "
" iya aku memang bahagia menunggumu pulang sedari tadi, mana rujak buahnya sayang"
" sayang sebenarnya kau bahagia karena kedatangan ku pulang kerja tau karena rujak buah ini sih "
" kedua duanya sayang " ucap Zahra kemudian melepas pelukannya itu.
Bima tersenyum mendengar nya.
" sayang kenapa kau tiba-tiba memakai kemeja ku, hem " ucap Bima sambil menoel dagu istrinya itu, yang berniat menggoda.
" sayang maaf, aku lancang, aku juga tidak tau kenapa aku ingin memakai kemeja milikmu, kau tidak marah kan " jelas Zahra yang terlihat menggemaskan di mata suaminya.
" tidak sama sekali sayang, pakailah jika kau masih merasa nyaman " jawab Bima sambil memeluk kembali tubuh Zahra dan mengelus pucuk kepalanya.
" apa benar, boleh " tanya Zahra.
" iya iya sayang "
" emmm... terima kasih suamiku " jawab zahra yang kini kembali memeluk tubuh suaminya.
sesaat kemudian
tok
__ADS_1
tok
tok
sontak Zahra langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Bima.
" masuk " ucap Bima kemudian menyembunyikan tubuh istrinya di belakang punggungnya karena kemeja yang Zahra pakai panjangnya hanya sampai paha.
kemudian pak Tejo segera masuk ke dalam kamar atasannya.
" tuan ini piring dan sendok yang anda minta " ucap pak Tejo kepada Bima.
" hem, taruh saja di situ " ucap Bima yang sama sekali tak berniat bergerak dari tempatnya.
" apa ada lagi yang anda butuhkan tuan " tanya pak Tejo kepada Bima.
" tidak ada, pergilah "
" baik tuan "
kemudian pak Tejo pun mulai keluar dari dalam kamar atasannya tersebut.
" sayang ayo makan rujak buah mu, sebentar aku akan mengambilkan piringnya, pak Tejo sudah tidak ada "
" ya baiklah sayang, seperti nya air liur ku ingin keluar, aku sudah tahan ingin memakannya "
ucap Zahra yang seperti tidak tahan ingin segera memakannya itu.
Matteo tersenyum mendengar perkataan istrinya itu,
pikiran nya kenapa sampai bisa sang istri sampai sepertinya sangat menginginkan rujak buah di tangannya itu.
" emm,.. sepertinya sangat enak sayang " jawab Zahra kemudian segera menyendok rujak buah tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut.
" bagaimana apa kau lega sekarang hem " tanya Bima.
" sangat lega, terima kasih suami ku " jawab Zahra yang saat ini tengah menikmati rujak buahnya itu.
" iya sayang "
sesaat kemudian
piring tersebut telah bersih,
" emm, kenyang nya "
" sayang, kau tidak makan malam, dan kau hanya memakan rujak buah itu saja "
" iya sayang aku sudah kenyang sekarang, sepertinya aku merasa jijik membayangkan nasi bersama lauknya "
" sayang kau kenapa " tanya Bima.
" aku juga tidak tau, membayangkan saja aku ingin muntah "
" kita ke dokter sekarang " ucap Bima.
" kenapa kau mulai lagi sih, aku tidak mau " rengek Zahra dengan kedua matanya yang berair
" ah.. iya, iya tidak jadi maaf maaf "
__ADS_1
kenapa Zahra ku jadi bertambah sensitif seperti ini ya, terkadang dia merengek, terkadang juga dirinya ceria, kemudian beberapa saat lagi mau menangis gumam Bima dalam hati.
" sayang kau makan malam di meja makan ya jangan di sini perutku serasa mual melihat nasi" pinta Zahra kepada sang suami.
" iya baiklah "
Zahra bilang dia merasa mual, apa jangan jangan dia aahh... semoga saja dia benar benar hamil, apa sekarang saja aku menyuruhnya mengetes nya ya, dengan tes kehamilan yang aku beli bersama nya kemarin gumam Bima lagi.
kemudian Bima yang sedari tadi bergumam sambil menemani istrinya memakan rujak buah itu
kini dirinya mulai melepaskan jas dan dasinya perlahan.
" sayang sini biar aku yang membantumu " ucap Zahra yang saat ini ingin membantu Bima.
" tidak usah tidak apa apa, badanmu tidak enak kan, biarkan aku saja "
" tapi aku ingin membantumu sayang "
" iya baiklah sekarang bukakan kancing kemejanya "
" baiklah "
kemudian Zahra langsung membuka perlahan satu persatu kancing kemeja milik suaminya itu, yang masih setia duduk di samping ranjang didekat nya saat ini.
" sayang sudah " ucap Zahra
" terimakasih sayang " jawab Bima kemudian langsung melepaskan kemeja putihnya itu dari tubuhnya.
" iya " ucap Zahra
" sayang apa boleh aku memegang ini "
ucap Zahra lagi sambil menunjuk dada bidang milik suaminya yang terlihat jelas di sana lipatan-lipatan roti sobek nya 😂😂.
Bima tersenyum sambil terkekeh pelan.
" sayang ini hanya milikmu Zahra, pegang lah selama kau menginginkannya, hem "
" iya sayang terimakasih, tiba tiba saja aku ingin sekali memegang dada mu ini "
" aku senang jika kau seperti ini padaku "
" hemm.. dasar kau ini "
sesaat kemudian.
tepatnya di ruang kerja Bima waktu sudah menunjukkan pukul 09.00wib.
" sayang kau banyak pekerjaan ya " ucap Zahra yang sedari tadi berada di pangkuan suaminya itu, karena sedari tadi Bima menyuruh Zahra menemani nya di ruang kerja.
" hem.. " jawab Bima dengan deheman saja.
dan tiba tiba saja.
huekkk.....
huekkk...
Zahra segera turun dari pangkuan suaminya dan berlari dari ruangan kerja suaminya tersebut menuju kamar pribadinya.
__ADS_1
" Zahra kau kenapa sayang " teriak Bima yang kini istrinya tengah berlari keluar dari ruangan kerjanya itu, sedangkan Zahra tak sudah tak berniat menjawabnya.