Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
drama perut lapar


__ADS_3

Revan masih menatap gadis yang tengah menundukkan kepala itu sambil kedua tangan nya sedikit ******* ***** ujung baju seragam rumah sakit yang berwarna biru langit tersebut.


Dan saat ini untuk ke tiga kalinya suara perut Adinda kembali terdengar sangat jelas di telinga keduanya.


KRUKKK.... KRUKK....


KRUKKK... KUK... KRUKK...


KRUKKK.... KRUKK.... KRUKKK...


KUK... KRUKK...


Revan sedikit melirik ke arah sang istri yang tengah mengelus perut nya yang masih setia menundukkan kepala.


" Kau lapar sayang " tanya Revan seolah-olah tak ada yang terjadi.


Adinda mengangguk pelan dengan sedikit menatap ke arah sang suami.


" lapar ya ih kasian..... RASAKAN " ucap Revan setelah itu.


" kau tega ya padaku " jawab dinda dengan bibir cemberut.


" sebenarnya yang lebih tega dirimu atau diriku Din " tanya Revan dengan mode kesal nya.


" hehehe.... iya iya aku yang salah " jawab dinda tang masih saja dengan tawanya.


" ternyata kau masih sempat sempat nya ya tertawa "


" maaf maaf.. iya maaf "


" dasar " ucap Revan kemudian berniat bergegas pergi meninggalkan Adinda di atas ranjang pasien sendirian.


" Kak tunggu ... AKKHH..... " ucap Adinda yang berniat menyusul sang suami tetapi tubuh nya tak sepenuh nya kuat untuk turun dari atas ranjang pasien.


BUGHHH......


bunyi tubuh Adinda yang sudah terjatuh ke lantai.


" Aw.... kak sakit " pekik Adinda sambil memegangi bagian belakang tubuh nya.


" hehehe.... enak ya Din, seperti nya kau sangat menikmati nya sayang " ucap Revan setelah menoleh ke arah belakang dimana Adinda terjatuh dengan dirinya yang masih berdiri tegap tak berniat menolong sang istri.


" ya aku memang sangat menikmatinya puas " jawab Adinda yang juga mulai di selimuti rasa kesal pada Revan.


" kesal ya hah... " ucap Revan seperti berniat mengejek.


" tidak.. biasa saja " ucap Adinda seperti tak mau di kalahkan.


Perlahan Adinda mulai mencoba bangun dari lantai tetapi di rasa pandangannya tak begitu jelas, Adinda mengurung kan niat nya kemudian sedikit memijat pelipis nya.


" apa perlu bantuan nona " goda Revan yang masih setia berdiri tak jauh dari arah ranjang.

__ADS_1


sebenarnya Revan tak berniat membiarkan sang istri karena tak tega tetapi Revan melakukan itu karena rasa kesal nya pada Adinda sebagai balasan nya.


Dinda tak menjawabnya perlahan gadis itu menyandarkan kepalanya di bagian sisi bawah ranjang yang terbuat dari besi berwarna putih tersebut.


Adinda tetap terdiam dengan kedua mata ia pejamkan.


Apa aku belum sepenuhnya sembuh ya kenapa rasanya pusing sekali, apa karena aku sangat lapar membuatku gemetaran dan pandangan ku buram seperti ini gumam Dinda.


" Sudah tak usah perduli kan aku, biarkan saja aku seperti ini pergilah " ucap Adinda yang masih menyandarkan kepalanya di sisi bawah ranjang.


Perlahan Revan mendekat karena merasa kasihan pada gadis yang sedikit menyebalkan itu, kemudian mendekap tubuh Adinda ke dalam pelukan nya setelah itu menggendong tubuh Adinda untuk ia baringkan kembali di atas ranjang.


Di lihat nya wajah Adinda kembali terlihat pucat pasih.


" Dinda apa keadaan mu baik baik saja sayang, maaf aku tadi tak berniat membiarkan mu, aku cuma sedikit memberi balasan saja padamu " ucap Revan dengan sangat lembut saat ini pada gadis yang sangat ia cintai itu.


" aku tak apa apa " ucap Adinda dengan kedua matanya yang terlihat sayu, tubuh nya terlihat lemas, sedangkan keringat di kening nya mulai keluar sebesar butiran jagung.


" Dinda kau lapar sayang " tanya Revan


" lupakan lah " ucap nya.


" jangan seperti itu, tadi aku sudah membeli kan mu makanan, aku tau kau pasti tak suka dengan makanan rumah yang hambar bukan " jelas Revan.


kemudian dengan segera Revan mulai berdiri melangkahkan kakinya untuk mengambil paperbag putih yang sempat ia jatuhkan tadi di lantai, saat drama tangis tangisan nya di ruangan tersebut.


Adinda sedikit melirik ke arah sekertaris Revan yang tengah mengambil paper bag.


" Sayang aku akan menyuapi mu, dan setelah itu aku akan segera membersihkan tubuhku di kamar mandi setelah itu mengganti baju ku yang sedari kemarin tak ganti ini dengan pakaian yang baru saja aku beli, aku juga membelikan baju ganti untukmu " jelas Revan sambil mengeluarkan makanan dan beberapa baju ganti dari dalam paperbag putih yang baru saja ia beli nya.


" terimakasih " jawab Dinda dengan sedikit memiringkan wajah nya menatap Revan.


Sedangkan sekertaris Revan tersenyum mendapat jawaban Adinda.


" Ya sudah sekarang ayo buka mulut mu "


" tapi kau juga makan ya "


" aku nanti saja Din "


" ya sudah aku juga tak makan "


" heh... " Revan sedikit membuang nafas beratnya, kemudian menggelengkan kepalanya pelan menatap wajah ayu yang masih terlihat pucat tersebut.


" ya baiklah kita makan bersama sama sekarang buka mulut mu ayo cepat "


" iya iya "


" aaa.. aem istri pintar " ucap Revan sambil mengelus pucuk kepala Adinda.


" Dinda kau punya hutang satu penjelasan padaku "

__ADS_1


" apa "


" kenapa kau bisa masuk ke dalam kolam, apa kau ingin berenang setelah kita sedikit bertengkar tadi malam "


" bukan seperti itu kak, bahkan aku saja tak bisa berenang " ucap Adinda dengan mulut yang masih penuh,


Dan setelah tertelan kini Adinda pun mulai menceritakan semuanya yang ia lakukan di halaman samping rumah mewah nya tersebut, hingga mengakibatkan dirinya tenggelam di dalam kolam renang.


Beberapa saat setelah dirinya telah selesai menjelaskan semuanya kepada sekertaris Revan begitu juga dengan perutnya yang sudah kenyang itu.


" kak aku sudah kenyang "


" ya baiklah, aku juga sudah kenyang Din kalau begitu aku akan segera membersihkan tubuhku di kamar mandi, kau tetap diam di sini mengerti"


" iya iya bawel sekali "


" awas jangan melanggar " ucap Revan sambil menunjukkan jari telunjuk nya ke depan dada.


" iya sayang iya apakah sudah puas tuan " jawab Dinda sedikit kesal.


" Puas sekali hehehe.... "


" ya sudah sana kak, apalagi yang kau tunggu " ucap Dinda setelah itu.


" ekhhem..... ekhhem... " deheman Revan.


" kak kau kenapa..batuk " tanya Adinda.


" tidak... " jawab sekertaris Revan santai.


" lalu " ucap Dinda lagi seperti menunggu jawaban.


" kau tak ingin mandi bersama ku " goda Revan sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Adinda.


" hehehe... apa sih, sudah sana dasar mesum " jawab Dinda sedikit tertawa karena merasa malu akan ajakan sekertaris Revan.


" kau benar-benar tak ingin ya hah " goda Revan lagi.


" kak aku ini sedang sakit kenapa kau malah mengajakku yang tidak tidak sih "


" hehehe.... ya.. ya... ya aku mengerti, berarti setelah sembuh nanti kita akan mandi bersama setiap hari "


" aa... bukan seperti itu juga kak penolakan maksud tadi "


" aaa.... sudah sudah aku tidak menerima penolakan sekarang, kalau begitu aku segera membersihkan tubuhku, sedari tadi kau menghentikan kan ku"


" dasar suami menyebalkan hehehe..... siapa yang menghentikan " ucap Dinda dengan kedua tangan nya ia silangkan ke dada.


menyebalkan untung saja tampan dia hahaha...gumam Adinda.


Sedangkan sekertaris Revan langsung pergi begitu saja tanpa menghiraukan sang istri yang masih setia berada di atas ranjang pasien tersebut.

__ADS_1


Berbeda dengan Adinda yang sesekali gadis bermata bulat itu senyum senyum sendiri tak jelas, setelah kepergian Revan ke kamar mandi.


__ADS_2